
Malam terasa indah bagi kedua insan yang tengah dilanda ombak asmara penuh perasaan cinta. Hiasan kecil yang ditorehkan Albert sangat membutakan mata kedua insan yang tengah menikmati dunia baru bagi mereka. Remasan lembut dari tangan kekar milik Albert saat pertama kali menyentuh benda kenyal milik Yani, begitu membangkitkan gairahnya.
Lampu temaram menghiasi tubuh mungil tidak terhalang sehelai benangpun. Albert Einstein pria tampan itu terlihat sangat kekar ingin membawa Yani menikmatinya secara perlahan. De sa h an kecil terdengar indah menghiasi tiap sudut kamar hotel yang mewah.
"Honey aku mencintaimu, setelah ini kamu milikku," bisiknya ketelinga Yani membuat tangan kecil itu memeluk erat punggung kekar yang mampu menghipnotis tubuh mungil Yani sehingga dengan ikhlas memberikan semuanya pada Albert.
Perlahan Albert mengarahkan laras panjang yang akan menerobos sukma milik Yani penuh perasaan cinta.
Yani menutup matanya, merasakan sesuatu yang sangat besar akan masuk dibawah sana merobek kulit lembut hingga gadis itu berteriak.
"Aaaaagh sa sa sakit sayang,"
Yani meremas punggung Albert merasakan perih yang teramat sangat berbeda.
Albert menarik nafas panjang, menatap lekat wajah cantik Yani, "aku berhasil, kita berhasil menembus nirwana sayang," kecupnya pada bibir Yani enggan menggerakkan pinggulnya karena laras panjang itu terasa hangat didalam sana.
"Ini yang pertama untuk aku dan kamu," ucap Albert mengikuti alur gerakan pinggulnya, untuk mencapai tujuan menuju puncak yang selalu menjadi khayalannya selama ini.
"Aaaaagh,"
Keduanya merasakan keindahan di dunia yang berbeda, saling menikmati syurga yang mereka ciptakan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Yani benar benar terbuai oleh pesona Albert, pria romantis yang sangat royal dan baik hati. Tegas, lucu bahkan sangat mampu memberikan kesan yang berbeda bagi gadis Manado Sunda itu.
"Oooough, aaaaagh," keduanya benar benar mencapai pelepasan malam lajang yang indah tanpa mampu berucap.
Keringat bercucuran, hingga bibir yang masih menyatu tak mampu berucap menikmati keindahan saliva berdua tanpa perasaan ragu ataupun kecewa.
Albert tidur di samping Yani mendekap erat tubuh mungil dunianya, "kamu sangat sempurna untuk aku," ucapnya pelan.
Yani merasakan kenyamanan, kembali meringkuk dibawah cerug leher kekar yang sangat menyejukkan.
"Apa kamu ingin tinggal bersamaku?" tanya Albert menatap Yani.
Yani mengangguk manja, "aku akan ikut bersamamu," ucap Yani.
"Mungkin aku akan sering ke Jakarta akhir akhir ini, karena barang perusahaan Langhai akan masuk. Aku akan membantu kamu pindah ke apartemen yang kamu beli pada Leo besok, aku juga akan menghubungi Mami Maride meminta kamu untuk menikah dengan ku," jelas Albert.
"Orang tuaku di Manado, Mba Paras masih sakit, jadi kita nggak bisa pulang," jelas Yani.
"Tenang saja, aku akan mengurus semua untuk kita," senyum Albert membawa gadis itu masuk kepelukannya.
Yani tidak berfikir negatif pada Albert, karena jika bule Jerman itu menyakitinya, orang nomor satu yang akan menggantungnya adalah Maride dan Baros, alasan itulah yang membuat Yani berani melakukannya sekarang. Ditambah rasa penasaran yang ada di kepalanya, sebagai gadis dewasa yang mandiri selalu melihat kemesraan Leo dan Paras, Luqman dan Berlin menimbulkan rasa penasaran yang sangat berlebihan.
"Apa kamu menyesal melakukannya dengan ku sayang?" tanya Albert menatap iris mata indah Yani.
"Hmmmm pasti, tapi tidak begitu besar, karena aku yakin kamu pria baik untuk aku," bisik Yani mampu menyejukkan Albert.
"Terimakasih I love you,"
__ADS_1
Albert membawa gadis itu masuk ke dunia mimpinya, agar selalu merasa bahagia jika di dekatnya.
Drrrrt, drrrrt..
"Fredy," bisik Albert.
π"Hmmmm," Albert.
π"Kamu dimana? katanya tadi di apartemen ku? kok ngilang?" Fredy.
π"Hmmmm aku di Rich Carlton bersama Yani," jujur Albert.
