Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Happy anniversary..


__ADS_3

Suasana malam sangat romantis bagi Paras dan Leo, karena tanpa mereka sadari sudah dua tahun bersama dengan polemik kebersamaan yang sedikit membuat kepala penuh dengan amarah. Tidak jarang kemesraan mereka berubah wujud menjadi kisah horor yang sangat menakutkan. Tepat dihari pernikahan Albert dan Yani, saat itu pula tanggal pernikahan mereka.


Leo menghampiri Paras, memberikan satu set perhiasan untuk Parassani Chaniago, yang dia beli saat ingin menggugurkan baby twins. Leo sengaja menyimpan kotak itu didalam lemari, akan memberi dimalam special.


"Ndut," panggil Leo mendekati Paras yang tengah berhias menggunakan make up lebih natural untuk hadir diacara makan malam pernikahan Albert dan Yani di Rich Carlton.


"Ehmm," Paras masih sibuk dengan memoles bibirnya dengan lipstik berwarna node.


Leo memeluk tubuh gendut Paras yang sedikit lebar karena kehamilannya, memberikan kotak dongker itu pada Paras dengan wajah sumringah.


"Apa ini Bowl? jangan bilang kamu mau merayu aku dan kita tidak jadi datang keacara makan malam Albert dan Yani," ucap Paras meyakinkan dirinya.


Leo mengecup bibir yang basah milik Paras, "happy anniversary Ndut, I love you. Jangan pernah pergi atau tinggalkan aku. Please, aku ingin membesarkan anak anak kita bersama-sama. Jangan pernah berfikiran aku akan benar benar membencimu, maafkan aku atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku janji akan menjadi Papa yang baik untuk keenam anak kita sehingga mereka dewasa," kecupnya pada kening Paras dengan sepenuh hati.


Paras memeluk erat tubuh pria yang selama ini dia cintai, "makasih Bowl, jangan pernah ulangi kesalahan yang sama, aku takut kehilanganmu, atau bahkan sampai berpisah darimu," ucapnya sambil terisak.


Leo menangkup wajah gendut yang cantik dan telah memberikannya empat orang anak, bahkan sekarang tengah mengandung baby twins kembali.


"Aku tidak akan pernah berlaku kasar lagi sama kamu, aku janji. Karena Papi dan Mami akan membela kamu habis habisan dibanding aku anaknya," ucap Leo pelan.


"Iiighs, kok malah ngomong gitu," rungut Paras kembali melanjutkan riasannya pada wajah cantik itu.


Leo enggan berbasa basi, dia menyematkan kalung inisial namanya dileher Paras.


Membuat direktur utama Langhai Group itu sedikit mengerenyitkan keningnya, "kok L Bowl? nama aku kan P, kenapa L?" tanyanya membuat Leo semakin gemas.


"Ya kan L inisial nama ku, Leonal, biar orang tahu, kamu milik aku," kekehnya.


Membuat Paras mengerti apa isi kepala suaminya tanpa ingin berdebat. Mereka saling berpelukan, dan mencium mesra.


Tok tok tok,


"Bu, Bu Paras," panggil baby sitter dari balik pintu kamar.


"Ya, masuk saja Mba," tegas Paras.


Cekreeek,

__ADS_1


Baby sitter masuk perlahan, karena merasa segan karena melihat Leo masih memeluk Paras istrinya.


"Baby four tidur semua Bu, sama Bang Willion. Kata Mba Laura mereka nggak ikut. Capek, karena mereka mau ke Surabaya besok subuh," jelas baby sitter.


Paras mengangguk, "ya sudah, Papi sama Mami sudah bereskan? tolong dijaga yah anak anak, mereka sudah sangat aktif. Apalagi Steiner. Jangan biarkan dia gangguin Stevie terus. Kasihan dijambakin mulu," jelas Paras sambil terkekeh.


Baby sitter tertawa, "Steiner lebih aktif daripada Stefan dan Stevie Bu. Kalau Stela justru lebih sibuk sendiri dan kalau didandani nggak pernah menolak bahkan senang dengan bando bando yang menghiasi kepalanya," jelasnya.


"Hmmm, Steiner akan saya jadikan pembalap, dia akan meneruskan harapan Opung Baros dan Opung Pardede," kekeh Leo masih memeluk Paras.


"Iiighs, kamu. Jangan pembalap aaagh, nyawa putraku lebih berharga dari apapun," rungut Paras melepas pelukan Leo yang menyesakkan dadanya.


Leo terkekeh, "emang aku mau jadiin dia nggak berharga jika jadi pembalap. Di Medan sangat terkenal pembalap motor cross sayang, mereka ada yang sekolah balap di Australia. Aku mau Steiner menjadi pembalap," tegasnya.


