Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Lost


__ADS_3

Sinar mentari sudah memancarkan sinar paginya. Fredrico yang tengah tertidur dengan lelapnya begitu terusik karena sinar yang menusuk langsung dimatanya. Perlahan Fredrico menggeliat merenggangkan tubuhnya yang lelah karena tidur dengan tak nyenyak beberapa hari terakhir.


"Ugh.. Lelah sekali tubuhku." keluh Fredrico. Fredrico bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju box bayi dimana buah hatinya berada. Sungguh aneh karena biasanya saat pagi menjelang dia akan mendengar tangisan bayinya yang sangat memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya.


"Begitu lelapkah tidurku sampai aku sama sekali tak mendengar suara tangismu sa..." Fredrico menghentikan ucapannya sejenak.


Tak ada tanda-tanda keberadaan buah hatinya dikeranjang bayi miliknya. Sepi.. Tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang masuk kedalam kamarnya, namun buah hatinya sama sekali tak terlihat di boxnya.


"Sial" umpat Fredrico yang teledor karena kehilangan buah hatinya. Fredrico berlari keluar berusaha mencara keberadaan buah hatinya.


"Sial!? Bagaimana aku bisa teledor meninggalkan putra ku. Tak akan pernah ku biarkan siapapun menyakiti putraku." marah Fredrico.


Fredrico berusaha mencari keberadaan putranya berlari dengan sangat tergesa-gesa. "Cari putraku, temukan dia dalam keadaan hidup." perintah Fredrico tanpa menunggu para Guards yang berjaga menjawab perintah dari Fredrico.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Fredrico berputar-putar mencari jejak buah hatinya, namun hasilnya nihil sama sekali tak ditemukannya. Fredrico merasa sangat frustasi dibuatnya, sungguh dirinya tak sanggup jika harus kehilangan buah hatinya. Darah dagingnya sendiri.


Fredrico merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menjaga buah hatinya. Bahkan bersikeras untuk menjaga istri juga anaknya sendirian tanpa bantuan kedua orang tua maupun kedua orang tua Azzlea.


"Maafkan aku sayang.. Aku... Aku tak bisa menjaga anak kita. Aku bodoh." sesal Fredrico frustasi. Fredrico membayangkan bagaimana sikap Azzlea nantinya jika Azzlea tahu bahwa buah hatinya menghilang entah kemana.


Fredrico bahkan beberapa saat yang lalu dengan membabi buta menyerang musuh yang sama sekali tak tahu apa-apa dengan masalah Fredrico. Dengan membabi buta pula Fredrico membunuh siapa saja musuh yang dicurigainya tanpa ampun sama sekali.


"AAARRRRGGGHHH." teriak Fredrico mengacak rambutnya dengan kasar.


Tak ada kabar dari para Guards yang dimintanya membantu mencari buah hatinya. Fredrico memilih kembali kerumah sakit dimana sang istri berada. "Sial, aku lagi-lagi lalai meninggalkan istriku sendirian." umpat Fredrico.


Secepat kilat Fredrico berlari menuju rumah sakit dimana Fredrico berada. Hanya dalam hitungan menit Fredrico sudah sampai dilantai dimana sang istri dirawat selama beberapa hari terakhir.

__ADS_1


"Mengapa kalian ada disini, bagaimana kalian menemukan dimana anakku?" tanya Fredrico dengan murka. Tak sabar dengan jawaban Guardsnya Fredrico berjalan masuk kedalam kamar.


"Maafkan kami Alpha. Kami tidak berani meninggalkan tempat ini." jawab salah satu guards kepercayaan Fredrico.


"Mengapa? Kalian sengaja ingin membuat anakku tak ditemukan ha?" bentak Fredrico.


"Maafkan kami Alpha. Maafkan kami." para Guards takut menghadapi kemarahan dari Fredrico.


"Sial." Fredrico meninju tembok didepannya meluapkan kemarahannya hingga tembok yang dibangun kokok sedikit retak karenanya.


"Baiklah.. Kumaafkan kalian, karena jika kalian pergi kalian meninggalkan Luna dalam bahaya." ujar Fredrico yang kemudian melenggang pergi.


"Brakk." tanpa sengaja Fredrico membuka pintu dengan sangat kerasnya saat masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Ssstttt... Pelankan suaramu Fred. Kau membuatnya menangis" ujar suara dengan lembutnya.


__ADS_2