Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Effort


__ADS_3

"Apa yang membuatmu duduk sendirian disini Frisca?" suara merdu Azzlea membuyarkan lamunan Frisca.


Frisca segera bangkit dan memberi penghormatan kepada Azzlea. Hanya dengan berpura-pura baiklah dirinya akan tetap bisa tinggal disini bersama mereka.


"Maafkan saya Luna, apa yang Luna lakukan hingga keluar dari kastil?" tanya Frisca.


"Ah... Aku bosan dirumah, Fredrico sedang tidak ada dikastil hingga saat ini. Jadi aku ingin menunggunya" ucap Azzlea.


"Jika Luna mengizinkan saya ingin menemani Luna untuk menunggu Alpha. Akan sangat berbahaya jika Luna berada diluar sendirian seperti ini" ujar Frisca mencoba menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku tahu kau pasti sangat kelelahan setelah seharian bekerja. Lebih baik kau istirahat saja dikamarmu" pinta Azzlea.


"Saya tidak keberatan jika harus menemani Luna disini. Lagi pula saya sedang tidak ingin tidur" ucap Frisca memasang wajah melasnya.


'Sial! Aku harus bersikap baik padanya seperti ini. Rasanya aku mau muntah' gerutu Frisca dalam hati.


"Apa yang terjadi Frisca. Kau bisa mengatakan padaku, barangkali aku bisa membantu kesulitanmu" ucap Azzlea.


"Saya tidak pantas mengatakan masalah saya kepada Luna"


"Katakan saja" ucap Azzlea meyakinkan.


'Bagus, aku tak perlu mencari alasan untuk menghasutmu' Frisca tersenyum miring.


"Saya merasa kalau kehadiran saya disini sangat tidak diharapkan oleh semua orang yang ada disini. Saya merasa sangat bersalah kepada Luna karena dulu telah menyakiti Luna"


"Saya telah membuat kesalahan yang sangat fatal hingga merugikan saya sendiri" ujar Frisca.


Azzlea menjadi tak tega melihat Frisca yang sekarang, sungguh sangat sulit berada diposisi Frisca. Dia harus kehilangan kedua orang tuanya juga saat ini dia harus sebatang kara, dan yang lebih menakutkan lagi Frisca harus rela menjadi maid dikastilnya hanya untuk menyambung hidupnya agar tetap bertahan.


"Jangan katakan itu padaku Frisca. Aku yakin kau melakukan itu ada alasannya, dan yang paling penting saat ini kau sudah berubah dan tidak akan mengulanginya bukan?" ujar Azzlea. Frisca menganggukkan kepalanya.


"Tapi walau bagaimanapun juga sepertinya Alpha juga adik Luna sangat membenci saya. Bahkan sempat mengancam saya jika saya sampai berbuat macam-macam kepada Luna saya akan dikeluarkan dari kastil ini" isak Frisca.


Azzlea merasa terkejut dengan pernyataan yang diucapkan oleh Frisca.


"Hei,, tenanglah! mereka hanya menggertakmu, mereka hanya menakutimu kau jangan khawatir"


"Itu semua mereka lakukan hanya untuk melindungiku saja tidak lebih. Dan kau jangan terlalu diambil hati dengan ucapan mereka"

__ADS_1


"Walau bagaimanapun juga saya sudah bersalah dengan Luna dulu. Semua yang terjadi pada saya adalah karma yang telah ku lakukan dulu pada Luna"


"Saya pantas mendapatkan semuanya Luna" Frisca semakin terisak. Usapan di punggung Frisca tak mengehentikan isak tangis yang dikeluarkan oleh Frisca, Azzlea menjadi semakin merasa perihatin dengan keadaan Frisca.


"Sudahlah. Lupakan semuanya, aku mengizinkanmu kemari agar kamu bisa mengubah dirimu dengan yang lebih baik lagi. Aku juga berharap apa yang kau lakukan dulu hanya kau lakukan padaku bukan kepada orang lain" ucap Azzlea.


Frisca menganggukkan kepalanya, Frisca merasa sedikit tersentuh dengan ketulusan Azzlea. Dia juga tak menyangka kalau Azzlea selapang itu memaafkan kesalahannya. Namun begitu perilaku Azzlea padanya tak mengubah rencananya semula.


