Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
I'm yours.


__ADS_3

Gutten morgen, author akan melanjutkan Part berikutnya untuk Ugly 'n Fat Girl.


Dibawah 20 tahun tolong minggir yah untuk Part ini.... πŸ™πŸ™„... karena mengandung adegan 21+ dan agak panjang, hehehe...πŸ€­πŸ€—


Happy reading...❀️πŸ₯°


____________*********


Baros dan Maride kembali ke hotel tempat mereka menginap. Sepanjang perjalanan otak keduanya memikirkan nasib percintaan anak bujang mereka Leonal.


Maride mendekap erat tubuh Baros selama perjalanan, "Pi, kalau si Leo pacaran sama Paras atau bahkan menikah, kau cemburu?" Tanya Maride, tentu membuat hati Baros terbakar meletup letup.


"Apa pula aku cemburu! Kau sangat cantik dimata ku, Mami! Tak ada duanya." Senyum Baros sedikit nakal dipuncak hidung Maride.


"Heleeeeh, tak ada duanya kau bilang, tiganya banyak! Aku tau semua kutilmu, Pi!" Kekehnya menggoda Baros.


"Hmm, iya! Semua kutil ku kau tau! Tapi kutil yang mana dulu sayang! Aku nggak punya kutil!" Kekehnya mengecup kepala Maride.


"Iya yah! Berarti kutil brondong kemaren lah yang Mami lihat!"Jawab Maride asal membuat dia terkekeh geli.


"Hmmm!" Baros menepuk pelan bibir istrinya. "Suka banget buat aku cemburu!" Peluk Baros semakin erat ditubuh gembul itu.


"Aaaa!" Rengek Maride manja.


"Biarkanlah mereka dulu Mi, sebab aku penasaran sama yang dibilang si Silutak, kalau Paras seperti itu. Agak ragu aku." Kekeh Baros. "Aku rasa Paras itu wanita baik-baik! Tapi nggak tau lah yah! Biarkan Leo yang membuktikannya. Jika aku yang buktikan bisa hancur hati mu nanti." Baros semakin menggoda Maride.


"Ck, kesal aku! Dia itu kan mengidolakanmu sayang. Sampai ulang tahunmu saja dia ingat. Ni jam rolex dari dia kan? Hadiah ulang tahun konon! Untung dia kasih rolex hingga sayang untuk ku buang! Kalau baju, udah ku bakar!" Kekeh Maride mencubit manja dada suaminya.


"Hmm! Jadi, malam ni lagi yah? Aku on lagi ni! Gara-gara gong gong dan kepiting itu! Jadi terbayang aku punya mu yang tembem!" Goda Baros mencium bibir Maride.


"Iiighs, kau yang goyang yah! Aku capek!" Jawab Maride mearasakan hal yang sama.


"Aaaagh, kau mana bisa diam, aktif terus." Tawa Baros mengusap lembut bahu telanjang sang istri.


Maride tertawa lebar membayangkan apa yang akan terjadi saat sampai diperaduan mereka.


Bagi Baros dan Maride pertempuran beberapa bulan lalu dengan Silutak karena perceraian Leo dan Sintya sangat memalukan keluarga. Silutak sengaja menikahkan dan menceraikan karena dendamnya pada Baros.



Keindahan malam di Swiss-bell Pekanbaru.


Leo dan Paras malah duduk di resto hotel menghabiskan malam. Kennedy mengantarkan mereka, kemudian kembali pulang, karena akan menghabiskan malam menghubungi Berlin. Kennedy sangat pengertian pada calon abang iparnya, memberi ruang agar lebih cepat move on.


Mereka memesan beberapa minuman yang lebih soft, sejenis tequila dan beberapa cemilan.


"Ternyata disini nggak sehoror yang diberitakan televisi yah." Ucap Paras memecah keheningan. "Banyak bule!" Kekehnya.


"Hmm! Leo menaikkan alisnya, "apa aku tidak seperti bule? Kamu aja lebih mirip londo!" Tawa Leo.


"Ck, kamu! Bisa aja. Oya, mantan istri kamu orang mana? Kok nggak pernah cerita ke aku?" Tanya Paras menatap mata Leo.


