Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Menghilang...


__ADS_3

Malam yang dijanjikan sesuai rencana oleh Maride dan Baros, keluarga mereka berkumpul dikediaman baru Luqman dan Berlin. Tentu membawa serta baby four, Faisal dan Kirai bersama mereka.


Kediaman Berlin yang sangat asri, tidak begitu besar tapi terkesan mewah menambah kehangatan saat berada disana.


Berlin dan Laura menyambut kedatangan baby four dengan penuh semangat. Bagaimana tidak, mereka sangat merindukan kehadiran baby ditengah tengah rumah tangga yang sudah dibina selama beberapa bulan untuk Berlin dan tahunan untuk Laura.


"Sini sama Oma Alpa sicantik Stela," geram Alpa saat meraih tubuh mungil dan gembul baby Stela.


Paras memberikan Stela pada Alpa ibunya Luqman. Beliau sangat menginginkan cucu perempuan karena tidak memiliki anak selain Luqman.


Sementara Brandon menyambut Baby Steiner yang lebih mirip Leonal, wajah gembul yang tampak garang itu terlihat seperti anak laki laki berumur delapan bulan. Aktifnya baby four memberi kesan hangat bagi keluarga mereka.


"Ndut, minta pelayan Berlin untuk mengambil rantang dimobil," perintah Leo pada Paras.


Paras melakukan sesuai perintah suaminya, dia bergegas meminta pada pelayan agar menurunkan bawaan mereka untuk makan malam bersama.


"Mba, kamu ambil rantang dimobil, salin saja yah!" pinta Paras berbisik.


"Baik Bu," pelayan melakukan sesuai perintah majikan.


Mereka saling bercengkrama hangat penuh kebahagiaan. Maride dan Alpa tampak bersemangat saat bermain dengan baby four. Begitu juga Kirai, wanita yang lebih pendiam itu hanya menikmati kebersamaannya ditengah tengah kehangatan seperti saat ini.


"Jeng, bilo kito ke Padang lagi?" tanya Kirai pada Maride.


Tampak Maride menghela nafas panjang, "saya sendiri bingung besan, giliran mau pesta hamil pula anak kita itu kembar dua. Jadi terpaksa kita menunggu lagi sampai benar-benar beres," jelasnya pelan.


Kirai terkekeh geli mendengar Maride berceloteh yang tidak pernah ada habisnya. Tertawa besan suburnya dapat terdengar jelas memecah keheningan kediaman yang berlantai dua itu.


Sementara Baros, Faisal dan Brandon masih sibuk dengan cucu laki-laki mereka Steiner dan Stevie.


"Bahagia itu sederhana yah Mba? bisa kumpul begini aku sudah sangat senang," bisik Luqman ditelinga Paras.


Paras terlonjak kaget mendengar suara Luqman yang berada dibelakangnya.


"Saya pikir siapa tadi, rupanya kamu. Oya, kamu habis ngamuk sama Tiwi yah? emang kenapa?" tanya Paras penasaran.


Luqman hanya tersenyum tipis jika mengingat Tiwi salah satu anggotanya yang menangani bagian pemasaran.


"Dia terlalu santai Mba, aku jadi malas menjadi partner dia," kenang Luqman.


Paras tersenyum, "jangan terlalu sering berdebat sama team, dia itu anak baru. Aku rasa dia hanya menarik perhatian divisi utama, maklumlah dia kan hanya perantau sama seperti Sinta. Jadi dia hanya butuh teman," jelasnya tenang.


Luqman mengangguk mengerti, "berarti Mba walau jarang interaksi sama kami, sangat memahami watak masing masing team yah?" pujinya pada Paras.

__ADS_1


"Harus dong, saya tahu semua. Beda dengan Leo, kamu dan Berlin. Oya, SP dua kenapa tidak sampai dimeja saya? kemana Lusi? nggak denger omongan Ibu?" kekeh Paras.


"Diancam Berlin, Mba," jujur Luqman menjelaskan pada Paras.


Mereka terkekeh geli jika mengingat kejadian tadi pagi, tanpa sungkan Luqman bisa bercerita dengan Paras.


Leo dan Albert muncul secara mendadak membawa Yani bersama.


"Eheem, Lo buat gue cemburu lagi bro?" sindir Leonal pada Luqman.


Luqman dan Paras menoleh kebelakang sedikit kaget melihat kehadiran Albert dan Yani ditengah tengah kehangatan mereka.


"Haii, pengantin baru," sapa Paras pada Yani memeluk tubuh mungil yang tampak bahagia itu.


"Aku nggak di peluk Paras?" goda Albert membuat Leo membelalakan matanya.


"Jangan macam-macam lagi, nanti gue hajar Lo disini," ancam Leonal.


Albert terkekeh melihat sifat kekanak kanakan Leo yang masih belum berubah. Apalagi semenjak kehamilan Paras yang terlihat sudah membesar.


"Kapan lahirnya ini?" tunjuk Albert pada perut buncit Paras.


