Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 28 Sweet Lips


__ADS_3

"Maaf membuatmu ketakutan" ucap Fredrico yang diangguki azzlea.


Dokter carl pergi setelah berpamitan dengan pelayan yang berjaga diluar. Dia hanya tak ingin mengganggu moment antara Fredrico dan azzlea.


Terdengar isak tangis kecil keluar dari mulut azzlea. Punggungnya bergetar, ada rasa takut dan khawatir dalam dirinya. Fredrico menyadari hal itu. Dalam hatinya dia bertanya mengapa azzlea sampai menangisi dirinya.


Perlahan Fredrico mengusap lembut punggung azzlea seraya mengecupi puncak kepalanya.


"Aku baik-baik saja sekarang" lirih Fredrico.


Bukannya berhenti menangis, azzlea justru semakin kencang menangis di pelukan Fredrico. Azzlea semakin menenggelamkan kepalanya didada Fredrico.


"Heii.. Berhentilah menangis.. Apa yang kau takutkan. Tak kan ada yang terjadi apa-apa padaku" ucap Fredrico berusaha menenangkan.


"Aku takut hiks" isak azzlea yang semakin kencang menangis.


"Maaf. Lain kali hal ini tak akan terulang lagi" hati Fredrico terasa menghangat saat melihat dirinya ditangisi oleh azzlea seperti ini.


Seketika hatinya yang sekeras batu melunak karena tangisan azzlea yang terasa sangat ketakutan.


Tak ada tanda-tanda azzlea berhenti menangis, Fredrico menangkup kedua pipi azzlea agar berhadapan dengannya. Cup. Fredrico mengecup singkat bibir azzlea


Azzlea hanya diam saja saat bibirnya di kecup oleh Fredrico. Biasanya dia akan mengamuk atau bahkan memukul Fredrico namun kali ini azzlea diam tak bereaksi apapun. Azzlea memandang wajah Fredrico tanpa reaksi apapun. Fredrico menjadi bingung melihatnya


Fredrico menatap bibir pink milik azzlea dengan intens. Tak ada penolakan sama sekali saat dirinya menatap bibir milik azzlea. Perlahan Fredrico mendekatkan wajahnya mensejajarkan dengan wajah azzlea. Pelan namun pasti Fredrico mulai mendaratkan bibirnya di bibir hangat milik azzlea lagi-lagi tak ada penolakan dari azzlea hanya isakan kecil yang sesekali keluar dari mulutnya, Fredrico semakin berani mengecup lembut bibir azzlea.


Fredrico semakin senang dibuatnya, karena dirinya lagi-lagi kembali merasakan manisnya bibir azzlea. Fredrico semakin memperdalam ciumannya terhadap azzlea dengan menahan kepala belakang azzlea. Fredrico melepaskan pangutannya saat merasa kehabisan nafas begitu juga azzlea. Namun tak sampai di situ Fredrico kembali merasakan bibir manis Azzlea.


Deg


Nyatanya lagi-lagi tubuhnya bereaksi terhadap azzlea. Nafasnya mulai memburu dan lagi-lagi tubuhnya menjadi panas karenanya. Dirinya menginginkan tubuh azzlea. Meskipun tak sepanas pagi tadi tapi lambat laun akan semakin parah jika dibiarkan begitu saja.


Fredrico melepaskan pangutannya dibibir azzlea. Menatapnya dengan intens wajah azzlea


"Maaf" sesal Fredrico.


Fredrico berjalan meninggalkan azzlea yang masih menguasai dirinya. Fredrico melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun belum sempat Fredrico masuk dirasa tubuhnya direngkuh oleh tangan mungil dari belakang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Fredrico membalikkan tubuhnya menghadap kearah azzlea


Azzlea menggeleng, dirasa kesadarannya belum pulih sepenuhnya, dirinya bahkan tak tahu apa yang dilakukannya


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya azzlea.


Fredrico tersenyum


"Maaf karena aku melewati batasku, maaf karena aku berani menciummu tadi" Azzlea hanya diam tak merespon.


"Jangan memasang wajah seperti itu.. Aku takut aku melupakan janji ku dan memakanmu hingga habis" Fredrico mengelus pipi azzlea.


"Dan kalau itu terjadi.. Kau akan menyesal dan Kau bisa saja tak akan bertemu dengan mate mu dikemudian hari"


Cup


Fredrico mencuri ciuman dibibir azzlea yang kemudian masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi fredrico segera mengguyur tubuhnya yang kembali panas karena ulahnya berani mencium bibir azzlea.


