
Deburan air terjun mengalun pelan di indra pendengaran Azzlea. Angin yang berhembus menyejukkan hati dan fikirannya yang tengah gundah dan gulana. Azzlea terduduk diam dibebatuan sembari kaki yang terus direndamnya seolah enggan untuk beranjak dari tempatnya. Azzlea tak peduli sudah berapa lama dirinya berada ditempat ini.
Akan sangat disayangkan jika dia pergi begitu saja tanpa menikmati pemandangan yang sudah ada didepan matanya saat ini. Suara cicitan burung seolah menemani tempat yang sunyi ini. Alam bawah sadar Azzlea menerawang jauh kedalam sana. Azzlea masih saja terdiam sembari menyipratkan air yang jatuh melewati bebetuan yang tengah didudukinya.
Panggilan Milly yang sudah berkali-kali meminta Azzlea untuk segera meninggalkan air sama sekali tak diindahkan oleh Azzlea yang masih saja larut dalam fikirannya sendiri. Sesekali Azzlea tersenyum, bahkan kadang kala Azzlea tertawa dengan kerasnya hingga membuat matanya menghilang karena tawa yang dilakukannya. Milly selalu senantiasa mengamati Azzlea dari kejauhan karena memang Azzlea sendirilah yang tak ingin diganggu oleh Milly.
Azzlea beralasan bahwa dirinya ingin menikmati kehidupan alam yang sangat indah ini. Dia bahkan beralasan jika didunianya tak akan ada tempat yang sangat indah seperti ini. Bahkan jikapun ada akan sangat berbahaya untuknya, sebab itu lah Azzlea ingin menikmati keindahan yang sangat laur biasa ini sedikit lebih lama.
__ADS_1
Mata Milly seolah tak pernah lepas memandang Azzlea dari kejauhan. Tatapan matanya mengunci Azzlea kedalam pandangannya yang sangat tajam. Keindahan yang lagi-lagi ditemuinya dalam wujud Azzlea. Sekali lagi Milly seolah mendapatkan kasih sayang dari seorang werewolf yang nantinya akan dijaga olehnya.
Perlahan Azzlea meninggalkan batu yang didudukinya dan berjalan menuju kearah Milly. Saat itu pula Milly masih tak mengalihkan pandangannya kepada Azzlea yang kini berjalan semakin dekat dengannya. Terlihat samar-samar Azzlea melambaikan tangannya sesaat setelah dirinya melihat sosok Milly yang berada tak jauh dari tempatnya.
Azzlea semakin mempercepat langkah kakinya sembari tersenyum dengan penuh ketulusan kearah Milly. Azzlea setengah berlari menghampiri Milly dan sosok Azzlea semakin dekat dengannya. "Ayo kita kembali." ujar Azzlea dengan senyum terbaiknya.
"Apa kau yakin. Kau sudah selesai dengan kekagumanmu dengan tempat ini?" tanya Milly meyakinkan keinginan Azzlea.
__ADS_1
"Merunduklah. Agar aku bisa menaiki punggungmu." ujar Azzlea.
Milly menundukkan tubuhnya yang dua kali lebih besar dari pada Azzlea. Bulu putih yang lebat menyentuh tanah saat dirinya menundukkan tubuhnya supaya Azzlea yang bertubuh mungil darinya bisa leluasa menaiki punggungnya.
"Bulumu sangat halus dan lembut. Hangat sekali." puji Azzlea sembari memeluk erat tubuh Milly mencari posisi yang nyaman untuknya.
Perlahan Azzlea membaringkan kepalanya dipunggung Milly yang tengah membawanya. "Jangan jatuhkan aku Milly. Aku ingin istirahat sebentar saja." ujar Azzlea lirih.
__ADS_1
Milly sedikit heran karena Azzlea yang awal mulanya sangat bersemangat mendadak sangat tak bertenaga. Milly melajukan langkah kakinya lebih pelan, bahkan saat ini Milly hanya berjalan santai seraya membawa Azzlea diatas punggungnya.
Dalam sekejap itulah Azzlea tertidur dengan pulasnya bak seorang bayi yan baru saja dilahirkan. Azzlea begitu terlena dengan bulu lembut yang dimiliki oleh Milly hingga membuatnya seketika terlelap bak dirinya berada diranjang yang sangat empuk dan juga hangat.