Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Jack


__ADS_3

"Sial" sekumpulan serigala hitam seolah menghalangi langkah Victor.


Tatapan yang tajam seolah siap menerkamnya dalam satu sentakan saja. Gertakan gigi terdengar jelas ditelinga Victor hingga membuatnya sedikit was-was dan berjaga-jaga.


Victor segera berlari menjauh dari sekumpulan serigala yang nampak menaruh dendam padanya. Dengan sekuat tenaga Victor berlari menjauh, namun semakin jauh dia berlari seolah semakin banyak serigala yang mengejarnya dan bahkan serigala-serigala itu menunggunya diberbagai arah.


"Sial," umpatnya.


"Ini bukan saat yang tepat untuk ku bertemu dengan kalian brengsek." gerutu Victor dalam hatinya.


Victor kembali melajukan laju kecepatan larinya menghindari serangan dari serigala-serigala yang kelaparan seakan akan memakan dirinya.


Grrr..


Victor tercekat dan menghentikan langkahnya. Seekor serigala besar menghadangnya dengan puluhan serigala dibelakangnya.


"Sial umpat Victor"


"Grrr... Grrr" serigala-serigala itu mengerang menggertakkan giginya memandang Victor dengan tatapan membunuh.


"Rupanya kalian telah merencanakan semua ini" ujar Victor.


"Minggirlah, aku tak ada urusan dengan kalian" usir Victor.


"Tentu saja banyak sekali urusan yang harus kita selesaikan secepatnya." ujar Jack.


Grrr.. Auuu... Bugh...


Jack menyerang Victor dengan membabai buta. Victor tak ingin melawan jika hanya berurusan dengan Jack. Tapi kini Jack membawa serta pack yang ikut bersamanya. Jika dia tak melawan kemungkinan besar kelompok yang lain akan ikut menyerang dirinya, namun jika dia melawan dia pun akan mati karena secara otomatis kelompoknya akan tetap menyerang jika melihat pimpinan mereka terluka.


"Aku memang bukan lawanmu, tapi dengan seluruh bantuan yang ku bawa aku sanggup mencabikmu hingga tak tersisa" ujar Jack dalam kemarahannya.


Kini Victor sudah dibawah kuasa Jack, Victor tak mampu lagi melawan karena gerakannya dikunci oleh Jack. "Sial" umpat Victor dalam hatinya. Seberapa besarpun dia melawan, tetap saja gerakannya terkunci oleh Jack.

__ADS_1


"Bawa dia" titah Jack.


Dua pria besar membawa Victor yang sudah tak berdaya. "Brengsek. Seperti ini kah perlakuanmu pada pemimpin kalian ha?!" maki Victor.


Jack menyeringai mendengar pengakuan Victor, perlahan Jack mendekati Victor dan Bugh.. Sebuah pukulan keras mengenai perut pria yang tengah dipegangi oleh dua pria berbadan tinggi besar yang mengapit pria yang kini sudah tak berdaya lagi.


"Penghianat" smirik pria yang sejak tadi memukuli Victor yang sudah tak berdaya itu.


"Kau sudah bukan lagi pemimpin kami sejak kau pergi dari kami. Dan ini yang kau sebut dengan pemimpin ha" marahnya.


"Kau penghianat. Kau pantas mati!" ujar pria itu.


Victor hanya mampu tersenyum penuh kelegaan menatap pria yang kini menyiksa dirinya. "Bunuh saja aku jika kau memang ingin membunuhku" ujarnya.


"Rupanya kau benar-benar menyerahkan dirimu sendiri pada kami ha" ejeknya.


"Kau lupa apa yang kami lakukan hanya demi membantu ambisimu itu, Victor"


Ya.. Sejak Victor tak lagi memimpin pack hitam mereka tak lagi membuat ulah seperti sebelumnya. Bahkan yang lebih parah lagi Victor seolah melepaskan kepemimpinanya di pack hitam dan berkelana sendiri.


"Kau lupa apa tujuan kita ha?" tanya pria itu menjambak rambut Victor.


Victor tersenyum simpul kearah pria itu. "Awalnya tujuan kita semua. Tapi kau melanggar hak dan perintahku, dan mulai saat itu menjadi tujuanmu seorang"


"Cih.. Mana dendam yang dulu membara. Kini kau bagaikan seorang pecundang yang tak berani melakukan apapun" ejek nya.


