
Baros dan Maride mempersiapkan semua keperluannya untuk berangkat ke Kalimantan. Melepas Leo dan Paras menuju Bogor membawa Yani bersama. Tentu menjadi kebanggaan bagi Yani bisa jalan jalan ke pabrik Airbus bersama orang nomor 2 di Langhai Group.
Cuaca sangat cerah, matahari penuh semangat menyinari kota metropolitan menuju Bogor. Leo sengaja membawa mobil Dakar Pajero sport limited edition miliknya, menyalakan audio music sedikit slow, mendengarkan Paras bernyanyi kecil menikmati perjalanan mereka. Leo melirik Yani dari kaca spion tengah, menyusuri jalan Tol Jagorawi.
"Kapan Lo transfer uangnya Yan? tanya Leo.
"Uang apaan?"
Yani balik bertanya menatap melalui spion, hingga mereka beradu tatap.
"Lo nggak jadi beli apartemen?" mata Leo membulat, membuat Yani menepuk keningnya.
"Sory bro, lupa gue. Ni, langsung gue banking ke account Lo,"
Yani meraih handphone miliknya, membuka aplikasi banking mencari account Leo.
"Eeeegh jangan ke gue, ke account bini," tegas Leo.
"Oooough oke,"
Yani memasukkan account atas nama Parassani Chaniago yang sengaja disimpan pada contac handphone miliknya. Tinggal klik, klik, klik, send, tiiiing, laporan terkirim dan berhasil. Yani mengirim bukti pada Paras dan Leo.
"Udah 3 kali transfer tuh," jelas Yani.
Paras tersenyum sumringah melirik kearah Leo menaikkan kedua alisnya penuh rasa bahagia.
"Perempuan kalau dikasih uang, langsung luluh lantah. Hamil berapa pun pasti mau," goda Leo.
Paras memeluk lengan Leo masih memegang kemudi menatap penuh cinta.
"Berapapun Bowl aku siap," kekeh Paras.
Yani sudah paham dengan bar barnya pasangan dihadapannya hanya mengurut dada.
"Eeehm ada orang lhoo Mba," rengek Yani merasa atmosfer kesepian semakin terasa. Jomblo Yani meronta-ronta, ingin rasanya dia melempar Paras dan duduk disamping Leo menerima transferan seperti itu dari Leo suaminya.
"Aaaagh andaikan saja aku lebih cepat dari Mba Paras mengungkapkan perasaan pada Leo lebih dulu, pasti aku yang bahagia memilikimu Bang Leonal Alkhairi,"
Yani mulai masuk kedalam khayalannya, berharap semua mimpinya menjadi kenyataan. Bangsatkan punya secretaris kurang ajar seperti ini, ha-ha-ha.
Mereka tiba di pabrik dengan luas lebih kurang 40 hektar, membuat Yani benar benar takjub. Lokasi pedesaan yang sejuk, terdengar suara mesin rakitan airbus, lalu lalang kendaraan besar hilir mudik memasuki kawasan.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 waktu setempat, pabrik di awasi ketat dari tamu luar selain rekanan akan sulit mendapatkan akses masuk ke dalamnya.
Leo memberhentikan mobilnya, membuka jendela.
"Selamat siang pak," hormat security.
"Bapak mau kemana? sudah ada janji?" lanjut security melaksanakan tugas.
"Saya dengan Leonal dari Langhai Group ingin bertemu dengan Pak Albert Einstein, bisa?" tanya Leo.
"Sebentar,"
Security berlalu meninggalkan kendaraan Leo tanpa membuka plang pemeriksaan, sehingga dapat kabar dari dalam kantor mau menyambut mereka. Tak menunggu lama, security membuka akses, memberikan kartu masuk untuk tamu.
"Maaf Pak Leonal, anda berapa orang?" tanya security yang bernama Danil.
"Hmmmm 3 orang," jelas Leo.
"Ini Pak kartu masuknya, nanti secretaris Pak Albert akan menyambut anda," jelas security memberikan akses dan mencatat plat nomor kendaraan mereka, memeriksa semua kondisi bagasi.
"Silahkan Pak,"
Security lain membuka plang agar mobil segera meluncur masuk ke dalam menuju salah satu gedung perkantoran berlantai 2.
__ADS_1
Sangat sulit untuk masuk ke perusahaan besar sekelas pabrik. Birokrasi terlalu ketat, juga harus menikmati pertanyaan pertanyaan sederhana membuat kepala ingin segera menerobos masuk. Peraturan harus di jalankan demi keselamatan bersama. Dari oknum yang tidak bertanggung jawab bahkan menyelamatkan beberapa orang asing yang bekerja disana.
