
Ketukan pintu dari luar mengusik pendengaran Fredrico. Fredrico sengaja membiarkan ketukan itu namun tak kunjung berhenti juga. Perlahan Fredrico bangun melepaskan pelukannya pada Azzlea yang masih setia tertidur pulas. Fredrico segera mengenakan pakaiannya dan berjalan membuka pintu. Dilihatnya kepala pelayan berada tepat berada pintu serta menundukkan kepalanya saat melihat Fredrico keluar kamar.
"Ada apa? Apa kau tak tahu kalau tindakanmu itu mengganggu kami" ucap Fredrico dengan nada dingin.
Kepala pelayan nampak ketakutan, dia begitu hafal bagaimana sifat tuannya ini, mengingat dirinya sudah lama bekerja disini.
"Maafkan atas kelancangan saya Alpha.. Tuan Parvis meminta saya untuk memanggil Alpha dan Luna untuk makan malam bersama dengan mereka" jawab kepala pelayan itu sopan.
"Antarkan saja makanan kami kekamar, Luna sudah tidur sedari tadi" jawab Fredrico masih dengan nada yang dingin tapa ekspresi.
"Baik Alpha" kepala pelayanpun pamit pada Fredrico.
"Jangan lupa ketuk pintu lebih dulu sebelum masuk kamar" Fredrico memperingati.
Selepas pelayan pergi, Fredrico kembali masuk kedalam kamar. Membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat. Apa salahnya seekor serigala membersihkan tubuhnya hingga bersih. Toh diri ya werewolf murni yang menyerupai manusia, yang membedakan hanya kekuatan mereka yang bisa merubah tubuhnya menjadi werewolf.
Fredrico tak berlama-lama didalam kamar mandi, setelahnya dia berganti baju sembari menunggu pelayan mengantarkan makan malam untuknya juga Azzlea. Sedangkan Azzlea sendiri masih setia menutup matanya tanpa terusik sedikitpun. Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk, Fredrico segera bangkit dan membukakan pintu. Dilihatnya dua pelayan membawa nampan besar berisi makan malam. Fredrico mengambil nampan besar itu dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Tunggu disini" perintah Fredrico mutlak.
Kedua pelayan tersebut sebenarnya bingung karena Fredrico memilih membawa sendiri makanannya bukan malah meminta pelayan itu membawa masuk kedalam kamar. Fredrico kemudian keluar lagi dan mengambil nampan satunya dan dibawanya kedalam kamar. Dia telah menyusunnya dimeja yang ada dikamar tersebut.
Setelah semuanya siap Fredrico berjalan menuju ranjang dimana Azzlea masih terpejam terbungkus selimut.
"Bangun Azzle" ucap Fredrico menggoyangkan tubuh Azzlea.
"Makanlah, pelayan sudah membawakannya untuk kita"
"Hei"
Tak ada jawaban sama sekali dari Azzlea. Azzlea bahkan membalikkan tubuhnya dan kembali tertidur. Tak ada niatan untuknya bangun ataupun membuka matanya, karena apa?! karena tubuhnya benar-benar lelah seperti bekerja sebagai pekerja bangunan. Ah tidak karena werewolf tidak mungkin melakukan pekerjaan seperti itu, batin Azzlea malas.
__ADS_1
"Bangunlah, setidaknya makan dulu, isi perutmu, Setelah itu kau bisa melanjutkan lagi tidurmu" ucap Fredrico mulai frustasi. Seumur hidup tak pernah dirinya membangunkan seseorang bahkan adiknya sendiri. Karena adiknya memang selalu bangun lebih awal.
"Hei.. Bangun,, Azzlea bangun"
"Kalau kau tak mau makan biarlah aku yang dengan hati memakanmu" ujar Fredrico menggoda Azzlea dengan menarik pelan selimut yang membungkus tubuh Azzlea. Seketika Azzlea membuka matanya dan menahan selimut tebalnya yang sengaja ditarik oleh Fredrico, oh tidak.. Sekarang saja tubuhnya sudah sangat-sangat lelah, dan bagaimana kalau Fredrico benar-benar akan memakannya lagi.
Azzlea segera membuka matanya dan terduduk sembari menutupi tubuh polosnya.
"Jangan mengancamku serigala dingin" kesal Azzlea tak suka.
