Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 73 Cek


__ADS_3

Butuh waktu yang cukup lama bagi Bunda Zenia untuk menerima apa yang dijelaskan oleh Fredrico juga Azzlea. Wanita yang dikiranya adalah wanita lemah justru memiliki kemampuan yang tak biasa. Bahkan Bunda sendiri begitu takut saat melihat mata biru milik wanita yang dikatakan sebagai sosok Azzlea yang lain. Wanita yang dikenalnya sebagai gadis yang polos serta lemah lembut justru berubah menjadi wanita yang sangat menyeramkan.


Namun begitu Bunda Zenia tetap mau menerima Azzlea dengan suka cita, terlebih lagi kini kandungan Azzlea semakin membesar dan bisa diperkirakan jika tak lama lagi Azzlea akan melahirkan penerus kerajaan Vredro.


Hari ini sesuai janjinya Fredrico dan Azzlea akan pergi untuk menemui dokter yang kala itu mengobati Azzlea. Dokter tersebut juga dokter paling dipercaya oleh keluarga Fredrico. Fredrico sendiri sudah membuat janji padanya dan mengatakan jika hari ini mereka akan datang untuk memeriksakan kondisi Azzlea.


Dalam secepat kilat keduanya sudah sampai dibangunan dimana dokter tersebut berada. Fredrico sengaja menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi agar Azzlea tak kelelahan jika dirinya pergi menggunakan wujud serigalanya.


"Sungguh suatu kehormatan bagi saya karena Alpha dan Luna datang berkunjung hari ini" ujar dokter wanita tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Padahal saya bisa datang kekastil dengan membawa peralatan yang saya punya agar Alpha dan Luna tidak perlu jauh-jauh datang kemari" sambungnya lagi penuh penyesalan.


"Lupakan, ini permintaannya sendiri. Dimana kami bisa memeriksakan anak kami" ujar Fredrico.


Dokter tersebut sangat terkejut karena mendengar Alphamenjawab permintaan maafnya dengan nada normal bahkan bisa dikatakan sangat lembut. Dokter itu menunjukkan jalan kemana keduanya akan diperiksa.


Dokter itu sudah biasa memeriksa keadaan bayi yang masih dalam kandungan seorng werewolf, dan ini bukan kali pertama dia menanganinya.


"Silahkan Luna berbaring disini" pinta dokter itu. Dengan hati-hati Fredrico membantu Azzlea merebahkan dirinya diranjang yang telah disiapkan untuknya. Sungguh pemandangan yang luar biasa yang bisa dilihat dari mata kepalanya sendiri mengingat bagaimana sifat Alpha yang diketahuinya selama ini.


Dokter itu mulai mengoleskan gel di perut buncit Azzlea dengan perlahan. Menggesekkan pelan alat yang terhubung kemonitor disamping Azzlea juga Fredrico.


Fredrico begitu terpukau melihat gambar yang tertera dilayar moitor disampingnya itu, sudah terjetak jelas bagaimana wajah dan tubuhnya tanpa kekurangan apapun. Fredrico membelai lembut puncak kepala Azzlea serta menghapus air matanya yang berjatuhan dipipi mulus Azzlea.


Dokter tersebut menjelaskan semua hal tentang pemeriksaan hari ini, keduanya bahkan bisa mendengar detak jantung bayi mereka yang berdetak dengan sangat normal.


"Saya selalu mendoakan Luna agar selalu sehat hingga pada saat kelahiran tiba" ujar dokter tersebut mengakhiri pertemuan mereka.


"Terimakasih" jawabAzzlea.


"Tetap jaga pola makannya agar bayi dalam kandungan Luna tetap sehat dan memiliki nutrisi yang sehat" ucapnya lagi.

__ADS_1


Selesai dengan pemeriksaan keduanya pamit untuk pulang. Dokter tersebut mengantarkan keduanya hingga kedepan pintu.


"Terimakasih" ucap Fredrico yang entah sudah diucapkannya berulang-ulang kali kepada Azzlea. Azzlea hanya tersenyum membalasnya.


"Bisakah kita berkeliling sebentar?" tanya Azzlea.


"Kemana?"


"Aku sudah lama tak pernah berkunjung kekota, aku ingin ketaman yang dulu sering kudatangi bersama dengan kak Faustin" ujar Azzlea.


"Lebih baik kita pulang kekastil bagaimana? Akan sangat melelahkan jika kita langsung pergi kesana" tawar Fredrico.


"Tapi aku menginginkannya sekarang Fred, aku hanya ingin berkeliling ditaman itu saja" pinta Azzlea memelas.


"Tidak, kita langsung pulang" tolaknya lagi.


"Ayolah Fred, hanya sebentar saja. Setelah itu kita akan langsung pulang hm" ajak Azzlea lagi. Fredrico menatap tajam Azzlea penuh ketidak sukaan, keduanya masih berdiri tak bergeming sama sekali. Azzlea menyungkingkan senyumnya tipis menatap Fredrico.


