
Leo dan Paras tiba di Jagakarsa, tentu disambut oleh orang tua dan mertua. Betapa bahagianya Maride dan Baros mendengar kehamilan kedua Paras ternyata kembar lagi. Entah apa yang ada di kepala Baros dan Maride, jika mampu mereka membangun sebuah istana besar mungkin itulah yang akan di berikan kepada sang menantu.
"Terimakasih yah Paras, dua lagi anak mu di dalam perut! bahagianya aku. Tanya Papi, sampe jungkir balik guling guling aku di kasur dengar kau hamil lagi," racau Maride memeluk Paras.
"Iya Mi, doain Paras sehat dan kuat," senyumnya menatap Leo penuh cinta.
"Jangan kau panjat dulu si Paras, baru hamil dia ini," tegas Maride.
"Iya Mi," jawab Leo berlalu mencari mertuanya Faisal dan Kirai.
Faisal memeluk Leo penuh rasa bahagia, begitu besar rasa sayangnya kepada menantu muda, sabar dan penuh tanggung jawab pada putrinya.
"Selamat yah," ucap Faisal mendekap tubuh tegap Leonal.
"Makasih Pak,"
Leo melepas pelukannya, mengecup punggung tangan Kirai penuh rasa bahagia.
"Selamat yah, jangan banyak pikiran lagi. Fokus pada anak anak kalian yang butuh perhatian Papa dan Mama," titah Kirai.
"Iya Mak,"
Leo mengambil baby Stefan dari tangan Kirai, mengecup kening itu penuh kasih sayang. Baby Steiner, Stela dan Stevie masih berbicara menggunakan bahasa mereka di dalam box baby.
Baby sitter menghampiri Paras perihal susu Stela yang sudah mereka beli sesuai anjuran dokter anak.
"Bu, Baby Stela masih ruam, udah saya kasih salap, masih samar Bu," jelas baby sitter yang menangani putri Paras.
"Hmmmmm,"
Paras mengambil Stela melihat ruam merah yang ada di leher dan pipi putrinya.
"Bowl, ini alergi bukan yah?" tanya Paras pada Leo.
"Kayaknya alergi Bu, karena asal Stela makan yang berlemak tinggi dia pasti begitu," jelas baby sitter.
"Ya udah, nanti belikan saja antiseptik cair untuk alergi baby,"
Paras masuk berlalu menuju kamar membawa baby four bersamanya dibantu oleh baby sitter mereka.
"Saya mau main sama mereka dulu, nanti malam saya akan tidur bersama," jelas Paras.
"Berarti susu baby four dibawa kesini Bu?" tanya baby sitter.
"Malam saja! mereka bangun sudah jarang," jelas Paras.
"Bantu saja Maid untuk mempersiapkan makan malam, mungkin Berlin dan Laura akan kesini,"
Paras beranjak ke kamar mandi setelah melihat baby four masih anteng didalam box mereka.
Leo menyusul Paras melihat baby four sangat aktif saling memukul bahkan menarik rambut dan menangis bersama. Entah apa yang di rasakan Leo saat melihat baby four penuh dengan keceriaan.
"Bowl, aku pikir kamu masih di luar," tanya Paras saat keluar dari kamar mandi menggunakan kemeja berbahan satin berwarna merah.
__ADS_1
Krakatau yang menyembul membuat kepala Leo berputar putar menginginkan hal yang lain. Pria itu mendekati istrinya, mengecup bibir itu dengan lembut, cup cup cup.
"Hmmmm udah deh, kamu cium cium aku, kepala ku jadi nggak enak," rengeknya.
"Eehmm kangen Ndut, kemaren baik baik aja! bahkan sampe pagi kita ma ki ng love," goda Leo.
Paras mengalungkan tangannya ke leher Leo, "mandi gih, biar wangi! I love you Bowl," kecupnya pada pipi sang suami.
"Iya, nanti malam sebentar yah? atau kita bobo enggak pake baju, aku kangen pengen usap aja,"
Leo meremas krakatau berlalu masuk kekamar mandi.
"Iiigh genit," geram Paras mencubit bo ko ng suaminya. Dia mengusap lembut perutnya, "sehat yah nak, semoga kamu kuat seperti keempat Abang dan uni kamu," batinnya.
Setelah menggunakan lipstik tipis, membiarkan rambut panjangnya tergerai, Paras memanggil baby sitter untuk memandikan mereka, tentu dia ikut membantu.
"Bu, biar kami saja," tolak baby sitter saat Paras membuka baju Baby Steiner.
"Enggak apa apa Mba, saya mau membiasakan mengurus mereka," senyum Paras.
