
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di villa Paras yang berada di Puncak, pemberian mertua terbaiknya Maride dan Baros. Leo sangat memanjakan istrinya. Semua rahasia yang dia simpan rapat-rapat akhirnya dia buka dihadapan Paras agar tidak menjadi kekhawatiran suatu saat nanti.
Paras tersenyum lega walau sakit mendengar uraian tentang masa lalu Leonal. Bagaimana tidak, Leo mendapatkan Paras benar-benar dalam keadaan baik, tapi malah sebaliknya untuk diri sendiri.
"Aku sudah menyimpan semua kenangan buruk itu Ndut, hanya ada kamu dan keenam anak kita dihati aku. Aku yakin, ini adalah tantangan yang diberi Tuhan padaku. Aku benar benar menyesal," ucapnya mengecup punggung tangan Paras.
Paras tersenyum, "aku sudah tahu semua, Berlin pernah cerita, tapi aku tidak peduli dengan semua masa lalumu, bagiku kamu adalah pria gentle. Aku yakin kamu kurang perhatian dari Mami dan Papi sehingga kamu memilih hidup seperti itu. Apalagi karena kegagalan pernikahan pertamamu. Jadi tidak terlalu aku pikirkan, karena kamu menjadi pria baik saat bersama ku. Walau sesungguhnya kamu terlalu egois saat cemburu sama aku Bowl. Itu yang membuat aku kecewa padamu," senyumnya saat duduk disofa ruang keluarga.
"Maafkan aku, aku takut kehilanganmu. Aku sangat takut jika kamu menghilang dari kehidupanku dan membawa anak anak kita," rundung Leo.
Paras tertawa terbahak-bahak, "kamu pikir aku kuat besarin anak enam tanpa ayah mereka? masih kecil-kecil, bahkan membutuhkan perhatian extra dan biaya yang sangat besar. Kita aja jarang memiliki waktu bersama mereka, apalagi kurangnya perhatian dari salah satu orang tua. Aku nggak mau ngebayangin hidup sehoror itu. Bagiku masa lalu, yah masa lalu. Coba kamu lihat, bagaimana aku menghadapi Alicia dan Sintya? apa aku marah? aku hanya bisa menangis Bowl, karena aku harus menerima ikhlas kamu dan masa lalumu. Aku menyayangimu hingga akhir hayatku. Aku telah jatuh cinta sama laki laki duda, berbulu lebat tapi baik hati. Bisa membuat aku terbang bahkan tidak ingin mengakhirinya jika kamu sudah ada dihadapan aku," jelasnya panjang lebar.
Leo akhirnya bisa bernafas lega, Albert mau bicara apa sewaktu waktu, akan aman bagi diri sendiri. Tidak merasa takut seperti sebelumnya sesuai ancaman Albert.
"Kita nggak nginap disini kan?" tanya Leo.
Paras menggeleng, dia mempercayakan villa pemberian Maride pada orang kepercayaan keluarga mereka yang memang menetap di Puncak.
Cuaca yang sejuk, menambah kenyamanan bagi Paras yang tengah mengandung baby twins. Villa yang tidak begitu besar tapi mampu memberikan kedamaian bagi kedua insan yang super lebay alay jika sudah bersama setiap waktu, sangat menjadi sorotan bagi keluarga.
Paras yang bertubuh gembul dan memiliki banyak anak, masih saja terlihat sempurna dimata Maride dan Baros. Dia mampu berfikir dewasa bahkan sangat memahami bagaimana Leonal Alkhairi Baros sebenarnya.
Laki laki manja, yang usia terpaut sangat jauh, tapi mampu berfikir dewasa setelah memiliki baby four dan baby twins yang akan menjadi tanggung jawabnya kelak.
Berbeda dengan didikan Baros dan Maride, mereka terlalu sibuk dengan dunia bisnis sehingga melupakan tumbuh kembang Leo dan Berlin hingga dewasa. Hampir mirip dalam didikan Paras dan Leo pada buah hatinya, tapi masih ada Faisal dan Kirai yang sangat telaten memperhatikan gerak-gerik baby four dengan berbagai kenakalan mereka.
Hari sudah mulai gelap, mereka benar benar terlelap disofa seperti villa itu tidak memiliki ranjang untuk keduanya. Untung saja sofa yang terbentang lebih lebar dan mampu menampung wanita gendut dan suaminya.
Drrrt drrrrt,
Suara getaran handphone Paras berbunyi saat terletak dimeja.
"Bowl, siapa itu," bisik Paras karena tidak bisa bergerak oleh dekapan suaminya.
"Hmmm," Leo meraih handphone dan memberikan pada Paras.
