Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Empat


__ADS_3

Hari berganti hari, sudah lebih 2 bulan Paras dan Leo menghadapi pihak berwajib. Hingga akhirnya proses mereka berlanjut ke Pengadilan. Paras menuntut Silutak atas pencemaran nama baik.


Bang Simon mampu menyelesaikan semua walau Paras dan Leo harus terus hadir dan belum bisa meninggalkan Jakarta. Saat Paras duduk di sebuah kantin untuk membeli sebotol air mineral, Paras di kejutkan dengan sahabat lamanya Lusiana.


"Parassani?" Sapa Lusiana.


Paras menoleh, menatap wajah sahabat masa sekolahnya dulu. "Lusi? Bilo kau sampai?" Peluk Paras pada sahabatnya. "Manga kau disiko?" Tambah Paras lagi.


"Hmmm, lupo kau, ambo kan pengacara! Ado sidang. Kau manga disiko?" Tanya Lusi.


"Ck, biasalah! Kasus receh!" Kekeh Paras.


"Ya Allah, kau kan yang kanai kasus perselingkuhan itu kan?" Tanya Lusi sengaja membesarkan volume suaranya.


Leo yang sejak tadi mengikuti sang istri merangkul Paras dari belakang. "Sayang, udah siap? Yuuuk, Bang Simon udah nungguin kita." Jelas Leo.


Paras mengangguk, "Ambo permisi yo Lusi. Ndak perlu gadang bana suaro kau," Sindir Paras meninggalkan sahabat lamanya yang sengaja menjatuhkan nama baiknya.


Paras menjalani persidangan, tentu ditemani Leo, Simon sebagai pengacara Paras. Maride dan Baros sengaja menghadiri persidangan menantunya untuk dapat berjumpa dengan Silutak yang turut hadir siang itu.


Benar saja, mata Silutak tidak pernah luput dari Paras. Begitu tajam dan penuh cinta dia menatap istri Leonal yang bertubuh gembul itu. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Silutak di hadapan Majelis Hakim. Sangat menyayat hati, Silutak justru membuka semua cerita kisahnya bersama sang secretaris hingga menduakannya dengan Luna kakak kandung Paras.


Jujur Paras menunduk malu atas kejujuran Silutak yang menyatakan dia mencintai Paras hingga saat ini. Pelan Paras meremas jemari Leo, enggan melepasnya. Leo tersenyum, membelai lembut bahu Paras.


"Aku mau pulang! Aku malu!" Bisik Paras di telinga Leo.


"Iya, selesai ini kita pulang." Senyum Leo menenangkan Paras.


Maride telah melakukan semua dengan baik agar menjebloskan Silutak ke jeruji besi karena telah membuat malu keluarganya dengan menjatuhkan karakter sang menantu. Baros yang duduk di samping Maride hanya menatap benci ke arah Silutak menunggu keputusan hakim.


Setelah mendengar pembelaan Silutak dari Pengacara handalnya dalam bersilat lidah, akhirnya Majelis hakim mengetuk palu di meja hijau itu.


Plok plok plok,


"Pembacaan keputusan kita tunda hingga besok. Sidang di tutup!" Ucap Hakim Ketua tegas.


Paras tersenyum menatap Leo, "kita pulang kangen kangenan yah? Udah seminggu kamu nggak ada nyentuh aku! Kangen tau!" Bisik Paras manja.


Leo tersenyum, "iya, kita telanjang berdua yah! Nggak usah keluar kamar. Oya, kamu bulan ini udah period Ndut?" Tanya Leo menggenggam jemari istrinya mendekati Maride menuju parkiran bersama.


"Belum, semoga saja hamil lagi!" Jawab Paras meringkuk dilengan suaminya.


Leo tersenyum, "semoga saja! karena direktur besok kan ultah." Jelasnya memasuki mobil Maride.

__ADS_1


Paras tersipu malu, "Bowl, kamu inget ultah aku?" Tanya Paras penuh bahagia.


"Ingatlah, aku udah lihat KTP kamu kok! Ni ada sama aku!" Kekehnya mengusap lembut kepala sang istri. "Kamu tuh bisa aja nyenengin aku!" Senyumnya semakin tersipu malu.


Maride hanya melirik Baros mendengar anak menantunya saling menggoda. "Kita pulang aja langsung yah? Kayaknya mereka mau ehem ehem!" Kekeh Maride berbisik ditelinga Baros.


"Hmmm," Jawab Baros.


20 menit menembus kemacetan, akhirnya tiba dikediaman anak menantu Maride. Sopir menurunkan Leo dan Paras di carport depan rumah. Tentu Paras mengajak Ibu mertuanya untuk mampir, "Mi...." Belum Paras melanjutkan, Maride sudah mengatakan,


"Lanjutkan kebahagian kalian! Mami pulang yah? Buat anak yang banyak! Biar nggak kesepian Mami!" Kekeh Maride melirik Baros dan Leo.


Paras tersenyum mendengar ocehan Maride,


"Doakan saja Mi, karena udah telat juga!" Timpa Leo tenang.


Maride dan Baros saling melongo, "Serius kau nak? Ooooh amang, hayuk kita ke dokter tampan lagi! Si dokter Preeed!" Bahagia Maride turun dari mobilnya memapah Paras kembali masuk ke mobilnya.


