
Matahari sedikit enggan menunjukkan sinarnya. Gerimis menemani kisah kedua insan yang masih terlelap saling berpelukan dengan cahaya kamar masih sedikit gelap. Albert Einstein biasa bangun lebih awal, hanya menatap tubuh wanitanya dengan tatapan penuh cinta. Perlahan tangan kekar itu meraih handphone dinakas memastikan sudah berapa jam Pria Jerman itu terlelap, tanpa melepaskan tangannya yang mulai kesemutan karena menjadi bantal oleh Yani.
Pukul 06.30 waktu Jakarta, berati mereka baru terlelap tiga jam setelah melakukan ritual belah duren bersama orang yang dicintai.
"Kenapa aku jatuh cinta pada gadis ini? benar benar cinta," kecup Albert pada kening Yani.
Albert masih menatap Yani, menyematkan anak rambut yang menutup wajah mulus itu di daun telinganya.
"Eeeegh," erang Yani merasakan sesuatu yang aneh membelai lembut wajahnya.
Albert tersenyum, "kamu sudah bangun hmmm?"
Yani tersipu malu, wajah kekanak kanakannya memerah menutup dicerug leher Albert.
Albert kembali mendekapnya, "kamu mau sarapan dimana? kamar atau restoran? tanyanya.
"Hmmmm kamar aja deh, aku lagi menikmati keindahan dunia baru kita. Sangat berkesan dan romantis," ucap Yani jujur.
Albert menutup matanya, "kenapa kamu nggak bilang belum melunasi apartemen Leo? kenapa aku mesti tahu dari Fredy, hingga dia menuduh aku telah menjebakmu?"
Sheeeer,
"Bisa jangan bahas tentang pelunasan apartemen ku? aku sedang mengajukan pinjaman di bank swasta dan akan mencicil dengan potong gaji," jujur Yani.
"Hmmmmm aku sudah mentransfer ke rekening Paras dan kamu bisa tenang tinggal disana. Hari Senin kita akan meresmikan pernikahan kita. Paras hari ini kembali ke kediamannya dan Mami Maride akan menemui aku pukul 11.00 di kediaman Leo. Kamu mau ikut aku?" tanya Albert memberi laporan kegiatannya pada Yani secara gamblang.
"Ehmmm aku segan mau jumpa sama Tuan dan Ibu," peluk Yani pada tubuh kekar Albert.
Albert merasa geli karena kekanakan Yani, "kenapa mesti segan? mereka owner, kamu bisa ketemu Paras, tadi malam Mami Maride kirim pesan singkat, saat aku mengirim bukti transfer pada Paras dan Leo, jadi aku fikir kita harus meluruskan masalah aku dan Leo. Sebenarnya nggak ada masalah, tapi harus dihadapi," ceritanya jujur.
"Iya, aku enggak mau jauh dari kamu," ucap Yani membuat Albert tertawa.
"Kok ketawa?" rungut Yani.
Albert geleng-geleng kepala, "kok enggak mau jauh? berarti besok ikut aku ke Bogor dong? nggak kerja, nggak bisa bayar listrik sama belanja bulanan," goda Albert.
Yani merengek manja seperti gadis kecil yang meminta mainan dengan ayahnya.
"Aaaaa nakal iiigh,"
Yani membalikkan tubuhnya, ternyata...
"Aaaaagh," teriak Yani merasa nggak nyaman dibagian intinya.
"Kenapa sayang? ada yang sakit?" tanya Albert mendekap tubuh mungil Yani.
"Ssssshz perih," rengeknya.
Albert mengerti, "kamu membuat aku jadi mau, kita ulang lagi atau mandi?" godanya.
__ADS_1
"Aaaa jangan, masih perih," tegas Yani berusaha turun dari ranjang perlahan menutup tubuh mulusnya dengan sehelai selimut tipis.
Albert bergegas mendekati Yani menggendong gadisnya masuk ke kamar mandi untuk mandi bersama.
"Aaaaagh jatuh honey," teriak Yani manja merangkul erat leher Albert.
"Tenang kamu aman. Kamu pegangan aja, kita ulang di kamar mandi yah? sebentar, aku ambil handphone dulu biar tahu posisi apa yang baik buat kita," kekeh Albert.
