
"Selamat pagi" ucap azzlea pada pelayan yang dilewatinya.
Pelayan pun menundukkan kepalanya penuh hormat pada azzlea. Azzlea hanya tersenyum tipis. Tak pernah dirinya diperlakukan sehormat ini, bahkan saat dikastil pun pelayannya tak pernah memperlakukannya sehormat ini. Seolah ada rasa takut padanya. Karena saat dikastil mereka ingin memperlakukan pelayan layaknya teman.
Azzlea berjalan menuju dapur, disana Kepala koki bersama koki yang lain tengah melakukan kegiatannya masing-masing.
Pelayan yang ada didapur pun menundukkan kepalanya diikuti koki yang lain yang juga ikut menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Apa yang bisa saya bantu nona?" tanya kepala pelayan yang melihat Azzlea.
Salah satu pelayan menarik salah satu kursi agar azzlea duduk disana.
"Ah.. Tidak. Kalian sedang membuat apa?" tanya azzlea ingin tahu.
Azzlea ingin bersikap akrab pada para pelayan karena nantinya dia akan lama berada disini.
Dengan hormat pelayan menjawab pertanyaan azzlea.
"Kami sedang mempersiapkan sarapan untuk nona dan juga pangeran"
"Maaf sebelumnya nona kalau saya lancang. Apakah nona memiliki alergi tertentu terhadap makanan seperti makanan laut atau yang lainnya"
"Maafkan kelancangan saya nona jika saya bertanya seperti ini. Kami hanya takut kami salah mempersiapkan makanan yang dapat membahayakan keselamatan anda" ucap kepala koki penuh sopan santun dengan menundukkan kepalanya dalam dalam.
Azzlea tersenyum melihat tingkah pelayannya.
"Apa aku terlihat menakutkan?" tanya Azzlea tanpa menjawab pertanyaan pelayan sebelumnya.
Serempak seluruh pelayan menggelengkan kepalanya dan masih menundukkan kepalanya bahkan sekarang lebih dalam. Bahkan koki yang tengah mempersiapkan makanan ikut berdiri dan menundukkan kepalanya saat melihat azzlea datang serta menghentikan aktivitas mereka.
"Lalu kenapa kalian menundukkan kepala?" tanya Azzlea lagi.
Pelayan masih diam membisu dengan kepala menunduk.
"Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku juga ingin ikut memasak bersama kalian" ucap azzlea bangkit dari duduknya.
"Jangan nona. Itu sudah menjadi pekerjaan kami. Biarkan kami yang melakukannya" cegah salah seorang pelayan.
Azzlea mengembuskan nafasnya.
"Kenapa? Apa kalian takut kalian akan dimasak oleh Fredrico tuan kalian yang kejam itu?" tanya Azzlea. Mereka lagi-lagi diam membisu tanpa jawaban.
"Mulai saat ini, ini adalah perintah. Aku ingin memasak sesuka hatiku"
"Dan kalian... Tidak perlu setakut dan sehormat itu padaku. Karena aku tidak akan memakan kalian semua" ucap Azzlea seraya terkekeh.
Namun para pelayan tetap diam ditempatnya dan masih menunduk.
"Apa lagi.. Lanjutkan pekerjaan kalian. Jangan pedulikan aku" titah Azzlea membuat gerakan tangan memerintahkan semuanya bekerja.
__ADS_1
Azzlea berjalan ke lemari pendingin. Disana dia melihat potongan daging yang masih merah dan hangat.
Azzlea mengeluarkan potongan daging itu. Meskipun para pelayan mencegah azzlea tetap saja azzlea tetap pada pendiriannya.
"Kalian membuat menu apa?" tanya azzlea menghampiri salah satu pelayan.
Pelayan menjawab dengan hati hati pertanyaan azzlea. Ternyata tuannya tidak suka makanan berat saat sarapan. Mereka akan membuat bubur dan beberapa makanan yang tak berat untuk sarapan pagi. Sedangkan azzlea selalu makan berat dipagi hari. Sangat berbanding terbalik.
"Biarkan kami saja nona" pelayan mengambil daging ditangan Azzlea.
"Tidak.. Aku akan masak untukku. Kalian lanjutkan saja memasaknya" kekeh Azzlea memerintah.
"Ah. Kalau begitu masakkan aku nasi putih untukku sarapan nanti, dan masakkan aku beberapa sayuran hijau. Yang ini aku akan memasaknya sendiri" ucap Azzlea akhirnya memberi solusi.
"Ini perintah" tegas Azzlea lagi.
Pelayan dengan sigap menyiapkan apa yang diminta oleh Azzlea.
"Jadi.. Bagaimana dengan sarapan atau makan kalian biasanya?" Azzlea mencoba berbaur.
Tangannya dengan lincah memakai pisau dapur untuk memotong daging.
"Kami akan makan seusai pangeran makan nona" jawabnya.
Azzlea terkesiap. Masakan sebanyak semalam hanya untuk makan mereka berdua sedangkan mereka makan sisa dari pangeran. Azzlea menggelengkan kepalanya.
