Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Memuakkan.


__ADS_3

Leo dan Paras menghabiskan waktu berdua mengelilingi Sumatra Barat.



Destinasi keindahan Ngarai Sianok.



Destinasi Rumah gadang.



Destinasi Lembah Harau.



Destinasi Danau Singkarak.


Semua keindahan alam Sumatra Barat sangat indah dan alami. Penduduk nan ramah, kekeluargaan yang hangat dan taat dengan adat istiadat.


Adat Minangkabau kaya akan falsafah hidup yang mengajarkan kita bagaimana menjalani hidup dengan arif dan bijaksana. Banyak nila-nilai hidup dalam ajaran adat Minangkabau yang mengajarkan kita tentang moral, akhlak yang kini banyak tidak dipedulikan terutama generasi muda. Begitulah hidup seharusnya mempunyai visi dan tau kemana arah dan tujuan. Semua terencana dan direncanakan dengan baik.


Leo menggenggam erat jemari Paras, sangat bahagia. Mereka sangat menikmati liburan yang telah lama tak mereka dapatkan.


"Ndut, kita besok pulang ke Jakarta yah! Kasihan Berlin dan Luqman. Ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani!" Jelas Leo saat menuju kediaman Faisal.


"Hmm!" Paras masih meringkuk dibahu Leo.


Uda Midun sang driver sangat mengerti Tuannya. Baginya 3 hari mendapat tamu seperti ini akan menambah pundi pundinya untuk menghidupi keluarga.


⏳2 jam perjalanan mereka karena kemacetan weekend dari Payakumbuh ke Bukit Tinggi Paras pun terlelap. Leo menatap wajah sang istri yang sangat kelelahan. Perlahan dia mengusap lembut pipi cubi istrinya.


"Tuan Muda, besok kita berangkat jam 08.00 pagi yah! Karena pesawat Tuan terbang jam 13.00." Jelas Uda Midun.


"Ya! Tolong belikan oleh oleh yah Uda! Pilihan Uda saya percaya." Perintah Leo.


"Baik Tuan!" Jawab Uda Midun memarkirkan mobil di teras rumah Faisal.


Perlahan Leo mengusap wajah Paras, "Ndut, kita udah sampai sayang! Kamu mau jalan atau aku gendong?" Goda Leo mengecup lembut bibir Paras.


Perlahan Paras membuka matanya, "kuat nggak kamu gendong aku?" Tantang Paras pada Leo.


"Gendong belakang yah?" Leo mencium pipi Paras.


"Curang!" Kekeh Paras.


"Belakang aja." Pujuk Leo terkekeh malu.


"Oke, nggak usah deh! Ntar aku jatuh, kamu diremas Mami dan Papi!" Kekeh Paras masih menggoda Leo.

__ADS_1


Maride dan Baros keluar dari kediaman Paras.


Baros segera menarik lengan Leo agar menjauh dari Paras, "Kita pulang hari ini ke Jakarta Leo!" Ucap Baros.


"Kenapa Pi?" Tanya Leo penasaran.


"Sintya menyerang Berlin di Kalibata. Mereka ribut besar, Sintya menuntut agar kau bertanggung jawab padanya!" Ucap Baros berbisik.


Paras turun dari mobil dibantu oleh Kirai, "Kenapa Mak?" Tanya Paras penasaran menatap kearah Leo yang sangat serius berbisik dengan Baros.


"Nggak apa apa, kamu masuk dulu yah? Amak alah memasakkan rendang daging untuk kamu bawa ke Jakarta." Pujuk Kirai, Maride ikut menemani Paras.


Paras memahami gelagat kedua orang tua dan suaminya merasakan sesuatu kejanggalan. Dia masuk kekamar, melakukan ritualnya bersih bersih.


Sementara Leo diluar tengah berkecamuk berdebat dengan Baros. Dia bersumpah, jika Sintya hamil bukan dengannya. Leo akan membuktikan bahwa yang dikandung Sintya itu bukan darah dagingnya.


"Papi tahu gimana aku! Aku nggak akan sebodoh itu Pi!" Geram Leo. "Ini sangat memuakkan! Kenapa dia nggak minta nikah sama pria yang menghamilinya! Kenapa mesti aku?" Leo semakin menggeram.


Faisal hanya tersenyum mendengar racauan menantunya. "Sudah, barangkeklah lai! Jangan berdebat juga! Apak tau mereka tidak ingin melihat kalian bahagia Leo! Bersiaplah, bawa Paras bersama." Jelas Faisal.


"Ck, kenapa nggak bisa melihat orang senang seeh! Jika aku bisa menemukan Silutak itu, akan aku pecahkan kepalanya! Aku akan mengurusnya di Singapura. Percayalah! Akan aku selesaikan! Keluarga apa dia itu! Jahat!" Geram Leo berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.


