
Mereka duduk di salah satu restoran Prancis pilihan Paras yang sangat menginginkan masakan terlezat disana. Beberapa botol wine dan sampanye secara bersamaan menemani mereka, sesuai permintaan Albert yang sangat menyukai makanan disana.
Amy duduk berhadapan dengan Albert, sedikit melirik kearah Yani dan Leo yang duduk bersebelahan dengan Paras. Wanita oriental itu sengaja membuka kancing bajunya agar lebih terbuka lebar memberi kesan yang sangat menggiurkan bagi laki-laki dihadapannya.
Mata Albert sesekali melihat dada wanita yang tidak begitu besar, tapi mampu mengalihkan pikiran dan perhatiannya.
"Ehem," Yani melirik kearah Albert, dengan wajah sedikit jutek.
Albert tersenyum sumringah melirik istri tercinta sedikit lebih insecure, dari biasanya, "kamu kenapa hmmm?" bisiknya.
"Aku nggak suka, kamu lirik lirik dia, apa punya ku kurang menarik? aku rasa lebih besar milikku," Yani mencubit manja perut Albert yang dibuat salah tingkah oleh istri manjanya.
Albert meletakkan keningnya dibahu Yani, ada sedikit rasa bersalah dihati, karena ulah mata yang tidak bisa bekerja sama dengan pikiran.
Paras dan Leo justru lebih mesra tanpa mau melihat sekelilingnya, tampak jelas pria berbulu itu mengecup lembut bibir istrinya yang tak berbentuk menurut Amy degan sangat mesra.
"Bowl, udah deh. Banyak orang," Paras menyuapkan makanan pembuka untuk Leo.
Sandoro justru tengah dilanda kekhawatiran, setelah mendapat kiriman foto dari istri tercintanya, karena kemesraannya bersama Amy tertangkap kamera.
"Aaaagh, shiit!" Sandoro melihat kiri dan kanan, mencari siapa yang telah mengikuti langkah kakinya bersama sang secretaris seksi itu.
"Pap, kamu kenapa salah tingkah gini? bukankah sebentar lagi sopir akan membawa kita ke Jogja?" Amy berbisik pada Sandoro.
Sandoro terlihat sangat tidak nyaman berada direstoran mahal itu, banyak yang menjadi mata mata Bety.
"Bety mengirimkan aku foto ini," Sandoro memberikan handphone miliknya pada Amy.
Amy menunduk sedikit berbisik, "aku yakin mereka telah menjebak kita, Pap."
Sandoro semakin tidak tenang, wajahnya memerah, raut ketakutan sangat terlihat jelas, karena foto mesra yang dia terima.
"Ini sangat meresahkan aku."
__ADS_1
Albert yang melihat kegelisahan Sandoro dan Amy menaikkan kedua alisnya, "kenapa kalian tampak salah tingkah, apakah ada yang mengganggu kebahagian kalian?"
Sandoro justru tersenyum tipis, menatap kearah Albert dan Yani secara bergantian, "jika saya izin dulu bagaimana? kebetulan saya harus berangkat ke Jogja siang ini. Sopir sudah dibawah," senyumnya.
Albert melirik kearah Leo dan Paras, sedikit terkejut karena pertanyaan Sandoro ingin berpisah dari mereka, "baik tidak masalah. Unit kalian sudah aman di Langhai, nanti tinggal ambil saja, semua berkas juga sudah kita tanda tangani, jika anda ada kegiatan lain, silahkan," jelasnya.
Sandoro bergegas menarik pergelangan tangan Amy, karena enggan berlama lama berada disana, sebelum ancaman berikutnya muncul tambah mengganggu kesehatan dan kebahagiaannya.
"Ternyata tidak sedikit pria patuh pada istri yah?" Albert tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah pucat Sandoro. Pria berwajah Indo itu lebih memilih meninggalkan rekan bisnisnya demi menyelamatkan jabatan.
Leo menaikkan kedua bahunya, "aku fikir mereka berani seperti biasa, ternyata aku salah. Baru dikirim foto begitu, bagaimana kita mengirimkan lebih dari foto."
Paras justru enggan membahas tentang Sandoro dan Amy. Dia lebih fokus pada Yani yang tengah mengandung anak Albert. Sesekali tangannya mengusap lembut perut mantan secretarisnya yang tampak cantik setelah menikah.
"Makan yang banyak, jangan manja," Paras memberikan beberapa potongan sayuran dan daging sapi dipiring Yani.
