
Maride turun dari Vellfire miliknya memasuki salon langganan keluarga. Memasuki salon yang di tata lebih nuansa kerajaan keraton membuat nyaman saat melakukan perawatan di dalamnya.
"Selamat siang Nyonya, mau perawatan?" tanya pelayan menyambut Maride dan Baros.
"Ya iyalah, nggak mungkin mau ngelihatin kalian aja kami kesini. Aku mau memanjakan suami, cok kau potong kan kuku bapak, biar nggak mencakar aku kerjanya," jelas Maride.
Tentu dengan senang hati pelayan menyambut Baros karena akan mendapat tips yang lebih besar jika melayani Keluarga Maride.
"Silahkan Pak," ucap pelayan salon.
Seorang wanita anggun dan cantik dengan telaten menggunting kuku jemari Baros dan kuku kaki. Pria gagah itu melakukan madiciure dan padiciure sesuai perintah Maride.
"Pi, habis ini susul Mami ke dalam yah? Mami luluran dulu, biar wangi," jelas Maride.
"Papi luluran juga Mi," ucap Baros.
"Hmmmm,"
Maride berlalu.
"Ini antara gatal atau memang pengen luluran Opung satu itu," bisik Maride dapat di dengar oleh pelayan.
"Bang Leo mana Bu? nggak ikut yah, biasanya sama Mba Berlin," tanya pelayan.
"Hmmmm mereka lagi bulan madu, buat cucu yang banyak untuk ku," kekeh Maride.
Tentu pelayan semakin senang mendengar celotehan Maride selama melakukan perawatan.
"Suruh cepat si Ina itu potong kuku suamiku! nanti cemburu aku pecah salon kalian,"
Maride kembali tertawa lepas, saat pelayan mengusap lembut tubuh gembul itu hingga Maride terlelap.
Pasutri lucu itu melakukan perawatan hingga pukul 19.00 waktu Jakarta. Pelayan mendapatkan tips yang sangat luar biasa. Wajah lelah kembali bersemangat.
Apalagi Baros, sudah lebih sebulan dia menyibukkan diri mengurus pembukaan cabang mencari tangan kanan yang bisa dia percayai selain kedua menantu Paras dan Luqman.
"Siapa lagi yah Mi? nggak mungkin Laura dan Will kita suruh megang di Kalimantan. Bisa selingkuh terus Willion dari Laura," jelas Baros menatap wajah Maride ternyata sudah terlelap.
"Kebiasaan," batin Baros.
"Kita ke Jagakarsa," tegas Baros kembali melihat layar handphone miliknya.
"Baik Tuan," tunduk sopir pribadi.
Mereka menyusuri jalan Jakarta Selatan dengan secercah harapan Tuhan mengirimkan seseorang yang jujur untuk menjadi orang kepercayaan Keluarga Baros.
Kreek,
Baros turun dari mobil, setelah membangunkan Maride tengah mendengkur.
__ADS_1
"Sudah sampai Pi? kok cepat sekali? ngebut yah?" tanya Maride menatap punggung sopir pribadinya.
"Nggak Bu," jujur sopir.
"Cok dulu kau bukakan pintu mobil ini, biar bisa aku turun," pinta Maride.
"Baik Bu,"
Sopir membuka pintu mobil, membiarkan Nyonya besar turun perlahan.
"Aku ke kamar yah Pi? malam ini kita tidur sama baby four, seminggu kau cuti menggarap," kekeh Maride.
Baros menatap Maride penuh tanda tanya,
"Seminggu? lama lhoo itu, sehari saja aku rindu," jujur Baros.
"Eleeeh gaya mu Baros, Baros," Maride melenggak lenggok memasuki kediaman Leo.
Mengintip ke kamar baby four, mendapati Kirai dan Faisal sudah terlelap bersama cucu mereka.
"Hmmmm memang rejeki si Baros lah malam ini," batin Maride memasuki kamar mereka.
Cekreeek,
"Lhooo katanya nggak ke kamar kita, kenapa kembali?" tanya Baros menggoda.
"Hmmm,"
Plaaak,
Tepuk tangan Maride ke bahu Baros,
"Auuugh sakit Mami," rungut Baros mengusap bahunya.
"Sabar kenapa? cepat kali lele mu itu sangapnya!" geram Maride.
"Kok lele, cobra lho Mi!" ucap Baros.
"Hmmm suka suka mu lah," kekeh Maride memeluk tubuh kekar suami tercinta.
"Aku kangen anak anak Pi," rengek Maride di pelukan Baros.