Leo masuk kekamar, mendapati Paras tengah memasang piyamanya. Leo membantu Paras saat tali piyama tidak bisa dia lilitkan ke pinggangnya.


"Bowl, kamu ngagetin aja!" Kejut Paras.


"Ndut, kita pulang hari ini ke Jakarta." Jelas Leo.


"Berlin di serang Sintya di Kalibata!" Rungutnya.


Paras terduduk lemas di kursi kamar, menarik nafas dalam. "Apa dia meminta tanggung jawab?" Tanya Paras menatap iris mata Leo.


"Ya!" Jawab Leo menunduk.


"Ooogh God!" Usap Paras pada wajahnya. Perasaannya hancur seketika. "Kapan aku akan tenang dan bahagia dari keluarga mereka?" Isaknya.


"Sssst, aku yakin sayang! Itu bukan anak ku! Jangan kamu percaya itu!" Leo bersimpuh menggenggam jemari Paras.


"Tapi mereka akan melakukam semua Bowl! Demi menghancurkan kita!" Tangis Paras pecah. "Aku nggak mau pulang! Aku mau disini aja!" Paras kembali terisak.


"Aku nggak mau jauh Ndut! Aku nggak kuat jauh dari kamu! Aku bersumpah itu bukan anak ku! Aku memang melakukannya, tapi aku tidak mengeluarkan benihku dirahim, melainkan diperutnya." Jujur Leo.


"Tetap sama aja Leo." Geram Paras.


"Ya nggak lah! Toh aku pernah ngelakuin sama Alic!" Ucapan Leo terhenti.


"Alic? Siapa? Siapa Leonal? Kamu ternyata penjahat kelamin yah! Jijik aku!" Geram Paras melepas genggaman Leo. "Ternyata aku benar benar bodoh percaya sama kamu yang ternyata duda gatel, jelek, memuakkan, menyebalkan!" Racau Paras merasa cemburu.


"Ii iya itu masa lalu Paras! Waktu kuliah, aku juga hanya hubungan tanpa status. Nggak ada tuntutan! Udah deh jangan ngambek Ndut! Please! Nanti sampai Jakarta kita buat lebih hot! Yang penting kamu jangan marah. Saat ini kamu satu satunya dihati aku! Biarpun mereka bilang kamu gendut, jelek, bagi aku kamu paling best yang setia sama aku! Mereka itu hanya sampah Paras! Trust me." Peluk Leo pada perut istrinya itu.

__ADS_1


"Sana mandi! Katanya mau pulang! Nanti kemalaman." Tegas Paras.


"Mandinya di Jakarta aja! Kamu mandiin aku!" Kecup Leo pada kening Paras.


Jujur Paras hanya merasa geram, karena kecerobohan Leo. Dia nggak peduli dengan masa lalu Leo. Bagi Paras saat ini Leo sangat memperjuangkan dia dan anak dalam kandungannya.


"Bedebah dengan masa lalu!" Batin Paras.


Paras keluar dari kamar, memberikan amplop berisi uang pada Kirai dan Faisal yang sudah dia persiapkan jauh jauh hari. Leo yang mengetahui itu, langsung mendekati mereka memberi lebih pada Kirai dan Faisal dihadapan Paras membuat istrinya semakin kagum pada suami berbulu itu.


"Banyak bana ko Leo! Untuak apo samo Amak?" Tolak Kirai dengan berlinang air mata.


"Buat baralek Mak! Kumpulin dulu!" Kekeh Leo menggoda pipi istrinya.


"Kamu terlalu berlebihan Bowl!" Ucap Paras.


"Setidaknya aku memberi pada Amak, bukan sama perempuan lain!" Sanggah Leo.


Maride dan Baros semakin bangga pada putranya.


"Ternyata putraku seperti kamu yah Pih," Bisik Maride.


"Hmm, anak ku! Benih cinta kita!" Ledek Baros.


"Iiighs! Ingat aku kau kayak Leo, ituuuuuuuu aja kerja kau! Sampai muntah tembem ku!" Tawa Maride di dada Baros.


Baros mengusap lembut bahu istrinya, "kalau ingat itu, aku jadi mau Mih!" Goda Baros.


"Iiighs! Nggak mungkin kita pakai kamar Pak Faisal, yang mirip Ariel No Ah ku lihat!" Kekeh Maride.


"Ibu Kirai, lebih mirip Sophia juba juba Papi lihat Mi!" Tawa keduanya pecah membuat besan dan anak menantunya menatap penasaran.


Mereka berpamitan, semoga ada waktu dan umur panjang dapat bertemu kembali. Sayonara.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Bersambung...


Reders yang baik, Author kembali promo yah karya terbaru yang masih new... semoga suka.


Nature's other Relationship. ❀️


Horor, action and romans...❀️πŸ”₯πŸ€—



Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!

__ADS_1


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯


__ADS_2