Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Mengurut dada...


__ADS_3

Leo sangat aktif memberikan kenikmatan luar biasa pada Paras membuat tubuh yang berlemak padat itu menggila bahkan hingga mengigit bahu suami tercinta.


"Oooough Ndut," erang Leo saat menghentakkan si unyun saat mencapai finish.


Paras tersenyum bahagia dengan mata masih tertutup menikmati si unyun yang semakin besar di dalam incubator miliknya.


Leo mengecup punggung telanjang Paras, mengikat tinggi rambut wanita kesayangannya, sesekali memberi ciuman di puncak krakatau yang sudah menghentikan pemberian ASI pada baby four karena perjalanan mereka ke Jerman kemarin.


"Baby four udah ngalah sama aku Ndut? kok ASI kamu udah berhenti?" tanya Leo bingung.


"Aku juga nggak tau Bowl, karena tiba tiba berhenti nggak ada sakit, biasa aja," jelas Paras mere mas sendiri krakatau miliknya membuat Leo kembali me lu matnya.


"Hmmmmz... udah deh Bowl," rengek Paras.


"Kok tumben?" senyum Leo.


"Biasa sampe pagi juga mau," kecup Leo pada cerug leher menjadi candunya.


"Besok meeting harus fresh," jelas Paras.


"Sekali lagi, one more, one's again, one night," kecup Leo.


"Hmmmm,"


Paras tidak menolak, baginya Leo adalah hidup barunya, kebahagiaannya, ayah dari keempat anaknya, hingga seorang direktur Langhai Group tak kuasa menolak ajakan sang suami yang selalu ketagihan bermain tak pernah kenal lelah.


Setelah menyemburkan untuk yang terakhir kalinya benih calon baby baru di rahim Paras dengan penuh cinta, akhirnya Leo rubuh di bahu sintal itu dengan nafas menderu kemudian memeluk tubuh di sebelahnya membawa hingga masuk ke dunia mimpi yang sama.


Paras melingkarkan tangan di perut Leonal dengan perasaan nyaman dan damai hingga dia kembali tenang berada di dekapan suami terbaiknya.


🌤️Pagi yang cerah menyinari kota metropolitan, cahayanya tak lagi enggan menyinari kediaman Leo dan Paras. Mereka yang sudah sejak tadi rapi dan wangi untuk melakukan aktivitas seperti biasa.


Paras menyempatkan waktu untuk mempersiapkan makanan kecil yang akan dia bawa menuju kantor.


"Morning kiss," kecup Leo pada tengkuk belakang Paras, saat menemukan istrinya masih sibuk di dapur menyusun sandwich di box lunch mereka.


"Hmmmm,"


Paras membalikkan tubuhnya menyambut tubuh Leo tanpa rasa sungkan di hadapan orang tua dan mertuanya yang tengah tersenyum sumringah menyaksikan kemesraan anak menantu mereka.


"Kopi aku jangan lupa,"


Leo lagi lagi mengecup bibir basah Paras membuat kedua bola mata Paras membulat.


"Eeeeh sarapan lah dulu biar kenyang, jangan cium cium aja kalian. Emang cium itu buat kenyang gitu Leonal?" ejek Maride kegerahan melihat kemesraan putranya.


"Nggak kenyang Mami, tapi bahagia," senyum Leo mencium kepala Maride dan mengecup punggung tangan Kirai.


Paras geleng geleng kepala, memberi catatan pada Maid untuk menu hari itu dan buatan juice apel untuk stok di kulkasnya.


"Oya Mba, nanti tunjangannya aku transfer yah, sekalian titip beliin sembako untuk keluarga dan baby sitter juga," jelas Paras.

__ADS_1


"Iiiighs nggak usah ada tunjangan Bu, yang kemaren masih ada. Saya jadi nggak enak," jelas Maid sungkan.


"Mba tenang saja, kebutuhan rumah insyaallah saya cukupi, yang penting Mba di sini dulu. Nanti kalau saya agak santai baru pulang yah," jelas Paras sedikit memohon.


"Iya Bu, saya cuma mau ziarah sebentar. Lagian deket di kelapa dua. Sekalian ngasih uang juga sama Ibu saya," cerita Maid.


"Tunggu rapat besar beres, Mba boleh pulang di antar sopir. Oke," tegas Paras.


"Iya Bu,"


Maid tersenyum senang melihat majikannya sangat baik. Status janda yang tidak di ketahui oleh Baros dan Maride tidak menyulutkan semangatnya untuk terus mengabdi pada Leo dan Paras.


Setelah bermain bersama baby four beberapa menit, tentu dengan canda tawa yang sangat menggemaskan bahkan menggelitik hati Paras dan Leo, mereka terpaksa berpisah untuk beberapa jam. Paras menitipkan keempat buah hatinya pada baby sitter dalam pengawasan Faisal dan Kirai. Tentu pengawasan Leo yang telah memasanga cctv di setiap ruangan.


Paras dan Leo berlalu menuju kantor mereka. Aktifitas pagi terlihat jelas saat mobil sport milik Leonal terparkir indah di loby perkantoran milik Langhai Group.


