
Bugh
Sekuat tenaga azzlea memukul dada bidang milik fredrico membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.
Secara reflek fredrico melepaskan Pangutannya dibibir azzlea.
Dengan membabi buta azzlea memukuli tubuh besar fredrico dengan seluruh kekuatannya. Fredrico tanpa bisa mengelak pukulan azzlea yang tiba-tiba Meluncur ke tubuhnya.
"Mati kamu hari ini" kesal azzlea seraya memukuli fredrico dengan tatapan membunuh.
Fredrico berhasil mencekal tangan mungil azzlea yang terus menerus memukulinya tanpa henti.
"Kau benar-benar akan membunuhku dengan tangan mungil ini"
"Memang itu yang ku mau. Membunuhmu" seringai azzlea.
"Lepaskan tanganku" pinta azzlea marah.
Fredrico melepaskan cakalan ditangan azzlea. Namun lagi-lagi azzlea memukulinya dengan membabi buta. Tak tahan dengan pukulan azzlea fredrico lebih memilih menghindar serta berteleportasi meninggalkan azzlea yang tengah marah.
"Dimana kamu fred. Aku belum puas memukuli mu" teriak azzlea.
Azzlea berlari kekamar mandi, ke ruang ganti namun nihil, fredrico tidak di temukannya. Azzlea berjalan keluar dari kamarnya. Ambisinya begitu kuat untuk memukuli fredrico. Setidaknya dia bisa mematahkan salah satu tulangnya.
Azzlea berjalan berkeliling kastil mencari keberadaan fredrico yang telah berpindah tempat entah kemana. Emosinya masih memuncak saat mengingat pria itu lagi-lagi berani mencium bibirnya.
"Apa kau melihat fredrico?" tanya azzlea pada salah satu pelayan yang ditemuinya.
"Maaf nona. Saya sempat melihat pangeran berada di ruang tengah" jawab pelayan itu sopan.
"Baiklah"
Azzlea berjalan meninggalkan pelayan itu. Benar saja fredrico dengan santainya duduk manis di ruang tengah sambil sesekali meminum teh di depannya.
"Aku susah payah mencarinya tapi dia justru duduk manis disini" gerutu Azzlea.
Azzlea berjalan perlahan mendekati fredrico. Sepertinya fredrico sama sekali tak menyadari keberadaan azzlea di belakangnya.
Bugh
Azzlea memukul kepala bagian belakang fredrico dengan bantal yang dibawanya.
Bugh bugh bugh
Berkali-kali azzlea melayangkan pukulan di tubuh fredrico. Para pelayan yang melihat keduanya hanya mampu menjadi penonton tanpa mau membantu atau melerai salah satunya.
"Hentikan azzle. Atau aku akan membunuhmu" gertak fredrico berusaha menepis pukulan azzlea.
"Coba saja kalau bisa. Apa kau akan membunuh istrimu sendiri ha"
"Rasakan ini"
Bugh bugh bugh
__ADS_1
"Apa kau kira aku tak bisa membunuh mu juga" ucap fredrico.
"Tidak... Kau tak akan mungkin membunuh ku" sinis azzlea.
"Bawa pergi dia dari hadapanku" pinta fredrico pada pelayan yang melihat keduanya.
"Kalau kalian berani membawaku akan aku pastikan nasib kalian sama dengannya" tolak azzlea.
Kedua pelayan hanya tersenyum simpul melihat keduanya. Bagi mereka apa yang tuannya lakukan adalah hal romantis yang mereka lihat. Mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan kedua tuannya tersebut.
"Ku perintahkan kau berhenti sekarang juga" teriak fredrico meringis kesakitan.
"Tidak dan tidak akan pernah" tolak azzlea.
Kini azzlea sudah berada di atas tubuh fredrico, sedangkan keduanya berada di sofa ruang tengah.
"Turun dari atas ku sekarang juga. Atau aku benar-benar akan membunuhmu" ucap fredrico dengan marah.
"Tidak.. Apa kau akan benar-benar membunuh istrimu?" tanya fredrico.
"Tapi kau justru akan membunuh suamimu" teriak fredrico lagi.
"Aku tak peduli"
"Kalau aku mati. Kau bukan hanya membunuh suamimu. Tapi kau juga membunuh calon Alpha dan bahkan ayah dari anak mu" ucap fredrico.
