
Leo mendarat di Jakarta pukul 01.00 dini hari. Tentu Leo dan Paras kembali ke apartemen mereka di Kuningan. Sementara Baros dan Maride justru khawatir dengan keadaan Berlin di Kalibata, mereka berpisah. Besok Leo akan menyelesaikan urusannya dengan wanita yang mebuat dia emosi, batinnya.
Paras sudah terlelap, jujur lelah melanda ditubuh suburnya, pinggangnya terasa sakit, kaki membengkak, karena seharian full menempuh perjalanan jauh dan sangat melelahkan bagi kehamilannya.
Leo mengusap betis istrinya, membiarkan Paras beristirahat setelah melakukan ritualnya membersihkan diri. Beberapa kali Leo mencium kepala Paras yang sudah terlelap, menyatukan jari jari keduanya, memeluk mesra tubuh subur itu agar mata Leo juga ikut terlelap, tapi apa daya bukan mata yang terlelap justru si unyun terjaga minta dipuaskan.
"Aaaagh, sakit banget kalau lagi on! Sial, kenapa mesti san*ge! Nggak tau diri banget seeeh lo unyun! Bini lo lagi capek, nanti baby kenapa kenapa lagi!" Racau Leo pada siunyun yang semakin men*egang dibawah sana.
"Oooogh," Leo mengusap siunyun, memejamkan mata menikmati pijatannya sendiri. Saat Leo tengah memijat siunyun, Paras memiringkan tubuhnya menatap Leo.
Paras terjaga mendengar racauan Leo dan des*ahan Leo. Jujur dia tak tega melihat suaminya menahan hastrat sendirian. Perlahan Paras memasukkan tangannya ke dalam boxer Leo menyentuh siunyun penuh kelembutan.
Leo kaget, "Ndut, kamu?" Tanya Leo.
"Aku nggak mau kamu tersiksa gini, ni*kmatilah sayang! Aku membantu kamu!" Bisik Paras memulai aksinya.
"Ta ta tapi kamu hamil ndut, baby?" Leo merasa takut akan kondisi Paras, karena memang terlalu lelah.
"Aku juga mau Bowl! Ntahlah, semenjak hamil daya s*ex aku juga meningkat!" Bisik Paras mel*umat bibir Leo.
"Hmmmfgh!" Keduanya saling mend*ecap, semakin lama semakin dalam, Paras semakin l*iar di atas tubuh Leo. Dia juga meninggalkan beberapa tanda merah spidermen dileher Leo, menggigit kecil leher suami tersayangnya.
"Aaaaagrh, Ndut!" Des*ah Leo semakin menjadi. Tangan Leo menyentuh lembut krakatau Paras.
Paras tak ingin bermain lama membuka piyama dan seluruh benang yang menempel di tubuh keduanya. Kini mereka saling menatap, nafas Leo semakin tak beraturan.
"Masukin ndut," Rengek Leo manja.
Paras merasa incubator sudah basah dari tadi, perlahan duduk di atas pangkal paha Leo,
Bleeez, siunyun memasuki incubator penghangatnya yang sangat ni*kmat itu.
"Aaaaagrh!" Keduanya mendesah ni*kmat. Perlahan Paras memompa, mengeksplore dirinya agar lebih all out diatas tubuh suaminya.
"Ooogh!" De*sah Leo semakin meng*erang, "ni*kmat banget ndut! Siunyun rasa di sedot!" Racau Leo meni*kmati goyangan Paras.
Leo mel*umat puncak krakatau dengan lidahnya, membuat Paras meremas rambut Leo.
"Bowl, ini enak banget! Aaaagh, Bowl!" Ucap Paras menerima ji*latan di krakataunya.
Paras yang akan mencapai puncaknya, "Bowl, ak ak aku mau!" Er*ang Paras semakin menegang.
Leo yang mengerti terus mengikuti ritme yang diciptakan oleh Paras.
"Ooogh, Ndut! Kita barengan yah sayang!" Leo mel*umat bibir se*xy Paras,
__ADS_1
β³20 menit permainan keduanya, Paras yang memegang kemudi akhirnya, "Aaaagrh, oooogh!" Keduanya mencapai pelepasannya bersamaan.
Paras merebahkan tubuhnya diatas Leo. "Makasih Bowl! Punya kamu sangat mem*uaskan aku!" Bisik Paras.
Leo mengecup bibir istrinya yang baru kali ini memuji dirinya, "kenapa kamu sekarang lebih berani? Nggak seperti awal, hmmm." Goda Leo.
"Kemaren belum pede Bowl! Sekarang udah, karena kamu bilang aku se*xy. Makanya aku lebih berani." Jujur Paras.
"Kamu memang se*xy ndut, kalau nggak mana mau pria sekelas Silutak melakukan hal sebodoh ini menghancurkan kita!" Ucap Leo.
"Ck, dia hanya laki laki berengsek! Sama seperti putrinya. Cantik doang, etika nggak ada." Paras melepas si unyun dari incubator miliknya.
"Aaaagh! Lagi ndut!" Goda Leo.