"Aaaaagh mesum aaagh," teriakan Yani yang manja semakin membuat Albert jadi bergairah.
Mereka menghabiskan waktu ritual bersama diselingi ehem ehem yang membuat keduanya menjadi kecanduan bak orang haus akan kasih sayang.
"Ternyata kita sama sama kesepian selama ini," kekeh Albert di dalam kamar mandi saat menggoda wanitanya yang tampak bahagia dengan sentuhannya.
"Honey, aku nggak kesepian,," terdengar rengekan dari Yani tertawa.
Setelah satu setengah jam menghabiskan waktu dikamar mandi melakukan ritual yang sangat indah, Albert menggendong tubuh mungil Yani membawa ke kamar kembali, mendudukinya di sofa kamar.
"Kamu puas sayang?" tanya Albert senang.
Yani mengangguk malu, "aku bahagia, selalulah seperti ini honey," lagi lagi gadis Manado Sunda itu me lu ma t bibir Albert membuat laras panjang yang tidak biasa terkena hisapan syurga dunia incubator milik Yani kembali mengeras.
"Hmmmmfgh kita belum makan, makan dulu sarapan, baru kita lanjut lagi sayang sayangannya," bisik Albert pada cuping Yani dengan lembut.
Yani menunduk malu, "maafkan aku sayang, walau masih perih aku menginginkannya lagi, bener kata Mba Paras, enak banget, apalagi punya kamu panjang dan besar," kekehnya tanpa malu.
Albert tertawa mendengar celotehan Yani, "ternyata nafsu kamu sangat besar, kita akan selalu begini. Hingga kamu hamil. Aku akan selalu menemanimu, memanjakanmu," kecupnya.
.
.
Berbeda suasana di kediaman Leo. Suasana yang masih menyelimuti kepanikan di Jagakarsa membuat Maride dan Baros turun gunung untuk menghajar putra kesayangan.
Paras yang diperbolehkan pulang pukul 07.00 oleh Fredy, tentu disambut baik oleh orang tua dan mertua Leonal. Saat tubuh Paras terbaring di ranjang kamar, Maride melirik kearah Leo memberi kode agar menyusul ke kamar beliau.
"Paras, kau istirahat dulu yah nak, Mami ada urusan sama Papi dan Leo. Jangan banyak pikiran," usap Maride dikepala Paras.
Paras mengangguk meminta baby sitter untuk menemaninya bersama baby four.
Baby sitter yang sudah ada dikamar menggendong baby four, mendekati Paras untuk memberi kekuatan kepada sang ibu.
"Kalian jaga Ibu kalian, aku mengurus kerjaan dulu," tegas Maride.
"Baik Nyonya," ucap baby sitter hormat.
Maride, Baros keluar dari kamar, disusul langkah Leo yang masih tampak strees mengikuti langkah Maride.
"Mampuuus aku," batin Leo merasa getar getir akan dihajar.
__ADS_1
Benar saja, saat mereka memasuki kamar, saat pintu kamar tertutup rapat, saat itu juga tangan Maride melayang terbang menuju pipi Leonal dengan sangat ganas.
Plaaak,
"Jawab aku! kau apakan Paras didepan keluarganya dan pembantu haaaah? ada aku mengajarimu seperti ini? jika terjadi apa apa pada baby twins, aku yang akan mengirim Paras untuk jauh dari mu. Laki laki pengecut kau! enggak ada otak! apa pernah aku mengajarimu seperti ini Leo! jawab aku!!'' bentak Maride dengan suara lantang.
"Kalau kau mau marah marah, mau melempar, cukup dikamar! kau membuat cucuku ketakutan, kau laki laki anjing Leo! pengecut! kalau kau enggak suka sama pemberian Albert, kau ngomong baik baik! sudah hebat kau rupanya? sudah paten kali kau rasa? Papi enggak pernah seperti ini, dia nggak pernah membentak aku di depan orang. Ingat Leo, jika kau biasa membanting dirumah, seperti itu anakmu nanti! semua di bantingnya, termasuk kepala kau juga di banting!"
