
Azzlea terbangun dari tidurnya dengan badan yang lelah, entah mengapa tubuhnya terasa lelah dan lesu, Azzlea memilih membersihkan diri berharap agar tubuh lelah nya segera hilang.
Mimpinya semalam membuatnya kepikiran Azzlea tersenyum geli mengingat semalam dia akan dijadikan Luna dan pernikahan mereka akan dilangsung kan dalam satu minggu kedepan.
"Mimpi yang aneh" Azzlea terkekeh geli.
Selesai membersihkan diri Azzlea menuruni satu persatu anak tangga menyapa pelayan juga penjaga yang ditemuinya.
Namun nampak aneh pada mereka semua, terlihat jelas sekali raut wajah mereka berbunga bunga dan senang saat Azzlea menyapanya, adakah yang aneh di dalam dirinya.
Tak mengindahakan tatapan aneh mereka, azzlea memilih berjalan menuju taman melihat bunga yang tengah mekar berwarna warni membuat azzlea merasa nyaman.
"Pagi" sapa azzlea pada pelayan yang tengah menyirami taman bunga miliknya.
"Pagi nona," jawab para pelayan serentak seraya membungkukkan badannya.
"Lihatlah bunga bunga di pagi ini nona, terlihat indah bermekaran di setiap sudut, seperti wajah nona yang tampak berseri" ucap salah seorang pelayan pada Azzlea.
"Terimakasih telah merawat taman bunga milik ku dengan baik" azzlea berterimakasih dengan tulus.
"Nona tidak perlu khawatir akan hal itu, jika nantinya Nona tidak bisa datang menjenguk mereka setiap hari seperti saat ini kami akan senantiasa merawat dan menjaga mereka semua"
"Dan jika nona pulang karena rindu ingin mengunjungi mereka, saya pastikan mereka akan dalam keadaan baik baik saja" sambungnya.
"Apa maksud mu, aku tidak akan meninggalkan mereka semua" tanya azzlea tak paham.
"Bukankah dalam enam hari kedepan anda akan menikah dengan pangeran Fredrico nona"
"Dan sebentar lagi anda akan diangkat menjadi calon Luna selanjutnya"
"Seluruh rakyat tengah membicarakan anda hari ini karena pernyataan yang dilontarkan pangeran Fredrico semalam" jawab pekayan yang lain dengan sangat antusias.
Azzlea menutup mulutnya tak percaya, apa maksud dari ucapan mereka, dan tunggu berarti semalam bukanlah mimpi, tetapi mengapa azzlea seolah bermimpi.
Dan tunggu, menikah dengan pangeran Fredrico calon Alpha selanjutnya dan dirinya akan menjadi Luna, tetapi mengapa?
Mengapa harus dirinya, mengapa bukan orang lain, sedangkan werewolf miliknya tak menunjukkan kepemilikan atas pangeran Fredrico dan lagi dia hanya werewolf yang tak memiliki kekuatan apapun, jangankan kekuatan! merubah dirinya menjadi wolf saja dia tak mampu, Apa takdir yang tengah direncanakan oleh Moon Godness adanya.
Azzlea mengernyit dengan fakta yang terjadi pada dirinya, apa semua ini, pantas saja pelayan begitu bahagia melihat nya saat disapa.
Tak percaya azzlea mencari ibunya mempertanyakan perihal pernikahannya, kesana kemari dia mencari keberadaan bundanya namun hasilnya nihil dia sama sekali tak menemukan keberadaannya.
"Kak Faustin" teriak azzlea saat melihat Faustin tengah berjalan bersama penjaga yang lain.
__ADS_1
Mendengar nama ya dipanggil Faustin menghentikan langkah nya mencari siapa gerangan yang memanggilnya.
Azzlea berlari kecil menghampiri Faustin penjaga yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.
"Nona" ucap Faustin.
Azzlea lalu menarik tangan Faustin ketempat yang aman untuk berbicara berdua.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada Kakak" ucap azzlea setelah sampai di kamarnya.
"Kebetulan sekali Nona, ada hal pula yang ingin saya tanyakan pada Anda" ucap Faustin pula.
"Baiklah aku dulu"
"Apa benar aku akan menikah dan menjadi Luna selanjutnya?" tanya Azzlea langsung pada intinya.
