
Paras menyelesaikan makannya, mencuci tangan, menarik tisyu yang ada di hadapan.
Leo berdiri merangkul Paras.
"Ada apa Dila?" tanya Leonal mendekat ke gadis barusan.
Mata Dila semakin liar menatap arah luar, membuat mereka menjadi penasaran.
"Diluar ada Kennedy dan Sintya, mereka beberapa hari lalu membayar aku untuk menggoda Bang Leo. Sekali lagi maaf banget. Ini cuma acting, dari pada aku harus ngembaliin duit mereka," jujur Dila.
Paras menaikkan kedua alisnya, melihat ke arah luar, benar saja kedua orang yang tidak tahu malu itu tengah asyik ngobrol dengan besan baru Maride.
"Mati kita," bisik Leo menarik tangan Dila.
Paras menelan salivanya, menggeleng kesal, kembali duduk di kursi semula. Memijat pelan pelipisnya, yang sedikit berdenyut.
"Hmmm, aku ke kamar dulu yah? kalian lanjut saja, capek banget," ucap Paras memilih berlalu meninggalkan karyawan Langhai.
Kirei menghampiri Paras, "kau baik baik saja nak?" tanyanya lembut.
Paras mengusap air matanya, "Paras mau sendiri Mak!" bisiknya berlalu meninggalkan Kirai.
Kirai segera mencari Leonal dan Maride, ada kekhawatiran di hati ibu berdarah Jerman itu, tapi enggan dia dekati Leonal karena masih beradu mulut dengan Sintya dan Kennedy di teras rumahnya.
Maride menghampiri putranya.
"Masih punya otak kau mengunjungi kediaman ku, Ken?" sarkas Maride.
"Kak, aku datang mau ngucapin selamat untuk Berlin. Jangan usir aku, biarkan kami bertemu. Lagian aku sudah menikah dengan Sintya. Tolong lah, aku hanya ingin minta maaf," jelas Kennedy.
"Pergi kau, berbulu mata aku melihat kalian berdua!" tegas Maride.
"Kak," mohon Kennedy.
Maride menunjuk wajah Kennedy.
"Aku ingatkan sama kalian berdua, jangan pernah menginjakkan kaki di kediaman Leonal. Ini yang terakhir kalinya. Kalian sama seperti binatang. Nggak ada otak. Kau Sintya, urus laki kau agar tidak sembarang jajan di luar sana," tegas Maride.
"Tante," bisik Sintya.
"Tante, Tante, kepala kau Tante. Kapan aku nikah sama Silutak. Pergilah kalian, nggak perlu datang atau pun titip salam, kami nggak butuh kalian," usir Maride dengan jari lentiknya.
"Pak secur.... tolong usir orang ini! kau kunci pagar itu pakai rantai kapal, biar nggak bisa masuk dia ke perkarangan rumah kita," tegas Maride.
Security membawa Kennedy dan Sintya keluar dari perkarangan rumah Leonal.
"Suka kali mereka membuat jiwa shopping ku meronta-ronta," geram Maride melirik ke arah Dila yang berdiri di belakang Leo.
"Kau! ngapain kau di belakang Leonal?" tanya Maride dengan wajah garang.
"Mereka yang ajak saya kesini Bu, mereka membayar saya untuk menggoda Bang Leo," jujur Dila.
__ADS_1
Teng teng teng dheeeeng, darah Maride naik lebih deras menuju puncak ubun ubunnya. Mendekati wajah Dila, meremas keras wajah cantik oriental itu dengan wajah garang.
"Kau, aku bayar dengan tinggi. Jangan jadi pelacur jika tidak ada bakat. Kau kembalikan uang mereka atau hari ini juga kau aku pecat. Buat malu perusahaan. Satu hal, jangan pernah mengganggu kebahagian anak menantu ku jika kau masih ingin bernafas," sarkas Maride.
"Ba ba baik Bu, saya mohon maaf. Saya tidak akan mengulanginya," ucap Dila memohon.
Leo mengusap lembut punggung Maride, tersenyum bahagia.
"Lepasin Dila Mami ku sayang, biar uangnya di ambil dia, kan mereka sudah pergi. Jadi perempuan harus smart dong," peluk Leo pada tubuh Maride.
"Untung ada Leonal, kalau enggak sudah aku masukin kau ke kolam renang," jelas Maride memilih pergi meninggalkan Leo dan Dila.
Dila menahan tangisnya, tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
"Bang, maafin Dila yah? jujur aku nggak ngerti," isaknya.
"Sudahlah, kamu sudah makan? kalau belum silahkan makan. Aku ke dalam dulu," berlalu meninggalkan Dila yang jadi tontonan karyawan.
Sahabat Dila mendekati gadis Manado itu, menghibur, ada juga yang menasehati.
