
Suasana gedung lantai sepuluh, tepatnya di perusahaan Langhai Group sedang berlangsung acara pemberkatan pernikahan untuk Yani dan Albert. Entah alasan apa membuat Maride memutuskan membantu pernikahan bule setengah itu, yang pasti saat ini pernikahan dua insan yang enggan berbaikan, akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungan mereka dengan restu yang telah dimiliki Albert.
Paras dan Leo tersenyum sumringah, saat menyaksikan mereka saling berciuman mesra.
Ada kesan unik disini adalah, Yani menikah menggunakan blazer berwarna hitam didalamnya memakai kemeja merah dan rok pendek kembang merah. Heels indah menghiasi kaki mulus itu, memperlihatkan bahwa Yani adalah gadis pencinta kebersihan. Rambut coklat acak acakan seperti artis Korea, membuat wajah lugu itu semakin cantik dan menawan.
Sementara Albert hanya menggunakan blazer hitam dibalut kemeja biru langit, tanpa dasi dan aksesoris lainnya. Kali ini pria itu hanya ingin menikahi Yani, tanpa ingin berkomentar apapun demi memperjuangkan wanitanya.
Wajah Albert sedikit urakan karena Yani benar benar tidak peduli dengan pria bule somplak itu saat akan berangkat kerja. Kopi tidak terhidang, bahkan jauh dari kata romantis dan morning kiss.
Tepat pukul 10.45 waktu Jakarta, keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri melalui proses instan Pasteur Gereja Katolik yang terkenal di Jakarta Selatan. Semua berdoa untuk kebahagiaan Albert dan Yani. Papa dan Mama Yani tersenyum lega, atas pernikahan putrinya walau dengan cara sedikit memaksa.
Yani menghampiri Paras dan Leo yang berdekatan dengan Luqman dan Berlin.
"Hmmmm, aku nggak suka pernikahan ditipu begini, ini pemaksaan," rengek Yani memeluk Paras dan Berlin secara bergantian.
"Nikmati saja, namanya juga usaha Albert, sesekali dipaksa agar tahu endingnya dimana. Buktinya saat ini kamu menerima Albert Einstein dengan lapang dada dan hati bahagia," goda Paras.
"Mba, tapi aku tidak ingin secepat ini! aku malu sama Ibu dan Tuan, mereka terlalu baik, selalu membantu menyatukan hubungan kami. Padahal Albert tidak ada sedikitpun rasa berdosa dihatinya telah menyakiti aku," rengek Yani.
Leo menghampiri Yani, "terima saja Albert, dia mapan, kaya sesuai keinginan Lo, beda sama gue dan Luqman," kekehnya berlalu meninggalkan mereka menuju meja panjang untuk mengambil beberapa makanan dan minuman yang terhidang.
Paras dan Berlin saling menggoda Yani. Baby four justru tengah memasukkan sesuatu ke mulutnya, dengan wajah yang sudah belepotan coklat yang diberi Berlin dan Luqman.
"Kalian apain baby four," teriak Maride saat melihat keempat cucunya tengah sibuk berbicara menggunakan bahasa planet mereka.
Paras tersenyum, "nggak apa apa Mi, mereka suka nerima coklat dari Berlin, sepertinya Bendhard sering mengirimkan sesuatu pada Berlin, Sinta dan Yani," kekehnya menggoda Berlin.
__ADS_1
Mata Berlin membulat, "Sinta tuh Kak, bukan aku. Dia kan suka sama Sinta, tapi masih jual mahal. Mba tahu sendiri Sinta, sama sama egois dengan Yani. Aku nggak yakin Yani malam ini akan bahagia bersama Albert. Ini hanya perubahan status doang, bukan berarti dia memaafkan pria somplak itu," kekeh Berlin.
Paras tersenyum, enggan untuk berkomentar. Menurutnya, Yani harus bijak dalam bertindak, jangan ceroboh apalagi status sudah berubah menjadi seorang istri.
Wajah baby four yang sangat menggemaskan tidak habis habisnya menjadi bulan bulanan para karyawan Langhai Group.
Willion yang tidak pernah melepaskan baby Steiner membawanya menuju toilet untuk membersihkan anak Leo yang sudah tidak berbentuk. Wajah baby bule yang bulat membuat orang yang melihat lebih senang mencubit pipinya.
"Haii, Steiner, apa kamu akan menjadi pembalap?" tanya Dila saat melihat Steiner dipelukan Willion.
