Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 33 Alpha


__ADS_3

Sedari pagi kerajaan begitu ramai, para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ribuan guards dari kastil beta maupun milik fredrico sendiri berbaris rapi berjaga didepan kerajaan.


Rakyat Vredo berlomba dengan penampilan terbaik mereka. Bukan tanpa alasan, karena hari ini hari dimana Alpha dan Luna baru akan segera naik tahta. Namun bukan hanya itu saja, hari ini pula tepat dimana sang Alpha baru berulang tahun yang ke dua puluh lima. Tentu saja seluruh rakyat Vredo bersuka cita menyambut hal ini.


Hari ini tak hanya rakyat vredo saja yang hadir, namun seluruh Alpha, baik dari Alpha bagian timur, barat, utara maupun selatan pun diundang untuk menghadiri acara yang sangat sakral ini, Alpha yang hadir berlomba-lomba dengan hadiah besar-besaran yang mereka bawa sebagai hadiah ulang tahun sang calon Alpha. Tak lupa Alpha membawa serta sang Luna untuk menghadiri acara hari ini.


Disebuah ruangan bernuansa putih, seorang wanita tengah duduk didepan cermin, rambutnya masih terikat berantakan dengan bandana yang menampilkan seluruh wajahnya tanpa ada rambut yang menutupinya. Olesan bedak mulai menyapu diseluruh wajah cantiknya. Wanita itu memejamkan matanya menerima apa yang akan dilakukan oleh para perias dengan wajahnya. Siapa lagi kalau bukan azzlea, pemeran utama wanita hari ini.


Entah apa saja yang disapukan kewajahnya azzlea tak mau tahu, yang pasti wajahnya tak akan dibuat hancur karena warna-warna yang mereka gunakan bukan.


Azzlea mengembuskan nafasnya kasar, pelayan yang meriasnya tersenyum kecil melihat tingkah calon Lunanya tersebut.


"Apa yang membuat anda terus menerus mengembuskan nafas anda Luna?" tanya salah seorang perias senior.


"Mengapa memanggilku Luna, aku belum menjadi Luna kalian saat ini" protes azzlea tak suka.


"Bagaimanapun juga, anda akan menjadi seorang Luna sebentar lagi" sanggahnya membenarkan ucapannya.


"Rasanya aku tak percaya sama sekali dengan hari ini. Aku tak percaya kalau hari ini akan segera tiba, dimana aku menjadi seorang Luna" ungkap azzlea.


"Apa maksud anda Luna?" tanya pelayan itu tak mengerti.


"Tidak, lanjutkan saja" ujar azzlea lebih memilih diam.


Para perias melanjutkan pekerjaannya merias wajah azzlea yang sekarang nampak cantik. Beralih kini rambut azzlea yang dibuat entah bagaimana, azzlea merasa sedikit tak nyaman dengan semua yang melekat ditubuhnya karena dirinya sendiri memang tak pernah berias seperti ini.


Diruangan lain, pemeran utama priapun tengah bersiap, pelayan dengan sigap membantu apa yang diperlukan oleh tuannya. Para pelayan membantu fredrico memakaikan baju kebesaran calon Alpha. Aura dingin menyelimuti ruangan itu, pandangannya menatap jauh kedepan. Para pelayan dengan hati-hati membantu fredrico da jangan sampai ada kesalahan sedikitpun fikir mereka. Setelah beberapa menit kemudian fredrico pun siap.


Tak lupa juga para ibu-ibupun ikut bersiap diri. Bunda Zenia yang merupakan Luna terdahulu juga ikut berias diri dibantu oleh para pelayan

__ADS_1


"Ku harap semuanya akan berjalan dengan lancar" gumam bunda zenia.


"Apa yang kamu khawatirkan hm" ucap Alpha Parvis mendekati sang istri.


"Entahlah,, mungkin karena putra kita akan menggantikan kamu memimpin kerajaan bersama istrinya"


"Aku hanya mengkhawatirkan hal itu"


"Memangnya apa yang akan terjadi, toh itu yang akan menjadi tanggung jawabnya, kita hanya bisa mendoakan untuk mereka berdua" ucap Alpha Parvis.


"Kamu benar Alpha,,, mungkin aku hanya takut putra kita tak sanggup membawa beban itu" ucap Luna Zenia.


