Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Mendadak dangdut


__ADS_3

Baros dan Maride menghampiri keluarga Luqman yang sudah menunggu sejak tadi di ruang tamu. Maid telah menyiapkan semua minuman dan makanan, tentu atas perintah Leonal sahabat Luqman. Suasana hening, belum berani berbicara karena ada perasaan canggung antara kedua keluarga ini.


Mata Maride tertuju pada Berlin, "kenapa mereka nggak ngasih tahu kita lebih awal sih Pi! Mendadak dangdut begini Mami jadi malu untuk bicara, takut keceplosan balek kanan bule tua ini!" Bisik Maride tepat di telinga Baros.


Baros tersenyum mengusap lembut punggung istrinya, sesekali menelan saliva menanti Luqman membuka suara. "Eheeem!" Baros mendehem. "Bagaimana Luqman?" Baros memulai percakapan mereka.


Luqman masih salah tingkah di hadapan calon mertuanya memberanikan diri buka suara. "Hmm, kenalkan Tuan, Ibu. Ini Mama Luqman Mpok Alpa, ini Papa Luqman Mr. Brandon." Jelas Luqman menunduk sopan kembali menggaruk tengkuk yang tak gatal.


Maride tersenyum tipis, melirik Baros dan Leo. "Ya, salam kenal. Ini suami saya Baros, ini putra saya Leonal dan itu menantu saya Parassani." Ucap Maride memperkenalkan satu persatu keluarga inti. "Kenapa bawa kesini keluarga Luqman? Ini kan kediaman Leonal!" Tambah Maride.


Suasana masih sekaku es batu, membuat Luqman tak berani bicara. Mencubit paha Mpok Alpa agar berbicara di hadapan keluarga Baros.


Mpok Alpa terkekeh geli melihat anaknya salah tingkah. Dia sengaja ingin menguji nyali Luqman sampai dimana keseriusan sang putra terhadap Berlin. "Maaf ni yeh Kakak, Abang, saye ni kemari mau melamar putri Abang sama Kakak, Berlin untuk Luqman." Ucap Mpok Alpa tanpa sungkan.


Maride menghembuskan nafas panjang, "hadeeeh, mau lamaran kok kaku kali pun! Hmm, udah gatal kalian rupanya Berlin, Luqman? Kenapa nggak berteman dulu, nanti gagal lagi!Takut Mami, Butet." Sungut Maride menatap Luqman dan Berlin.


"Hmm, kapan rencana kalian akan menikah?" Tanya Baros pelan.


"Besok Pi!" Jawab Berlin dan Luqman bersamaan.


"Apaaaa??? Besok???" Maride dan Baros saling tatap merasa tak percaya anak kesayangan mereka akan di lamar secepat ini.


"Enggak, enggak! Mami nggak mau, tunggu Leonal dan Paras pulang dari Jerman! Mami nggak bisa mendadak dangdut gini! Kita nggak mungkin nggak pesta Berlin, Luqman." Geram Maride menatap calon besannya.


Mpok Alpa tersenyum. "Tu kan! Emang nikah kayak naik kereta expres. Kalian harus saling kenal, dapatkan chemistry dulu, cinta cintaan dulu. Jangan mendadak begini! Berkas juga baru di masukin tadi pagi kan?" Jelas Mpok Alpa menjawab repetan Maride pada Berlin dan Luqman.

__ADS_1


Berlin menunduk, "aku hamil Mi!" Isak Berlin.


"APAAAA?" Teriak kedua orang tua Luqman dan Berlin.


"Oooogh amang, haduuuh. Papi kasih Mami nafas buatan. Kenapa diam diam Berlin menggatal sama si Luqman. Haduuuh... Mami susah bernafas Pi!" Maride menyandarkan tubuh subur itu ke sofa sesekali memijat pelan pelipisnya.


"Lo gila Luqman? Kok bisa?" Tanya Leo menatap lekat mata sahabatnya. "Lo serius sama adik gue?" Tegas Leo.


Luqman kembali menatap Leo, "dari dulu gue serius Leo. Tapi nggak bisa karena terhalang restu Mami. Berlin juga angot angotan. Maafin gue!" Tunduk Luqman di hadapan Leo, Maride dan Baros.


"Papi ajalah yang bicara! Anak Papi tuh, anak ku Leonal menantuku Paras. Pusing Mami, tiba tiba lapar perut Mami." Ucap Maride meminta Baros memberi kepastian pada keluarga Luqman.


