
Frisca berlarian tak tentu arah, dirinya tak tahu arah mana yang akan ditujunya. Entah saat ini dia berada di wilayah utara, timur, barat atau selatan kan dirinya sama sekali tak tahu menahu.
Dengan kecepatan kilat Frisca menembus hutan belantara, meninggalkan wilayah Vredo dan melewati berbagai wilayah lainnya. Entah sudah berapa puluh atau bahkan berapa ratus kilo meter yang ditempuhnya. Yang jelas dia hanya memiliki waktu satu jam untuk pergi sejauh mungkin dari wilayah Vredo. Tidak sejauh ini pun tak cukup untuknya berlari menghindari Azzlea.
"Wanita hamil itu tidak akan mampu menyusulku hingga kemari bukan?" tanya Frisca pada dirinya sendiri.
"Tidak, seharusnya aku tidak perlu bersusah payah bersembunyi dan beralari sejauh ini. Aku yakin wanita itu tak akan mungkin membunuhku"
"Dia hanya wanita lemah, tak mungkin dia bisa menemukanku"
"Dia.... Dia hanya menggertakku bukan? Dia tidak mungkin menemukanku sejauh ini bukan"
"Tidak... Tidak mungkin. Kau bodoh Frisca, kau bodoh"
Laju kecepatan larinya mulai melambat, kini Frisca benar-benar kelelahan dibuatnya. Kakinya kini sudah tak terbentuk lagi, ranting pohon tak dipedulikannya saat dirinya tengah berlari hingga membuatnya berdarah.
Frisca menghentikan langkah kakinya dan kembali mengubah wujud asalnya menjadi manusia biasa. Ditengah hutan belantara yang gelap Frisca bersandar dibawah pohon besar dan meringkuk disana. Frisca melipat kedua kakinya meringkuk ketakutan.
"Wanita itu mengetahui semua rencanaku"
"Wanita itu berpura-pura baik padaku dan berpura-pura menerimaku berada ditengah-tengah mereka"
"Wanita sialan" gumam Frisca dalam ketakutannya.
Frisca menarik mundur bagaimana mudahnya dia masuk kedalam kastil hanya bermodalkan kehilangan kedua orang tuanya. Kini dia baru menyadari bahwa Azzlea hanya berpura-pura padanya.
"Pantas saja dia selalu mempercayai apa yang kuucapkan padanya"
"Pantas saja wanita itu selalu membelaku walaupun dengan keras Fredrico, Axelle bahkan Victor ingin mengusirku dari dalam istana"
"Pantas saja dia bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun diantara mereka berdua"
"Dia.... Dia mengetahui semua rencanaku"
"Dia mengetahui rencanaku" guman Frisca meringkuk kedua kakinya.
__ADS_1
"Rencana yang telah kususun dengan matang"
"Padahal sebentar lagi tujuanku akan tercapai. Melanyapkanmu adalah jalan satu-satunya agar aku bisa menggantikan posisimu"
"Padahal sebentar lagi aku bisa bersanding dengan mu Fred"
"Padahal hanya satu langkah lagi aku bisa memilikimu" gumam Frisca merancau tak karuan.
Frisca tertawa dengan kencangnya mengingat betapa bodohnya dia menganggap semuanya berjalan sesuai rencananya. Namun ternyata kini dia sadar bahwa selama ini dia hanya dipermainkan saja.
Azzlea tersenyum dengan puasnya, tak menyangka reaksi yang diberikan oleh Frisca saat dirinya ternyata mengetahui apa yang direncanakannya sejak awal kehadirannya kemari.
"Berhentilah tersenyum seperti itu, kau membuatku takut" keluh Victor yang sejak tadi tak beranjak sama sekali dari duduknya.
"Benarkah,, apakah hanya tersenyum membuatmu begitu ketakutan?" tanya Azzlea.
"Tentu saja.. Kau tersenyum seperti orang bodoh. Sekarang aku baru sadar mengapa Fredrico begitu mencintaimu melebihi hidupnya sendiri"
"Sedangkan kini aku sadar bahwa kau begitu menakutkan, bahkan sekarang kau bersikap seperti orang gila" ujar Victor lagi.
Azzlea bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Victor. Azzlea dengan santainya berjalan menuju gerbang utama namun sebelum itu Victor terlebih dulu menghentikan langkah Azzlea agar tak keluar dari kastil mengingat hari semakin larut.