Maride menatap tajam pada Leo menunggu jawaban pembelaan diri dari putranya.
"Mi, aku cemburu!" jujur Leo.
Membuat mata Maride membesar bulat melotot kearah Leo.
"Oooogh amaaang, bodoh kali kau! kenapa kau cemburu? sama siapa kau cemburu? sama Albert Einstein yang berkali kali di tolak Paras haaaah? nggak ada saingan kau lagi, sampe sampe kau cemburu pada Albert? Papi, kau ajar anak ini! daripada pecah kepalanya aku buat! enggak malu dia cemburu sama rekanan. Seharusnya kau jilat jilat pantatnya, biar bisa cepat beres pesanan kita agar tidak terlambat dan kenak finalti, ini malah kau hajar muka bule itu. Matilah kita Pi, berapa lagi finalti yang akan kita bayar? 100 unit kau kalikan 50 ribu/ menit. Mau ku potong leher kau Leonal!" geraam Maride.
"Sudah Mi, sini duduk dekat Papi. Leo duduk kau di situ," tegas Baros tidak tega melihat istrinya sudah menggigil karena menahan tangannya.
Leo duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Mami mau minum?" tanya Baros tenang.
Maride mengangguk, masih menatap tajam ke arah Leo.
Baros mengambilkan air mineral memberikan pada Maride agar tenang. Parlahan Baros mengalihkan pandangannya pada Leo.
"Kau kenapa? ini yang membuat aku tidak memberikan izin pada mu menjadi direktur di Langhai. Emosi kau berdampak buruk bagi seluruh karyawan. Kau pikir jiwa muda yang meledak ledak akan terlihat hebat? coba tenang, terbuka, mendengar dan menerima. Masak kau kalah sama Luqman dalam berfikir? kuliah kau di Australia, mengerti sistem, menghadapi Albert pakai emosi dengan alasan dia mengganggu Paras. Dia dari dulu hanya suka sama Paras, Leo. Kami enggak cerita karena aku fikir tidak penting. Mereka bersahabat seperti ucapan Paras. Mami selalu bertanya dan ingin tahu pacar pacar istrimu dulu. Seharusnya kau bahagiakan hatinya karena hamil, ini malah kau sakiti batinnya. Apa pernah dia menjalin hubungan di luar sana? nggak kan? aku lihat kau aja yang enggak bisa mengontrol emosi mu," jelas Baros panjang lebar.
"Sering kali kau meluapkan emosi mu meledak ledak di hadapan orang. Istri itu butuh kelembutan. Apa yang enggak dia lakukan untuk mu? bahkan dia rela mengandung melayani mu siang malam tanpa kenal lelah. Segunungpun kau beri perhiasan, tidak akan mampu menggantikan jasanya. Itulah jasa istri Leo,"
Baros menarik nafas dalam, memijat pelan pelipisnya.
"Jam berapa Albert datang Mi?" tanya Baros.
"Jam 11.00, Mami minta siapkan makan siang untuk mereka. Fredy juga mau kesini sebentar lagi, untuk memeriksa Paras," jelas Maride.
"Ya sudah, keluarlah. Suruh Maid masakkan kesukaan Paras, dia pasti butuh asupan gizi yang enak," jelas Baros.
"Ya, tolong kau ajar anak setan ini! biar pergi roh roh jahat itu dari tubuhnya. Kayak dia saja yang punya istri! kayak istri dia saja yang di kasih kado. Kalau ku ikutkan gaya bisnis kau Leo, bisa tinggal ko lor aku," racau Maride keluar dari kamarnya.
"Anak bodat, ku jadikan juga dia babi panggang nanti,"
Maride berlalu menuju dapur mencari Maid. Memberikan menu hari ini.
"Mba, tolong kau buatkan udang lada hitam, cumi goreng tepung, ayam belado, sayur capcay, selesai masak, kau antar kekamar Paras. Kau kasih menantuku itu kopi susu kesukaannya, biar segar kepalanya. Sebentar lagi ada tamu," jelas Maride berlalu mencari besannya.
Asaaaiiilah kau Leo... dikuliti Maride kau khaan...🤧
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️