Baros sangat mengerti keinginan Maride, menolak bukan berarti tidak setuju. Tapi jika sudah begini harus setuju. Bagaimanpun Luqman memang dari dulu mencintai putrinya. "Baiklah, biar Simon yang mengurus pernikahan kalian besok pagi. Setelah menikah, kita pulang ke Medan sekalian pesta disana." Jelas Baros pada pihak keluarga Luqman.


Luqman dan Berlin tersenyum sumringah, "yeeez berhasil!" Teriak Berlin dan Luqman bersamaan.


Berlin tersenyum mendekat ke arah Maride, memeluk tubuh Mami tersayang. "Bohong seeh, tapi jangan di batalin nikahnya. Aku cinta sama Luqman, Mi!" Rengek Berlin melirik Baros dan Leo.


"Iiiighs, kau yah! Aku benamkan kau ke kolam yah? Udahlah, tunggu Paras dan Leo pulang lah nikahnya nak! Cepat kali kau di ambil pria bule ini! Apalah dosa ku, bule aja menantuku. Apa salahnya orang Cina aaagh!" Kesal Maride.


Berlin merengek, "nggak ada koko yang mau sama aku Mami!" Sungutnya manja. "Cuma Luqman yang mau sama aku Mami!" Bisiknya sambil meletakkan kepalanya di pa*ha Maride.


"Nggak kau cari mana ada yang mau!" Kesal Maride menatap Alpa dan Brandon. "Maaf yah cabe, calon besan. Aku bukan nggak setuju Berlin sama Luqman. Tapi kalian tahu, Luqman sahabat Leonal, nanti putri kami kecewa lagi. Itu yang aku jaga. Bukan aku nggak suka sama Luqman. Dia ini anak baik, rajin, ulet kayak ulat bulu. Pintar, tamatan Australi, dia yang memegang sistem berdua Leonal. Aku nggak keberatan. Cuma pernah kecewa. Aku harap kalian mengerti sama keadaan kami!" Jujur Maride panjang lebar.


Alpa dan Brandon saling tatap, "kami mengerti, justru kami bingung mau melamar keluarga kaya tidak membawa apa apa! Aye cuma bisa bawa kue buaya Kak! Luqman memang cinta sama adik sahabatnya. Dari beberapa tahun lalu dia katakan pada aye. Cuma aye bingung. Gimana cara melamar orang kaya. Aye dan Bang Mister nggak ada apa apa selain buaya." Kekeh Alpa mencubit pa*ha Brandon suaminya.

__ADS_1


Baros dan Maride terkekeh geli, "kami nggak pernah minta apa apa! Yang penting bahagiakan saja anak kami. Kalau harta kami bisa kasih, anak saya cuma dua. Leonal dan Berlin. Jika terjadi sesuatu saya akan membuat perhitungan." Tegas Baros menatap Luqman.


"Saya serius Tuan, sama Berlin. Sebenarnya jauh jauh hari mau kesini, tapi Mama dan Papa masih ragu untuk menemani ku Bu!" Jelas Luqman.


Leonal mengangguk, dia sangat memahami Luqman. "Nikah aja dulu, kita ke Jerman bareng. Papi di kantor dulu yah!" Tegas Leo.


Baros mengangguk setuju. "Besok kalian ke catatan sipil, aku akan menghubungi Simon. Lusa kalian hadiri undangan sama Armin, pulang dari Jerman kita langsung ke Medan." Jelas Baros di setujui oleh Maride.


Paras membawa beberapa makanan untuk para tamu, yang telah di siapkan oleh Maid. Kali ini makanan rumahan dan sangat nikmat di santap sore menjelang malam, beberapa mangkuk bakso.


"Ndut, kamu duduk saja." Bisik Leo.


Paras duduk menghampiri Leo, "gimana? kapan nikah!" Bisik Paras pada Leo.


"Besok." Jawab Leo mengusap lembut punggung Paras.


Paras mengangguk mengerti. Tersenyum pada Berlin dan Luqman. Sesekali menatap Alpa dan Brandon yang juga menatapnya.


Maride merasa perutnya sedikit lapar, mengambil dua mangkok bakso memberikan pada Baros. "Silahkan di cicip calon besan!" Senyum Maride.


"Makasih yah Mih!" Peluk Berlin.


"Hmm, kenak siram kuah bakso kau nanti." Jelas Maride mencium kening sang putri kesayangan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2