"Makasih Mba, atas perhatiannya," Yani merasakan kebahagiaan berbeda, karena mendapat perhatian khusus dari Paras.
Paras dan Yani justru memilih menghabiskan banyak waktu untuk makan masakan terenak direstoran itu, setelah kepergian Sandoro dan Amy.
"Aku nggak tahu Bowl, lagian itu bukan urusan kita, urusan kita sama dia adalah hanya bisnis. Bukan pribadi. Aku harap kamu tidak menjadi pria yang menghibah. Ingat anak kita ada cewek, baby Stela. Aku nggak mau kita membicarakan mereka. Aku hanya ingin menyampaikan niat Berlin dan Willion yang ingin mengasuh dua baby kita. Baby Steiner dan Baby Stevie. Bagaimana menurutmu?" Paras melirik kearah Leo sesekali mengalihkan pandangannya pada Albert dan Yani.
Leo sedikit terkejut, mendengar pernyataan Paras, "haaah, mereka mau mengasuh baby kita? itu sama saja kita memisahkan mereka berempat. Aku tidak setuju, karena mereka adalah anakku, darah dagingku."
Paras mengangguk mengerti, "jika sudah berusia lima tahun, bagaimana?"
"No," Leo menegaskan penolakan.
Paras tersenyum, "ya, aku juga tidak mau mereka mengambil anak anak. Toh kita bisa merawat mereka."
"Ya, lagian itu bukan boneka, tapi anakku, darah dagingku, tidak ada yang bisa mengambil mereka dari aku. Apapun alasannya, jika mereka mau, silahkan datang kerumah, tanpa membawa pulang berlama lama. Jika Steiner dan Stevie sudah mengerti dan ingin tinggal bersama mereka silahkan. Oya, baby Alea bagaimana, apakah ada kabar dari Berlin?" Leo penasaran.
Paras menggeleng, "aku hari ini belum ketemu Berlin, Laura juga masih di Bandung, jadi belum ada komunikasi sama mereka."
__ADS_1
Leo mengusap lembut punggung istrinya, perasaan nyaman dan cinta semakin tumbuh dihatinya karena kedewasaan Paras yang mampu propesional apapun yang dihadapi.
"Makasih yah Ndut, kamu paling pintar memahami bagaimana aku," Leo mengecup kepala Paras.
Albert menggelengkan kepalanya menatap wajah Leo yang semakin alay semenjak menikah dengan Paras, "kenapa Lo jadi lenjeh begini bro?"
"Hmmm, bukan lenjeh, tapi karena perasaan nyaman itu tidak bisa didustai. Sudah dua tahun memiliki anak menjadi lebih sempurna. Cobain nanti, jika anak kalian sudah lahir. Pasti Lo akan ngerasain apa yang gue rasain," Leo menaikkan kedua alisnya turun naik dengan wajah bahagia.
"Tapi Amy sangat menginginkan Lo sepertinya," Albert memulai aksinya agar Leo terpancing emosi.
"Diem Lo, sama aja Lo sama Sandoro. Udah ada bini masih suka aneh aneh otaknya," Leo menepis ucapan Albert agar tidak berkelanjutan.
Albert tertawa terbahak-bahak, baginya jika Paras dan Leo berantem menjadi suatu kebahagiaan baginya.
"Kita berpisah saja yah? kami mau ke supermaket biasa, membeli semua kebutuhan rumah," Paras mengusap lembut bibirnya menggenggam erat jemari Leo yang duduk disampingnya.
Albert mengangguk, "kita kemana baby?" bisiknya ditelinga Yani.
"Apartemen aja, aku mau istirahat, urusan kamu sudah selesaikan?" Yani mengusap lembut wajah Albert dihadapannya.
Albert mengangguk setuju, memanggil pelayan untuk segera membawa bill meja mereka.
Waiters dengan sigap membawa bill kemeja mereka.
"Berapa?" Albert dan Leo mengeluarkan card bersamaan.
Kasir pria yang berdiri dihadapan mereka menunduk hormat, "hmmm, semua sudah dibayar oleh Nyonya Bety, Tuan."
Leo dan Albert saling tatap, "Bety. Dimana dia, apakah dia berada direstoran ini?" mereka semakin penasaran.
"Ada diruangan VVIP bersama rekannya, Tuan," pelayan menunjuk satu ruangan yang tertutup rapat.
"Benar benar kejutan luar biasa," mereka tersenyum sumringah.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️