Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kampuang nan jauah dimato....


__ADS_3

Sebelum pulang kampung ke Bukit Tinggi kita nyanyi dan kenalan dulu sama Apak dan Amak Parassani Chaniago yaah raders. 💞


...🎶Kampuang nan jauh di mato...


...Gunuang Sansai Baku Liliang...


...Takana Jo Kawan, Kawan Nan Lamo...


...Sangkek Basu Liang Suliang...


...🎶Panduduknya nan elok nan...


...Suko Bagotong Royong...


...Kok susah samo samo diraso...


...Den Takana Jo Kampuang...


...🎼Takana Jo Kampuang...


...Induk Ayah Adik Sadonyo...


...Raso Mangimbau Ngimbau Den Pulang...


...Den Takana Jo Kampuang...


Visual yang membuat takjub.💞



Nama: Faisal


Usia: 59 tahun


Berdarah Sumatra Barat.


Pekerjaan: Wali Nagari


Tinggal: Bukit Tinggi


Karakter: Tegas, tampan, berani, baik, perhatian dan penyayang.


Suami dari Kirai Chaniago .


Apak dari Kirana Chaniago/ Luna dan Parassani Chaniago.


Musuh Silutak Panjaitan.



Nama: Kirai Chaniago


Usia: 58 tahun


Berdarah Jerman Bukit Tinggi.


Pekerjaan: Ibu rumah tangga


Tinggal: Bukit Tinggi


Karakter: Sabar, penyayang dan keras kepala.


Istri dari Faisal


Amak Kirana Chaniago/ Luna dan Parassani Chaniago.



Nama: Kirana Chaniago / Luna


Usia: 36 tahun


Berdarah Bukit Tinggi blesteran Jerman.


Guru di Primary School Nurberg Jerman.

__ADS_1


Tinggal: Nurnberg Jerman


Karakter: Keras kepala, egois, baik dan penyayang.


Anak Pertama dari Faisal dan Kirai Chaniago


Kakak Parassani Chaniago.


Istri dari Juan Kube.


Mantan Istri Datuak Rajo Omeh


Mantan selingkuhan Silutak Panjaitan.



Nama: Juan Kube


Usia: 40 tahun


Berdarah Jerman.


Kepala Sekolah di Primary School Nurberg Jerman.


Tinggal: Nurnberg Jerman


Karakter: Keras kepala, setia, baik dan penyayang.


Suami dari Kirana Chaniago/ Luna.



Leonal dan Parassani.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Gimana dengan visualnya, semoga suka yah. Ini hanya imaginasi Author yah... Happy reading...🤗


Next...


Matahari bersinar semakin tinggi, menerangi kota metropolitan dengan cahaya membuat anak muda itu semakin bersemangat menjalani harinya. Leo meyakinkan Paras dengan caranya, agar tidak terlalu memikirkan Sintya. Ntahlah, kenapa mantan duda itu jadi sebucin ini pada gadis gendut yang berubah menjadi manja. Keduanya merasa takut kehilangan. Apalagi semenjak mengetahui Paras mengandung. Perbedaan usia semakin tak berarti bagi mereka.


Setelah tamu tak di undang itu menghilang secara paksa dari unit apartemen Leo, pukul 09.00 waktu Jakarta, Leo membawa Paras kekantor Langhai Group. Bagi Leo, keselamatan Paras dan baby dalam kandungannya lebih utama baginya. Dia tak ingin saat dikantor, pikirannya menjadi tidak tenang. Leo meminta Paras agar beristirahat diruangan Baros. Tentu atas izin Maride.



"Kamu disini dulu yah Ndut! Aku ada temu janji dengan Kennedy, aku menggantikan kamu sebentar. Sebentar lagi Mami akan menyusul. Dia khawatir sama keadaan kamu!" Kecup Leo pada punggung tangan Paras.


"Nggak apa apa aku disini Bowl?" Ucap Paras ragu.


"Tadi aku udah izin sama Mami! Palingan Papi nanti sama aku diruangan kamu! Istirahat saja. Kalau ada apa apa kamu hubungi aku. Kita siang ini berangkat ke Padang. Aku juga udah transfer ke rekening kamu, buat beli kebutuhan kamu!" Jelas Leo panjang lebar.


Paras mengerutkan keningnya, "duit aku ada kok!" Rengek Paras di bahu Leo.


Leo kembali mengecup punggung tangan istrinya, "kamu itu istri aku, semua kebutuhan kamu tanggung jawab aku! Jangan debat uang kamu dan uang aku! Aku akan memberi kewajiban ku pada mu! Kamu simpan uang kamu! Jika aku butuh kita sama sama! Kamu setuju?" Leo memberi pengertian pada Paras tentang tanggung jawabnya sebagai suami saat ini.


Paras mengusap lembut wajah Leo. "Makasih yah Bowl! Kamu pria baik yang sangat pengertian." Kekeh Paras menggoda Leo. "Aku boleh belanja oleh oleh di aplikasi?" Tanya Paras.


"Beli apa yang kamu suka! Jika kurang, aku akan tambahin!" Tegas Leo.


Paras semakin memeluk erat tubuh kekar Leo.


"I love you Leonal!" Kecup Paras kepipi kanan Leo.


"Aku tunggu Kennedy dulu yah! I love yo too Parassani!" Leo mengecup lembut kening Paras, kemudian mengecup bibir se*xy Paras dan berlalu meninggalkan Paras di ruang kerja Baros.


Leo berpapasan dengan Berlin, "Kak Paras mana? Kok nggak kelihatan?" Tanya Berlin.


"Ssst, ada diruangan Papi, kamu temanin dia yah! Kennedy mau kesini!" Jelas Leo.


