Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Jomblo meronta..


__ADS_3

Leo dan Paras menghabiskan waktu bersama baby four sebelum keberangkatan mereka menuju Jerman. Semua kebutuhan keduanya telah di persiapkan oleh Paras.


"Mi, kalau baby four kangen aku, selimutku pakai baju aku atau Leo yah," ucap Paras pada Maride.


"Tenang saja, anak anak aman. Kalian kerja sekaligus bulan madu. Kali aja hamil lagi, kan Mami semakin bahagia," kekeh Maride.


Mata Leo dan Paras saling tatap, merasa aneh dengan ucapan sang mertua.


"Berlin aja Mi yang hamil, jangan aku!" rengek Paras memeluk Maride.


"Eeeegh gendut, wanita kalau sering hamil akan semakin cantik. Mumpung usia mu masih kepala 3, nanti jika sudah kepala 4 baru stop," nasehat Maride sedikit extream.


"Tapi baru dua bulan lalu melahirkan masak mau hamil lagi, masih trauma Mi," racau Paras semakin kesal.


"Rejeki tidak boleh di tolak, banyak anak banyak rejeki. Sekarang ku tanya sama mu, semenjak anak mu lahir, berapa unit permintaan air bus ke perusahaan kita? semakin luas bahkan hampir seluruh Indonesia," jelas Maride.


Paras menarik nafas panjang, membayangkan dia memiliki anak setiap tahun dari Leonal.


"Iiiiighs,"


Seketika bulu kuduknya meremang membayangkan kehamilannya yang tidak mudah.


Maride terkekeh geli menatap ke arah menantunya.


"Jangan kau pikirkan, Mami hanya bercanda, tapi tidak menolak jika kau hamil lagi," tawanya.


"Jangan dulu aaagh, aku masih mau besarin si baby four Mama," ucapnya menatap ke arah baby four satu persatu.


"Stela nggak naik berat badannya yah Mi?" tanya Paras.


"Iya, dokter anak yang kesini kemaren bilang yang penting aktif. Jadi masih dikatakan sehat, yang penting kalian jangan terlalu memikirkan. Cucu ku aman, ada besan juga," jelas Maride meyakinkan Paras.


Paras dan Leo tersenyum lega.


Tok tok tok,


Berlin memasuki kamar baby four dengan wajah penuh bahagia.


"Kita jalan Kak?" tanya Berlin.


Leo dan Paras saling tatap, mencium baby four membelai lembut wajah imut sang baby satu persatu.


"Titip baby yah Mi, Mak?" isak Paras memeluk erat Maride dan Kirai bergantian.


"Udah, jangan nangis. Nanti anak anak kamu rewel, kami yang susah," kecup Maride di kepala Paras.


Paras mengangguk mengerti, mengusap lembut bahu Maride dan Kirai.


"Salam buat Uni Luna yo Paras? Apak di lua nunggu Paras," jelas Kirai.


Paras mengangguk, menitipkan amplop pada Kirai untuk membeli kebutuhan kedua orang tuanya selama seminggu.


Leo dan Paras berlalu menuju ruang keluarga, berpamitan pada Baros dan Faisal.


"Pi, titip baby four," tegas Leo.

__ADS_1


"Ada Mami," jawab Baros santai.


Paras justru memeluk Faisal seperti akan merantau jauh.


"Udah Ndut, kita pergi seminggu bukan setahun," kekeh Leonal mengusap lembut punggung istri tercinta.


Paras mendengus kesal.


"Aku nggak pernah ke Jerman Bowl, pasti sedih dong, apalagi ninggalin 4 anak ku," rengek Paras dipelukan Leo.


Leo mengecup kening Paras merangkul bahunya berlalu meninggalkan Jagakarsa menuju bandara.


"Yani udah di bandara Berlin?" tanya Leo.


"Udah dari jam 08.00 mereka di bandara," jelas Berlin.


Paras tersenyum memasuki mobil Maride bersama Leo, Berlin dan Luqman.


Tentu ini awal yang baru bagi pasutri ini menjalani doble date di temani secretaris dan sahabat asisten Berlin.


Mereka bernyanyi sepanjang jalan, menghibur hati Paras yang masih di landa kesedihan. Bukan khawatir melainkan sedih.


Paras sesekali melihat pesan dari Luna kakak satu satunya.