"Kau langsung dengan sigap bangun dari tidurmu, apa kau begitu bersemangat dan benar-benar berharap adegan tadi terulang lagi hm?" Fredrico semakin menggoda, meskipun begitu tetap aja raut wajahnya tak menampilkan mimik apa-apa. Hanya mulutnya yang berbicara, dasar Fredrico.
"Siapa bilang, justru aku bangun karena aku lapar, aku bangun karena aku harus terjaga siapa tahu kau memakanku lagi"
"Ingat... Jangan sampai hal ini terulang lagi" Azzlea memperingati.
Azzlea turun dari ranjang dengan selimut tebal masih membungkus dirinya, dia berjalan dimana makanan telah tersaji untuknya.
"Justru kalau aku lepaskan aku yakin kau akan menerkamku lagi. Apa kau tak bisa berfikir kalau kekuatanmu dengan kekuatanku tak sebanding ha"
"Bagaimana mungkin kau bersikap kasar seperti itu pada wanita lemah sepertiku"
"Lain kali aku akan melakukannya dengan lembut" ujar Fredrico tak tahu malu sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Tidak ada lain kali" kesal Azzlea melempar bantal didekatnya kearah Fredrico.
"Kau selalu bilang lain kali tidak melakukannya, tapi lagi-lagi kau menerkamku. Kau bilang aku bukan matemu, tapi kau berkali-kali memakan tubuhku sampai habis tak bertulang"
Diambilnya nampan miliknya dan memakannya diranjang. Kesal sekali Fredrico dengan mudahnya mengatakan hal itu padanya. Dengan lahap Azzlea memakan makanannya hingga habis tak tersisa karena dirinya memang sangat-sangat lapar.
"Kau sedang marah, kesal padaku atau memang lapar"
__ADS_1
"Toh aku tak akan memakan atau mengambil makananmu" protes Fredrico saat melihat Azzlea makan dengan cepat dan lahap seolah makanannya akan diambil oleh orang lain.
"Diamlah, makan saja makananmu" ketus Azzlea.
Setelah selesai makan Azzlea meletakkan nampannya didekat nampan milik Fredrico dengan kasar.
"Wanita pemalas.. Panggil pelayan kemari untuk membawa nampan ini" ujar Fredrico.
"Jadi kau mau aku memberikan nampan pada pelayan dalam keadaan yang seperti ini begitu maksudmu?" kesal Azzlea.
"Atau harus kubuka selimut ini dan berjalan keluar membawa nampan ini iya?" sambungnya lagi.
Dengan kesal Fredrico membawa kedua nampan itu keluar kamar, diluar ternyata sudah ada pelayan yang siap menerima nampan dari Fredrico.
"Kau sudah mau tidur lagi?" ucap Fredrico yang sudah masuk lagi kekamar dan melihat Azzlea kembali merebahkan tubuhnya.
"Apa lagi Fred, aku benar-benar lelah hari ini" ucap Azzlea memelas.
"Hanya seekor **** yang tidur setelah makan" protes Fredrico.
"Atau jangan-jangan kau memang seekor ****, bukan werewolf" ucap Fredrico penuh selidik.
Azzlea yang telah merebahkan tubuhnya seketika bangun lagi, hatinya terasa kesal saat Fredrico mengatainya seperti itu. Dia memang tak bisa merubah wujudnya menjadi werewolf, tapi bukan berarti dirinya seekor ****.
"Aku werewolf, aku werewolf?! bukan ****.. Aku hanya belum bisa merubah tubuhku menjadi werewolf karena suatu hal" kesal Azzlea memukuli Fredrico dengan guling yang berada didekatnya dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain memegangi selimut yang melilit tubuhnya.
Plukk
Karena terlalu bersemangat memukuli Fredrico hingga tak sadar kalau selimutnya terlepas dari badannya. Tubuh Azzlea membeku dan sedetik kemudian dia berlari kedalam kamar mandi menyelamatkan tubuhnya yang siap menjadi santapan Fredrico. Ohh tidakk. Dia ingin tidur nyenyak, gerutu Azzlea Frustasi.
Diluar Fredrico tersenyum puas, entah mengapa dirinya rindu berdebat juga bertengkar dengan Azzlea setelah sekian lama, karena setelah kejadian tak terduga kala itu keduanya jarang sekali bertegur sapa dan bertengkar sepertini atau bahkan melihat Azzlea marah karena ulahnya.
__ADS_1