
Sesekali azzlea menyesap manisnya teh didepannya. Rambutnya beterbangan kesana kemari karena hembusan angin yang sedikit kencang.
"Bunda begitu khawatir, karena sebelum pengangkatannya menjadi alpha, fredrico sama sekali tak memiliki calon pendamping"
"Berkali-kali bunda meminta agar dia mencari pendamping yang akan menggantikan bunda. Tapi dia selalu menolak permintaan bunda"
"Tapi sekarang bunda sangat lega, karena pada akhirnya kamulah yang dipilih oleh putra bunda" ucap bunda penuh kelegaan.
"Bunda harap kamu bisa membuat fredrico merubah sikapnya yang dingin itu" kini bunda zenia meraih tangan azzlea.
Azzlea hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan yang diucapkan oleh bunda zenia. Bagi azzlea merubah sikap fredrico adalah hal mustahil baginya. Bahkan azzlea sendiri tak ada niatan untuk merubah sikap dingin yang dimiliki oleh fredrico.
"Bunda juga sangat berharap setelah kalian diangkat menjadi Alpha dan Luna. Akan ada generasi Alpha selanjutnya untuk menemani bunda" bunda tersenyum sangat hangat menatap azzlea dengan penuh pengharapan.
Azzlea mengerutkan keningnya tak paham. Baru kali ini dia mendengar bunda mengatakan generasi alpha. Itu artinya kepemimpinan fredrico akan digantikan oleh alpha selanjutnya.
"Maksud nya bagaimana bunda. Apa itu artinya kepemimpinan Fredrico akan digantikan dengan alpha selanjutnya?" azzlea bertanya dengan polosnya.
Bunda tersenyum menanggapi pernyataan dari istri anaknya itu. Perlahan bunda menyentuh perut datar azzlea penuh kehangatan.
"Tentu saja kepemimpinan fredrico akan terganti. Sama seperti fredrico menggantikan ayahanda. Dan tentu saja akan digantikan oleh fredrico junior setelah dewasa nanti"
"Bunda penasaran seperti apa nantinya wajah anak kalian. Apakah akan seperti kamu, atau seperti fredrico" ucap bunda seraya mengusap lembut perut azzlea.
Muka azzlea mendadak memerah mendengar ucapan bunda zenia. Bagaimana mungkin dia memiliki anak dengan fredrico. Bahkan berencana saja dirinya tidak. Azzlea sama sekali tak berfikir sampai kesana, dia sangat sadar bagaimana perjanjian pernikahannya dengan fredrico yang hanya sementara. Setelah semuanya selesai keduanya akan bersama-sama dengan mate mereka masing-masing.
***
Dua pria gagah sama rupa namun beda usia itu berjalan beriringan menuju sebuah ruangan yang nampak luas. Fredrico masuk terlebih dahulu diikuti oleh Apha parvis dibelakangnya.
"Mengapa tubuhmu panas sekali" tanya Alpha pada fredrico saat tanpa sengaja bersentuhan dengan fredrico.
Fredrico menepis sentuhan dari ayah nya
"Tak perlu difikirkan tak lama lagi akan membaik" fredrico mulai mendudukkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya.
"Setidaknya periksalah ke dokter kerajaan. Apa perlu ku panggilkan saat ini juga" Alpha parvis ikut mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan fredrico.
"Tidak.. Aku baik-baik saja. Sangat baik"
"Aku bahkan sudah memeriksakan diriku kedokter. Mereka mengatakan kalau tubuhku sangat normal" jelas fredrico.
__ADS_1
"Benarkah? Mungkin kau harus memeriksakan dirimu kedokter yang lain atau mungkin tabib?!"
Fredrico nampak acuh tak peduli dengan saran yang diberikan padanya.
"Jadi apa yang ingin ayah bicarakan padaku. Aku yakin ayah dan bunda kemari bukan sekedar mengunjungi ku dengan azzle bukan" selidik fredrico.
Alpha mengembuskan nafasnya kasar.
"Bisakah kita bersikap santai terlebih dulu. Ayah lelah harus membahas masalah ini"
"Gerhana bulan?" tebak fredrico.
Alpha Parvis terkejut. Tebakan yang diucapkan oleh fredrico sangat tepat bahkan insting nya bertambah tajam sekarang. Alpha parvis menganggukkan kepalanya.
"Kali ini kita harus lebih berhati-hati, ayah tak yakin apa yang direncanakan oleh victor kali ini"
"Aku sudah bertemu dengannya tempo hari, kali ini kekuatan yang dimilikinya tak main-main"
"Dia bahkan lebih kuat dari sebelumnya" jelas fredrico dengan wajah serius.