"Apa maksud Nona bertanya seperti itu, bukankah semalam Pangeran Fredrico telah mengumumkan semuanya Nona?" ucap Faustin.
Azzlea kembali menutup mulutnya, dia benar benar tak tahu harus berkata apa lagi, jadi semuanya benar, dirinya akan menikah dengan pangeran Fredrico, calon Alpha sekejam pangeran Fredrico akan bersanding dengan dirinya Azzlea menggelengkan kepalanya.
"Jadi semalam bukanlah mimpi, tapi benar benar akan terjadi?"
"Tapi mengapa, kenapa aku kak hm?" azzlea bertanya dengan kebingungan, sedangkan Faustin menatap Nona nya dengan penuh tanda tanya.
"Bukankah semalam Pangeran Fredrico sendiri berkata kalau anda adalah mate nya nona?"
Azzlea kini ingat, setiap kali pria itu terlihat pandangan mata wolf nya akan bereaksi dengan berkata kalau dia lah pria paling tampan.
Azzlea menganggukkan kepalanya sedangkan fikirannya menelaah kejadian yang dialaminya sekarang.
"Dan mengenai wolf yang ada dalam diri anda..."
"Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan pada anda Nona?" ucap Faustin.
"Apa?"... Azzlea menatap dengan bingung.
"Sejak kapan anda dapat berbicara dengan wolf dalam diri anda...?" Faustin bertanya dengan ragu.
Azzlea nampak berfikir, mengingat kapan pertama kali dia berbicara dengan wolfnya.
"Mmmm.... Kurasa di saat aku memasuki pendidikan tahap kedua, sekitar umur 12 tahun mungkin"
"Kenapa..." Azzlea heran.
__ADS_1
Mendengar pernyataan yang dilontarkan nonanya Faustin menatap gadis didepannya dengan penuh tanda tanya, banyak hal yang tersembunyi pada gadis dihadapannya ini pikir Faustin.
"Maafkan saya sebelumnya Nona...."
"Tapi apakah anda tahu fakta bahwa jika kami para werewolf hanya dapat berbicara langsung dengan wolf kami jika kami sudah dapat merubah wujud menjadi werewolf?!" tanya Faustin dengan hati hati.
Azzlea menggelengkan kepalanya, bahkan baru kali ini dia mendengar hal ini, fakta bahwa mereka hanya bisa berbicara dengan wolfnya saat mereka mulai merubah wujudnya.
"Tidak perlu difikirkan Nona, saya rasa itu adalah kelebihan anda dari pada werewolf yang lain"
"Dan yang terpenting saat ini anda lebih fokuskan diri dan fikiran anda pada pernikahan anda" ucap Faustin.
Saat ini Faustin tidak ingin gegabah dia harus mencari kebenarannya terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu.
"Nona..." panggil salah seorang pelayan yang menghampiri keduanya.
Sontak saja keduanya menoleh kearah pelayan tersebut.
"Ada apa"...
"Pangeran Fredrico datang mengunjungi anda, nyonya berpesan agar anda segera menemui beliau"
"Nyonya bersama tuan Beta tengah bersama dengan Pangeran Fredrico di ruang keluarga nona" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
"Baiklah, kamu boleh pergi lebih dahulu"
Pelayan itupun pamit meninggalkan keduanya dengan sopan.
"Aku temui pangeran fredrico dulu kak" pamit Azzlea dan segera pergi meninggalkan Faustin untuk menemui Fredrico.
Perlahan Azzlea berjalan keruang keluarga, dimana Ayah dan bunda nya tengah menyambut pangeran Fredrico.
"Bunda...." panggil Azzlea.
"Kemari nak, Pangeran Fredrico ingin menemui mu" ucap bunda sumringah.
Azzlea berjalan mendekati kedua orang tuanya dan mendudukkan tubuhnya dengan penuh tanda tanya.
"Karena calon istriku telah berada disini, bolehkan saya meminta izin untuk membawanya keluar sebentar?" tanya pangeran Fredrico sopan.
'*Calon istri?? siapa yang mau menjadi istrimu tuan sombong'
'Aku bahkan tak pernah bermimpi sedikitpun' gerutu Azzlea.
__ADS_1
Azzlea mengharapkan penolakan dari mulut kedua orang tuanya, namun hasilnya nihil, keduanya justru mengizinkan mereka berdua.
'Habislah aku' gumam Azzlea pasrah.