"Cih... Bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu. Merebut kepemimpinanku,"


"Brengsek.. Aku memimpin mereka karena kau berhianat pada kami. Dan kau pria lemah ini membalikan fakta ha" kesal Jack seraya memberi pukulan ditubuh Victor.


"Aku pergi karena aku muak dengan kalian. Dan kau menghasut mereka untuk melakukan hal diluar kepemimpinan ku. Bukan begitu" ujar Victor dengan santai menatap Jack dengan senyum sinisnya.


Jack nampak kelabakan dan diam tak menjawab pertanyaan dari Victor. Victor tersenyum kemenangan, kini dia akhirnya tahu siapa dalang dibalik semuanya. Kepemimpinannya hanya sebagai batu loncatan bagi pria didepannya ini meraih apa yang diinginkannya.

__ADS_1


"Brengsek" maki Victor.


"Kau sudah tahu semuanya, jadi aku tak perlu berpura-pura baik padamu lagi" bisik Jack tepat ditelinga Victor.


"Brengsek" sekali lagi Victor memaki Jack yang memang berhianat padanya. Sudah sejak dulu dia mencurigai gerak gerik yang dilakukan oleh Jack, namun selama ini dia tak pernah mendapatkan bukti untuk menghancurkan pria didepannya ini. Justru saat ini dia sudah berada dibawah kukungan Jack.


Victor tersenyum simpul. Menatap Jack dengan pandangan kosong, sesaat keheningan tercipta diantara mereka hingga akhirnya Victor tertawa dengan kencangnya memenuhi seisi ruangan yang gelap itu.


"Tujuanku sudah tercapai. Kau bisa membunuhku jika kau mau"


"Toh ku akui jika aku berhianat dan meninggalkan kalian. Kalian bisa bebas melakukan apapun padaku" ujar Victor dengan pasrah namun bibirnya masih tertawa dengan lebarnya.


Victor tersenyum dengan mata tertutup. "Jika aku mati, aku bisa bertemu dengan mu Viona. Aku sangat merindukanmu" batin Victor.


Bugh.. Sekali lagi Jack memukul tubuh Victor. Jack benar-benar tak terima dengan sikap Victor yang pasrah begitu saja.


"Brengsek. Aku bisa membunuhmu sekarang juga jika aku mau."


"Tapi.... Pasti tidak akan menyenangkan jika aku membunuhmu begitu saja!" sinis Jack menyeringaikan wajahnya.


Jack memerintahkan bawahannya untuk membawa Victor ketempat dimana dia biasanya menyiksa mangsanya tanpa sepengetahuan Victor saat Victor masih menjadi pemimpin mereka. Tak disangka tempat yang disembunyikannya dengan rapat bertahun-tahun lamanya dari Victor harus digunakannya untuk menyiksa Victor sendiri.


"Nikmatilah waktu santaimu tuan Victor. Persiapkan jiwa dan mentalmu dan bersiap untuk merasakan perasaan yang sangat menyakitkan."


"Mmm... Perasaan seolah kau hidup tak berguna dan matipun tak semudah yang kau bayangkan." ujar Jack tersenyum sinis menggoda Victor. Namun Victor seolah acuh dan tak peduli sama sekali dengan bualan Jack.


Klap. Pintu ruangan tertutup dengan rapatnya. Meninggalkan Victor dengan ikatan yang kuat ditempat gelap tanpa cahaya sama sekali.


"Awasi dia jangan sampai melarikan diri dari tempat ini. Bunuh saat itu juga jika dia berniat melarikan diri, toh kedatangannya kemari memang untuk mati." Jack memperingati bawahannya yang kemudian melesat pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.


"Brengsek" maki Victor dengan mata biru menyalanya.


Sedangkan ditempat lain, Fredrico tengah menimang buah hatinya yang tengah tak ingin diam dan terus menangis tanpa henti. Berbagai rayuan Fredrico lontarkan pada buah hatinya namun sama sekali tak berarti apa-apa. Fredrico sedikit Frustasi sekaligus kasihan pada buah hatinya. Dia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya agar buah hatinya berhenti menangis dan tenang seperti sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2