"Ayah berencana membuat pertahanan yang lebih kuat lagi. Agar rakyat vredo tak menjadi korban kebiadaban victor kali ini. Cukup banyak kita kehilangan rakyat tempo dulu" Alpha menundukkan kepalanya.
"Haruskah Kita melakukan itu?"
"Karena kali ini kita tak bisa melakukan apa-apa"
Fredrico mengerutkan keningnya menatap sang ayah dengan pandangan penuh tanya.
"Karena informasi yang kita dapatkan, gerhana bulan kali ini bertepatan dengan bulan purnama"
Fredrico tersentak kaget. Karena itu tandanya tak ada waktu bagi werewolf murni mengumpulkan kekuatan dan tenaga mereka.
"Dan.... Saat gerhana bulan merah itu muncul. Kekuatan kita para werewolf murni perlahan akan menghilang. Tak ada celah untuk kita semua" alpha parvis menunduk lesu.
Tak ada yang bisa dilakukannya kali ini untuk melindungi rakyatnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Alpha parvis menyenderkan tubuhnya, dia nampak berfikir keras. Terlihat sesekali dia memijit pelipisnya.
"Akan kita fikirkan kembali setelah pengangkatan mu sebagai Alpha" Alpha parvis mengakhiri pembahasan yang belum menemukan jalan keluar bagi mereka.
__ADS_1
Fredrico mengangguk menyetujui. Dirinya sendiri bahkan tak memiliki ide apapun untuk kekhawatiran yang akan terjadi.
"Bagaimana hubunganmu dengan azzlea?" Alpha parvis mencoba mengalihkan perhatian.
Fredrico mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah... Seperti yang ayah lihat"
Mendadak tubuh Fredrico kembali panas dan tak terkendali. Dia sendiri bahkan bingung dengan kondisinya. Karena pada suatu waktu tubuhnya akan normal namun di satu waktu yang lain menjadi tak terkendali.
"Agh" fredrico terduduk dilantai menahan sakit.
"Ada apa?" panik Alpha Parvis.
Alpha parvis nampak kebingungan melihat kondisi putranya yang nampak kesakitan. Alpha parvis berusaha menuntun Fredrico agar beristirahat dikamarnya. Namun betapa terkejutnya dia saat menyentuh tubuh Fredrico yang sangat panas dan seperti tak dapat di kendalikan oleh pemiliknya sendiri.
Ya.. Dia pernah merasakan hal yang sama saat awal pernikahannya dengan sang istri. Dia merasakan hal yang dirasakan putranya saat ini.
Alpha parvis segera memanggil pelayan yang tengah bertugas. Memintanya agar menyiapkan es dan diletakkan kedalam bathup kamar mandi milik Fredrico.
Para pelayan langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Alpha, meskipun banyak sekali pertanyaan yang ada di fikiran mereka. Alpha berusaha membawa Fredrico yang lagi-lagi tak terkendali karena panas dalam tubuhnya dan langsung menceburkan tubuh fredrico kedalam es.
Hanya butuh waktu sekitar 30 menit bongkahan-bongkahan es itu mulai mencair disebabkan karena suhu tubuh fredrico yang teramat panas.
"Bagaimana, sudah lebih baik?" tanya Alpha Parvis. Fredrico mengangguk.
Dia mendudukkan tubuhnya yang berangsur normal ditepi bathup.
"Apa kau sama sekali belum pernah menyentuh istrimu itu?"
Fredrico menatap sang ayah dengan tatapan aneh.
'Apa maksud dari ucapannya kali ini'
'Apa dia tengah mengujiku bahwa azzlea benar-benar mate ku atau bukan?' batin fredrico.
"Aku tak paham apa maksud ayah kali ini!" fredrico berjalan keluar dari kamar mandi untuk mengganti bajunya yang basah.
Dia akui cara yang dilakukan oleh ayahnya benar-benar sangat tepat. Terbukti hanya dalam waktu tiga puluh menit rasa panas dalam tubuhnya menghilang begitu saja. Biasanya Fredrico akan berusaha mati-matian selama berjam-jam lamanya untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
"Kalian adalah pasangan yang sudah menikah. Kau pasti tahu apa yang kumaksud saat ini"
__ADS_1
"Jangan menyiksa dirimu sendiri.. Karena cara yang kuberikan padamu hanya bersifat sementara" ucap Alpha.