"Aku yakin dia akan bertanggung jawab atas apa yang dimilikinya" Alpha Parvis meyakinkan, Luna zenia mengangguk mengerti.


Luna kini telah selesai berias dan mengenakan gaunnya dibantu oleh pelayan, sedangkan Alpha parvis sendiri telah bersiap dari satu jam yang lalu. Alpha parvis enggan meninggalkan kamar dan memilih menunggu sang istri hingga selesai berias. Para pelayan pamit undur diri karena tugasnya telah selesai.


Perlahan Alpha parvis mendekati sang istri. Pria paruh baya itu nampak tersenyum seraya menatap intens kecantikan sang istri. Direngkuhnya sang istri dengan penuh kehangatan.


"Terimakasih, tetapi apa biasanya aku tak cantik dimata Alpha?" tanya Luna.


Alpha parvis nampak mengerutkan keningnya tak suka.


"Mengapa memanggilku Alpha hm?! hanya kita berdua disini" ucap Alpha Parvis penuh penolakan.


"Aku hanya ingin memanggil suamiku Alpha apa itu salah. Dan hari ini adalah hari dimana anda menjadi seorang Alpha untuk terakhir kalinya"


"Setelah keluar dari kamar ini, dan kita masuk lagi anda sudah bukan lagi seorang Alpha" ucap Luna.


"Dikamar ini, tak ada Alpha maupun Luna. Disini hanya ada pria bernama Parvis dan juga wanita yang dicintainya Zenia. Tak akan berubah meskipun setelah masuk lagi kedalam kamar ini jabatan sebagai Alpha sudah tak lagi melekat dalam diriku. Bukan begitu?" ucap Alpha.

__ADS_1


"Ya... Harusnya aku senang karena beban dipundakku saat menjadi luna dapat terangkat"


"Tapi disisi lain aku harus menyerahkan beban ini pada menantu kita. Apa gadis itu bisa menerima beban ini?" ucap Luna dengan tatapan sendu.


"Apa karena gadis itu tak memiliki kemampuan seperti kita? itu yang membuatmu khawatir?" tanya sang suami.


Luna Zenia menganggukkan kepalanya, tatapannya nampak kosong namun sedetik kemudian dia menguasai dirinya.


"Ada Fredrico yang akan menjaganya" sambung Alpha Parvis seraya mengajak sang istri keluar dari kamarnya.


"Apa kamu yakin kalau Fredrico akan sepenuhnya mencintai azzlea?" tanya Luna Zenia.


"Aku yakin itu"


"Yang harus kita fikirkan adalah tentang masa tua kita. Entah akan sampai diusia berapa umur yang akan kita miliki kedepannya"


"Bahagia bersama denganmu, juga melihat putra-putra kita bahagia bersama dengan pasangannya"


"Kamu benar... Aku terlalu mengkhawatirkan banyak hal sampai aku lupa tentang kebahagiaanku sendiri. Terimakasih" ucap Luna Zenia tersenyum.


"Itu baru benar... Kita tak perlu khawatir tentang hal itu.. Dan mulai saat ini kita harus bersiap diri bermain dengan penerus kerajaan vredo"


Luna zenia menghentikan langkahnya, sang suamipun ikut menghentikan langkahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Benarkah hal itu?!, Jadi putra kita telah menandai azzlea?" tanya Luna Zenia.


"Kurasa begitu" keduanya kembali melanjutkan langkahnya, senyum terukir dibibir merah sang istri.


"Syukurlah,,, setidaknya kali ini aku benar-benar lega" ucap Luna zenia.

__ADS_1


Keduanya keluar menuju aula dimana upacara akan dilaksanakan, terlihat banyak sekali tamu yang datang. Bahkan rakyat vredopun berbondong-bondong telah datang kekerajaan. Tak lupa pula Alpha-Alpha yang diundangnya satu per satu datang dengan upetinya, melihat kedatangan Alpha parvis sontak saja mendekati hanya sekedar bertegur sapa dengannya.


Berbagai kalangan Alpha datang, baik Alpha yang sudah berumur, seusianya atau bahkan seusia Fredrico atau mungkin usianya lebih muda lagi. Yang pasti Alpha Parvis menyambut hangat kedatangan mereka.


__ADS_2