Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Cemburu.


__ADS_3

Berlin memacu kecepatan menuju bandara, tentu dengan keahlian khusus mengendarai mobil canggih milik sang kakak.


Leo sangat tenang sambil menikmati sarapan buatan Sintya. Dia mengacuhkan panggilan dari Paras, sengaja mematikan nada dering ponselnya. Baginya Paras tidak penting lagi semenjak membaiknya hubungan dengan Sintya.


"Kak, lo hati-hati yah, jangan sampai lo terjerat sama monster itu," jelas Berlin saat memasuki bandara.


"Hmm!" Leo tersenyum tipis,


"Nih, buat lo," Leo menyisakan satu potong sandwich untuk Berlin, karena dia tau adiknya belum sarapan, sibuk mengurus keberangkatannya.


"Oya, tolong cek semua keuangan perusahaan, jangan sampai Paras curiga. Lo turunin gue agak jauh. Biar gue kelihatan lari-lari ngejar si ndut," tambah Leo terkekeh.


"Hmm," Berlin hanya mendehem, mengagumi sosok kakaknya yang sangat jelek dengan bulu lebat di wajah.


"Lo emang duda jelek yah. Geli gue lihat bulu lo! Pasti tadi malam lo habis in the hoi sama Sintya, ampe lupa kerja!" tebak Berlin.


"Beeeegh, sok tau lo!" cubit Leo pada pipi adik kesayangannya.


Berlin melihat sosok Paras dari kejauhan, dia menurunkan Leo lumayan jauh. Memeluk kakak kesayangan mencium wajah yang ditumbuhi bulu itu.


"See you dear. Becareful. I love you," ucap Berlin cepat meninggalkan bandara menuju kantor.


Leo tak menjawab, hanya memberi kiss dari kejauhan kemudian berjalan santai mendekati Paras. Jadwal penerbangan mereka pukul 10.45 waktu Jakarta.


"Ehem!" senyum Leo menatap Paras yang sangat anggun dimatanya.


"Baru kali ini bos nungguin secretaris!" geram Paras mencubit perut Leo.


"Sory dear! Gue keboboan," kekeh Leo.


"Ya udah, ayoo cepetan. Tiket kita udah boarding," jelas Paras berjalan lebih dulu.


Leo memegang kopi aceh ditangannya, memperhatikan lenggak-lenggok sang direktur membuat jakunnya ikut turun naik.


"Gila pinggulnya. Buat gue gemes pengen makan pantat tembem itu," kekehnya membatin.


"Tas lo mana? kok cuma ransel doang?" bisik Paras memperhatikan penampilan Leo sangat memukau pagi ini.


"Hmm uaah, kalau gue kurang baju atau ******, tinggal lo beliin aja," goda Leo.


Paras mencium aroma maskulin sangat kuat dari tubuh Leo, tak sengaja Paras melihat tanda merah di leher Leo.


Deg,


"Pantes tadi malam nggak mau stay sama gue, ternyata dia menghabiskan malam sama Berlin!" geram Paras membatin melajukan langkah kakinya dengan perasaan kesal.


"Heii Ndut, tungguin gue napa? kok cepet banget. Pesawatnya belum datang kali," ucap Leo santai merangkul bahu Paras setelah berhasil menyusulnya.


"Lepas!" geram Paras berbisik.


Dia nggak mau, ribut di depan halayak ramai. Paras berusaha menahan rasa cemburu, melepas tegas tangan Leo dari bahunya.


"Iiighs Lo kenapa seeh?" gertak Leo menggeram.


"Udah aaagh gue malas sama lo! nggak jelas! samar-samar! membayang!" kesal Paras meninggalkan Leo.


Leo menaikkan alis dan bahunya, jujur dia tidak menyadari.

__ADS_1


"Ada apa seeh? buat gue semakin pengen aja sama si ndut," batinnya.


Leo berjalan menyusuri bandara, menuju ruang tunggu, tentu Paras lebih dulu berada disana dengan wajah jutek nggak menentu.


Leo sibuk membalas pesan dengan Sintya, saling menggoda lewat whatsApp terkekeh sendiri senyum penuh bahagia.


"Ehem," sindir Paras mendehem, tak begitu diacuhkan oleh Leo.


"Iiighs!" Paras semakin menggeram.


"Gue injek-injek ni bocah! gemes banget, pasti main game deh," Paras merogoh handphone dari tasnya, sengaja menelfon Leo, agar duduk di dekatnya.


Leo menatap kearah Paras, saat handphonenya bergetar,


"What?" Leo tersenyum licik, memilih mendekat pada Paras merangkul bahunya, sesekali mengusap geram.


"Lo jauh-jauh kayak nggak kenal gue! kesel!" bisik Paras.


"Lo ngambek, marah-marah nggak capek apa? ntar kumat lhoo kutil lo," kekeh Leo mengecup kepala kiri Paras.