"Sama,"
Baros memeluk Maride erat. Hasrat yang berkobar seketika hilang jika mengenang kedua anak mereka. Tidak mudah perjuangan mereka membesarkan Leo dan Berlin. Jika di kenang perjuangan Maride memperjuangkan Baros, mengangkat derajat pria yang dia cintai akan menguras air mata.
Maride anak semata wayang Pardede harus jatuh cinta pada Baros yang tidak memiliki apa apa. Suku Sakai pedalaman kala itu membuat Pardede membawa Maride kembali ke Australia. Segala macam cara wanita itu lakukan untuk tetap mempertahankan Baros hingga di buang Pardede dari keluarga dan menjalani beberapa syarat agar tetap menjadi pewaris keluarga.
Sangat menyakitkan, hidup susah di perkampungan Sakai, membuat Maride dan Baros bertekad meniti karier mereka di Jakarta.
__ADS_1
Semua membaik setelah Leo lahir membawa secercah harapan bagi Keluarga Pardede.
Pardede bersedia memberi modal pada Maride asal Baros menyediakan 2 ekor kerbau untuk acara mangadati di tanah Batak itu. Tentu mereka berkerja siang dan malam, tanpa memikirkan Leo yang tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan di jalanan. Mengikuti Maride setiap hari merintis Langhai dari nol. Sakit sangat sakit. Maride wanita manja berubah menjadi wanita pemberani.
Baros pria pendiam menjadi pria humoris dan mau menjadi ayah yang baik untuk Leo. Putra mereka tumbuh di tangan mereka dengan suka duka yang ada, hingga akhirnya mereka berhasil mengumpulkan pundi pundi membeli 2 ekor kerbau di kampung Maride.
Sesuai janji Pardede akan memberikan semua warisannya kepada Leonal, bukan Baros. Seiring waktu berjalan, Pardede bisa menerima Baros menjadi menantu yang baik. Bahkan menantu yang dapat di andalkan oleh Pardede.
Saat Perusahaan Pardede bangkrut, Baros lah dewa penolongnya, menantu yang di benci berubah menjadi pahlawan bak super Hero di filem laga.
Pardede memberi kepercayaan pada Baros membuat Silutak benar benar iri hati karena rencana awal Pardede akan menyerahkan saham pada Silutak.
Ternyata harapan sirna, pupus bak di telan bumi. Perkebunan sawit yang terhampar luas di kuasai oleh Leonal dan di kuasai Maride. Tentu Baros ikut menikmati hasil yang tidak akan pernah habis 7 turunan itu.
Silutak mencoba berbagai macam cara untuk merebut, tapi rencana hanya tinggal rencana, semua pupus karena kebodohannya sendiri. Kini Silutak mendekam di penjara, dengan berbagai drama yang dia kirim ke Maride.
Simon adalah pengacara terbaik Keluarga Baros, mampu melakukan apapun untuk melindungi majikan.
Tok tok tok,
"Ya,"
Maride enggan beranjak dari tubuh suaminya.
"Ada tamu Bu, Laura dan Mr. Will," jelas Maid dari balik pintu.
Maride mencabut lele milik Baros yang masih berada di tembem istrinya, beranjak ke kamar mandi.
"Mandi Pi, nanti meleleh pula Kirai melihat tubuh se*xy mu," kekeh Maride.
Baros mendengus kesal, mencubit pipi tembem istrinya semakin hari semakin menggemaskan.
"Kamu tuh cemburu kalau nggak sama Paras sama Kirai, selalu begitu. Aku yang mendengar jadi ketawa sayang," kekeh Baros.
"Hmmm mereka tu orang baik Pi, makanya aku senang godain istri Faisal itu. Kok bisalah Leonal jatuh cinta beneran sama si Paras yah Pi? ngasih anak 4 pula. Luar biasa putra ku itu menghasilkan anak," tawa Maride mengusap lembut tubuhnya.
"Semoga mereka selalu bahagia, tidak merasakan susah seperti kita dulu," senyum Baros mengecup leher mulus Maride.
Terdengar dari luar suara teriakan Laura membuat Maride masih enggan keluar dari kamarnya.
"Nan Tulang, cepatlah keluar, nanti ngamar pula aku di buat Will," teriak Laura.
Membuat Maride terkekeh geli.
"Kapanlah keluarga kita jauh dari sel ang kan gan yah Papi,"
Tawa keduanya pecah didalam kamar mandi mendengar keponakannya berpikir sama seperti mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️