Leo tersenyum. "Kenapa? Penting gitu?" Leo balik bertanya.


"Nggak penting seeh! Tapi setidaknya aku tidak mendengar dari pihak lain!" Senyum Paras mengalihkan pandangannya.


"Ya! Aku rasa itu belum pantas aku ceritakan sekarang! Hanya masa lalu!" Jelas Leo.


Paras mengangguk mengerti, karena Leo baru beberapa bulan menyandang status duda.


"Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu ada hubungan dengan seorang datuk maringgih atau pria mapan selain aku?" Goda Leo.


Paras tertawa mendengar datuk maringgih, hanya menaikkan bahu, menatap Leo dengan wajah sendu. "Aku pernah berharap dengan seseorang! Tapi seseorang itu mendustai aku! Dia bilang dia duda, tidak ada wanita lain dan berjanji akan melamar ku kekeluarga, tapi semua bohong! Pria itu berdusta pada ku. Dia beristri dan memiliki anak! Yaah dia membohongi ku!" Jujur Paras.


Deg, Leo menatap lekat iris mata Paras, tidak ada kebohongan disana. "Apakah selama ini Silutak membohongi keluarga ku?" Batin Leo.

__ADS_1


"Trus?" Tanya Leo penasaran.


"Yaaah, aku frustasi! Tuan Baros mengetahui kekecewaan ku! Beliau menyelamatkan ku! Jujur aku mengagumi CEO kita. Aku pernah mengungkapkan perasaan ku bahwa aku mencintainya. Tapi Ibu Maride malah menertawakan ku!" Sambil terkekeh mengenang kebodohannya.


Leo tertegun. "Serius? Kamu mencintai Tuan Baros?" Tawa Leo pecah seketika. Ada perasaan cemburu dan juga lucu. "Sejauh apa hubunganmu dengan pria itu?" Tanya Leo penasaran.


"Dulu, aku menyukai Tuan Baros!" Kekehnya. "Yaaah hubunganku dengan pria itu, sewajarnya bos dan secretaris! Seperti you and me!" Senyum Paras menggoda Leo.


Leo mengangguk mengerti, "hmm, ya! I know!" Senyum Leo. "Berarti sekarang balas dendam dong!" Kekeh Leo semakin menggoda Paras.


"Yaaah, jujur gue kesel sama lo! Tapi gue seneng! Lo baik banget sama gue, mau gue apain juga, lo tetap sopan! Nggak dendam, malah sukanya menggoda gue! 3 bulan lo gabung sama kita, perusahaan juga semakin membaik, nggak ada yang berani mendekati, contohnya Silutak, saingan Tuan Baros!" Jelas Paras menjelaskan pada Leo.


Leo menautkan alisnya penasaran, "oogh, emang dulu Silutak sering mengganggu ke perusahaan kita?" Tanya Leo.


"Nggak sering, beliau lebih sering mengobrak abrik sistem! Beliau nggak stay di Jakarta! Kalau nggak salah di Singapura. Gue udah lama nggak contac sama beliau!" Cerita Paras menjelaskan.


"Hmmm!" Leo berfikir, "berarti semua ini jebakan Silutak untuk menjatuhkan Papi? Kenapa rekening pribadi Paras sempat menggendut sebelum gue masuk?" Batin Leo. "Jangan-jangan Sintya juga menjebak ku saat ini?" Pikiran Leo semakin traveling.


Sudah dua hari dia tidak menelfon ataupun bertanya kabar, hanya memikirkan, tapi tidak merindukan Sintya.


"Apakah Sintya baik-baik saja?" Leo membatin, mengirim pesan melalui whatshApp pada Berlin, agar mengawasi segera Sintya.


Hari semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari waktu Pekanbaru. Leo dan Paras, memilih kembali kekamar, untuk beristirahat. Setelah membayar bill mereka.


Paras menenteng paperbag pemberian Maride, sesekali mereka saling menggoda. Jujur Leo semakin tau siapa Paras, saat ini biang kerok semakin terlihat jelas. Apa benar Paras? Atau bahkan Silutak yang ingin menghancurkan karakter dan karier Paras. "Aku paling benci jika disuruh menjadi detektif!" Batin Leo, menuju kamar.