Mendengar nama anak kepala azzlea semakin mendidih. Azzlea bahkan lebih keras memukuli fredrico karena kesal.
"Siapa yang ingin memiliki anak dengan ayah seperti mu ha.. Serigala dingin. Manusia es"
"Aku juga tak ingin anak ku seperti mu yang dingin dan sekeras batu"
Tak tahan dengan pukulan azzlea yang semakin menjadi-jadi, fredrico segera menepis bantal yang ada ditangan azzlea dan membuangnya entah kemana. Dan sedetik kemudian fredrico menangkap tubuh mungil azzlea dan membalikkannya. Kini tubuh azzlea berada dibawahnya. Kedua tangan azzlea di kuncinya dengan menggunakan satu tangan kanannya.
"Lepaskan aku" azzlea melotot.
"Kau semakin membabi buta saat aku berbicara tentang anak" seringai fredrico.
"Mungkin kita harus mencobanya agar tahu dia akan seperti siapa"
"Dasar gila. Lepaskan tanganku" azzlea memberontak.
"Akan ku lepaskan saat mencobanya"
"Mencoba apa maksudmu?"
"Mencoba memiliki anak yang mirip denganku"
Fredrico kembali mengecup bibir azzlea.
'Akhirnya aku kembali merasakan manis bibir nya' batin fredrico puas.
Kedua pelayan yang awalnya melihat kelucuan kedua tuannya merasa canggung karena tiba-tiba keduanya bermadu kasih didepan mata mereka tanpa melihat kalau pelayan tengah melihat keduanya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba lagi keduanya meninggalkan kedua pasang suami istri itu dengan wajah yang memerah karena malu.
"Lagi-lagi kau mencium ku fred" marah azzlea menghapus bekas ciuman fredrico dengan punggung tangannya.
Fredrico tersenyum jahat menatap azzlea dengan intens.
"Aku hanya menciummu. Atau kau ingin mencoba membuat seorang anak yang mirip dengan ku?" goda fredrico.
"Tidaaaaakkk" azzlea mendorong fredrico dengan seluruh tenaganya dan berlari keluar menuju taman.
Fredrico tertawa terbahak-bahak. Puas sekali membuat gadis kecil itu kesal karena ulahnya.
***
Victor duduk santai dengan segelas wine ditangannya, sambil sesekali pria itu menyesap manisnya wine yang ada ditangannya. Victor nampak berfikir keras. Sesekali dia begitu mengendalikan emosinya, terlihat urat nadinya menonjol sambil sesekali mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tak kusangka dia semakin kuat setiap harinya"
"Bahkan dia berani melumpuhkan ku secepat kilat tanpa bisa ku hindari ck"
"Bawa kemari informasi tentang istri fredrico"
"Aku mau tahu secara detail tentang gadis itu" ucap victor pada pengikutnya.
Salah satu mata-mata milik victor memberikan sebuah map yang didalamnya berisi azzlea serta keluarganya.
"Jadi.. Gadis itu anak dari seorang beta" gumam victor.
"Benar sekali tuan victor. Dia adalah anak beta dari kerajaan vredo sendiri"
"Tetapi ada yang spesial tentang gadis itu" ucap pria itu.
"Katakan" victor menjadi penasaran.
"Gadis ini tidak dapat merubah dirinya menjadi werewolf seperti sebagian besar werewolf. Terlebih lagi gadis ini merupakan werewolf murni dari kerajaan vredo"
"Tidak dapat merubah diri menjadi werewolf" victor bangun dari duduknya berjalan menuju jendela miliknya. Menatap jauh keluar tempat tinggalnya.
"Sangat menarik"
"Malang sekali nasib mu fred.. Kau harus menikahi gadis cacat"
"Wanita yang sama sekali tak dapat merubah wujudnya menjadi werewolf. Ck ck ck ck"
"Lalu apa yang harus kami lakukan pada gadis itu tuan?"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sebelum gerhana bulan muncul"
"Saat itulah kita akan membentuk rencana menyingkirkan serigala itu dan menguasai kerajaan vredo" sinis victor.
Victor melambaikan tangannya meminta pengikutnya keluar meninggalkannya.
"Tak akan pernah kau kubiarkan kau hidup tenang selagi aku masih bisa membunuhmu"
__ADS_1
"Akan kubuat kau merasakan apa yang kurasakan bertahun-tahun lamanya" victor menggertakkan giginya.