
Yani menunggu Paras di depan pintu ruangan Tuan Baros. Sesekali mendengus kesal sudah menunggu Leo dan Paras hampir 1,5 jam.
"Kenapa kalau udah menemukan tambatan hati nggak pernah ngehargai kita kita yang masih jomblo seeh?" batin Yani semakin geram.
"Gue kayak kambing congek nungguin pasutri yang sudah kehilangan urat malu ini." Tambah Yani membatin.
Sreeek....
Pintu terbuka lebar tercium aroma lavender dari balik ruangan Deputi CEO, bisa dikatakan owner lah. Paras dan Leo keluar dari ruangan tersebut dengan wajah tersenyum sumringah bercanda ria dan belum mengetahui keberadaan Yani menunggu mereka di depan pintu.
"Ciiih, secretaris juga harus di hargai Leonal. Lo nggak tau gue nunggu berapa jam di sini? mau gue laporin ke Tuan Baros yah?" geram Yani.
Paras dan Leo melirik ke arah Yani menutup rapat bibirnya, tersenyum tipis.
"Sory sayang, aku kebablasan!" Paras tampak salah tingkah sesekali mencubit lengan Leo.
"Diam diam dong, jangan bawa Baros ke sini. Bisa berabe!" racau Leo mengacak rambut Yani cara menggodanya.
Yani mendengus, "kalau nggak penting gue nggak akan ganggu kalian di sini." Yani memberi berkas pada Paras.
Paras membalikan lembar tiap lembar, "kita di ruangan Papi aja Bowl. Sinta mana?" tanya Paras.
Yani menggeram melihat sang direktur, jika di ikutkan hati mungkin dia akan mengacak seluruh lantai 28 perkantoran Baros hari ini. Merasa tidak di hargai bahkan di cuekin oleh Leo dan Luqman semenjak mereka memutuskan menikah.
"Ini dulu dong Mba Parassani. Aku dari tadi nungguin kamu ibu cantik, manis, menantunya Maride dan Baros, istri Leonal!" geram Yani membuat Leo terkekeh.
"Iya sayang, hayuuuk masuk. Kita tanda tangan di dalam." Ajak Paras merangkul bahu Yani sangat lembut.
Ada perasaan bersalah di hati Paras, karena mengikuti hasrat nafsu hingga tidak profesional. Jika Baros datang mendadak bisa terpecah belah lantai 28 ini.
"Yan, diam diam yah? hari ini kita makan makan lhoo, Luqman sebentar lagi datang." Senyum Paras.
Yani menarik nafas dalam.
"Mba Paras, ini seharusnya di kirim ke email Tuan Baros jam 08.30. Ini udah jam berapa mba? aku takut Tuan nelfon mendadak, habislah kita. Kalian besok kan harus berangkat jadi semua harus beres Mba Paras." Jelas Yani.
Paras mengangguk, dia memeriksa lembar perlembar sebelum membubuhkan tanda tangan berkelok 9 itu.
Pelan Paras memijat pelipis, karena perutnya terasa lapar setelah pertempuran menguras energi barusan. Leo nggak kira kira melakukannya sampe tiga ronde.
"Nggak pernah capek suami ku." Batin Paras tersenyum tipis.
β³45 menit mereka Paras duduk manis di kursi Baros, menanda tangani semua berkas. Leonal masuk membawa beberapa makanan.
Tentu menjadi pemandangan yang aneh bagi Yani. Seorang Leonal yang sangat cuek, bisa sebucin ini setelah menikah apa lagi memiliki baby four.
"Tumben Lo perhatian?" tanya Yani melirik Leo.
"Hmmm iya dong, mesti perhatian sama ibu dari anak anak." Kekeh Leo menggoda puncak hidung Paras.
Yani masih merasa marah, hanya tersenyum lirih menatap pasangan pasutri di hadapannya.