Paras masih diam enggan menjawab, baginya apapun cita cita putranya nanti, itu adalah yang terbaik dari hati mereka, bukan paksaan dari Leo ataupun para opung mereka.


"Oya, Stela masih alergi Mba?" tanya Paras pada baby sitter saat memakai jam tangan dan aksesoris lainnya.


"Udah enggak Bu," senyum baby sitter.


"Ya sudah, saya jalan yah! kamu jaga mereka, jika ada tamu seperti biasa, jangan biarkan orang asing masuk keperkarangan kita. Kasih tahu sama security. Kalian kalau mau makan silahkan, kayaknya makanan banyak di kulkas," jelas Paras meraih tangan Leo yang sudah ada dihadapannya.


Leo dan Paras sangat serasi, menggunakan pakaian warna senada dan santai tapi elegan. Perut yang membuncit, ditutup menggunakan slayer hitam yang dia beli dari sahabatnya, untuk menutupi kegemukannya.


"Woooowh, cantik sekali menantuku. Nampak kali kau keturunan bule, bukan Padang. Aku fikir dulu kau orang Padang asli, ternyata keturunan Jerman," kekeh Maride saat melihat Paras tampil sangat sederhana tapi elegan.


Leo tersenyum, "istriku, tentulah cantik," ucapnya pada Maride.


"Sekarang istri kau bilang, kalau cemburu benci benci katamu! ku benamkanlah kepala kau masuk paret depan tu nanti," kekeh Maride berlalu menuju depan mendekati parkiran.


"Aku berdua Paras saja Mi, mana tahu nanti malam aku menginap di Rich Carlton, karena kamar beberapa hari lalu belum kami pakai," jujur Leo.


Maride terkejut mendengar ucapan putranya, "omak, enak kali kalian bulan madu, aku nginap jugalah, tapi Papi besok berangkat menuju Kalimantan, dan langsung ke Bali. Aku ikut Papi saja. Ingat kau Leo! aku pergi jangan buat ulah. Ku matikan ditempat kau, jika sampai kejadian ini terulang lagi," ancamannya membuat Leo sedikit shooc.


Bagaimana tidak, terbayang saat wajah bulunya dihajar habis-habisan oleh Baros, tanpa rasa belas kasih.


"Iya, aku sudah baik. Nggak mau macam macam lagi," ucap Leo meyakinkan Maride.

__ADS_1


"Hmmmm, cepatlah. Nanti lama pula mereka menunggu kita," teriak Maride memasuki mobil vellfire miliknya.


Paras mencari keberadaan Berlin dan Luqman, menelfon bekali kali menanyakan posisi mereka saat ini, karena sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu Jakarta.


"Ck, kenapa nggak diangkat Berlin handphonenya," batin Paras mencoba menghubungi sekali lagi.


πŸ“ž"Ya Kak," Berlin.


πŸ“ž"Kamu dimana?" Paras.


πŸ“ž"Sudah di Rich Carlton sejak pulang kantor tadi, Luqman nggak tahan pengen bulan madu," jujurnya tanpa malu.


πŸ“ž"Ighhhs, oke! aku menuju Rich Carlton," jelas Paras sedikit terkejut mendengar kejujuran adik ipar.


Paras memasukkan handphone kedalam tas kecil yang ada didalam genggaman, memasuki mobil tanpa berfikir bahwa Leo kembali muntah muntah.


"Uweeeek uweeeek uweeeek," Leo berdiri di selokan depan pagar.


Paras bergegas keluar dari mobil, kembali mengusap lembut punggung suaminya, "kamu kenapa Bowl?"


Paras berteriak pada security agar memanggil Maid untuk membawa air hangat dan obat anti mual seperti tadi pagi.


Bergegas security melaksanakan tugas sesuai perintah, tidak mesti menunggu lama, memberikan pada Paras segelas air putih dan obat pereda mual.


"Nih Bowl, minum cepet," perintah Paras.


Leo menenggak obat dan air hangat, karena rasa mual itu mampu mengosongkan kembali perut Leonal.


"Bagaimana? sudah bisa jalan?" tanya Paras masih khawatir.


Leo menarik nafas dalam, merasakan sedikit kelegaan, "ternyata nggak enak kalau mual gini yah Ndut? kamu santai bahkan," ucap Leo bergegas menuju mobil.


Paras tersenyum, memberikan gelas pada security, kembali menyusul suaminya.


Sabar yah Bang Leo, semoga segera berakhir,🀧


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️


__ADS_2