Paras dan Leo saling tatap, "bowl," Paras sudah berada didalam mobil kembali.


Tentu Leo kembali memasuki mobil sang Mami menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan sang istri.


Maride menghubungi Berlin, agar segera menyusul mereka ke rumah sakit.


"Eeegh, Mamak mau Berlin dekat dengan dokter ganteng itu, sambil nyelam minum airlah! Biar dapat menantu dokter ahli beranak Mamak," Kekeh Maride mengusap kepala Leo.


Leo mengelus pipi tembem sang istri yang sangat mulus, sesekali menciumnya agar Paras terus merasa geli.


"Iiighs, ada Mami lho Bowl!" Rungut Paras.


Leo semakin mencium cerug leher istrinya tanpa malu. "Kangen," Rengek Leo seperti anak kecil meminta sesuatu pada ibunya.


Paras hanya mendengus kesal, jujur dia sangat merindukan Leo saat ini. Mereka sangat lelah memikirkan permasalahan skandal perselingkuhan hingga kebutuhan untuk melakukan itu berkurang. Saat ini mereka bisa bernafas lega, setelah mendengar Silutak akan di penjara dari Bang Simon, tapi belum tau untuk berapa lama masa tahanan.


Mereka tiba di rumah sakit, seperti biasa Paras duduk di samping Leo dengan wajah bucinnya.


5 menit mereka duduk saling bercanda manja, suster memanggil nama Paras Leonal. Bergegas Maride dan Baros berdiri menghampiri suster.


"Ibu, Bu Paras?" Tanya suster pada Maride.


"Hmm, bukan! Aku mau jumpa calon menantu!" Kekeh Maride menerobos masuk ruangan Dokter Fredy.


Leo dan Paras hanya tersenyum, melihat kelakuan Maride. Saat tiba di dalam, bener saja. Maride sangat aktif menggoda sang dokter membuat seisi ruangan tertawa.

__ADS_1


" Sebentar yah Bu, saya periksa menantu Ibu dulu! Katanya mau cucu!" Goda sang dokter pada Maride.


"Hmm, jadi kapan kau lamar Berlin nak Preeed?" Tanya Maride spontan.


Fredy tersedak, "uuuhug uhhhuuug! Ibu bisa aja. Sus, ambilkan minuman saya!" Perintah Fredy pada asistennya.


Jujur Fredy dan Berlin hanya jalan beberapa kali, tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh. Masih pendekatan agar lebih mengenal terlebih dahulu.


"Silahkan Bu Paras," Suster membantu Paras untuk membuka baju bagian perutnya, memberi gel dan meletakkan tisyu di bawah perut mulus Paras.


Dokter Fredy melakukan USG, memperlihatkan kondisi dalam rahim Paras. Eng ing eng....


"Ini yah Pak Leo, ibu hamil lagi. Sudah kelihatan, sepertinya ada 4 ni Pak Leo, babynya." Jelas Fredy masih memeriksa agar tidak salah. Membuat Maride dan Baros ternganga mendengarkan berita ini.


"Apaaaa??? EMPAT? Kau pikir menantuku kucing Preeed?" Maride mendekati Fredy melihat layar USG lebih dekat, begitu juga Baros. Merasa tak percaya dengan hasil USG tersebut.


Leo dan Paras saling tatap, "Empat??" Tanya mereka serempak.


"Iya Bang! Eegh, Pak! Mba Paras hamil kembar empat. Ini ni, ada 4 tempat. Semoga semua baik baik saja! Saya harap Mba Paras mulai menjaga makannya dan jangan berhubungan dulu yah! Kita jaga! Sebab ini sangat jarang sekali!" Senyum Fredy menatap Paras dan Leo yang masih tidak percaya akan memiliki anak kembar empat.


"Aaaaaaaagh," Teriak Maride senang. "Kita akan tinggal sama anak anak Pi! Mami awasi Paras, nanti di panjatin lagi sama Leonal ini!" Tepuk Maride pada bahu anaknya.


"Empat? Empat anak Pi," Tangis Leo memeluk Baros penuh haru.


"Kita telfon Keluarga Apak dan Amak, suruh mereka ke sini! Buat jaga Paras yah?" Tegas Maride pada Paras.


Paras mengangguk setuju. "Apa yang mesti saya jaga Dok?" Tanya Paras.


"Jangan capek capek, ingat di dalam rahim ibu ada empat baby! Akan banyak butuh asupan, dan jaga kesehatan, pikiran dan kebersihan. Jangan makan yang mentah lagi! Kalau ada apa apa hubungi saya segera. Untuk kasus seperti ini saya siap di panggil 24 jam!" Jelas Fredy meyakinkan Paras dan Leo.


Paras mengangguk mengerti. Kembali memeluk Leo, "empat Bowl! Kamu tokcer banget seeh hamilin aku!" Kekeh Paras memeluk erat tubuh Leo.


"Aku juga nggak nyangka sayang! Kita banyak masalah! Tapi Tuhan kasih kita berkah berlimpah seperti doa kamu selama ini!" Leo menangkup pipi cubi itu berkali kali mengucapkan termasih pada sang istri terbaiknya.


"Empaaaaat!" Teriak Leo sangat bahagia....


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯

__ADS_1


__ADS_2