Yani lebih dulu turun dari mobil, menghindari pemandangan yang sangat meresahkan mata dan jiwanya. Bagaimana tidak, setiap sebentar Paras dan Leo saling mengecup, saling bermanja, saling bahagia, saling membutuhkan satu sama lainnya, membuat secretaris jomblo itu terbakar api gairah sendiri.
"Dasar bos mesum iiiiighs," batin Yani keluar dari pintu kiri.
Yani melihat suasana gedung yang jauh dari kesan mewah.
"Seumur hidup baru sekali ini masuk pabrik besar, nggak ada kesan mewah," batin Yani.
Leo dan Paras keluar, memanggil Yani yang masih mengadakan siaran langsung menggunakan handphone miliknya.
"Haiii guys, gue sekarang ada di pabrik rakitan Airbus milik Marsedez Benz. Kalian tahu, kantornya nggak ada kesan mewah guys, lebih tepatnya seperti Langhai Group jika dilihat dari luar dan kalian tahu gue kesini sama siapa? sama bos mesum guys! tuh tuh lihat mereka baru akan keluar dari mobil habis kecup kecup babeeeh membuat akoh jadih sangeeeh! silahkan yah guys, yang mau pesan airbus sama kita! kerja dulu guys... kerja!"
Yani tertawa sendiri, ucapan siaran langsung yang dilakukan dengan berbisik membuat Paras dan Leo hanya geleng-geleng kepala.
"Lo bilang gue bos mesum yah!" geram Leo mengapit tengkuk Yani seperti seorang adik.
"Iiiighs lepas Leo!" bentak Yani karena menghargai Paras, menghindari rasa cemburu sang direktur yang akan berdampak tidak baik pada mood bos yang terkenal cemburuan.
Paras memilih berlalu meninggalkan dua anak muda itu. Malas untuk melerai, karena sudah biasa Leo dan Yani lakukan sebagai teman.
Leo melepas tangannya, merapikan pakaian menyusul Paras.
"Leeeooo, rambut gue acak acakan!" geramnya.
"Bodo',"
Leo menggenggam jemari Paras memasuki pintu utama perkantoran.
"Selamat datang Pak. Mau jumpa siapa?" tanya security.
"Albet Einstein ada?" tanya Leo.
"Ooogh ya, mari saya antar,"
"Nona Shi, ada yang mau bertemu Bapak," ucap security menunjukkan 3 tamu ada dihadapannya.
Shi tersenyum, menghubungi Albert melalui intercom, hingga akses pintu terbuka.
Mata mereka di sejukkan dengan ruangan yang mewah, menunjukkan kesan executif muda corak ruangan berwarna coklat muda diisi oleh pria berusia berkisar 30 tahun. Pria Bule Jerman yang sudah berdomisili di Indonesia dan mengabdikan diri sebagai team Marsedez Benz untuk Bogor.
Ditemani seorang wanita blesteran cantik dengan baju kemeja sedikit terbuka berdiri didekat meja kerja yang berantakan, seperti habis melakukan kegiatan hot, memilih meninggalkan ruangan Albert.
"Aku permisi yah sayang," kecup wanita itu membuat Leo dan Paras tersenyum tipis.
Berbeda dengan Yani, wajah anak anaknya malah seperti tempoyak asam, jeruk purut bahkan lebih masam dari buah heli kopter yang tumbuh di pohon akasia, hehehehe.
"Sama saja semua bos! mesum," batin Yani saat melihat wanita itu berlalu.
Tak ingin terlihat kaku, Albert yang mengenali Paras langsung menyambut tubuh wanita gendut itu dengan perasaan bahagia.
"Apa kabar cantik," sapanya membuat Leo menaikkan satu alis karena dekapannya sangat erat.
"Baik, kamu apa kabar? semakin tampan, udah nikah belum?" goda Paras.
"Hmmmm baik Paras, gimana mau nikah! cinta ku nggak dibalas kamu," jawabnya enteng dengan wajah sedikit menggoda.
Jleeeeeb....
"Jangan bilang Albert suka sama bini gue!" batin Leo berusaha bersahabat.
Albert beralih pada Leonal.
"Haii bang, apa kabar? kapan pulang dari Melbourne?" sapa Albert akrab langsung merangkul Leo.
__ADS_1
"Baik. Sudah hampir 2 tahun," jawab Leo tersenyum simpul menahan rasa cemburu.
