
Kamar nan sejuk beraroma khas lavender itu membuat pasangan dewasa itu semakin akrab. Tampak Leo dan Albert tengah duduk di sofa menjauh dari dua wanita mereka, untuk menyelesaikan masalah pribadi terlebih dahulu.
Albert yang lebih terbuka bahkan mengakui kekaguman pada istri Leonal, sedikit membuat Leo penasaran.
"Apa yang Lo suka sama bini gue? Lo udah tahu dia udah nikah? bahkan kami sudah memiliki baby four," jelas Leo.
"Hmmmm pikiran Lo cetek yah? apakah orang mengagumi, mencintai akan merebut Paras dari Lo? gue tahu Lo, Leo! dua tahun kita sama sama di Australia dan gue menjadi saksi dunia persilatan Lo! gue enggak mau Paras terluka! dia wanita baik dan kuat," senyum Albert menikmati hidangan yang disediakan Maid.
"Itu masa lalu Albert, aku sudah berpisah dari Alicia! kami hanya sebatas kencan tanpa hubungan status," jelas Leo berbisik.
Albert mengangguk, tersenyum tipis, "apa Paras tahu hubungan Lo yang lain?" godanya.
"Anjiiing! itu hanya just for fun, tapi setelah gue menikah, gue enggak pernah menemui mereka," geram Leo membulatkan matanya.
Albert tertawa mendengar celotehan Leo. Dia berhasil membuat Leo salah tingkah.
"Haaaah itu yang gue maksud, Desna, Amy, mereka ada di Jakarta lho, jika Lo enggak jujur akan membawa petaka," tegas Albert mengingatkan.
"Itu sudah lama banget Albert, sebelum aku kembali ke Jakarta," jelas Leo.
"Ya ya ya," kekeh Albert.
"Jika mereka muncul, hubungi aku! karena aku pernah memakai jasa Desna untuk oral!" tambah Albert.
"Ba ngs at Lo, Abang kelas nggak patut di contoh sama sekali," tegas Leo.
Albert tersenyum, "tapi kita ingin hidup lebih baik, Senin gue akan menikahi Yani secretaris Lo. Jadi jangan Lo halangi kami jika sudah menikah," ucap Albert jujur.
Mata Leo membelalak, "tega Lo yah sama Fredy? bagaimana adik Lo?" tanya Leo.
"Ck dia itu laki laki gagu! salah sendiri kenapa nggak langsung gas, malah jujur tentang perjodohan, ngikutin kata Mami, yaaah akhirnya kecewa sendiri kan? tapi gue yakin, dia mengalah sama gue, karena harus itu yang dia lakukan," jawab Albert santai.
"Terus bagaimana dengan gadis yang kemaren mengecup Lo diruangan?" tanya Leo.
Albert menatap hezel mata coklat Leo, "itu Nela, gadis ayam ayaman gue, kami hanya menghabiskan waktu bersama di kantor membantu aku oral. Aku jujur enggak hobi main ehem ehem. Ingat pesan Fredy, agar benih enggak berserakan dimana mana," jujurnya.
__ADS_1
"Berapa kali Lo jalan sama bini gue?" tanya Leo penasaran.
Albert menaikkan kedua alisnya, mencoba mengingat kapan terakhir kali dia jalan dengan Paras.
"Sepertinya dua tahun lebih aku enggak ketemu sama Paras dan menghabiskan waktu bersama, tiba tiba kalian datang kemaren membuat aku shook. Aku nggak nyangka aja Paras jatuh hati sama seorang brondong kayak Lo," ejeknya.
"Secara ni yah, usia kalian terpaut jauh. Sama gue aja dia nggak mau, masak mau sama Lo? tahu gitu kan gue hajar deluan," tawanya memecah keheningan kamar Leonal.
"Ba n gke! untung Lo di Marsedez Benz pabrik yah! kalau enggak sudah habis Lo gue matiin," ancam Leo.
Albert malah tertawa mendengar celotehan Leonal. Ancaman itu sering dia dengar dari bibir Leo saat mereka berada di Australia, tapi emang dasar bule somplak, dia lebih suka mengganggu Leo jika sudah terpojok. Intinya Albert suka melihat Leo menderita seperti saat ini, karena dia memang selalu dilindungi dan dibanggakan Maride.
Tidak lama mereka berbincang, Maride dan Baros memasuki kamar anaknya.
"Apa kalian sudah selesai?" teriak Maride mendongakkan kepala menatap dua pria yang tengah asik duduk disudut ruangan.