"Amak," batin Paras.
__ADS_1
π"Assalamualaikum Mak!" Paras.
π"Waalaikumsalam, kalian dimano? kok alun pulang? alah jam bara ko? Apak khawatir," Kirai.
Paras mengusap wajahnya pelan, berusaha duduk dari tidurnya.
π"Paras di villa Puncak, Mak. Sama Leo," jujurnya.
π"Hmmm, mau makan dirumah atau diluar?" tanya Kirai.
π"Nggak tahu seeh, Amak masak apo?" Paras balik bertanya.
π"Sapi lada hitam, tadi Apak minta," jelas Kirai.
π"Ooogh, ya sudah. Kami pulang kok, baru jago. Paniang dikantor tadi, makanya kesini dulu. Amak nio Paras balian apo? nio jaguang atau wartel? atau nio cubo sate kelinci?" kekeh Paras.
π"Hmmm, boleh. Tapi jan banyak banyak, beko ndak ado yang makan," jelas Kirai.
π"Anak anak baa Mak?" tanya Paras.
π"Baik, mereka semakin cadiak, ndak nio jauah dari Apak, apolai Stevie. Manjo bana," kekeh Kirai.
π"Cucu Amak tersayang, sampai sampai kami ndak nio pulang karena raso sayang samo mereka. Apo lai, kau akan melahirkan baby twins. Semakin tarikek lah kami disiko," kekeh Kirai.
Paras dapat bernafas lega mendengar Kirai sangat senang membantu merawat tumbuh kembang keempat anaknya.
Setelah berbicara panjang lebar selama setengah jam, akhirnya tepat pukul 20.00 waktu setempat, mereka kembali pulang, tidak lupa membawa semua pesanan Kirai.
Tidak lupa Leo berhenti di Cimory untuk membeli beberapa botol s us u segar dan yoghurt yang menjadi kegemaran dua pasangan ini.
"Kita beli apalagi Ndut?" tanya Leo menggenggam jemari Paras saat mengemudi.
"Udah itu doang," senyum Paras.
Leo merasakan ada yang mengikuti mobil mereka sejak meninggalkan Cimory. Mata Leo sangat jeli saat melihat plat nomor kendaraan yang masih mengikuti mobil sport miliknya.
"Ndut, kamu rileks yah? hubungi Bang Simon, bilang kita diikuti mobil plat B ...... UWE," jelas Leo menambah kecepatan tinggi kendaraannya.
__ADS_1
Entah ada keberanian apa bagi mereka berdua melewati semua dengan sangat cepat untuk mengelabui mobil yang masih mengejar mereka. Mobil Fortuner hitam seri terbaru, sangat lihai memainkan peranan dilintas tol.
Paras tenang, menghubungi Simon sesuai arahan Leo. Saat Leo memperlambat kecepatannya, Fortuner itu membuka jendela, mengarahkan sempi kearah mobil Leo.
Leo menekan rem secara otomatis yang ada ditombol kirinya.
Chiiiit,
Rem mendadak membuat mobil sport Leo berhenti mendadak.
Dor dor dor,
"Booowl," teriak Paras.
Fortuner yang mengarahkan sempi berlalu dengan kecepatan tinggi, sementara Leo dan Paras terhenti dengan wajah masih shock. Bagaimana tidak, mereka hampir saja terkena peluru yang siap menembus kepala mereka berdua.
Braaak,
Tabrakan beruntun tidak dapat dihindarkan dua mobil yang berada dibelakang mereka.
Leo tidak memperdulikan apapun, dia melaju menambah kecepatan tinggi kendaraannya, menuju pintu tol dengan sangat cepat.
"Kamu nggak apa apa kan Ndut?" tanya Leo panik melirik kearah istrinya.
"Haaah? nggak, aku nggak apa apa, untung mobil kamu memiliki safety yang sangat tinggi," jawab Paras berusaha tenang.
"Syukurlah," Leo kembali fokus mencari pertolongan.
Saat ini dia tidak peduli dengan dua mobil dibelakangnya, bisa jadi itu adalah mobil komplotan mereka yang sengaja menabrak mobil Leo.
Leo berhenti di pintu tol, mencoba melaporkan apa yang dia alami di tengah tol Jagorawi. Entahlah, satu persatu teror untuk keluarga mereka mulai terlihat jelas, tentu menjadi ketakutan bagi Leo karena akan melukai keluarganya sewaktu waktu.
"Bangsat, ini pasti ulah Silutak," batin Leo menggeram.
Bang Leo, jaga Kak Paras...π€§
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...β€οΈβ€οΈ