Paras membuka pintu kamar, menempelkan card pada dinding yang telah disediakan, agar sistem ruangan menyala. "Kamu kuat banget minum alkohol yah!" Celetuk Paras saat melihat Leo tengah membuka baju memperlihatkan tubuh atletisnya. Paras menelan salivanya. Menatap tubuh Leo sangat mempesona.



Oogh my God....


"Kenapa? Ngaak suka?"Jawab Leo asal. Leo semakin menggoda Paras, membuka celana jeans dihadapan Paras tanpa rasa malu.


Saat Paras keluar dari kamar mandi, Leo terpesona dengan piyama Paras lebih indah ditubuh gendutnya.


Leo mendekati Paras, mencium aroma dari dekat sangat khas dihidungnya. "Kamu pakai parfum apa seeh? Kok menggairahkan banget!" Bisik Leo lebih mencondongkan wajahnya.


"Iiighs, bersih-bersih sana! Bau alkohol!" Kekeh Paras gemes.


Leo membesarkan kedua bola matanya, berlalu masuk kekamar mandi dengan perasaan kesal dan penasaran. "Setidaknya curahan hati Paras tadi, mulai menghantui pikiranku." Batin Leo.


Leo memakai baju kaos tipis, keluar dari kamar mandi. Melihat wajah Paras sudah terlelap. Perlahan, Leo menaiki ranjang kingsize mereka. Ada perasaan sangat luar biasa mendebarkan bagi mereka berdua. Leo menyandarkan tubuhnya kedinding tempat tidur, menutup bagian kaki dengan selimut.


Sejenak Paras membuka mata, "kok aku jadi nggak bisa tidur ada kamu disini!" Ucap Paras membuat Leo menoleh kearahnya.


Leo meletakkan handphone yang baru diambilnya kembali kenakas. "Aku fikir kamu sudah tidur. Ternyata masih bohong! Kenapa kamu nggak tidur? Hmm!" Leo ingin mengecup kepala Paras, ternyata Paras mendongakkan kepalanya, membuat bibir mereka bertemu.


"Huuuufgh!" Seketika Leo reflex me lu mat bibir manis Paras yang sudah ready untuknya.


"Hmmm!" Mata keduanya terpejam menikmati ciuman mereka semakin meng gairahkan.


Leo menangkup wajah Paras, "apa kamu yakin? Aku tidak akan berhenti Paras!" Leo menatap iris hezel mata Paras yang indah tanpa hiasan. Jujur dia benar-benar tak kuasa menahan, Paras sangat menggodanya.


Paras menjawab lewat tatapan mata, tanpa berucap.


Leo kembali me lu mat bibir Paras, me main kan lidah nya di sana. Mereka saling meni kmat i. De ca pan bersahutan membuat gai rah keduanya semakin menjadi.


Perlahan Leo membuka piyama Paras, meng e cup leher meninggalkan stempel sipederman berwarna merah disana, me lu mat daun te linga, hingga mendaratkan perlahan li dah nya di kedua puncak krakatau Paras yang be sar.


"Aaaaagh!" Paras benar-benar men de sa h hebat dan pas rah. M e liukan tu buhnya agar Leo melakukan yang lebih. "Ooogh Leo! Huuughh! Aaaagh!" Na fa s nya ter se ngal, de sa han Paras terdengar indah di telinga Leo.


Malam semakin larut, hanya terdengar suara indah kedua insan ini.


"Paras, I love you!" Ucap Leo mulai turun ke perut dan bagian terhangat incubator milik Paras yang menawan bagi Leo.

__ADS_1


Paras menutup bagian itu menggunakan kedua tangannya. Merasa malu dan perasaan takut.


"Why?" Leo kembali menenangkan Paras, kembali ke bi birnya. "Kamu ragu? Kamu? Huuuufgh!" Paras membungkam Leo dengan bi birnya kembali.


Leo memberanikan menyentuhnya dengan jari dibagian incubator Paras terasa hangat. Paras masih menutup kedua pa ha nya.


