
Suasana kediaman Leo yang tidak pernah sepi dari kunjungan para sahabat dan karyawan Langhai Group siang itu, membuat Maid terlihat tampak sibuk tidak seperti biasanya.
Maride bergegas memesan masakan dari luar, karena tidak bisa menampung rekan, sahabat yang datang silih berganti untuk memberi semangat pada Paras karena kehilangan baby twins.
Didalam kamar yang luas itu, Albert, Yani dan Fredy tengah menemani Paras.
Leo yang tampak sedikit strees karena kejadian yang menimpa keluarganya, membuat dia hanya bisa tertidur disamping Paras setelah berbicara dengan Faisal ayah mertuanya, tanpa sungkan didepan sahabat istrinya.
"Paras, aku turut sedih sayang," ucap Albert menggenggam jemari Paras.
Paras hanya tersenyum tipis, "aku berusaha kuat Albert. Walau sebenarnya aku sendiri belum tentu kuat," bisiknya pelan.
"Tenanglah Paras, semoga dapat gantinya," ucap Albert.
Paras menggeleng, "aku hanya ingin membesarkan keempat anakku Albert. Sudah terlalu sering aku mengalami keguguran, dan itu sangat menyakitkan," rundungnya.
Fredy yang mendengar suara hati Paras mencoba menenangkan wanita gendut yang kuat itu, "tenanglah Mba, saya akan selalu menanti kejutan dari Mba Paras dan Bang Leo," senyumnya.
Leo enggan menjawab, dia mendekap tubuh gendut istrinya agar terasa lebih tenang, "kalau Lo udah selesai, silahkan keluar dari kamar gue! males banget dengar bacotan Lo ngerayu bini gue!" kesalnya merenggangkan genggaman tangan Albert dari istrinya.
Albet terkekeh, "tadi gue lihat ada Mami Linslei, ngapain dia ke Jakarta? apa dia lupa sama gue?" kekehnya menggoda Leo.
"Hmmm, ada diluar, gue mau istirahat dulu, masih nunggu kabar dari Will," ucap Leo, tanpa memperdulikan Albert, Fredy dan Yani.
"Bang, saya keluar yah? tadi saya sudah menyuntikkan obat menghentikan pendarahan Mba Paras, semoga besok sudah normal kembali. Mba jangan strees," bisik Fredy memilih berlalu lebih dulu meninggalkan Yani dan Albert.
Leo yang merasa sungkan, terpaksa mengantarkan Fredy keluar kamar, karena dokter kandungan itu harus kembali ke rumah sakit.
"Terimakasih yah Fredy, kami nggak suka berlama-lama di rumah sakit, makanya lebih bagus kamu yang datang kesini," jelas Leo menepuk pundak Fredy.
Fredy tersenyum, "jika pekerjaanku sudah selesai, mungkin lusa saya sudah menuju Jerman, Bang. Melanjutkan perjodohan saya disana. Bisa jadi saya akan menetap disana," jelasnya menunduk sedih.
Leo tersenyum, "baiklah, terimakasih Fredy. Semoga kau bahagia. Apapun yang terjadi beberapa waktu lalu, lebih baik kita lupakan, kembali menata masa depan," jelasnya menghibur Fredy.
Fredy memeluk Leo, "terimakasih Bang, salam buat Berlin dan Mba Paras. Jika hamil lagi, cari saja Dokter Meta. Dia spesialis kandungan yang bagus juga disana. Lebih berpengalaman dalam menangani semua kasus," ucapnya mengingatkan.
Leo menggeleng, "sepertinya enggak dulu Fred, palingan nanti pintar pintar kami saja mengatur agar tidak hamil lagi. Empat anak sudah cukup, sekolahnya luar biasa mahal," kekehnya.
"Aaagh Abang bisa saja, baby four akan menjadi anak yang baik ke depannya," ucap Fredy memeluk Leonal.
"Salam buat semua, jika ada waktu mampirlah ke Jerman, bawa baby four," bisik Fredy ditelinga Leo.
Leo mengangguk setuju, "pasti aku akan mengabari mu jika kami kesana, yang pasti kita masih tetap bersahabat selamanya," tegasnya menepuk pelan pundak Fredy.