"Yes Aunty, aku akan menjadi pembalap pengganti Casey Stoner," kekeh Will pada Dila.
"Ooogh, semoga impian mu terwujud anak tampan," goda Dila lagi.
"Hmmm, harus aunty! kan ada Aunty Dila yang menemani ku nanti," kekeh Will membuat Dila mendengus kesal.
"Kenapa bule kebanyakan somplak jika sudah bergabung di Langhai Group Bang?" kekeh Dila spontan.
"Iiighs, aku bilang Kak Laura yah bang! Nan tulangnya abang jelek jelekin," goda Dila.
Willion menaikkan kedua alisnya, menatap lekat wajah cantik Dila, "kamu bilang saya nikahi kamu," tawa Will semakin keras membuat Dila sedikit kesal.
Dila menjaga jarak dari Will, mendekati Laura sedikit berbisik pada orang kepercayaan Maride. Tentu Laura hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
Will yang memang dilahirkan tidak memiliki hati dan perasaan sejak lahir menjadi semakin gencar mengejar Dila, membuat Laura mencubit perut sispack suaminya.
"Aaaaugh, sakit sayang!" rengeknya memeluk erat baby Steiner.
__ADS_1
"Lo ganjen amat! ketahuan sama Nantulang, habis kau Will," geram Laura.
Will tersenyum sumringah bak kuda poni, "aku bercanda sayang. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah bertemu dengan wanita manapun selain kamu sayang," kekehnya mengecup pipi Laura dihadapan Dila.
Albert menggenggam jemari Yani untuk memberikan ucapan khusus untuk Maride dan Baros yang sudah menyediakan tempat dengan berbagai macam drama selama seminggu.
"Ehem, saya ucapkan terimakasih kepada Mami Maride dan Papi Baros yang sudah sangat baik menjadi orang pertama yang mengadakan pernikahan di perusahaan Langhai Group. Kepada kekasih bayangan saya Parassani Chaniago yang diambil paksa oleh Leonal," kekeh Albert membuat Leo menggeram kesal menatap kearah Albert.
"Dasar laki laki bangsat, kenapa dia bawa bawa gue!" batin Leo menggeram.
"Untuk istri saya tercinta, saya ucapkan terimakasih karena kamu sudah mau menerima aku kembali kepelukanmu. Saat ini saya mengundang acara makan malam, sebagai bentuk rasa syukur saya di Rich Carlton Jakarta. Besar harapan saya, teman teman dapat hadir sekaligus menemani saya bulan madu," kekeh Albert membuat semua karyawan Langhai Group tertawa mendengar celotehan Albert.
"Paras, Leo, semoga baby twins calon ponakan saya sehat selalu, saya minta maaf telah membuat kalian terluka. Saya menganggap kalian lebih dari keluarga walau kita baru dekat beberapa hari saja. Buat Mami Maride, siang ini aku ingin Mami menyanyikan sebuah lagu kenangan yang sangat aku rindukan seperti Kenangan Terindah milik Samson," ucapnya tanpa perasaan sungkan dan berdosa.
Impian Yani memiliki suami seperti Leonal dapat terwujud, hanya saja sedikit aneh karena Albert bukan orang Indonesia asli melainkan bule yang harus menghadapi perbedaan kultur budaya.
Albert berkali kali memeluk Yani, mencium bahu istrinya dengan penuh perasaan bahagia.
Maride menghampiri Albert, mengucapkan selamat pada pernikahan mereka.
"Maaf aku nggak bisa memberikanmu kado, tapi kau telah menonaktifkan perusahaan Langhai Group dari jam 10.00 sampai jam 15.00 itu sudah menjadi kado terbaik dari ku untuk kalian. Jaga Yani, jangan kau macam macam, jika tidak ingin berurusan dengan Baros suami ku," tawa Maride sembari mengancam membuat seluruh karyawan terkekeh geli.
Albert memeluk Maride, mencium tubuh ibu gendut itu dengan penuh kasih sayang.
"Makasih Mami, semua akan aku ganti. Nanti malam Mami dan Daddy sampai di Jakarta ingin bertemu Yani, Papa dan Mama. Aku harap Mami Maride mau menemaniku," kecup Albert pada punggung tangan Maride dihadapan pada karyawan.
Leo dan Paras tersenyum senang, saling berpelukan, "maafkan aku Ndut! I love you," kecup Leo pada kepala Paras.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️