"Aku merindukan taman itu, bukan merindukan kak Faustin" bisik Azzlea pelan. Fredrico terkesiap karena Azzlea nyatanya mengetahui apa yang ada didalam fikirannya.


"Ap.. Apa? Aku tak mengatakan apapun, aku hanya ingin kamu istirahat agar tak kelelahan" elak Fredrico.


"Hanya sebentar saja, aku juga merindukan ice cream ditempat itu" ujar Fredrico menunjukkan deretan giginya.


"Dasar" Fredrico mengacak rambut Azzlea dengan kasar.


"Ya sudah ayo, hanya berkeliling saja bukan?" ajak Fredrico seraya menggandeng tangan Azzlea.


Setelah sampai ditaman kota Azzlea mengajaknya berkelilig memutari taman tersebut dengan perut buncitnya. Banyak yang memandang kagum kearah mereka berdua, bagaimana tidak keduanya sama-sama dianugerahi wajah yang sempurna, Azzlea yang memiliki kecantikan tak biasa tak terlupakan juga Fredrico yang memiliki wajah tampan tanpa kurang satupun.


Tak ada yang tahu jika keduanya adalah Alpha dan Luna dari kerajaan Vredo, tentu saja, manusia tak akan pernah tahu dimana keberadaan mereka.

__ADS_1


"Aku ingin ice cream disana" Azzlea menunjuk pedagang ice cream yang tak jauh darinya.


"Baiklah, kau tunggu disini aku akan membelikannya untukmu" ucap Fredrico menuntun Azzlea agar duduk dibangku taman, sebelum pergi Fredrico mengusap lembut perut Azzlea serta mengecup singkat kening Azzlea.


Fredrico berjalan menuju penjual ice cream yang berjualan tak jauh dari tempat Azzlea duduk. Pembelinya lumayan ramai tapi tak seberapa, Fredrico sebenarnya malas jika harus berdiri berbaris seperti ini, demi Azzlea dirinya harus rela berdiri dibarisan untuk mendapatkan ice cream yang diinginkannya.


Azzlea menunggu dengan sabar seraya mengusap lembut perut buncitnya saat anak dalam kandungannya menendang dengan sangat kencang. Sesekali Azzlea menatap punggung Fredrico yang tengah mengantri untuk mendapatkan ice cream yang diinginkannya.


Azzlea menekuk wajahnya tak suka saat melihat kearah Fredrico justru disana dia dikerumuni oleh gadis-gadis muda yang tertarik dengannya. Tubuh Fredrico yang tinggi memang seolah sangat mencolok diantara semuanya.


Lebih kesal lagi saat melihat Fredrico sudah mendapatkan ice cream ditangannya tapi justru gadis-gadisa itu seolah enggan untuk membuat Fredrico pergi dari hadapan mereka. Mereka berusaha menggida Fredrico dengan segala rayuannya, tak terkecuali ibu muda yang juga tertarik dengan Fredrico.


Azzlea yang kesal langsung bangkit dan menghampiri Fredrico yang tak kunjung menemuinya karena tak bisa lewat. Fredrico yang melihat Azzlea berjalan menghampirinya berusaha memisahkan kerumunan gadis-gadis yang mengelilinginya, karena mereka fikir Fredrico adalah seorang artis, walaupun Fredrico tahu itu hanya alibi mereka saja.


"Mengapa kemari, aku memintamu duduk bukan?" ujar Fredrico menyerahkan ice cream yang sudah dibelinya.


Melihat kedatangan Azzlea membuat mereka bertanya-tanya, namun sedetik kemudian mereka kecewa saat melihat perut buncit Azzlea. Tanpa diberi tahupun mereka tahu jika wanita yang diberikan ice cream oleh pemuda tampan itu adalah istrinya.


"Sial, istrinya juga sangat cantik" kesal salah satu gadis yang pergi meninggalkan keduanya.


"Mereka pasangan yang sempurna bukan? Laki-laki itu sangat tampan seperti pangeran tapi ternyata istrinya juga sangat cantik seperti bidadari" sambungnya.


Azzlea tersenyum mendengar bagaimana mereka sangat kesal melihat kedatangannya.


"Ada apa hm?" tanya Fredrico mengusap sudut bibir Azzlea karena ice cream. Azzlea menggelengkan kepalanya.


"Jagoanmu sangat senang sekali Fred, sedari tadi dia menendangi perutku sampai perutku seolah mati rasa" ujar Azzlea memegangi perutnya.


"Benarkah, apakah dia menyukainya?" tanya Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya


"Lebih baik kita kembali, hari sudah mulai sore" ajak Fredrico, Azzlea menganggukkan kepalanya dan kembali kekastil dengan menggunakan kekuatan Fredrico.

__ADS_1


__ADS_2