"Apa yang kau lakukan Azzlea. Kau gila?" bentak Victor kehabisan akal.
"Aku tak gila Victor, lepaskan tanganmu" ujar Azzlea dengan santainya.
Azzlea menghempaskan tangan Victor yang bertengger dilengannya dan tersenyum simpul kearahnya.
"Kau ingin pergi kemana, biarkan aku mengantarkan mu" kini Victor mulai kehabisan kesabaran.
Azzlea kembali tersenyum dan berjalan meninggalkan Victor namun sedetik kemudian Azzlea berbalik menghadap Victor.
"Kau ingat apa yang kuucapkan beberapa saat yang lalu?"
"Ikan itu sudah memakan umpanku"
__ADS_1
"Bukankah saatnya untuk menangkapnya" ujar Azzlea yang kemudia berubah menjadi werewolf yang putih bersih dengan keindahan bulunya. Serta tubuhnya yang gagah membuat mulut Victor menganga dengan ketidak percayannya.
Werewolf Azzlea berlari menembus hutan belantara dan berlari menjauh dari kastil. Victor begitu terkejut saat tak lagi melihat keberadaan Azzlea dari jangkauan matanya. Victor tak mampu lagi berfikir jernih. Dirinya ikut mengubah wujudnya menjadi werewolf guna menyusul kepergian Azzlea. Yang ada dibenak Victor adalah segera menemukan keberadaan Azzlea.
"Sial.. Wanita itu sungguh dipenuhi dengan teka-teki" kesal Victor.
Satu hal yang ada dibenak Victor. Dirinya harus segera menemukan keberadaan Azzlea. Saat ini Fredrico tak ada di kastil, dia yakin Fredrico akan membunuh para Guardsnya saat mengetahui bahwa azzlea justru pergi meninggalkan Kastil tanpa ada seorang pun yang mendampinginya.
Terlebih lagi dalam lubuk hati Victor yang paling dalam kini dia mengkhawatirkan keadaan Azzlea yang dalam keadaan perut sebesar itu, nalurinya sebagai pria seolah tergugah melihat bagaimana jika nantinya akan terjadi sesuatu pada Azzlea jika dirinya dibiarkan begitu saja.
"Sial" umpat Victor. Sudah berapa lama dirinya berlari mengejar Azzlea, namun sayang dirinya sama sekali tak menemukan keberadaan Azzlea dalam jangkuan matanya.
Victor segera menambah laju kecepatannya berharap dirinya segera menemukan keberadaan Azzlea dimalam yang semakin gelap ini.
Disisi lain Fredrico baru saja pulang bersama dengan guards yang bersama dengannya, keningnya berkerut karena para maid berada diluar dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Fredrico segera menemui Leyna khawatir jika terjadi sesuatu dengan sang istri.
"Ada apa ini. Mengapa kalian berada disini?" Suara bariton Fredrico memecahkan keheningan yang ada.
Para maid menundukkan kepalanya memberikan salam kepada Fredrico.
"Dimana Luna?" tanya Fredrico.
"Maafkan kami Alpha. Luna tiba-tiba pergi meninggalkan Kastil tanpa pengawasan"
"Tuan Victor sudah berusaha mencegah kepergian Luna, namun Luna bersikeras untuk pergi. Tuan Victor saat ini tengah menyusul Luna kedalam hutan Alpha" jelas Leyna.
"Dimana Frisca?" tanya Fredrico yang penasaran karena tak menemukan keberadaan Frisca diatara para maidnya.
"Maid Frisca sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Saya tidak tahu apa yang Luna juga Frisca bicarakan, namun beberapa saat yang lalu Frisca berlari kearah hutan seolah dirinya ketakutan Alpha" jelas Leyna menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.
Fredrico segera pergi meninggalkan Kastil disusul guards pilihannya yang juga berlari dibelakang Fredrico. Secepat kilat Fredrico berlari menembus hutan belantara, tak tahu arah yang akan ditujunya, dirinya hanya mengandalkan insting dan nalurinya.
Victor yang juga kuwalahan mencari keberadaan Azzlea memanggil beberapa kawanan setianya, puluhan serigala menghampiri Victor guna mencari keberadaan Azzlea. Begitu pula dengan Fredrico yang juga membawa puluhan guards kepercayaannya untuk mencari keberadaan sang istri.
"Get it" senyum keji tercipta dibibir manisnya.
__ADS_1