Fredy berlalu meninggalkan kediaman Leo, tanpa mau berpamitan dengan Albert dan Yani. Luka yang tertoreh teramat dalam, sehingga membuatnya terluka dan enggan bersahabat untuk saat ini.
Luka terdalam.
.
__ADS_1
.
Ditengah hiruk pikuk kota metropolitan, didaerah Kuningan Jakarta, terdapat pasangan mesum luar biasa panasnya, tengah menghabiskan waktu bersama. Merekalah Willion dan Sintya yang tengah bermadu kasih dengan pasangan gila keduanya.
Sintya berstatus istri Kennedy bersedia melayani Willion yang berstatus suami Laura. Tentu karena ingin membalas sakit hati Will pada wanita laknat itu.
"Kenapa kau terlihat kaku begini Sin?" tanya Will saat mencapai pelepasannya setelah bergulat panas dengan Sintya.
Sintya memeluk erat tubuh kekar Will, "aku butuh kamu Will, bawa aku pergi. Aku tidak ingin bersuamikan Kennedy lagi," kenangnya.
Willion menarik nafas panjang, agar dirinya lebih tenang dalam melakukan penyamaran. Pelan dia mencabut siunyun dari hangatnya cengkraman incubator milik Sintya, beralih kesamping wanita blesteran itu.
"Aku dijebak olehnya. Kini dia pergi membawa putri kami. Dia menceraikan aku," isaknya seperti kejadian itu real adanya.
Will beranjak dari ranjang, mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai kamar hotel Rich Carlton, menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan berpakaian rapi dan terlihat segar.
"Mandilah, aku akan memesan beberapa makanan untuk kita," ucap Will.
Sintya hanya meringkuk, tanpa mau beranjak dari ranjang peraduan mereka, "kenapa kau belum menceraikan istrimu, Will? bukankah kalian juga tidak bahagia?" tanyanya tanpa wajah berdosa.
Willion tertawa menahan sebak didada. Jika tidak mengingat pesan Simon untuk tidak melukai Sintya, mungkin orang yang pertama kali akan dia bunuh dengan tangannya sendiri adalah wanita yang baru saja melayani nafsu kelaki lakiannya.
"Bukankah mobilmu kecelakaan kemaren? kenapa? dimana kalian kecelakaan?" tanya Will mengaktifkan rekaman di handphone miliknya.
Sintya menggeliatkan tubuhnya, berharap Will akan mendekatinya lagi.
"Apa kau yakin telah membunuh mereka?" tanya Will penuh selidik.
"Ya, setidaknya kami sudah merasa puas karena telah melumpuhkan lawan yang sangat menjijikkan keluarga ku," cerita Sintya tanpa malu.
"Siapa musuh keluargamu? apakah perusahaan Langhai Group punya kesalahan pada keluarga besarmu?" tanya Will lagi ingin mengetahui semua cerita dari Sintya, walau dadanya penuh perasaan amarah.
Sintya duduk mencepol rambut indahnya tinggi, menutup bagian dada dengan selimut tipis.
"Karena perceraian ku dengan pewaris Langhai Group, hidup ku jadi begini. Kehilangan arah bahkan keluarga yang hangat. Ibuku akan menceraikan ayahku, karena perselingkuhannnya dengan keluarga direktur Langhai yang dinikahi anak owner itu. Kau tahu Will, mereka itu pasangan yang tidak masuk akal, sehingga mau menikah dengan wanita tua dan gendut tidak berbentuk. Bahkan mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai, itu yang membuat aku semakin jijik dan ingin membalas rasa sakit hatiku," cerita Sintya panjang lebar membuat Will tampak bingung.
"Siapa yang berselingkuh dengan ayahmu? apakah direktur Langhai?" tanya Will penasaran.
"Ya, Parassani Chaniago, wanita gendut itu yang sudah menghancurkan Keluarga ayahku, dengan kakaknya Luna. Mereka bersekongkol untuk menjadi istri kedua ayahku, bahkan berlomba lomba," ucap Sintya tanpa ada perasaan bersalah.
Willion menaikkan kedua alisnya, merasa omongan wanita yang ada dihadapannya hanya bentuk kesalah pahaman. Setahu Will, bukan Paras yang menjadi selingkuhan Silutak, melainkan Luna kakak kandung Paras.
