Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kehilangan mood..


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga bulan Leo dan Paras menjalani semua kembali normal seperti semula. Mereka dapat bernafas lega, mendengar keputusan singkat Keluarga Silutak yang harus mendekam dipenjara, selama lima tahun.


Kennedy mengajukan banding, dengan alasan putrinya Alea tidak mungkin diasuh oleh Keluarga Baros, ataupun Berlin.


Sintya justru beberapa kali jatuh pingsan, saat mendengar tuntutan majelis hakim yang sangat memberatkan dirinya dan Silutak.


"Ken, tolong keluarkan aku dari sini, demi Alea. Aku tidak mau mendekam selama lima tahun, aku mohon Ken," pinta Sintya pada Kennedy saat bertemu diruang khusus sebelum menjalani sidang akhir.


Kennedy tidak bergeming, dia sangat lelah memikirkan perasaan istrinya selama ini, hingga dia harus menyelamatkan diri sendiri demi Alea.


"Maaf Sin, saat ini aku harus berjuang sendiri. Kau tidak pernah mendengar apapun yang aku ucapkan. Sehingga kau terlalu fokus sama Leonal yang sudah tidak menjadi suamimu. Kau terlalu egois tanpa memperdulikan perasaan ku selama ini," tegas Kennedy menolak permintaan istrinya.


"Ken! apakah selama ini aku tidak pernah berkorban untuk kita? kenapa kau terlalu egois! apa salah ku?" teriak Sintya diruangan sempit itu.


Sipir yang mendengar perdebatan Sintya dan Kennedy menahan tubuh wanita blesteran cantik itu untuk menjaga sikapnya.


"Tolong Nyonya, ini kantor pengadilan, saya rasa semua tahu jika anda adalah dalang dari permasalahan ini," tegas seorang sipir wanita.


Sintya menantang tegap dihadapan sipir tak menghiraukan ucapan wanita berbaju biru itu.


"Dia suamiku! dia harus melindungi istrinya, bukan malah menenggelamkan aku disini!" teriak Sintya tampak semakin frustasi.


Sipir segera memisahkan Sintya dari Kennedy, agar tidak terjadi keributan didalam ruangan, "bawa Tuan Kennedy keruangan sebelah, takut terdengar oleh jaksa penuntut bisa digagalkan oleh mereka bandingnnya," tegasnya.


Sintya menjerit memanggil nama Kennedy penuh perasaan marah dan benci, "aku akan menuntut cerai denganmu, Ken! aku bersumpah akan mengambil Alea dari mu," teriaknya penuh kebencian.


Kennedy mendengus dingin, tidak ingin melanjutkan perdebatannya. Penyesalan selalu datang terlambat. Jika dia menikahi Berlin, mungkin hidupnya akan bahagia. Itulah takdir yang dia rubah sendiri demi kepuasan sesaat karena semua janji manis Sintya dan Silutak padanya untuk menghancurkan Keluarga Baros.


Sipir wanita berusaha menenangkan Sintya dari kegilaannya yang semakin menjadi, "tenang Nyonya, jika terdengar pihak penuntut umum, anda akan dijatuhkan hukuman lebih dari yang dibacakan kemaren," tegasnya.


Sintya menangis sejadi jadinya, "damn, shiit, semua nggak bisa aku percaya saat ini. Semua menjauh dari ku! bahkan suami ku sendiri enggan membantuku. Dia pikir aku tidak bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Kennedy, kau akan membayar semua. Aku akan menuntutmu," teriaknya masih terisak.


Sipir hanya diam, Simon yang sejak tadi tersenyum melihat tingkah Sintya hanya bisa merekam semua kejadian dalam bentuk video dan mengirim ke Leo.

__ADS_1


"Selamat datang kehancuran Keluarga kalian Sintya dan Silutak," batin Simon menatap wajah Silutak duduk diam menekuk wajahnya yang terlihat lebih tua.


.


Leo tengah duduk menikmati secangkir kopi aren buatan Paras. Baby four yang sudah aktif dari biasanya membuat mereka sedikit kewalahan dalam membagi waktu.


"Ndut, kita kekantor agak siang saja yah? lagi males banget mau ketemuan sama Amy," jelas Leo pada Paras.


Paras enggan menjawab, dia memilih diam. Bagaimanapun harus tetap profesional walau harus berhadapan dengan musuh sekalipun.


"Aku call Luqman dulu yah Bowl, butuh tanda tangan nggak hari ini? kalau nggak kita belanja bulanan saja. Aku juga malas ke kantor. Pengen istirahat sama kamu dirumah, tapi stock udang dan sayuran habis, Bowl," jelas Paras.