"Arrghh.. Lama-lama aku bisa gila karenanya. Aku tak bisa berdekatan dengannya.. Kurasa aku harus menjauh dari pandangan matanya agar aku tak perlu melihatnya" gumam fredrico dengan kesal.


"Aku menyukainya fred" ucap werewolf dalam dirinya.


"Aku menyukai werewolf dalam diri azzlea, aku ingin menyatukan tubuh ku dengannya"


"Kau gila" teriak Fredrico.


"Azzlea bukan mate mu kau tahu. Dan aku juga bukan mate azzlea. Apa yang kau fikirkan tentangnya. Kau mau menghancurkan azzlea juga werewolf dalam dirinya?" kesal Fredrico.


"Aku tahu.. Tapi aku sangat menyukainya, kali ini berbeda dengan sebelumnya" kekeuh werewolf Fredrico.


"Tunggu" Fredrico tersadar ucapan werewolfnya.


"Kau bisa melihat werewolf milik azzlea?" Fredrico menghentikan guyuran ditubuhnya.


"Ya"


"Bagaimana bisa? Azzlea bahkan tak bisa merubah dirinya menjadi werewolf. Bagaimana mungkin kau bisa melihat werewolfnya?" tanya Fredrico tak percaya.

__ADS_1


"Kau benar,, aku baru menyadari nya sekarang"


"Kurasa ada hal spesial dari dalam diri azzlea" fredrico mulai menebak.


Azzlea masih mematung menatap pintu kamar mandi sepeninggal Fredrico. Perlahan kesadarannya mulai kembali seperti sedia kala sepertinya. Azzlea berjalan hendak keluar dari kamar.


Namun matanya melihat hal yang tak asing dilihatnya. Seketika kemarahan azzlea memuncak melihatnya. Ternyata guci kesayangan milik azzlea hadiah yang di bawa oleh faustin tak luput dari kemarahan azzlea pagi tadi.


"Fredrico" teriak azzlea menggedor pintu kamar mandi yang didalamnya ada Fredrico.


Fredrico yang hendak keluar mandi mendengar teriakan azzlea dari luar bahkan gedoran pintu yang sangat keras.


"Kurasa kesadarannya mulai kembali" gumam nya melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dengan rambut basahnya.


"Ada apa?" jawab fredrico dengan santainya.


"Lihat apa yang kau lakukan pagi tadi. Kau memecahkan guci kesayanganku" teriak azzlea marah.


"Hanya guci.. Tapi kau begitu berisik. Bahkan kastil ini memiliki guci yang lebih dari pada itu"


"Wah.. Walaupun begitu ini adalah guci kesayangan ku. Dan kau berani memecahkannya, aku tak mau tahu guci ini harus kembali seperti semula" pinta azzlea.


"Cih.. Kau kira aku memiliki kekuatan mengembalikan barang yang hancur kembali seperti semula" fredrico berdecih.


"Aku tak mau tahu.. Kau harus bertanggung jawab atas semua ini" azzlea marah dan keluar dari kamar membawa guci yang terbelah menjadi dua.


Sebenarnya guci itu hanyalah guci sederhana. Hanya guci keramik berwarna biru langit serta sedikit ukiran bunga mawar yang biasa digunakannya meletakkan bunga mawar putih favoritnya. Yang spesial adalah guci itu merupakan hadiah pertama dari faustin untuknya, dibawah guci tertulis nama azzlea yang menyatakan kalau itu adalah miliknya.


Azzlea keluar dari kamar dengan kesal. Azzlea menggerutu turun dari tangga. Entah sumpah apa yang dikeluarkannya kali ini karena ulah Fredrico.


"Setidaknya hari ini aku merasakan manis nya bibirmu" gumam fredrico tersenyum puas menatap punggung azzlea yang meninggalkannya dengan marah.


Pelayan yang melihat azzlea marah-marah hanya mampu diam seraya tersenyum


"Padahal baru beberapa saat yang lalu nona azzlea begitu khawatir melihat kondisi yang di alami oleh suaminya. Tapi sekarang nona kembali kesal dan pasti itu ulah pangeran sendiri"


"Kau benar...! Aku begitu iri melihat interaksi antara keduanya, beberapa saat bermesraan dan di waktu kemudian mereka seolah bertengkar dan kemudian bermesraan kembali"

__ADS_1


"Bahkan setelah kedatangan nona azzlea kastil ini menjadi berwarna karena teriakan yang selalu nona azzlea lakukan"


"Kau benar. Kastil ini sekarang nampak ramai hanya karena nona azzlea" para pelayan mengeluarkan isi yang ada di kepalanya. Yang kemudian masuk kedalam kamar tuannya untuk membersihkan kekacauan yang di lakukan oleh fredrico pagi tadi.


__ADS_2