Ooogh my God, wanita mana yang tak luluh lantah beserak dibuat si Leo. Pria batak nan romantis sangat pandai memahami wanita, apa lagi sosok seperti Paras yang sangat ingin dibelai dan dimanja.


"Apaan seeh!" Paras terbawa suasana hati yang berbunga bunga, ada bunga kamboja, bunga lili, bunga kuburan, hehehe.


Panggilan keberangkatan diumumkan oleh petugas bandara. Mereka bergegas memasuki pesawat, tentu duduk di fasilitas bisnis. Jika ada penerbangan domestik yang VIP, mungkin mereka akan menggunakannya demi sesuap emas berlian, hehehe.


Paras duduk disebelah Leo, memperhatikan tanda merah wanita itu.


"Iiiighs kenapa mesti dilihatin gitu seeh," geram Paras membatin.


Leo menggenggam jemari Paras, mengatur posisi duduknya agar terlelap selama penerbangan.


Deg,


Leo benar-benar tertidur, menikmati penerbangan dengan tenang menggenggam tangan Paras disampingnya.


"Ternyata dia benar-benar mesum sama Berlin tadi malam! lihat yah, gue bakal buat Berlin menderita setelah gue pecat! nggak tau apa gue berkuasa di perusahaan itu."


Paras semakin kesal dalam hati dengan pikirannya.


Lebih kurang 1,5 jam mereka menginjakkan kaki di Pekanbaru Riau.


"Hmmm akhirnya aku sampai disini," batin Leo, menunggu Paras yang tengah berjuang keras untuk turun dari pesawat.


Leo sengaja turun lebih dulu, karena Paras berkali-kali membuatnya kesal.


"Rasain lo! di pujuk ogah mulu! kalau baik-baik aja, pasti kita turun bareng Paras bodoh!" kesal Leo membatin.


Seseorang sudah menunggu mereka untuk menuju kantor Kennedy, menjemput Leo dan Paras melalui jalur yang berbeda.


Leo menghela nafas dalam, saat Paras sudah semakin mendekat,


"Lo kenapa siih? dari tadi ngejutekin gue!" kesal Leo saat Paras sudah berada dihadapannya.


"Hmm kesel aja sama cupangan lo! gue cemburu!" tegas Paras sambil berlalu.


Deg, Leo baru menyadari hasil karya Sintya.

__ADS_1


"Aaaghrh shiiit!"


Leo menggaruk lehernya yang tak gatal, mengikuti langkah Paras menuju mobil yang sejak tadi menunggu.


Leo diam seribu bahasa selama perjalanan. Dia tak mau membahas ataupun menjelaskan. Mereka langsung menuju sebuah restoran sebelum menuju Perusahaan yang akan berkerjasama dengan Perusahaan Baros. Tentu kawan lama Baros, yang sangat mengenal Leonal, tapi tidak mengenal Paras.



Nama: Kennedy Lamhot,


Usia: 45 tahun.


Status: Single.


Berdarah Sakai dan Australia.


Pengusaha Airbus Pariwisata, khusus Sumatra.


Tinggal: Singapura.


Berbisnis di Pekanbaru.


Sahabat karib Baros dan Maride.


Kekasih Berlin Alkhairi Baros.


🌹🌹🌹


Leo dan Paras tiba di kantor Kennedy pukul 14.00 waktu Pekanbaru, selesai makan siang mereka yang sangat garing tanpa bicara.


Popy secretaris Kennedy menyambut sangat baik saat berkenalan dengan Leonal dan Paras. Seorang wanita tomboy yang cantik dan ternyata,


"Do you have a relationship with Mr Kennedy Miss?" goda Leo, disela makan siang mereka.


"No, I just love my lover Citra," ucapnya sedikit berbisik.


Leo menaikkan satu alisnya, sangat mengerti maksud sang secretaris Kennedy.


"Hmm, cantik-cantik LGBT!" batin Leo.


Leo mengirim pesan pada Popy, segera memforward ke Kennedy. Agar tidak terlalu membahas Baros dihadapan Paras.


Popy mengangguk mengerti, maksud Leo yang duduk dihadapannya.


"Sepertinya mereka lebih mengenal Leonal! dari pada aku!" batin Paras semakin kesal.


"Eheeem!" Paras memecah kemesraan Leo dan Popy.


Leo menatap Paras, menaikkan alisnya satu, "what?" kesalnya tak bersuara.


Leo semakin tak mengerti, "kenapa dia mencampur adukkan semua menjadi gado-gado? tidak propesional," kesal Leo membesarkan bola matanya kearah Paras.


"Nanti malam, gue kasih enak lo," batin Leo semakin kesal, hingga pikirannya semakin nakal pada Paras.


Mereka hanya berbicara lewat mata, hingga makan siang berakhir dengan sangat tragis, hehehe.


Pokoknya semakin kesal deh...😥😳

__ADS_1


____ Like and comment___❤️❤️


__ADS_2