"Lain kali Lo hati hati sama Keluarga Baros, musuh mereka banyak dari orang terdekat yang kita tidak tahu bahkan suka ragu," jelas seseorang pada Dila.
Dila mengangguk, memilih berlalu menuju meja prasmanan. Mengambil beberapa makanan untuk mengisi perut tipisnya yang memberontak sejak tadi.
Sementara, Leo mencari keberadaan Paras yang tidak dia temuin di kamar mereka. Leo bergegegas menuju kamar baby four. Terlihat Paras tengah meny*usui Baby Stevie.
"Ndut," Leo menutup pintu kamar pelan.
"Hmmm," jawab Paras tak menoleh.
Paras mengalihkan pandangannya, menatap sendu Baby Stevie di pelukan. Air matanya mengalir tanpa sadar.
Leo seketika memeluk tubuh istrinya, mengecup puncak kepala Paras.
"Mereka sudah pergi Ndut," jelas Leo.
Paras menarik nafas dalam, mendengus kaku.
"Kenapa mereka masih mengganggu kita Leonal? aku capek, jujur capek," tangis Paras pecah.
"Ooough Ndut, aku minta maaf. Mereka datang ingin memberi selamat pada Berlin, tapi Mami mengusirnya," jelas Leo.
Paras masih menangis, meletakkan Stevie yang sudah terlelap. Kembali memeluk Leo masih berada di sampingnya.
"Tenanglah Ndut, aku tidak akan tergoda. Kamu paling cantik, se*xy, menawan bahkan sangat menarik," usap Leo pada kepala Paras.
"Kita keluar yah? kasihan tamu, mereka pasti nyariin kita. Oya, tadi Mama Luqman ngasih apa Ndut?" tanya Leo mengalihkan pikiran Paras.
"Sepaket perhiasan, kalung nama anak anak," jelas Paras.
Leo tersenyum, "ternyata mereka keluarga baik," bisik Leo.
__ADS_1
"Hmmm kan sahabat kamu, yah harus baiklah. Lagian Luqman bener cinta kok. Buktinya nggak pernah ngebiarin Berlin sendiri," jelas Paras.
"Seperti aku dong, maunya deket kamu terus," kekeh Leo.
Paras mengangguk. Leo menyeka air mata dari pipi istrinya, mengecup lembut bibir indah itu, kemudian melepasnya.
"Jangan nangis lagi, aku sayang banget sama kamu," geram Leo memeluk tubuh istrinya.
Paras merasa lega, ada perasaan bahagia menyelimuti pikirannya.
"Bagaimanapun, Leo selalu jujur sama aku," batin Paras mengikuti langkah kaki Leo.
Terdengar suara merdu milik Maride melantun kan tembang kenangan bersama Baros.
Leo menggandeng Paras mengambil beberapa makanan duduk di kursi tidak jauh dari Maride dan Baros bernyanyi.
Sesekali matanya melirik Paras yang tengah menikmati makanan.
"Mba mana Bowl? minta tolong buatin aku juice apel dong, haus banget," ucap Paras mengusap lembut punggung tangan Leo.
"Di kulkas kamar kan ada Ndut, kamu mau?" tanya Leo.
Paras mengangguk senang, "terimakasih Bowl," senyumnya.
"Hmmm,"
Leo berlalu menuju kamar, mengambil juice apel keinginan istrinya.
Leo mendekat membawa gelas rendah dalam genggaman.
"Ni sayang, aku mau juga yah?" Leo menuangkan juice untuk Paras dan dirinya.
Luqman, Berlin dan Yani menyaksikan kemesraan pasutri yang sangat manis. Memberikan perhatian, pelayanan yang sangat luar biasa.
"Patut di tiru Kakak Lo," bisik Yani pada Berlin.
"Ho oh, awal gue pikir mereka bucin. Ternyata mereka saling membutuhkan tanpa malu malu. Semoga kita juga begitu yah hubby,"
Berlin memeluk Luqman di hadapan Yani.
"Iiiighs kok gue jadi pengen punya suami," kekehnya menatap kehadiran seorang pria tampan mendekati Berlin dan Luqman.
"Selamat menempuh hidup baru Nona Berlin," ucap pria tampan berwibawa membawa kado berbungkus pita keemasan.
Berlin dan Luqman tersenyum sumringah, menyambut dokter spesialis kandungan yang merawat Paras semasa menjalani kehamilannya.
"Terimakasih atas kunjungannya Pak Dokter Fredy SpOG," sambut Berlin.
Berlin memperkenalkan Fredy dengan Yani, Sinta dan beberapa sahabatnya dengan wajah bahagia. Menyimpan kado pemberian Fredy.
"Walau sederhana, tapi membuat aku bahagia," batin Berlin merangkul Luqman berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️