Leo tersenyum karena disana sudah sangat ba sah, meng gi git pelan bi bir bawah Paras, menuju pe la n ke bagian extrame di ba wah sana.


"Hhhuuugh! Aaaaghrh Leo!" De sa han Paras makin ter dengar.


Leo menyentuh dengan li da h nya, "hmmm, wangi banget!" Batin Leo.


Paras me nge rang, "Uuugh, aaaaagh!"


Leo bukan pria bodoh, dia sangat tahu wanita yang masih bersegel atau tidak. Ternyata Paras, belum pernah melakukan dengan siapapun. Masih terlihat sempurna sebagai gadis baik-baik.


"Paras, you?" Ucap Leo kaget mulai meragu.


"I'm yours Leo!" Air mata Paras mengalir disudut matanya, memohon agar Leo melakukan itu.


Leo kembali menatap wajah Paras, menelan salivanya berulang kali. Ada perasaan takjub luar biasa. "Apa kau yakin akan memberinya padaku?" Leo menatap manik mata Paras.


"Do it Leo! Aku yakin, karena aku mencintaimu!" Ucapnya.


Leo yang masih setengah sadar, tak bisa mengontrol bi ra hinya, memberanikan diri memainkan si unyun di area incubator sebelum semua itu terjadi.


Lagi dan lagi Leo bertanya meyakinkan hatinya, "ini sakit banget sayang! Apa kau yakin?" Tanya Leo kembali.


Paras mengangguk, meremas lengan Leo.


Perlahan Leo memasukkan si unyun ke incubator, sangat sulit, karena ini yang pertama bagi Paras.


"Aaaaagh, sa ki t Leo! Ooouuugh Le o!" Air mata Paras mengalir deras disudut matanya.


Leo mendorong lebih dalam, menembus dunia yang berbeda. Bhuuuuzz. Leo menghentikan saat si unyun telah pas memasuki incubator dengan sempurna. "I love you!" Bisik Leo pelan dan mulai meng gerakkan ping gul nya.


Paras yang men angis, suaranya seketika be ru bah men ja di de saha n yang ber beda di telinga Leo.


Lebih kurang 20 menit Leo menikmati malam panjangnya, suatu kebanggaan baginya si unyun berhasil menerobos mahkota sang direktur yang indah untuk pertama kali.


"Leo, a a aku pengen pi pi s!" De sa h Paras.


Leo mengetahui Paras akan o r g a s m e, meng hen tak kan leb ih da lam agar Paras mendapat pel epa sannya.


Paras me nge ra ng dan me ne gang, "aaaaaaugh Leo!" Mata indahnya terpejam dengan na fa s ter se ngal mem buru. Nafasnya seperti selesai berlari kencang.


Leo meng hentakkan lebi h ka sa r, menyemburkan calon Leo junior untuk Baros dan Maride, "Ooouugh!" Leo me lu mat bi bi r Paras, sangat manis. "I love you!" Leo mengusap lembut wajah cantik Paras. Menatap mata indah itu. "Thankyou! I will be responsible for you! Dont walk away from me!" Ucap Leo kembali memeluk tubuh Paras. Melepas dede unyun dari pemanas yang sudah stabil.


Paras menelan salivanya. "Apa seperti ini rasa sakitnya? Atau karena punya kamu terlalu besar hingga merobek semua kulit ku." Rengek Paras.


Leo tersenyum, "ini yang pertama untukmu! ternyata tak seperti yang aku bayangkan!" Kecup Leo pada kening Paras.


"Hmm! Apa kamu mau menikah dengan ku?" Tanya Paras.


"Ya! Kita akan menikah! Setelah adikku dilamar! Aku akan menikahi mu." Tegas Leo membawa Paras kedekapannya.


"Thankyou Leo! I love you!" Bisik Paras, memeluk tubuh secretaris yang dapat mendamaikan perasaannya.


********************


Author deg degan buat ini... Mohon maaf, ini hanya sebuah karya. Tidak ada maksud lain. Hanya cerita, karena di Part lain belum tentu di temukan... πŸ™β€οΈ... Jika ada kekurangan, atau kelebihan mohon maaf.


Read and wait... πŸ€­πŸ€—


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...πŸ™πŸ₯°β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2