Baby sitter hanya tersenyum tipis, menatap keanehan pada majikan. Mereka memandikan baby four bersama dengan penuh canda tawa, bermain sabun, perlahan baby sitter mengambil baby satu persatu.
"Stela biar sama saya," jelas Paras mengambil handuk, mengusap lembut wajah cantik lebih mirip Leo, memasang baju tidur senada, khusus Stela pasti berwarna pink, untuk cowok biru dan hijau.
"Besok opung ke Kalimantan dulu, jadi kalian sama Mama dan Nenek Kirai, Bule Jerman yang mirip kamu," goda Paras pada puncak hidung Stela yang sedang menikmati sentuhan jemari lentik Paras.
"Nduut," panggil Leo saat mendongakkan kepalanya ke kamar baby four.
Paras menoleh, "hmmmm apaan," tanyanya.
"Ooogh ya sudah,"
Paras menitipkan keempat anaknya pada baby sitter, "jangan biarkan tidur dulu yah Mba, aku masih kangen."
Paras berlalu menuju ruang tamu, bertemu notaris keluarga yang sudah disuguhi kopi dan makanan kecil.
"Eeeh Kak, selamat ya! aku dengar nambah lagi nih, semakin kaya Ibu Maride, banyak cucunya," salam notaris bernama Frans.
"Terimakasih, mumpung sehat ada rejeki, alhamdulillah disyukuri saja Bang," ucap Paras.
Frans mengangguk mengeluarkan, berkas yang akan di tandatangani Leo dan Paras.
"Kita tunggu Yani dulu yah Bang, dia udah deket," jelas Leo.
Frans mengangguk, menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Maid, mengobrol singkat penuh keakraban.
Tok tok tok,
Yani muncul bersama Fredy di depan pintu yang terbuka lebar.
"Heeeii masuk," ajak Leo pada Fredy Dan Yani.
"Ini dia Bang, yang beli apartemen ku,"
__ADS_1
Leo memperkenalkan Yani dan Fredy pada Frans.
"Hmmmm oke, sudah nikah kalian?" tanya Frans.
Njleeeb...
"Belum bang, lagi pedekate!" kekeh Leo.
Frans mengangguk, "kalau sudah sreg jangan lama lama, nanti keburu diambil orang, ya kan Leo," godanya melirik ke arah Yani dan Fredy.
Mereka salah tingkah, bahkan tidak tahu ingin bicara apa. Setahu mereka sangatlah sulit untuk menjelaskan status saat ini.
"Ya sudah kita langsung saja lah yah, soalnya Abang mau jemput anak anak di rumah opung," kekehnya.
"Oya Leo, besok ada acara pesta di restoran istri, datanglah yah! sudah lama kita tidak nyanyi bersama, manortor biar sehat," jelas Frans.
"Rencana malam ini mau ke bar sama Will, Luqman dan Papi, tapi ntah jadi entah enggak, karena mereka masih di tol tadi," jelas Leo.
"Ikut Lo Fred?" tanya Leo menatap ke arah Fredy.
"Hmmmm antar anak gadis dulu bro. Boleh, udah lama juga nggak main ke bar," jujur Fredy.
"Ya udah, nanti kalau Lo ikut hubungin gue aja. Kalau nggak gue kerja rodi ni," kekeh Leo.
Paras menggemas pada suaminya, tentu Leo menyambut tangan istri yang meremas tangan kekarnya.
"Ini kakak ikhlas yah, apartemen kalibata di jual?" tanya Frans.
"Ikhlas Bang, mau dipindahkan ke Bogor," jujur Paras.
"Hmmmm no, tidak di Bogor," bantah Leo dengan cepat di mengerti oleh Yani.
Paras menaikkan kedua alisnya menatap lekat wajah pria tampan yang berdiri dihadapannya.
"Kemaren boleh sekarang enggak boleh," rungut Paras.
"Hmmmm mau deket deket bule somplak itu?" geram Leo menatap wajah cantik istrinya.
Paras justru menatap penuh cinta saling menjawab semua keinginan Leonal melalui mata keduanya. Dengan sigap Leo mengecup bibir sexseh yang sangat dia rindukan.
"Woooowh sangat romantis," tepuk Frans disusul Yani dan Fredy.
"Bos mesum Langhai ini Bang," kekeh Yani.
"Hmmmm semoga kita bisa selamanya melihat kemesraan mereka," doa Frans.
"Amiiin,"
Sambut sahabat turut merasakan kebahagiaan keluarga kecil Leonal atas kehamilan Paras.
Bahagianya...🤗
🌹🌹(Mohon masukan dong buat othor... kita lanjut sampai anak Leo dan Paras tumbuh dewasa atau tamat yah? othor dilema niiih.... mohon asupan gizi terbaik dan masukan positif dunk....🤧)
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️