Azzlea berkutat dengan masakannya yang sewajan besar. Azzlea sengaja memasak oseng daging kesukaannya. Terlebih kali ini daging kambing muda yang dagingnya masih sangat lembut.
Setelah memasak selama satu jam lamanya akhirnya masakan Azzlea selesai dibuat. Membuat siapa saja yang melihatnya serta mencium baunya menelan air liurnya. Azzlea tersenyum puas.
Azzlea menyerahkan sisanya pada pelayan sementara azzlea membersihkan dirinya. Azzlea naik kekamarnya dan masuk kekamar mandi. Frerico masih terlelap dalam tidurnya. Tak butuh waktu lama Azzlea selesai membersihkan diri serta berdandan sekadarnya.
"Bangun Fred" azzlea menggoncang tubuh Fredrico yang masih terlelap.
"Bangun fredrico! wahai pangeran tidur. Saatnya sarapan" Azzlea semakin kencang menggoyangkan tubuh Fredrico.
Fredrico menggeliat. Perlahan membuka matanya yang masih setengah sadar.
"Mengapa kamu disini?" tanya Fredrico dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Apa maksudmu" Azzlea mengerutkan keningnya.
"Mengapa kamu dikamarku?" Fredrico masih bertanya.
Cletak
Azzlea menjitak dahi Fredrico dengan keras membuat nya terkesiap kaget.
"Tentu saja aku dikamarmu. Aku istrimu sekarang. Cepat bangun dan bersihkan badanmu lalu sarapan" titah Azzlea.
__ADS_1
Azzlea keluar dari kamar meninggalkan Fredrico yang masih belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya.
Azzlea berjalan menuruni anak tangga. Melangkahkan kakinya ke dapur. Azzlea membelalakkan matanya tak percaya dengan pemandangan didepannya.
"Ci....." panggil Azzlea.
Azzlea memanggil kepala pelayan yang entah siapa namanya. Tapi oleh pelayan lain dipanggil cici dan Azzlea mengikutinya.
Pelayan yang namanya dipanggil lari tergopoh gopoh menghampiri Azzlea. Jangan lupakan rasa hormat mereka.
"Ini mengapa semuanya disini? siapa yang akan memakannya?" ucap Azzlea tak percaya.
"Panggil yang menyiapkan semua makanan ini" ucap Azzlea tanpa menunggu pelayan itu menjawab pertanyaannya.
Pelayan itu berjalan cepat menghampiri pelayan yang lainnya. Mereka berbaris lurus menghadap Azzlea dengan kepala menunduk.
"Siapa yang meminta kalian menyipakan makanan sebanyak ini dimeja makan?" ucap Azzlea.
Para pelayan menunduk tanpa berani menjawab pertanyaannya. Azzlea mengembuskan nafasnya kasar.
"Ambilkan wadah kecil untuk meletakkan makanan ini semua. Letakkan makanan yang cukup untuk dimakan oleh ku juga Fredrico. Selebihnya untuk kalian" titah Azzlea.
Para pelayan bingung dan saling pandang mendengar perintah Azzlea.
"Apa lagi..! Cepat lakukan" titah Azzlea kesal.
Azzlea benar-benar tak habis fikir dengan jalan fikiran pelayannya. Para pelayan dengan bingung melakukan apa yang diminta oleh Azzlea. Azzlea duduk ditempatnya.
Tak berapa lama Fredrico datang menuruni anak tangga berjalan menghampiri Azzlea yang sudah duduk di kursinya dan ikut mendudukkan tubuhnya di samping Azzlea. Tempat yang biasa didudukinya.
"Apa ini sudah siang?!" ucap fredrico memandang kearah luar.
"Memang ini sudah siang. Matahari bahkan sudah tinggi. Kamu saja yang bangun kurang pagi. Aku kelaparan kau tahu" ucap Azzlea.
"Maksud ku. Apa ini sudah saatnya makan siang?" tanya Fredrico.
"Apa maksud mu! Ini belum saat nya makan siang!? Kita akan sarapan ada masalah?" tanya Azzlea menyendokkan nasi kedalam piringnya.
"Lalu mengapa ada makanan berat seperti ini hanya untuk sarapan?" protes Fredrico.
"Ini untukku. Kau hanya makan bubur kan untuk sarapan. Jadi ini semua untukku" jawab Azzlea memakan makanannya.
"Siapa yang menyuruhmu makan makanan berat dipagi hari?" Fredrico bertanya dengan nada kesal.
"Mengapa kesal seperti itu. Aku tidak bisa makan bubur dipagi hari. Kalau kau tidak suka tak perlu melihatku. Makan makananmu sendiri" kesal Azzlea.
"Jangan mengatur cara makanku untuk sarapan. Aku tidak terbiasa makan sepertimu" ejek Azzlea.
"Kau" fredrico kebingungan ingin menjawab apa. Akhirnya diapun memakan makanan yang ada didepannya. Keduanya makan dalam diam.
__ADS_1