"Nggak, kali ini capeknya beda, ada enak enaknya gitu!" Kekeh Paras mencium leher Leo.
"Bowl saat kita ke Pekanbaru, waktu itu ada tanda merah disini kamu! Itu punya siapa? Berlin apa Sintya?" Tanya Paras mengusap leher Leo yang sangat mengg*airahkan.
"Hmmm, itu aku baru bertemu dia di lift apartemen kamu! Dia di lantai 32. Aku tidur doang, nggak ngapa ngapain!" Jelas Leo pada Paras.
"Tidur kok merah leher kamu Bowl?" Tanya Paras lagi.
"Dia ngelakuin itu saat aku ditelfonin Berlin! Makanya, yaaah aku masih free santai aja!" Jujur Leo.
"Tapi kan kamu dari tempat aku! Kenapa nggak pulang aja seeh?" Jawab Paras.
Paras mengangguk, "tidurlah, kan siunyun udah kenyang!" Cium Paras dipipi Leo yang selalu membuat dia geli.
"Kamu yang tidur deluan! Sini, aku peluk!" Leo meletakkan tangan paras didadanya, mengusap lembut bahu telanjangnya. "Makasih yah ndut! I love you!" Bisik Leo.
"Hmmm, I love you too!" Ucap Paras.
Keduanya masuk kedunia mimpi mereka. Setelah menikmati percintaan yang membuat keduanya candu dan saling membutuhkan. Tak perlu tubuh langsing agar bisa terlihat sempurna, melainkan hati yang tulus mencintai pasangan agar terlihat se*xy dan sempurna.
Pagi yang indah menyinari kota metropolitan, Maid hadir untuk membersihkan rumah, membereskan semua barang barang bawaan Leo dan Paras ke tempat semula. Saat Maid tengah memanaskan rendang, Paras keluar dari kamarnya.
"Eeeh, Nyonya udah bangun?" Tanya Maid.
"Hmm, ya! Kami kecapean." Paras mengusap wajahnya yang masih muka bantal. Mengambil gelas dan air putih untuk dirinya. Setelah air putih habis, Paras mejelaskan pada Maid, barang baranga bawaannya.
"Ini nanti kamu bawa pulang yah Mba, ada sedikit oleh oleh buat kamu!" Jelas Paras.
"Iya Nyonya! Terimakasih! Saya boleh minta rendangnya nggak Nyonya?" Pinta Maid pada Paras.
"Bawa aja, saya nggak gitu suka daging! Tinggalkan aja buat Bang Leo. Dia sangat suka rendang buatan Amak saya." Jelas Paras lagi.
__ADS_1
"Saya cuma minta 2 potong Nyonya. Nggak banyak, karena orang tua saya pengen banget rendang Padang! Nyari disini payah!" Curhat Maid pada Paras.
"Bawa aja. Mami kemaren juga dibungkusin Amak saya. Ini buat Bang Leo! Bukan buat saya. Kalau kamu mau, bawa saja. Oya, tolong buatin udang saos lada hitam mba, sama sayur tahu bening! Lagi pengen banget. Udang masih ada nggak? Kalau nggak ada ke supermarket bawah aja!" Jelas Paras.
Maid membuka kulkas, melihat isi kulkas majikan, "sepertinya semua bahan habis Nyonya." Jelas Maid pada Paras.
"Hmm, kita ke supermarket kamu mau nggak? Kita belanja? Kamu temanin saya! Sekalian mau belanja kebutuhan disini." Tanya Paras.
"Boleh Nyonya." Jawab Maid.
"Saya mandi dulu yah! Hari ini saya nggak ke kantor! Jadi agak santai." Paras berlalu masuk ke kamar, melihat suaminya sudah membuka mata.
"Ndut, kamu dari mana? Nggak usah sibuk sibuk Ndut!" Tegas Leo lagi.
"Aku nggak sibuk Bowl! Aku mau belanja dulu yah sama maid ke supermarket? Boleh yah?" Tanya Paras pada Leo.
"Sama aku!" Tegas Leo.
"Tapi kamu mau urusin Sintya?" Tanya Paras.
"Itu nggak penting, kamu lebih penting! Kita pergi bertiga, biar kita bisa milih baju buat baby sekalian." Goda Leo.
"Iiighz, masih lama Bowl! Baru juga 10 minggu." Senyum Paras.
"Hmmm! Mandiin yah? Usap Leo dibahu sang istri.
"Iya!" Paras membuka baju Leo.
Mereka melakukan ritual berdua, saling bercanda bahagia. Ingin sekali keduanya menghabiskan waktu seperti ini lebih lama. Tanpa memikirkan masalah yang ada. Tapi apa hendak dikata, Sintya sangat nekad menjatuhkan karakter Leo. Dasar perempuan gila.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Bersambung...
Reders yang baik, Author kembali promo yah karya terbaru yang masih new... semoga suka.
Nature's other Relationship. β€οΈ
Horor, action and romans...β€οΈπ₯π€
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku...π
Setidaknya kalian penyemangatku!
__ADS_1
Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....π€π₯