Gedung berlantai 32 itu menjadi kantor pusat Langhai Group selama 15 tahun. Jerih payah Baros dan Maride membuahkan hasil, tentu tidak melupakan jasa Opung Pardede. Perkarangan luas untuk parkiran bus pariwisata dari tahun jahiliah hingga tahun transformers ada di sana.


Dila melihat kehadiran Paras dan Leo langsung mengejar kedua pasutri itu.


"Bang, Bang Leo, wait," kejar Dila semakin mendekat pada mereka.


Leo membalikkan tubuh menatap Dila menelan ludah.


Kenapa tidak, pagi pagi sudah di suguhkan susu yang hampir keluar dari sarangnya membuat Paras mencubit perut suaminya.


"Hmmmm,"


"Kamu bawa blazer," tanya Paras sedikit menatap kejam ke arah Leo.


"Bawa Bu, ada di kursi," jelasnya menunduk membuat dada itu semakin keluar main melambai minta di re ma s.


"Ambil blazernya, tutupin dada kamu. Masih pagi, jangan memancing security depan sama tamu yang lain. Saya nggak mau ada pelecehan di kantor ini," tegas Paras berbisik.


"Uuuups, sory Bu. Saya kehabisan baju, makanya saya pakai baju kecil ini," jujur Dila.


"Emang baju kamu pada kemana? kamu sumbangin ampe lupa nyisihin buat diri sendiri?" geram Paras.


"Bukan Bu, baju saya di londry belum di ambil. Tadi pagi saya kesana, belum buka. Maaf Bu, untuk hari ini," tunduknya lagi, kembali pay ud a ra kencang itu melambai ke arah Leo membuat suami Parassani benar benar mengurut dada.


Paras tersenyum tipis melirik wajah suaminya yang sangat penasaran akan b u ah d a da Dila.


"Bisa di atur matanya Bowl, sebelum aku memporak porandakan Langhai Group ini dari atas hingga bawah," sinis Paras menggeram.


Leonal tersadar, mengelus dada menatap ke arah Paras dengan wajah mupheeeng.


"Ndut, eneeen," rengek Leo tanpa malu melendot ke lengan Paras.


"Iiiighs jangan gila, gue cabutin bulu wajah Lo ni," geram Paras masih cemburu.


"Kok kasar seeh?" peluk Leo mengecup kepala Paras.

__ADS_1


"Kesellah, matanya nggak ngedip ngeliat s u su anak gadis," kesal Paras menepuk dada Leo.


"Ya ampun Ndut, aku normal kali. Siapa yang nggak mupeng ngelihat yang begitu pagi pagi. Dila lagian pakai bajunya kekecilan banget sampe tumpah tumpah eneeennya minta di belaaai," jujur Leo spontan.


Paras hanya geleng-geleng kepala mencubit kecil perut suaminya yang sangat genit hari ini. Entahlah, Leo lebih jujur bahkan nggak bisa ngerem bibirnya dengan apa yang dia lihat. Dari mengagumi bahkan sampai menasehati. Faktor usia yang masih muda juga tidak bisa di pungkiri.


"Awas saja, bisa tinggal sem pak kamu aku buat," ancam Paras.


"Ngeri banget Ndut," rungut Leo.


"Ya, iyalah. Baby four aku ambil, kamu harus ngasih aku 1,5 milyar sebulan. Mampu?" tantang Paras.


"Hmmmmm, kurang mampu seeh," kekeh Leo semakin mendekap tubuh padat yang menggemaskan.


Mereka tiba di lantai 28, Yani sedang sibuk mengatur jadwal meeting bersama team yang lain.


"Kita meeting di lantai 10 Mba," jelas Yani.


"Hmmmm persiapkan semua, jangan sampai ada yang tertinggal. Semua divisi harus hadir," tegas Paras.


"Baik Mba," tunduk Yani.


"Di dalam ada secretaris baru namanya Ina, katanya di suruh Ibu Maride buat jumpa Mba," jelas Yani.


"Hmmmm ya, makasih,"


Paras berlalu menuju ruangannya menemui wanita bernama Ina. Betapa terkejutnya dia karena Ina adalah pelayan spa yang biasa memanjakan tubuh Paras dan Leo.


"Kamu kenapa disini?" tanya Paras.


"Bu Maride yang minta buat nemuin Mba Paras," jelas Ina.


"Oooough ya, duduklah. Kita lanjut selesai meeting yah. Silahkan ke ruang meeting besar bersama karyawan yang lain di lantai 10, setelah itu kita bicara," jelas Paras pada Ina.


Ina berlalu menuju tempat yang di sampaikan oleh Paras mengikuti langkah karyawan lainnya.


Berbeda dengan Leo, malah menerobos masuk ruangan memohon agar Paras membantunya mengeluarkan lumpur Lapindo dari si unyun.


"Apaan seeh Bowl, kita mau meeting," tolak Paras kaget mendengar rengekan Leo.


"Sebentar aja Ndut, pengen banget. Gara gara eneeen Dila, tersiksa banget aku,"


Leo benar benar merengek seperti anak kecil. Paras yang tak tega melihat jam dinding.


"Masih ada 20 menit, aku cuma bantuin kamu, malas mandi," tegas Paras.


Leo mengangguk patuh berharap agar cepat memasukkan si unyun ke bibir se ksi Paras.


Terjadilaaaaaaah.....


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2