Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kebersamaan..


__ADS_3

Pertemuan yang tidak disangka-sangka dengan pemilik bus pariwisata Jogja, Nyonya Bety istri dari Sandoro, memberikan informasi yang mengejutkan mengenai pria berwajah kalem itu tentang Amy selingkuhan sekaligus secretarisnya. Mereka hanya mengungkapkan terima kasih atas jamuan yang diberikan Bety selaku komisaris PT. Sumbawa.


Paras dan Leo berpisah dengan wanita cerdas itu, melanjutkan kegiatan mereka ke supermarket terdekat di Jagakarsa. Sementara Albert dan Yani melanjutkan perjalanan ke apartemen Kalibata.


"Kita nginap disini saja yah hubby, makasih kalungnya, aku suka," Yani tersenyum senang merangkul lengan Albert yang sudah sah menjadi suaminya.


"Hmmm," Albert mengecup kening Yani saat akan turun dari mobil mereka.


Albert membantu Yani untuk turun dari mobil, menuju unit apartemen milik Yani yang dia beli dari tangan Leo.


"Kamu mau makan apa sayang? dikulkas kita nggak ada stock makanan, atau aku delivery saja yah. Biar kamu nggak kelaparan kalau malam," Albert memberi pilihan pada Yani.


"Hmmm hubby, aku boleh makan yang pedes kan, aku minta ketoprak Jakarta yang berada di Kuningan," pinta Yani manja.


Albert mengangguk setuju, baginya yang penting Yani sehat dan bahagia selama kehamilan pertama anak mereka.


Yani membuka pintu unit apartemen, diikuti langkah Albert yang masih sibuk dengan panggilan telepon dari rekan kerja. Bergegas dia memasuki kamar untuk membersihkan diri sendiri. Sementara suami tercinta masih disibukkan dengan kegiatan pekerjaan yang tidak pernah berhenti.


Dua puluh menit berlalu, Yani masih belum menemukan Albert dikamar. Dia mengenakan handuk kimono penutup tubuh mungilnya, membuka pintu kamar sedikit. Betapa terkejutnya Yani dengan kehadiran Fredy diunit apartemen, tengah berdebat panjang dengan Albert mengenai dirinya.


Fredy yang belum bisa move on, akhirnya beradu tatap dengan Yani saat laki laki itu menoleh kearah pintu kamar.


Yani langsung menutup pintu dengan sangat cepat, sedikit ketakutan melihat tatapan mata Fredy.


"Gue permisi, nggak penting juga. Ingat, gue mengalah bukan berarti ikhlas. Melainkan gue sedang berusaha mengalah sama Lo. Mami selalu mengatur hidup gue, tapi tidak untuk hidup Lo. Kalian terlalu, sangat terlalu. Mungkin gue akan menerima cinta asisten pribadi yang selama ini selalu ada dan tidak jadi meninggalkan Jakarta karena perdebatan gue sama Mami," Fredy menatap nanar iris mata Albert.


"Maksud Lo, nggak jadi menerima perjodohan Mami dengan Lauren?" Albert tampak bingung.

__ADS_1


"Ya, gue mau jadi seperti Lo."


Fredy berlalu meninggalkan apartemen Yani, tanpa berpamitan dengan istri Albert yang masih menguping dari balik pintu.


"Kenapa Fredy masih belum move on. Apakah aku benar benar memberi harapan padanya, hingga membuat dia sangat kecewa?" Yani semakin bingung, mengingat apa yang membuat dia ragu menerima Fredy.


Tidak lama kepergian adiknya, Albert memasuki kamar mereka. Begitu tajam tatapan matanya pada Yani.


"Apakah kamu pernah berjanji pada Fredy tentang pernikahan, kenapa dia masih belum bisa sepenuhnya memaafkanmu. Apa yang kamu janjikan sama dia, Yan?" Albert memberikan pertanyaan tanpa mau memikirkan Yani yang tampak bingung.


Yani tertegun menatap lekat wajah suaminya, "aku tidak pernah memberi harapan padanya. Aku pernah berharap, tapi dia mengecewakan. Apa aku salah, berhenti berharap?"


Yani meletakkan handuk kecil di kursi yang ada digenggaman, berlalu mendekati lemari.


"Dengar Yan, jika dia menolak perjodohan dengan Lauren, karier aku terancam. Apa kau paham sampai disini?" Albert memberitahu dengan wajah memerah.