Perjalanan mereka kali ini akan mengunjungi beberapa pabrik mesin yang berada di Hamburg, Berlin dan Untertuerkheim Jerman. Mereka sengaja menggunakan pesawat komersil sesuai fasilitas yang di sediakan pihak pabrik.


Saat tiba di bandara, Leo turun lebih dulu menunggu Paras menyambut tangan istri tercinta. Begitu juga Berlin dan Luqman.


Yani dan Sinta mendekat pada pasangan pasutri yang sangat romantis itu.


"Siapa suruh jadi jomblo," jawab Berlin.


Tentu jadi bahan tertawaan oleh Leo dan Luqman.


"Galak seeh," ucap Luqman merangku bahu Berlin.


"Aku selalu jadi asisten majikan saja," kekeh Sinta.


"Udah hayuuuk," ajak Paras sedikit tegas.


"Ini ni, kalau pergi bareng bos. Agak galak gimana gitu," goda Yani merangkul bahu Paras.


"Hati hati Yan," goda Luqman.


Yani menoleh pada kedua pria yang selama ini menjadi sahabat baik di kantor.


"Emang kenapa? dia bos sekaligus kakak gue kali!" kekeh Yani kembali merangkul Paras.


"Lecet dikit Lo di timpuk lakinya," jawab Luqman.


Paras hanya geleng geleng kepala mendengar keisengan anak muda seumuran suaminya.


Leo mengambil alih saat tiba dihadapan imigrasi, bergegas Leo menemui sahabatnya agar tetap lancar menuju pesawat. Ini kali pertama untuk Yani dan Sinta.


"Kalian mau ke Jerman Leonal?" tanya petugas imigrasi.

__ADS_1


Leo mengangguk memberi semua berkas pada teman sekolahnya.


"Oke, selamat jalan jangan lupa oleh oleh buat gue," peluk petugas imigrasi.


Mata petugas tertuju pada Luqman.


"Lo Luqman kan? mantan Lala," tanya petugas imigrasi membuat Berlin menaikkan kedua alisnya.


"Laila, bukan Lala," tegas Luqman.


"Ooogh ya ya," kekehnya.


"Jadi Lo ikut juga?" tanya teman sekolah kedua pria itu.


"Kerja bro. Oya, ini bini gue dong. Kenalin ini Berlin adiknya Leo dan ini Rizal sahabat kami saat belia," jelas Luqman.


Berlin tersenyum sumringah, setelah dikenalkan sebagai istri.


"Oke hati hati kalian, pegang erat erat istri tercinta," teriak Rizal saat menyaksikan sahabat dekatnya berlalu.


Leo sesekali menggoda Paras yang tengah sibuk memilih makanan untuk di pesawat. Paras membeli donat, kopi susu kesukaannya dan beberapa cemilan lain.


Tentu menjadi suasana baru bagi Yani dan Sinta, ternyata kedua bos Langhai memang hobi makan yang enak enak.


"Kita pasti kenyang, jauh dari hidup susah ala anak kos," bisik Sinta pada Yani.


"Lo aja yang susah, gue maaah udah 3 kali naik gaji," kekeh Yani merangkul bahu Sinta.


"Beeeegh, Lo di tunjuk langsung oleh Mba Paras dan Leo. Naaah gue, hanya menanti keajaiban dari Nona Berlin," tawa Sinta.


"Nyonya Berlin, bukan Nona," tegas Yani.


Sinta mengangguk mengerti.


"Eeegh, itu pak dokter preeed bukan?" tunjuk Sinta saat memasuki ruang tunggu.


Yani celingak celinguk melihat arah tunjuk Sinta.


"Hmmmm jiwa jomblo gue meronta guys," kekeh Sinta.


"Iiiighs ambil saja, gue nggak selera sama dokter. Gue nyarinya pengusaha atau di atasnya," jelas Yani.


"Hmmmm,"


Sinta hanya mendengar penjelasan Yani.


Leo dan Paras menyadari kehadiran Fredy memeluk hangat Dokter SpOG yang sangat baik hati, ramah, rajin menabung dan sangat bersahabat.


Berlin di beri kado cincin yang kini tersemat di jari manis kirinya.


Luqman sangat mengerti siapa Fredy bagi Keluarga Baros, mungkin jika Berlin mengandung akan di tangani oleh dokter yang sama.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2