
Azzlea menggelengkan kepalanya. "Ada banyak hal yang harus kutahu tentang dirimu Milly. Aku percaya bahwa Alpha Milly benar-benar ada, tapi aku harus meyakinkan terlebih dahulu agar kau bisa ikut bersamaku." ucap Azzlea menegaskan.
Azzlea bangkit dari duduknya menuju pintu yang tadi dimasukinya. "Hanya dengan cara ini Nona bisa kembali sekarang juga. Hanya dengan membawaku bersama dengan Nona, Nona akan segera berkumpul dengan keluarga kecil Nona." ucap Milly.
Azzlea yang hendak pergi meninggalkan Milly mengehentikan langkah kakinya. Azzlea berbalik dan kembali mendekat kearah Milly. "Apa maksudmu?"
"Jika Nona ingin pergi dari tempat ini saat ini juga, Nona harus membawaku kembali bersama dengan Nona."
"Lalu... Bagaimana dengan Queen?"
"Queen akan tetap tinggal disini bersama dengan wolf yang lainnya."
"Jadi maksudmu, saat ini Queen berada disini?" tanya Azzlea. Milly menganggukkan kepalanya.
Azzlea terdiam seribu bahasa. Dirinya ingin segera pulang bertemu dengan anak juga suaminya yang pasti telah menunggunya. Namun jika dirinya pulang saat ini juga artinya dia harus meninggalkan Queen, wolf yang selalu bersamanya selama ini.
Tanpa terasa air matanya berjatuhan dipipi mulusnya. "Haruskah aku mengorbankan salah satunya."
__ADS_1
"Jika aku tak segera kembali, apakah aku akan tetap berada disini?" tanya Azzlea memastikan keraguannya. Milly kembali mengatakan 'iya' atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Azzlea.
"Apa tak ada jalan lain?" tanya Azzlea. Milly diam seribu bahasa, Azzlea menebak antara dirinya mengetahui cara lain ataukah dirinya tak ingin memberi tahu kebenarannya kepada Azzlea.
"Baiklah, jika memang hanya itu satu-satunya jalan yang bisa ku lakukan." ucap Azzlea. Milly nampak menarik kedua bibirnya penuh kepuasan.
"Tapi sebelum aku pergi dari tempat ini, bisakah kau mengantarku bertemu dengan wanita yang membawaku kemari? Juga aku ingin bertemu dengan Queen." pinta Azzlea.
"Apakah Nona akan berubah fikiran Nona setelah dipertemukan dengan mereka?" tanya Milly.
"Aku tak ingin dia membenciku jika tahu aku diam-diam membiarkannya berada ditempat ini." ujar Azzlea.
"Baiklah, aku akan mengantarmu bertemu dengan wanita yang membawamu kemari." ujar Milly. Azzlea menganggukkan kepalanya perlahan.
Keduanya keluar bersama-sama. Azzlea kembali melewati taman yang sangat indah yang tadi dilewatinya sebelum memasuki tempat dimana Milly tinggal.
"Jadi... umurmu saat ini sudah seribu tahun lebih bukan?" tanya Azzlea.
__ADS_1
"Ya Nona."
"Bagaimana kau menjalani kehidupanmu ditempat yang sangat indah ini. Ah.. Ku yakin kau tak akan pernah bosan dengan tempat ini karena menyuguhkan berbagai macam keindahan yang tak bisa dilihat oleh apapun dan dimanapun." jelas Azzlea.
"Bahkan saat pertama kali aku menginjakkan kakiku disini aku sangat menyukai tempat ini. Kurasa aku sudah sangat akrab dengan tempat ini sebelumnya." ujar Azzlea.
"Ya.. karena itulah saya membuat tempat seperti apa yang Alpha Quinza inginkan semasa dia hidup dulu."
"Kurasa dia memang Alpha yang sangat baik padamu. Terlihat kau begitu mengagungkan Quinza didepanku."
Milly kembali menggelengkan kepalanya. "Saya bisa melihat kembali bagaimana Alpha Quinza setelah kedatangan Nona kemari. Selama seribu tahun ini begitu banyak ingatan tentang Alpha hingga saya tak mampu lagi mengingat detailnya bagaimana."
"Nona Azzlea adalah duplikat bagaimana Alpha Quinza. Bagaimana Nona itulah Alpha Quinza." ujar Milly.
"Mengapa begitu?" tanya Azzlea.
"Saya tidak tahu, itulah yang dapat saya lihat dari Nona sejak Nona datang menemui saya." jelas Milly.
__ADS_1