"Hmmmm masuk saja Mi," ucap Paras yang tengah asyik mendengarkan cerita Yani.
Maride menerobos masuk menarik tangan Baros, mendekati Albert dan Leo.
Albert yang sangat mengenal Maride justru memeluk tubuh gendut itu membuat Leo mendengus kesal melihat Mami kesayangan lebih menyayangi Albert dari pada dirinya.
"Sudah Mami sayang. Oya aku Senin nikah sama karyawan Mami yang itu," tunjuk Albert pada Yani yang tengah mengobrol dengan Paras.
Tentu menjadi suatu kejutan bagi mereka, saling menatap, menepuk kepala bule somplak itu dengan sangat kesal.
"Kau apakan anak gadis aku? secretaris kami itu! kau macam macam ku kirim ke Jerman," tegas Maride.
"Aaaaugh Mi!" sungut Albert.
"Aku serius, sakit lhoo!" rengek Albert mengusap kepalanya.
"Kenapa kau tiba tiba ngomong nikah? udah enggak kuat perkutut mu? atau sudah kau ambil kehormatannya haaaaah? jujur kau sama aku! udah muak kali aku lihat perangai kalian ini!" kesal Maride meraih siunyun Albert untuk di remas.
Albert yang ketakutan, meredam tangan Maride meringkuk dipangkuan nya.
__ADS_1
"Ampun Mi, ampuun! kami tadi malam sama sama, dia ikhlas, makanya aku mau nikahin dia," jujur Albert.
Maride bersorak kesal, karena akan kehilangan Yani dalam waktu dekat.
"Jadi kau akan membawa dia ke Bogor?" tanya Maride menautkan kedua alisnya.
"Hmmmm iya, tapi enggak sekarang. Aku akan sering kesini dulu, karena akan menandatangani kontrak dengan perusahaan yang lain," jelas Albert jujur.
"Ya, karena susah sekali mencari pengganti Albert. Kaulah yang mengalah dulu yah? Paras lagi enggak sehat! dia hamil, jadi aku harap kau mengerti. Kalau kalian mau menikah aku senang mendengarnya, tapi jangan langsung kau bawa. Biar dia menyelesaikan tugasnya," jelas Maride sedikit memohon.
Albert mengangguk mengerti, menatap wajah Paras dan Yani dari kejauhan. Dua wanita yang menarik perhatiannya hingga memutuskan untuk hidup bersama Yani dalam waktu singkat membuat keputusan yang sangat instan, tapi dia enggan mengecewakan gadis cantik itu, walau dia mesti berhadapan dengan Fredy adiknya. Mungkin cara Albert sedikit picik, karena takut kehilangan Yani. Jadi lebih baik dia melakukan lebih awal dibanding pikiran Yani beralih ke Fredy.
"Cara orang berjuangkan berbeda," batin Albert menatap Yani dan Paras.
"Ternyata Paras lebih cantik dari Yani, Paras lebih dewasa, Yani anak anak, hmmmm tidak buruklah," tambahnya tersenyum tipis membatin.
"Jadi kapan unit kita beres Albert?" tanya Maride menatap lekat minta kepastian.
"Aku usahakan cepat yah Mi. Mami tenang saja, tidak akan kenak finalti, karena sudah ada di kepalaku," jelas Albert menenangkan perasaan Maride dan Baros.
"Syukurlah, sebab sudah di tunggu itu. Aku enggak mau masalah pribadi kau campur adukkan sama pekerjaan. Aku lapor kau sama pusat," ancam Maride.
Albert mengusap lembut punggung Maride, "nggaklah Mami, kerja yah kerja, urusan aku sama Leo beda! ini hanya masalah pribadi saja. Hanya aku dan Leo yang tahu," kekehnya.
"Makan kita? biar calon istrimu menemani Paras, aku sudah lapar karena memikirkan kalian. Turun naik jantung ku. Hampir kehilangan cucu," racau Maride.
Albert mendekap tubuh Maride mengikuti arah kaki ibu gendut itu dengan perasaan nyaman, membuat Leo mengalah.
Baros menepuk pundak Leo, "bisa kau lihat bagaimana manjanya dia sama kami? itulah bentuk kita rekanan anak muda! bisnis itu tidak semua pada sistem, tapi kita harus bisa saling memahami partner," titah Baros.
Leo mengangguk, baru kali ini dia melihat bule somplak terlalu dekat dengan keluarganya hingga merebut perhatian Maride dari Leonal secara pribadi.
Sabar Bang Leo, ini ujian....🤧
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️