Berlin terbelalak kaget, "ngapain dia? Jangan bilang dia mau kritik unit air bus kita! Gue jitak kepalanya!" Geram Berlin mengenang Kennedy.


"Huush, udah santai aja! Nggak usah dipikirin!" Leo berlalu meninggalkan Berlin.


Berlin memilih menemani Paras, memesan beberapa makanan dan oleh oleh di onlineshop. Mereka saling bercerita, sesekali Paras menggoda Berlin agar cepet cepet jadian dengan Luqman.

__ADS_1


Berlin tertawa terbahak bahak, tidak terbayang olehnya jika menjalin hubungan dengan sahabat baik Leo, dengan sahabat Baros dan Maride saja kandas, apalagi sama sahabat Leo, batinnya.


"Gimana kehamilan kakak? Aku disuruh Kak Leo nemanin Kak Paras." Tanya Berlin.


"Baik! Kamu bawa laptop kamu kesini, biar sekalian kerja nggak makan gaji buta!" Kekeh Paras.


Mata Berlin membesar, "Iiighs, masak sama aku pakai aturan juga kak?" Rengek Berlin di bahu Paras.


"Ya iya dong! Jam kerja yah kerjalah! Time makan siang kita makan!' Goda Paras lagi.


"Iiighs, iya! Aku ambil kerjaan dulu, tapi nggak banyak lhoo kak! Aku nunggu laporan divisi marketing." Jelas Berlin.


"Ya udah, disini aja! Tapi jangan sampai tau yang lain! Nanti pada malas kerja." Tambah Paras.


"Iya kakak ku yang bawel! Bawelnya ngelebihin Mami!" Kekehnya.


"Mami mana? Katanya mau kesini?" Tanya Paras.


"Tadi lagi mesra mesra sama Papi! Aku jadi pengen!" Tawa Berlin merebahkan tubuhnya dipaha Paras.


"Kak, kalau pulang ke Padang bawain aku kelamai yang kecil kecil itu yah. Buat cemilan aku di kantor. Kemaren temen ku ngasih, dan rasanya endeees pisan!" Cerita Berlin manja.


Paras mengusap lembut rambut Berlin, "Iya! Nanti kakak bawain yah!" Janji Paras.


Berlin mengangguk, Paras merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang tersembunyi di ruangan Baros.


Kennedy datang tepat waktu pukul 11.00.



Leo tengah fokus di depan laptopnya, memeriksa semua laporan karyawan Langhai. Luqman menemani Leo diruangan, memberikan laporannya.


Yani mengetuk pintu ruangan sang direktur. Leo mengetahui kehadiran Kennedy, sedikit mengeraskan suaranya. "Masuk!" Tegas Leo.


Kennedy hadir dengan wajah tidak berdosa.


"Haii Leo!" Sapa Kennedy.


"Hmm, duduklah Uncle!" Leo tidak begitu menyukai kehadiran Kennedy. Tapi sudahlah, batinnya.


Leo memberi kode pada Luqman agar meninggalkan mereka berdua. Luqman pun berlalu. Leo memesan 2 cangkir kopi untuk menemani obrolan mereka yang lumayan garing segaring rangginang, hehehehe.


"Ya Uncle! Bisa kita ke pokok inti pembicaraan? Karena siang aku ada acara." Tegas Leo.


"Kamu sudah menikah?" Goda Kennedy melihat cincin yang melingkar dijari manis Leo.


"Oogh, ya Uncle! Aku sudah menikahi Paras. Satatusku pun berubah!" Senyum Leo jujur.


"Aku mau nanya? Apa benar Sintya hamil anak kau, Leo?" Tanya Kennedy membuat wajah Leo berubah seketika.


Leo manarik nafas dalam, menyandarkan tubuhnya disofa. "Tidak! Itu bukan anak ku!" Tegas Leo.


Kennedy menaikkan alisnya, menatap lekat hezel mata Leo. "Aku dengar kau menghabiskan waktu dengannya beberapa waktu lalu." Cerita Kennedy.


"Maaf Uncle, jika kau datang untuk membahas Sintya, silahkan kau keluar! Aku tidak ada urusan dengannya. Dia sangat menyakitkan aku dan istriku." Sarkas Leo.


"Santai bro!" Ucap Kennedy.


Leo tersenyum sinis, "bagaimana air bus? Ada masalahkah Uncle?" Tanya Leo mengalihkan pembicaraan mereka.


"Hmm, nggak! Unit ini sangat baik! Makanya aku menemuimu untuk meminta 15 unit yang sama! Aku sudah mempersiapkan cek hari ini." Kennedy membuka tas, mengeluarkan berkas yang sudah dipersiapkannya.


Leo menghubungi Luqman membawa semua kelengkapan data dan meminta Luqman keruangan Baros agar Paras menandatangani semua berkas atas pembelian air bus Kennedy.


Kennedy memberikan cek pada Leo, Luqman juga membawa serta agar Berlin melakukan pengecekan terlebih dahulu.


⏳ 2 jam mereka menghabiskan waktu bersama, Leo memesan makan siang bersama Kennedy, saling bercerita dan bertukar pikiran. Tak ada dendam dihati Leo, setelah menerima cek dari Kennedy. Melainkan kecewa dengan tikungan yang dilakulan oleh calon adik iparnya beberapa waktu lalu. Saat ini mereka lebih baik berbisnis, tidak lebih. Urusan hati disingkirkan demi pitih masuak...😂🤭


Bersambung ke sebelah... kita pulang kampung jumpa samo Apak jo Amak Paras, hehehe. 🥰💞


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Happy reading...😘🥰


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2