
Kota hujan paling tepat untuk julukan Bogor karena sangat tingginya curah hujan disana. Albert tengah sibuk dengan beberapa pekerjaan di mess yang dia tempati. Beberapa minggu dia harus fokus menyelesaikan unit pesanan Langhai Group.
"Ternyata Paras memang sangat pintar dalam mengelola sebuah perusahaan sebesar Langhai," kekehnya tanpa memandang Leo.
Bagi Albert, Leo hanya selingan kecil yang di dasari keberuntungan menjadi penerus keturunan Maride dan Baros. Bukan karena kemampuan Leonal, selama ini menurut rekan mereka Paras lah yang berperan penting pada perusahaan.
"Memang pantas Mami Maride di juluki wanita tangguh, karena mampu menciptakan wanita tangguh yang lain menjadi penerus, tapi kenapa Paras harus menikah dengan Leo? bukan menerima aku. Leo kan penjahat kelamin, sangat berbeda dengan aku! walau suka undang cewek tapi kan bukan untuk ehem ehem," kenangnya membandingkan.
Albert menghubungi nomor yang di kirim Paras tapi tidak kunjung ada jawaban karena nada panggilan sibuk.
"Tuuut tuuut tuuut,"
"Kemana tu bocah kecil? nggak kangen apa sama ciuman aku yang tadi siang?" kekehnya membayangkan wajah lucu Yani.
"Besok pagi aku ke kantor Langhai aaagh, bawa makanan untuk Paras dan gadis kecil itu. Sepertinya badannya kecil, tapi nafsunya besar bahkan bisa aku angkat angkat jungkir balik jika sudah menikah,"
Albert meletakkan handphone di nakas, menutup laptop, melanjutkan masuk ke dunia mimpi, agar besok menjadi hari indah bagi pria dewasa seperti dirinya.
"Aku akan menikahimu secepatnya, tanpa menunggu lama," khayalannya menutup wajah menggunakan bantal.
.
.
☀️Matahari bersinar cerah menyinari bumi terutama kediaman Leo dan Paras. Mereka melepaskan Baros dan Maride untuk berangkat ke Kalimantan bersama Sinta dan Loide menggunakan jet pribadi keluarga.
Sementara Leo masih di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan berolah raga sembari menunggu Paras menyiapkan sarapan.
"Ndut, kamu ke kantor kan hari ini? ada yang mau ditandatangani," jelas Leo melihat email yang dikirim oleh Berlin.
"Ya, aku ke kantor," jawab Paras santai.
Paras bergegas mempersiapkan bekal yang akan dibawa untuk sarapan sekaligus makan siang mereka berdua, jika kurang biasanya memesan di restoran gedung lantai satu.
"Oya Bowl, hari ini kita ada undangan makan malam bersama Albert yah? bawa Luqman dan Berlin enggak apa apa, aku juga mau jodohin dia sama Yani," jelas Paras.
"Kamu aja deh, aku malas jumpa dia," tolak Leo.
Paras mendekati Leo, memeluk tubuh suaminya dari belakang. Posisi mereka yang berada antara dapur kering dan ruang keluarga, membuat Paras sangat cepat mendekap tubuh Leo yang masih dilanda cemburu.
__ADS_1
"Nggak baik seperti itu, dia mengundang kita," jelas Paras tenang.
Leo membalikkan badannya, menatap lekat wajah cantik Paras, "kamu beneran nggak pernah berhubungan sama dia?" tanyanya.
Paras menangkup wajah tampan suaminya, "aku nggak pernah berhubungan dengan siapapun selain mantan mertua kamu dan kamu tau sendiri aku sudah menyerahkan semua pada mu secara utuh, nggak berkurang, hingga kita memiliki baby four bahkan bakal ada baby twins," jelasnya.
Leo tersenyum, memeluk erat tubuh Paras, "ntahlah, sepertinya aku sedang cemburu sama kamu," bisiknya dengan mata terpejam.
Paras mendekap erat tubuh Leo, mengerti akan perubahan suaminya akhir akhir ini. Dia lebih sering mencari Paras, bahkan tidak bisa jauh, tanpa menghiraukan orang lain yang ada di sekitarnya. Rasa cinta bahkan ketakutan Leo terlihat sangat jelas dari raut wajah berbulu lebat itu.
"Kamu nggak akan pernah kehilangan aku, karena kamu cinta terakhir aku," jelas Paras pelan.
"Tapi dia sering banget ngegodain kamu, aku jadi emosi, aku enggak mau kamu di goda orang lain selain aku. Aku takut kamu terlena dan terbuai sama rayuan bule somplak itu," rungut Leo.
Paras mengerti akan sikap kekanakan Leonal, baginya pria ini sangat baik padanya dan keluarga itu sudah sangat cukup bahkan sangat mengesankan bagi kehidupannya.