"Coba gue yang ada di posisi mba gendut ini, mungkin akan naik 50 kilo berat gue." Batin Yani melihat kemesraan Leo menyuapkan Paras.
"Bowl, undangan kita ternyata untuk 6 orang lhoo? kenapa nggak bawa Yani? bisa menghadiri acara time dinner terakhir. Papi kan masih di Jakarta. Bawa Yani dan Sinta aja yah? untuk membantu keperluan di sana." Jelas Paras.
__ADS_1
"Boleh. Yan, Lo kasih tahu ke Sinta siapkan paspor untuk di kirim ke Jerman. Biar di data oleh mereka kita berangkat enam orang. Sayang juga jika tidak di pakai undangannya." Kekeh Leo.
Yani menghubungi Sinta melalui intercom, meminta untuk datang ke ruangan Baros.
"Alhamdulillah, selesai. Kamu kirim cepet yah? nanti Papi ngamuk lhoo." Kekeh Paras.
Yani menaikkan kedua alisnya. Memilih meninggalkan ruangan segera agar tidak di omelin owner Langhai itu.
"Mati gue, bisa di gantung sama Tuan Baros." Batin Yani.
Benar saja, baru 10 detik Yani duduk di kursi kebanggaannya yang sangat empuk. Tiba tiba...
Drrrrt drrrrt...
π"Ya Tuan."- Yani.
π"Saya bilang kirim jam 08.30 kenapa belum di kirim? saya menunggu." Tegas Baros di sebrang sana.
Yani menelan saliva,
π"i i iya Tuan. Ini lagi saya siapkan berkasnya. 10 menit Tuan." Mohon Yani.
π"Kenapa mesti 10 menit? bukankah Paras sudah dari tadi ada di kantor?" tanya Baros mendengus kesal.
π"Hmmm saya siapkan dulu Tuan. Nanti kita bahas Mba Paras dan Bang Leo." Jelas Yani menutup segera telfon meletakkan di samping nakas. Sengaja menonaktifkan nada deringnya.
Yani mengirim semua berkas ke email Baros, kapasitas pengiriman ada 78 lembar.
"Hmmm akhirnya beres." Yani tersenyum lega.
"Bisa gue kerjain walau buru buru. Terkadang manusia itu harus di kejar dulu baru mau berusaha yah?" batin Yani mengambil handphone miliknya berlalu ke ruangan Baros memberi laporan pada Paras.
"Nggak mungkin gue jadi pelakor! bisa jadi babi guling Nyonya Maride." Kekeh Yani membatin.
Tok tok tok,
Yani mengetuk ruangan Baros.
"Hmmm, masuk!" terdengar suara Leo dari dalam ruangan.
Yani tersenyum sumringah, melihat pemandangan tidak biasa. Leo masih menyuapkan Paras dengan mesra di hadapan Sinta.
"Lama lama Lo kayak baby sitter yah!" goda Yani melirik ke arah Leo.
"Hmmm, kasihan belum sarapan udah kerja berat berat Yan!" jawab Leo jujur membuat Paras tersedak.
"Uuughug uhuuugh..." Paras menepuk dadanya.
Leo mengambil air mineral memberi pada Paras, "maaf sayang! aku terlalu bahagia." Senyum Leo jujur mengusap lembut punggung Paras.
Paras menengguk air mineral hingga habis, mengelap bibir se*xy dengan tisyu.
"Sin, paspor kamu ada? kasih ke Yani, kita ke Jerman besok jam 10." Jelas Paras tidak ingin di bantah.
"Hmm, paspor saya mati bu. Belum saya perpanjang, karena nggak ada waktu." Jujur Sinta.
__ADS_1
Paras menatap Yani, "tolong hubungi bagian legal, sore paspor Sinta harus selesai." tegas Paras pada Yani.
Yani menunduk, segera melakukan perintah sang direktur.
"Lo bawa paspor?" tanya Yani menatap Sinta.