"Lauren Bennett adalah wanita berkuasa di Marsedez Benz di Hamburg, dia wanita dewasa yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak, tapi memberi kepercayaan pada Armin Kube untuk menjalankan cabang disana. Jika Fredy menolak pernikahan ini, maka secara otomatis kursi kekuasaan terancam patah," Albert duduk ditepi ranjang.


"Berarti posisimu tidak aman, sama siapa Fredy akan menikah?" Yani penasaran berusaha berfikir waras.


"Hmmm, dengan asisten pribadinya," Albert merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar yang bernuansa biru langit sesuai warna awan disiang hari.


"Begitukah?" Yani semakin takut.


Bagaimana tidak, Albert akan kehilangan pekerjaan, bahkan janin yang ada dalam kandungannya akan terancam hidup biasa saja, tanpa kemewahan.


"Apa aku harus bekerja kembali di Langhai Group jika itu memang terjadi, aku takut sayang?" Yani mendekati Albert.

__ADS_1


"Jangan, jika memang Fredy menikah disini, menolak perjodohan itu, aku yang akan bekerja di Langhai. Aku akan totalitas diperusahaan Paras. Aku khawatir Langhai pun akan terancam. Bisnis ini sangat kejam," jelas Albert.


Yani hanya mendehem, enggan untuk melanjutkan perdebatan yang hanya akan mengganggu pikiran dan kebersamaan mereka.


"Begini saja, kamu temuin Fredy malam ini. Jika memang dia akan menikahi asistennya, kamu temuin Leo dan Paras. Aku yakin kalian bisa menerima tawaran Airbus Jepang yang akan rilis bulan depan dengan seri terbaru. Walau beberapa klien Langhai sangat menyukai Marsedez Benz, tapi tidak menutup kemungkinan kita bisa menerima tawaran produk Asia. Harga lebih terjangkau, tapi kualitas juga tidak mengecewakan. Memang Marsedez lebih nyaman dan sangat berbeda dengan class eksekutif buatan Eropa. Kenapa tidak kita memberikan satu yang berbeda, jikalau pengganti kamu akan mengancam Langhai," jelas Yani panjang lebar.


Albert mengangguk setuju, "kamu cerdas, aku belum kepikiran untuk melakukan gebrakan baru, karena terlalu fokus pada Marsedez Benz."


Yani mengusap lembut paha Albert, "aku baru selesai ngobrol tadi dengan Sinta. Permintaan Kalimantan adalah produk Asia, tapi kita belum menjalin kerjasama dengan pihak mereka. Kamu tahu sendiri Mami Maride sangat menyukai Mercy."


Albert tersenyum, perlahan dia duduk disamping Yani, memeluk tubuh mungil istrinya, "terimakasih," kecupnya pada kepala istri tercinta.


"Terkadang ada benarnya kita harus memiliki pasangan yang berpendidikan tinggi, agar kita tidak mentok pada permasalahan. Melainkan kamu bisa memberi solusi akan ancaman yang sewaktu waktu bisa saja terjadi," Albert semakin mendekap tubuh Yani.


"Aku mandi yah, aku bereskan Fredy dulu. Kamu enggak apa-apa tinggal sendiri disini?" Albert meyakinkan.


Yani mengusap lembut punggung suaminya, "pergilah, palingan aku cuma tidur, malas mau keluar lagi, capek. Lebih bagus kamu selesaikan, semoga mendapat jalan keluar. Ini juga untuk masa depan kita. Aku nggak mau terlalu berfikir horor. Aku juga baru tahu siapa Lauren, apakah dia bangsawan?"


Albert hanya menaikkan kedua bahunya, enggan untuk menjelaskan secara detail siapa Lauren dan dari keluarga mana dia berada.


Yani tidak bodoh, semua data ada di handphone pintar miliknya.


Perlahan Albert berlalu menuju kamar mandi, melakukan ritual seperti biasa sebelum semua terlambat. Baginya ide dari Yani sedikit membantu dan menenangkan hati.


Yani merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menutup bagian kaki dengan selimut, mengelus lembut perutnya walau belum membesar, tapi dapat dirasakan oleh baby didalam sana sentuhan tangan naluri seorang wanita yang akan menjadi ibu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2