
"Selamat tinggal Azzlea. Terimakasih." lirih Queene dalam hati.
Queene berjalan menjauh dengan langkah gontai meninggalkan Azzlea dan saudara yang lainnya.
Queene membelalakan matanya sesaat setelah merasakan tubuhnya ditahan. Queene menoleh menampakkan Milly yang menahan langkah kakinya.
Milly menebarkan senyum kearah Queene. "Kemarilah sebentar saja." ajak Milly untuk ikut dengannya kembali mendekat kearah Azzlea.
Meskipun dalam keadaan bingung Queene tetap mengikuti langkah kaki Milly. Tak hanya Queene, Azzlea bahkan juga ikut heran dengan tingkah Milly, padahal sejak tadi dia hanya diam sembari mengamati.
Milly berdiri disamping Azzlea seperti sebelumnya dan tersenyum miring. "Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal padamu sebelum Azzlea kembali."
"Dan kau pasti tahu ini adalah kalimat terakhir yang akan kuucapkan padamu bukan?" ujar Milly dengan sombongnya.
"Kau tahu mengapa aku berdiri disini? Tentu saja kau tahu karena aku akan segera kembali ke bumi bersama dengan Azzlea."
"Aku mengatakan hal ini karena ini hari terakhir kita berdua. Jadi aku akan dengan senang hati mengatakannya padamu."
"Kau tahu bagaimana perasaanku saat tahu bahwa Azzlea ternyata memilihku, bukan memilihmu?" Milly mejeda ucapanya.
__ADS_1
"BOOMM." Milly membuat semuanya terkejut dengan teriakannya.
"Rasanya ada yang meledak dalam tubuhku hanya mendegar hal itu. Bahkan aku sama sekali tak bisa beristirahat karena memikirkan hal ini."
"Sangat menyenangkan karena kau akan mengalami apa yang kurasakan selama seribu tahun ini. Dan aku sangat menyukainya Queen." sinis Milly.
"Kau tahu, dalam beberapa detik lagi Azzlea akan keluar dari tempat ini. Denganku tentunya."
"Bukankah sangat menyenangkan hm. Sesuatu yang sangat kau inginkan justru dimiliki oleh orang lain." ucap Milly.
"Apa yang kau ucapkan ini Milly? Bukankah kau sangat keterlaluan kali ini?" tegur Azzlea sedikit kesal.
"Tidak Azzle, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padanya." jawab Milly tak tahu malu.
"Biarkan dia Azzle. Toh apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Kami tak akan lagi bertemu setelah ini." ujar Queene membiarkan apa saja yang akan diucapkan oleh Milly.
Milly mencebikkan bibirnya, melihat Queene yang tak bereaksi justru membuatnya semakin kesal.
"Baiklah, aku hanya ingin bertanya padamu satu hal." ucap Milly.
__ADS_1
"Apakah kau benar-benar rela jika aku yang akan pergi dengan Azzlea?" tanya Milly.
Queen mengerutkan keningnya tak paham. Namun sedetik kemudian Queene menarik bibirnya dan memunculkan senyum yang tercetak jelas disudut bibirnya.
"Bohong jika aku rela sepenuhnya dengan kepergian Azzlea."
"Bohong jika aku mengatakan kalau aku baik-baik aja."
"Tapi demi kebahagiaannya agar bisa berkumpul dengan keluarganya, aku tak bisa menahannya agar dia disini bersama denganku."
"Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan yang layak untuk kita berdua." ujar Queene meyakinkan.
Queene menarik nafasnya dengan panjang. "Apapun yang terjadi, aku yakin itu sudah menjadi takdirku."
"Bisa jadi mungkin takdir ku hanya menemani Azzlea mendapatkan kebahagiaannya bertemu dengan matenya."
"Mungkin takdirku tidak sampai untuk menemani Azzlea selamanya. Aku sudah mengiklaskan itu semua." jujur Queene.
"Baiklah jika jawaban mu seperti itu. Aku tidak akan segan padamu."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang pergilah, temui keluarga barumu. Kurasa semuanya cukup sampai disini." ucap Queene.
"Jangan pernah mengangkari janjimu padaku Milly." pinta Queene.