
Malam semakin gelap, sunyi senyap tanpa suara. Bahkan jangkrik pun seolah tak berani mengeluarkan suaranya. Cahaya yang awal mulanya merah kini kembali terang benerang seperti sedia kala menampilkan bulan bulat menyinari seluruh alam.
Sinar bulan seolah membuat bulu putih bersih serigala baru nampak bercahaya menyilaukan mata. Fredrico?! Kekuatannya berangsur kembali seiring menghilangnya gerhana bulan. Perlahan Fredrico membuka matanya memulihkan tenaganya yang hilang karena pertarungannya dengan Victor beberapa saat yang lalu.
Serigala putih itu nampak berbalik menatap Fredrico yang mulai sadar.
Grrr.. Serigala itu menggeram.
Bagaimana keadaan Victor dan kawanannya? Mereka masih tertunduk tanpa bisa mengeluarkan suaranya, suara mereka nampak terkunci sesaat setelah serigala didepan mereka mengaum dengan kerasnya hingga memekakkan telinga mereka. Anehnya lagi, auman itu seolah menitimidasi mereka semua hingga membuat mereka tunduk sampai saat ini.
Rencana mereka gagal total karena serigala baru yang tiba-tiba muncul disaat Victor hampir bisa membunuh Fredrico. Dengan begitu kekuasaan Fredrico akan jatuh ketangannya karena dialah yang bisa membunuh Fredrico.
Cahaya muncul secepat kilat, mengubah serigala putih itu menjadi seorang gadis yang cantik nan jelita dengan rambut panjang berwarna putih dengan menggunakan pakaian yang nampak sangat cantik dibuatnya. Matanya biru menyala sama seperti warna mata serigala sebelumnya. Nampak pula gadis itu memakai aksesoris dikepalanya layaknya sebuah mahkota berbentuk bulan namun seperti mutiara serupa dengan warna matanya yang biru terang.
Perlahan Gadis itu mendekat kearah Victor yang masih tertunduk berlutut bersama kawanan packnya. Gadis itu tersenyum miring menatap tajam Victor.
"Kau.." gadis itu tepat berada didepan Victor.
"Sungguh besar nyalimu membunuh kawanan yang tak berdaya"
"Kau... Merasa kalau kekuatanmu sangat besar hingga kau berusaha membunuh sahabatmu sendiri" ucap gadis itu.
"Siapa kau Brengsek" maki Victor.
__ADS_1
"Aku bukan sahabatnya" tolak Victor.
"Heh.. Tak perlu kau tahu siapa aku" smirik gadis itu.
"Dan kau" kini gadis itu berganti menatap Fredrico.
Deg..
Mata keduanya nampak bertemu, sungguh gadis itu benar-benar cantik luar biasa menurut Fredrico.
"Bukankah sangat menyiksa menjadi seorang yang pengecut" kalimat penyerangan bagi Fredrico, dia benar-benar tak ingin mendengar kalimat itu. Fredrico hanya diam membisu tanpa menjawab.
"Siapa kau" Victor mulai menggertakkan giginya, dia benci dengan kondisinya yang sekarang yang lemah tanpa bisa melakukan apa-apa karena gadis itu seolah mengunci kekuatan dalam dirinya.
"Lepaskan aku" Victor mulai memberontak.
"Kau tahu?! sudah lama sekali aku ingin menunjukkan diriku dihadapan kalian semua"
"Tapi sayang, aku harus menunjukkan wujudku dengan cara seperti ini" ujarnya lagi.
"Dan kau?" gadis itu kembali menatap Fredrico.
"Haruskah aku membantu melenyapkan sahabat lamamu ini. Ahh... Kurasa akan sangat menyenangkan jika aku membantumu membalaskan apa yang selama ini dilakukannya padamu" gadis itu mulai menawarkan bantuannya. Fredrico diam tak bersuara.
__ADS_1
"Diam artinya iya" Gadis itu mulai memanasi otak Fredrico. Tak ada respon sama sekali dari gadis itu. Fredrico hanya menatap gadis didepannya dengan menyeluruh tanpa berkedip, dari ujung kaki hingga kepalanya.
"Baik, akan kulakukan dengan senang hati" gadis itu mulai mendekat kearah victor. kali ini Victor sangat ketakutan dibuatnya, dia ingin lari ataupun menangkis jikalau gadis itu benar-benar membunuhnya, tapi apalah daya jika dirinya bergerakpun tak mampu dilakukannya.
"BERHENTI" Fredrico tiba-tiba berteriak.
"Lepaskan dia" pinta Fredrico.
"Cih.. Aku tak perlu dikasihani pria brengsek sepertimu" Victor berdecih tak suka.
"Tolong lepaskan" pinta Fredrico lagi. Sekuat tenaga Fredrico berusaha bangkit dan mendekat kearah gadis itu.
"BERLUTUT" gadis itu nampak murka saat Fredrico berusaha mendekatinya, Suaranya menggema memenuhi hutan belantara yang lebat ini. Burung-burung beterbangan karena ketakutan dengan suara marah gadis itu.
Dugh..
Kaki Fredrico seolah lemas tak bertulang, dengan sekuat tenaga dia mulai bangkit dan berjalan mendekati gadis yang semakin marah padanya.
Grep
Fredrico meraih tubuh mungil gadis itu kedalam pelukannya. Kakinya kembali lemas saat gadis didalam rengkuhannya mulai marah karena ulahnya.
"Aku mohon lepaskan" pinta Fredrico penuh pengharapan.
__ADS_1