"Ada di laci. Kan dari awal kerja di sini wajib punya paspor. Jika tidak nggak boleh kerja." Jujur Sinta tersenyum tipis menatap wajah cantik Paras.
"Ya udah cepet ambil, gue nggak mau batal ke negeri panser." Kekeh Yani membuat Sinta mendengus kesal.
"Mba, boleh cashbon nggak? buat beli oleh oleh." Tambah Yani membuat Leo menepuk punggung gadis pecicilan itu.
"Lo tuh jangan buat malu perusahaan dong. Gaji yang gue kasih, apa kurang? pelit amat sama diri sendiri." Geram Leo.
"Aaaaugh, sakit Leonal. Ada seeeh, gue baru bayar cicilan apartemen." Cerita Yani.
Leo dan Paras saling tatap, "serius?" tanya keduanya serempak.
Yani mengangguk, "di Kalibata tower baru yang banyak kasus bunuh diri itu." Jelas Yani.
"Hmmm, kenapa nggak apartemen saya saja kamu cicil? itu pemberian Nyonya Maride seeh. Sayang saja kosong, udah lengkap dan sekarang kosong. Kamu mau di sana? Biar saya bilang ke Mami, nanti kamu cicil saja sama kita." Ucap Paras menatap lekat wajah oriental kekanak kanakan itu.
Yani menunduk, "kalau batal uang balik nggak Mba?" tanya Yani membayangkan uang yang sudah masuk tapi tower belum kelar.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Paras penasaran.
"Masih di kosan mba!" jujur Yani.
"Minta saja, bawa kwitansi, pasang wajah melas. Balik kok walau nggak full. Kalau kamu mau nanti kita ke Pejaten terus minta uang yang sudah kamu kasih. Emang berapa kamu kasih ke mereka?" tanya Paras penasaran.
"Jujur baru 20 juta mba. Rencana hari ini mau saya kasih 20 juta lagi. Kalau mba bilang cicil di Pejaten boleh deh, emang mba jual berapa?" tanya Yani menikmati klepon yang masih nganggur di atas meja Paras.
"Hmmm, bisa itu. Rencana mau saya jual 2,5 milyar. Mau saya beliin aset di Bandung atau di Bogor yah Bowl?" jelas Paras membuat Yani sedikit shook.
"Berapa mba? 2,5 milyar? gue jual diri dulu yah mba! laku kali 3 milyar karena masih virgin." kekehnya menatap lucu ke arah Paras dan Leo.
"Iya, jual aja dulu!" jawab Paras asal.
Leo mendengar hanya tertawa, "sini gue beli. Jangan kasih ke orang lain." Goda Leo membuat Paras menatap lekat wajah berbulu itu dengan sinis.
"Bowl!!" geram Paras cemburu.
"Laah, lagian kalian ngomongnya aneh aneh aja. Nggak mikir apa? Lo mau jual diri jangan kerja di sini lagi. Cari sana om om yang mau kasih Lo fasilitas komplit. Omongan itu doa cee'. Jadi mesti di jaga. Lo di tempat Paras saja. Ngapain Lo beli apartemen di bagian situ, angker tau." Tegas Leo.
Paras mengangguk setuju.
"Tapi mahal banget Leonal, gue nggak ada uang." Jujur Yani.
"Berapa Lo ada duit sekarang? Lo ambil uang yang udah di stor, kasih ke Paras. Terserah Lo mau pindah kapan. Nggak di huni juga apartemen bini gue. Pulang dari Jerman kita urus semuanya." Tegas Leonal di angguki setuju oleh Paras.
"Makasih yah Mba Paras, Bang Leo." Peluk Yani pada tubuh direktur yang semakin padat.
"Syaratnya diam diam dari yang lain. Kami lagi butuh uang buat beli lingeri." Kekeh Leonal dan Paras.
Tentu Yani semakin kesal, "dasar pasangan mesum!" geram Yani.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...β€οΈβ€οΈ