"Mungkin lebih baik saya keluar dari sini saja Luna" isak Frisca lagi. Azzlea menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan! Kalau kau keluar dari kastil ini kau akan tinggal dimana, bukankah saat ini kau sebatang kara? Lebih baik kau tinggal disini sementara waktu"


"Aku akan meminta Fredrico untuk mecarikanmu tempat tinggal lain, dan sementara waktu kau tinggal disini dulu" Azzlea mencoba memberikan saran. Meskipun semua orang seolah membenci kehadiran Frisca namun walau bagaimanapun juga Frisca adalah rakyatnya. Yang terpenting sekarang dia harus mencarikannya tempat tinggal agar dia bisa mendapat kehidupan yang layak.


Frisca menganggukkan kepalanya, dalam hati dia benar-benar tak setuju dengan ide yang diberikan. Keluar dari kastil? Itu adalah ide buruk yang pernah dia miliki tak disangka Azzlea justru menyetujuinya.


"Sayang" suara bariton memecahkan keduanya. Frisca segera mengahapus air matanya sesaat setelah melihat kedatangan Fredrico.


Fredrico menatap tajam kearah Frisca yang tak suka atas kehadirannya bersama dengan sang istri.


"Mengapa kamu disini hm?" tanya Fredrico sembari menatap kearah Frisca.


"Kau bisa menungguku didalam, ada Axelle yang bisa menemanimu"


"Axelle kembali ke rumah sakit sementara waktu. Ada pasien yang harus ditanganinya entahlah" ucap Azzlea mengadu.


"Ya sudah kalau begitu kita masuk kedalam, kasihan jagoanku harus berada diluar. Ayo" ajak Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya meninggalkan Frisca yang mendidih melihat kemesraan yang ditunjukkan padanya.


Fredrico mengajak sang istri untuk masuk kedalam kastil mereka. Tangannya menggenggam jemari mungil sang istri sementara tangan lainnya sembari mengusap lembut perut sang istri.


"Apa hari ini dia menyusahkanmu hm" tanya Fredrico.


"Dia hanya merindukanmu Fred, rasanya semakin hari semakin berat saja" keluh Azzlea.


"Apa perlu aku membantumu membawakannya?"


"Bagaimana bisa, jangan bercanda Fred" kesal Azzlea.


"Tentu saja bisa. Aku hanya perlu membawanya seperti aku membawa buah semangka" jawab Fredrico tanpa berfikir.

__ADS_1


"Dasar. Kau gila Fred" kesal Azzlea sembari memukuli lengan Fredrico membuatnya kesakitan.


Hari sudah semakin malam, Fredrico langsung mengajak sang istri untuk segera beristirahat. Usai membersihkan diri Fredrico naik keatas ranjang bersama dengan sang istri. Memeluknya dari belakang sembari tangannya mengusap lembut perut buncit sang istri.


"Mengapa kau melakukan itu padanya Fred?" ujar Azzlea. Fredrico mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan sang istri.


"Memangnya aku melakukan apa hm?"


"Mengapa kau mengancam Frisca, mengapa kau tak menyukainya"


Fredrico mengembuskan nafasnya dengan kasar.


"Aku tak menyukainya karena dia pernah berbuat jahat padamu"


"Aku tak menyukainya karena dia bersikap angkuh pada semua orang"


"Tapi dia sudah berubah Fred. Saat ini dia sudah menjadi orang yang lebih baik" kekeuh Azzlea.


"Aku tahu kau kasihan padanya. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku memang tak menyukainya"


"Jangan memaksakan kehendakku untuk menyukainya sayang"


"Cih... Rupanya kau siap untuk tidur diluar hm" kesal Azzlea.


"Tentu saja tidak, jangan bicara seperti itu. Kau menakutiku"


"Aku tidak menakutimu, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku" ucap Azzlea menekankan ucapannya. Fredrico membelalakan matanya tak percaya, hanya karena Frisca dirinya harus diusir keluar dari kamar.


"Keluarlah" usir Azzlea.


"Tidak.. Aku tidak akan keluar dari kamar ini" tolak Fredrico memeluk erat Azzlea semakin erat.


"Lepaskan Fred, kau menyakitiku juga menyakiti anakmu jika kau memelukku dengan erat"


"Maaf" sesal Fredrico mengendurkan pelukannya.


"Kutarik lagi ucapanku, walau begitu aku tak bisa membohongi diriku sendiri ataupun berbohong padamu kalau aku memang tak menyukainya"


"Akan kuuasahakan" Fredrico meralat ucapannya saat melihat Azzlea sudah menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2