"Hmmm, beberapa bulan lagi," senyum Paras merangkul lengan Leo agar berdiri didekatnya.


"Lo yang transfer ke Fredy bro? maksud Lo gue nggak sanggup ngebiayain anak gue?" geram Leo.


Albert menggeleng, "kita saudara, jangan terlalu kaku. Aku membayar semua karena aku menganggap kamu adalah anak Mami Maride, bukan maksud apa apa. Saat ini aku justru ingin Yani cepet hamil dan menyelesaikan S2nya sesuai keinginan keluarganya. Jadi yaaah, aku terpaksa izin membawa Yani untuk hidup bersama aku di Bogor," jelasnya membungkam bibir Leo dan Paras.


Jujur ini adalah satu keputusan berat yang harus diterima oleh Langhai Group. Kehilangan Haryani Lupita yang selalu setia bersama mereka selama beberapa tahun.


"Kamu mengambil karyawan terbaik Langhai Albert," ucap Paras sedikit sedih.


"Hmmm, aku paham maksud kalian Paras, tapi kami pihak keluarga harus mengambil keputusan ini untuk menjauhi Yani dari Fredy. Maaf jika semua terjadi begitu cepat, awalnya aku ingin dia bersama kalian, tapi Mami tidak ingin terjadi sesuatu pada Yani," jelas Albert panjang lebar.


"Ooogh, mana Mami Soraya? apakah dia ikut bersama kalian malam ini?" tanya Paras penasaran.


Albert mengusap lembut punggung Paras yang menjadi sahabatnya, "ada didepan bersama Mami Maride dan ibu ibu sosialita. Ternyata Mama kamu masih sangat mahir menggunakan bahasa Jerman," kekehnya menggoda istri Leonal.


Paras hanya tersenyum tipis menatap wajah Leo yang berada disampingnya.


"Kita kedepan Bowl," ajak Paras pada Leo.


"Biar aja dulu, para ibu lagi reuni," jelas Leo.

__ADS_1


Mereka duduk bersama diruang keluarga. Willion benar benar menjadi ayah yang baik bagi baby four. Mungkin karena kerinduannya ingin memiliki baby dari Laura, tapi belum diizinkan oleh Sang Pencipta.


Tampak senyum bahagia diwajah baby four saat bermain bersama Berlin, Willion, Laura dan Yani.


Paras, Luqman, Leo dan Albert justru tengah asyik berbincang mengenai proses Airbus yang harus segera diselesaikan dengan sangat cepat. Seperti permainan sulap, dalam waktu dua minggu harus selesai 100 unit sesuai permintaan Langhai Group.


Drrrt drrrrt,


Handphone milik Leo berdering dengan sangat kencang.


"Simon," bisik Leo pada Paras.


Bergegas Leo menghindari keluarganya menuju teras depan, agar bisa berbicara dengan tenang.


πŸ“ž"Ya Bang!" Leo.


πŸ“ž"Kalian dimana? Bang Baros aku telfon tidak diangkat? Silutak menghilang, aku harap kalian berhati hati mengawal keluarga. Jangan sampai dia mendapatkan apapun. Aku sudah melacak semua data yang keluar kami tidak menemukan data Silutak Panjaitan ataupun Sintya," jelas Simon.


πŸ“ž"Hmmm, ya! palingan akan aku sampaikan pada Papi," jawab Leo sedikit panik.


πŸ“ž"Oke, tolong jaga baby four agar tetap aman, karena ancaman mengarah pada buah hati kalian, aku tidak mau terjadi sesuatu pada keponakan ku," tegas Simon.


πŸ“ž"Baik bang, aku sendiri yang akan mengawasi keempat anak ku," jawab Leo tenang.


Simon menutup telfon diseberang sana, sementara Leo terdiam memikirkan keselamatan baby four.


"Apa salah anak ku pada mereka? sampai hati mereka mengancam keselamatan keluarga ku. Apakah mereka benar-benar akan berperang dengan keluarga ku?" batin Leo mengusap wajahnya kasar.


Maride memperhatikan gerak-gerik putranya dari ruang tamu, datang mendekat.


"Siapa menelfon Leo?" tanya Maride menatap lekat mata anaknya.


Leo menarik nafas dalam, "Bang Simon, Mi. Dia mengingatkan kita bahwa Silutak Panjaitan menghilang, bersama Sintya. Berarti ancaman yang dibawa Kennedy malam kemaren benar adanya," jelasnya pelan.


"Hmmm, Mami akan menelfon Nantulang yang di Melbourne, agar mereka menyelesaikan semua. Kita akan memberikan jatah Silutak agar tidak menggangu keselamatan kita," tegas Maride.


Leo menatap wajah Maride, "Mami kasihpun berhektar-hektar lahan kebun itu, tidak akan membuat laki laki itu bahagia. Dia ingin menghancurkan hati kita Mi, hati, bukan harta," geramnya tegas.


Maride termenung mendengar penuturan putranya. Membenarkan ucapan Leonal.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2