"Gimana? sudah nikah?" tanya Albert memang tidak mengetahui tentang Paras dan Leo.
Leo menatap Albert kemudian mengalihkan pandangan pada Paras, "sudah," jawabnya jujur.
Wajah Albert sontak terkejut mendengar seorang Leo menikah, karena beberapa tahun lalu mereka bertemu Leo masih menjalani hubungan tanpa status bersama seorang gadis bule.
"Kapan? siapa istri Abang?" tanya Albert.
Paras memotong pembicaraan mereka, memilih duduk di sofa yang sudah tersedia.
"Saya istri Leonal dan kita sudah memiliki baby kembar," jelas Paras agar pria itu tidak menggangunya lagi dengan rayuan mautnya.
Albert benar benar shook mendengar pernikahan Paras. Bagaimana tidak, berkali kali dia meminta Paras untuk menikah dengannya, tapi di tolak mentah oleh gadis Padang blesteran itu.
"Aaaaagh giliran saya deketin, kamu nggak mau! giliran Leo mau. Padahal aku dan Leo 11 12 tampannya," ucap Albert menggerutu mengambil 4 kaleng bir untuk mereka.
Paras tersenyum melihat Albert membawa bir, meminta softdrink dan sebotol air mineral dengan caranya. Tentu saja Albert mengabulkan permintaan sang permaisuri, dengan senang hati hingga perasaan masih berbunga bunga.
"Tadi itu siapa Albert?" tanya Paras memecah keseriusan mereka.
"Hmmmmm pacar ayam ayam doang Paras!" jujur Albert mengalihkan pandangannya pada Yani yang duduk di sofa sebelahnya.
Albert menatap dari ujung rambut hingga kaki, membuat Yani sedikit risih dan tersenyum garing.
"Mati gue!" batin Yani.
Albert sengaja mengalihkan perhatiannya, agar tidak mudah tertarik dengan gadis muda. Apalagi hatinya masih remuk karena kecewa mendengar pengakuan pernikahan Paras yang terlalu cepat.
"Sebelum kita bicara kerjaan, kita makan siang soto Bogor kesukaan kamu yah Paras?" ucap Albet semakin tak menghargai Leonal sebagai suami.
Albert melihat wajah Leo yang masam, kecut, pahit, hanya berucap, "tenang bang, jangan cemburu! aku sama Paras, sering makan siang disini jika Papi dan Mami berkunjung," jujurnya.
"Tanya Mami Maride, berapa kali Paras menolak aku," kekehnya mengenang kisah cinta yang tragis.
Yani menatap aneh, "Lo nya begini gimana Mba Paras mau," batinnya.
Paras yang sudah terbiasa di goda Albert hanya diam dan tersenyum, dia memang tidak memiliki perasaan apa apa selain kebutuhan pekerjaan.
Sangat berbeda dengan Leonal, "pantas Paras mau beli aset di Bogor! biar deket sama cunguk ini ternyata," batinnya.
Bener saja 5 mangkok soto Bogor plus nasi yang menjadi candu bagi Paras ada di hadapan mereka tanpa harus menunggu lama.
Leo menarik lengan Paras kemudian berbisik, "aku nggak rela kamu manis manis sama dia Ndut! aku cemburu," bisiknya.
Paras tertawa menutup bibirnya, saat Albert tengah mengambil sendok di dalam laci.
Albert membawa sendok dan tisyu memberikan pada Paras, karena dia pikir Paras tertawa karena tersedak, padahal tertawa karena kejujuran Leonal.
"Kamu baik baik saja Paras?" tanyanya membuat perut Leo dan Yani mual dan kembung.
"Baik, udah bisa dimakan belum ni?" tanya Paras tanpa sungkan.
"Hmmmm makan saja, sepertinya kamu sangat merindukan soto Bogor di kantor ku," ucapnya tanpa malu.
Jedeeeer, gubraaaak....
Geernya melebihi seorang artis papan atas, padahal dia hanya artis papan seluncuran yang ditugaskan bekerja di sini, ck ck ck.
Leo semakin mual dan nneg menatap wajah Albert yang memang tidak memiliki banyak otak. Melainkan kepalanya hanya berisi otak otak khas Tanjung Pinang.
"Untung Lo bos njiiing, kalau enggak udah gue bogem sampe mati Lo! gangguin bini gue," batin Leo masih menahan emosi.
Tahan Leo... tahaaan... ini hanya ujian....😎
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️