"Tapi kenapa Paras yang menjadi sasaran keluarga ini? apakah mereka tidak mendapatkan sepenuhnya Paras karena Baros lebih dulu menyelamatkannya dari serangan Margareta," batin Will.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Will pada Sintya.
Sintya meraih handphone miliknya yang terletak dinakas, "aku akan menculik keempat anak mereka dan membawanya ke Austria bersama ibuku," ucapnya asal.
Willion tidak bisa membendung amarah, emosinya membeludak seketika, dia mendekati Sintya dengan tatapan sadis, sangat sadis.
__ADS_1
"Jangan pernah kau menyentuh baby four Paras dan Leonal! jika kau masih ingin hidup bebas disini, wanita laknat!" Will meremas pipi Sintya dengan satu tangannya yang kekar.
Mata Sintya terbelalak besar, pupilnya tak mampu menyembunyikan perasaan takut, "aaagh, sakit Will, lepaskan aku," erangnya.
Willion menghubungi Simon agar segera kekamar mereka untuk menyeret Sintya yang telah menceritakan sedikit kepadanya. Bukti rekaman suara Sintya sangat gamblang.
"Siapa kau?" Sintya berusaha memberontak tapi Willion lebih kuat berada diatas tubuh wanita itu.
Will membungkus tubuh Sintya menggunakan selimut tebal, mengikat dengan tali yang ada didalam tasnya. Memasang lakban ke mulut wanita kejam yang menjijikan itu.
"Kau mau tahu siapa aku, sayang?" bisik Will pada cuping kiri Sintya.
Tubuh yang sudah terikat dan terbungkus seperti kepompong itu tidak bisa bergerak lagi. Wajah cantiknya memerah saat mendengar pengakuan Will bahwa dia adalah menantu Linslei Panjaitan dan Almarhum Kolin Sibuea.
"Aku adalah suami Laura Sibuea sayang. Aku sangat mencintainya dan dia tahu aku tidur denganmu hari ini," kekeh Will seperti malaikat pencabut nyawa.
"Aaaaaaaagh," Sintya berusaha memberontak, tapi apa daya, tubuh itu sudah siap digiring ke penjara oleh Keluarga Maride.
Tok tok tok,
Terdengar ketukan pintu, dengan santai Will membuka pintu. Betapa terkejutnya Sintya dengan kehadiran Maride, Baros dan Linslei, tentu lebih terkejut lagi dengan hadirnya Laura bersama mereka.
Dengan sigap pihak kepolisian yang datang bersama Simon dak Keluarga Baros, melepaskan ikatan Will, meminta Sintya untuk menggunakan pakaiannya, menggiring wanita itu ke penjara dengan semua bukti yang didapat oleh Will.
"Kerja bagus Will," ucap Maride.
Plaaaak,
Tamparan Linslei tepat dipipi menantunya, "jadi kau tiduri dia demi membalas dendam mu?" tanyanya sinis.
Wajah Will dan Laura saling tatap, "aku sudah diizinkan Laura, Mami," ucapnya jujur.
"Aaaaagh, Willion, menantu laknat kau! iiiiighs, kenapa anak aku masih mau sama kau! babi...!" geram Linslei meninggalkan kamar hotel.
Maride dan Baros hanya tersenyum geli, "bagus kau kebiri unyun si Will ini Laura. Biar aman Mami mu," kekehnya menyusul Linslei.
"Iiighs, biarlah, yang penting aku masih mencintai suami ku!" jawab Laura menggandeng lengan Willion.
Will yang memang jujur pada Laura, hanya memeluk tubuh istrinya, "jika kau tidak sanggup dengan ku, jangan sungkan untuk melepaskan ku, Laura," bisiknya merasa bersalah.
Laura menghentikan langkahnya, "aku tidak ingin berhenti mencintaimu karena kebodohanku Will, aku melihat sisi baikmu, bukan burukmu. Berhentilah setelah ini. Berjanji pada ku. Kita fokus untuk segera membujuk Bang Leo dan Kak Paras tentang hak asuh Steiner," jelasnya.
Wajah Will berubah seketika, "terimakasih Laura, aku akan berjanji pada Tuhan, tidak akan menyentuh wanita manapun selain dirimu, sekali lagi terimakasih dan maafkan aku," peluknya pada Laura.
Entahlah, ini cinta atau apa, yang pasti Laura tidak akan pernah melepaskan Will si pria jujur yang bodoh...😂
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1