π Duuuuuaaaarrr,
Ledakan bergemuruh menghancurkan seluruh harapan Fredy untuk mendapatkan Yani pupus sudah, tanpa bersisa.
π"Are you crazy boy? dia itu gadis baik?" kesal Fredy sakit hati.
π"Aku serius, besok kita bertemu," tegas Albert.
π"Haaah apakah yang memberi uang 500 juta pada Yani itu Lo bro? hingga dia rela menyerahkan mahkotanya sama Lo?" kesal Fredy.
Albert melirik ke arah Yani, beranjak perlahan menjauh dari ranjang kingsize kamar hotel.
π"500 juta apa? gue enggak ngerti,"
π"Ya, Yani membeli apartemen Leo di Kalibata, masih ada utang pada Leo 450 juta, dia justru enggak mau terima bantuan gue, ternyata Lo main kotor sama dia," kesal Fredy.
Deg,
π"Oooough ya, aku yang melunasi pada Leonal, ada lagi?" geram Albert berbohong.
π"Jika Lo nyakitin Yani, siap siap Lo gue seret ke meja operasi," ancam Fredy membuat Albert tidak gentar.
Fredy menutup telfonnya, merutuki perbuatan Albert yang sangat picik menurutnya.
Albert terdiam, "pantes uangnya habis, rupanya baru beli apartemen," batinnya mengambil handphone milik Yani mencari semua contac yang ada dilayar handphone milik Yani.
"Leonal, Leonal, nggak ada," batinnya.
"Parassani, Paras, hmmmm ada,"
Albert mengirim kekurangan uang pembelian apartemen ke rekening Paras, mengirim ulang pada Leo dan Paras, melalui nomor pribadi miliknya. Sengaja Albert menulis "pelunasan apartemen kalibata" di laporan bankingnya untuk menjadi pegangan bagi Yani.
Pria Jerman itu tersenyum bahagia, mengecup punggung telanjang Yani, menghirup aroma wangi wanita cantik yang penuh semangat dan gairah.
"Hmmmm bener felling gue, nafsunya besar," kekeh Albert geleng-geleng kepala.
Albert kembali memeluk tubuh mungil itu, berusaha terlelap agar besok menjadi hari yang indah bagi mereka berdua.
__ADS_1
.
.
Rumah sakit Jakarta Selatan, Paras tersadar dari masa kritisnya, sedikit meringis menyebut nama Leo.
"Mba Paras siuman, panggil Bang Leo," pinta perawat pada Lili.
"Hmmmm ya," asisten Fredy bergegas mencari Leonal yang tengah tertidur sambil duduk di luar ruangan.
Lili membangunkan Leo dengan pelan, "Bang, Bang Leo, Mba Paras sudah siuman," bisiknya.
Leo membuka mata pelan, bergegas menuju ruang perawatan, mendekati Paras.
"Nduut, maafkan aku!" kecup Leo pada wajah cantik Paras.
Paras menyentuh wajah berbulu suaminya, "eehhhm ssssshz sakit Bowl," bisiknya pelan.
"Iya sayang, kamu habis tindakan, tapi baby twins baik baik saja. Kamu kuat yah sayang, Nduut, aku minta maaf, benar benar menyesal," tangis Leo dipunggung tangan Paras.
"Anak anak mana Bowl?" tanya Paras pelan.
"Baby four baik baik saja sayang, mereka dirumah. Sopir tadi menjemput Apak, Amak dan Berlin, aku disini untukmu,"
Leo masih mengusap lembut kepala Paras.
"Kamu mesti istirahat total sayang, Fredy akan merawat kamu hingga benar benar pulih. Sekali lagi aku minta maaf Ndut," bisik Leo lembut.
Paras hanya tersenyum, "I love you Bowl," ucapnya pelan.
Leo masih mencium punggung tangan itu penuh kasih sayang, bahkan enggan melepas ciumannya dari jemari Paras yang sangat lembut.
"I love you too Ndut," kecup Leo pada kening Paras.
Leo terus mengusap perut Paras, hanya bisa berharap agar baby twins baik baik saja.
Perawat dan asisten Fredy memilih keluar ruangan karena enggan mengganggu Paras dan Leo yang tengah sayang sayangan.
"Bang Leo, kalau ada apa-apa tekan tombol ini yah? istirahat lah, besok dokter Fredy akan bertemu dan sudah bisa pulang," jelas perawat.
"Ooogh ya terimakasih," senyum Leo membiarkan mereka berlalu.
Tepat pukul 03.45 waktu Jakarta, Paras dan Leo kembali membaik, walau belum sepenuhnya bisa bersahabat seperti semula. Semua demi anak anak dan menyelamatkan kehamilan Paras.
Semoga Paras kembali bahagia,π€§
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...β€οΈβ€οΈ
__ADS_1