"Aku sudah biasa disanjungnya, digoda bahkan dia sering melakukan itu depan Mami dan Papi. Hanya saja Mami enggak pernah menanggapi, karena tahu inilah pekerjaan kita sayang. Aku sangat menjaga nama baik keluargaku dan kamu. Dia memberi aku cincin sebagai kado pernikahan, aku terima karena menghargai dia Bowl," jujur Paras.
Membuat kening Leo semakin mengkerut sepuluh, bahkan mendengus kesal.
"Kok kamu nggak bilang kamu di kasih perhiasan? apa perhiasan dari aku kurang? apa yang aku beri ke kamu itu nggak ada harganya hingga kamu menerima pemberian orang lain?" sungut Leo tersulut emosi.
Dadanya bergemuruh bahkan seperti ada yang menyalakan obor olimpiade didada kekar itu.
Paras terdiam, menatap lekat wajah suaminya yang benar benar dilanda gempa cemburu.
"Kamu enggak seriuskan? apa alasannya aku harus mengembalikan pemberian dia, itu hanya kado Bowl, bukan dia mau merebut aku dari kamu," ucap Paras.
"Kamu balikin, atau aku yang mengantarkan ke Bogor melempar ke wajahnya," tegas Leo.
Deg,
Paras seperti makan buah simalakama, dia tidak ingin pemberian Albert menjadi masalah baru bagi rumah tangganya.
"Hmmmm aku akan mengembalikannya," ucap Paras walau bingung bagaimana caranya.
"Bagus, aku nggak mau kamu memberi harapan pada laki laki seperti dia, terlalu naif jika dia memberi tidak berharap yang lain. Aku laki laki Ndut, aku sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita yang kita cintai, walau itu hanya sebuah kado. Pasti akan ada kado yang lain dia beri dan kamu harus menerimanya. Aku tidak mau itu terjadi pada kamu dan dia hingga mengancam kebahagiaan kita,"
Leo meninggalkan Paras diruang tengah masih perasaan bingung, dia melirik ke arah Faisal dan Kirai yang sejak tadi memperhatikan perdebatan anak menantunya.
__ADS_1
"Leo, Leo jangan begini," kejar Paras masuk mengikuti langkah suaminya.
Saat Paras baru akan masuk kekamar, Leo justru membalik menatap istrinya.
"Jangan begini apa? wajar aku cemburu, aku suami kamu! aku sangat mencintaimu, jika cincin yang kamu butuh, nanti siang kita beli semua model yang kamu suka, berapapun harganya akan aku bayar," ucap Leo tanpa ingin dibantah.
"Kamu kok jadi aneh?"
Paras lebih memilih keluar dari kamar meninggalkan Leo yang benar benar membuat dia bingung.
"Dulu Luqman ngasih kado kalung, dia juga marah, sekarang Albert. Kenapa dia jadi emosian begini?" rungut Paras melangkah ke dapur.
Kirai dan Faisal justru saling bertatapan penuh tanda tanya.
"Albert siapo Pak?" tanya Kirai.
"Ntahlah, Paras indak pernah cerita tentang hubungan cintanya selama ini,"
Faisal menarik nafas dalam-dalam, "bialah dulu, beko kalau terlalu awak ikuikkan, jadi balo pulo untuak anak menantu,"
Faisal mengusap lembut punggung Kirai, melihat Leo sudah rapi akan meninggalkan rumah mereka menuju kantor.
"Bowl, kita barengkan?" tanya Paras mendekat.
"Kamu sama sopir saja, aku mau sendiri,"
Leo berlalu, mengambil kunci mobil, tapi di tahan oleh Paras.
"Kamu mau pergi tanpa melihat aku dan anak anak? hanya karena emosi? cemburu? kamu tahu aku sangat mencintai kamu. Aku hamil Bowl, anak kamu ada di rahim aku, kenapa kamu enggak bisa percaya dan ngerti seeh! kecewa aku sama kamu,"
Paras benar benar bingung karena kelakuan Leo, nggak menyangka masalah kecil jadi besar, padahal dia mau mengembalikan pemberian Albert agar tidak menjadi bumerang, tapi Leo berubah 180 derajat karena perasaan cemburu.
"Jika dia datang ke kantor sendirian, akan berdampak pada mood semua karyawan, karena akan di bentak habis habisan oleh Leo," batin Paras membiarkan suaminya pergi lebih dulu.
Leo hanya termenung di ruang tamu. Duduk sendiri merutuki sikap posesifnya.
"Kenapa gue jadi begini? apa hebatnya bule somplak menyebalkan itu? uhuuugh," kesalnya mengusap wajah kasar.
Suasana hati Bang Leo lagi dilanda ujian, antara kamu, dia dan kita, 🤧
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️