"Hmmm, ya udah. Call Luqman dulu. Kasih tahu jika ada berkas yang harus ditandatangani minta mereka susul kita saja ke supermarket." perintah Leo.


Leo menyeruput kopi sedikit demi sedikit menarik tangan Paras agar mendekat dengannya.


"Bowl, ada Apak, dari dia melirik kita saja hmmm," Paras membulatkan kedua matanya.


Leo malah semakin mendekap tubuh gendut Paras, "aku kangen," rengeknya menghirup aroma tubuh istrinya.


"Hmmm, kecanduan sayang," rengek Leo, tapi Stela lebih dulu meraih tangan Leo agar meraih tubuh mungil itu untuk duduk dipangkuannya.


Paras menggendong tubuh Stela yang sudah menginjak usia sembilan bulan. Langkah kecil masing-masing baby four saat mendekati Paras dan Leo membuat Faisal terkekeh geli.


"Lihat tuh Stela, ndak bisa lihat Mama Papanya mesra, pasti cemburu. Sama persis kayak Luna waktu kecil," bisik Faisal pada Kirai.


Kirai mengangguk, "keempat anak Paras tampak sehat dan ceria. Walau berat badan Stela nggak seperti ketiga abangnya, tapi mereka bisa tumbuh seperti yang kita harapkan," jelasnya.


"Iya, sudah lebih tiga bulan Maride dan Baros tidak kembali, kita pulang saja ke Padang bagaimana?" tanya Faisal.


Kirai enggan menjawab, dia hanya memikirkan keempat cucunya, "bagaimana sama baby four Pak? kasihan kalau dipercayai sama baby sitter saja. Mereka masih kecil, bagaimana kita bawa ke Padang untuk sementara waktu. Nanti kalau Paras dan Leo suruh pulang, kita antar lagi. Biar kita ada kesibukan juga disana. Sudah lama rumah kita ditinggal, hanya dirawat sama sepupuku. Takutnya banyak yang bocor atau bahkan sapi kita ada yang mati," jelasnya panjang lebar.


Faisal setuju, "nanti Apak ngomong sama Leo, agar mengizinkan membawa baby four bersama baby sitter mereka. Pasti sanak saudara menyukai keempat anak ini," senyumnya pada Kirai.

__ADS_1


Kirai memeluk Faisal penuh perasaan bahagia, bagi mereka berdua kebahagiaan cucunya lebih dari apapun. Apalagi keselamatan mereka.


Paras masih bermesraan dimeja makan dengan keempat anaknya dan juga Leo. Mereka bermain bersama sambil menunggu kabar dari Luqman tengah meeting.


"Nduut," rengek Leo meringkuk kebahu Paras.


Paras mencium bibir suaminya yang basah tanpa sungkan. Keempat anak mereka melihat sambil ternganga, tapi stelah itu tertawa.


"Nggak malu apa sama baby four, Bowl. Mereka sudah mengerti bagaimana kita," senyum Paras mengusap lembut wajah bulu suaminya.


Drrrrt drrrrt,


"Luqman," batin Paras meletakkan headset ketelinganya.


πŸ“ž"Ya," Paras.


πŸ“ž"Kenapa Mba?" Luqman.


πŸ“ž"Hari ini ada yang ditandatangani nggak?" tanya Paras.


πŸ“ž"Hmmm, kayaknya ada Mba, karena setahu ku kita mau menyerahkan unit. Albert sudah menuju kantor. Mba Amy dan Pak Sandoro juga sudah menuju kekantor, mereka pengen ketemu Mba Paras," jelas Luqman.


πŸ“ž"Oooogh, oke. Saya cuma tanda tangan saja. Kamu tangani untuk penyerahan unit. Saya malas ketemu wanita ganjen," kekeh Paras disambut tawa oleh Luqman.


πŸ“ž"Siap Mba, yang penting tanda tangani berkas, biar aku juga tenang," mohon Luqman.


πŸ“ž"Oke, thankyou yah," Paras meletakkan headset miliknya kembali dimeja, mencium kedua anaknya yang berada dihadapannya.


Leo mengecup kening Paras, menatap wajah cubi yang mulus dan kembali terawat, "gimana? kita belanja sekarang? atau kekantor dulu?" tanyanya penasaran.


"Kantor dulu, Amy dan Sandoro sudah menuju kantor. Albert juga sudah menuju kantor, kita siap siap yah," tegas Paras.


Leo hanya mendekap erat bahu Paras, "jujur males banget gue kalau harus ketemu mereka, buat mood gue hilang," batinnya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️


__ADS_2