
Azzlea menjatuhkan tubuh Quincy yang sudah tak bersenjata lagi. Bugh. Quincy terjatuh ditanah dengan Azzlea berada diatasnya, senyum penuh kemenangan tercipta dibibir manis Azzlea. Azzlea mengayunkan pedang yang masih digenggamannya kearah Quincy. Quincy hanya bisa pasrah dibawah kukungan Azzlea yang mengunci tubuhnya seraya tersenyum dengan puas. Quincy memejamkan matanya menghadapi ajal yang akan menjemputnya dan Jleb.
"Gadis bodoh." maki Azzlea. Azzlea bangkit serta mencabut pedang yang ditancapkannya.
Klontang, Azzlea kemudian membuang kedua pedang miliknya juga milik Quincy membuangnya jauh dari pandangan mereka.
"Aku kemari datang dengan cara yang kurang baik, apakah layak jika aku mati tak berdaya disini ha. Aku pun harus kembali dalam keadaan yang hidup agar aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku."
"Aku bersusah payah agar aku tetap hidup demi keluargaku tapi sekarang kau justru membuat masalah yang sangat bodoh."
"Dan lagi aku belum mengerti mengapa kalian membawaku kemari kau justru membuat masalah dengan mencoba membunuhku. Apa kau berusaha membunuhku agar aku tak bisa kembali dengan keluargaku. Atau aku bisa membunuhmu agar aku juga tetap tinggal disini hah." kesal Azzlea.
__ADS_1
"Brengsek." maki Azzlea.
Qarira perlahan membuka matanya yang sejak tadi terpejam sesaat sebelum Azzlea berusaha membunuh Quincy. Qarira sendiri tak memiliki kekuatan untuk memisahkan keduanya. Melihat Azzlea dan Quincy beradu pedang seperti tadi membuat tubuh Qarira terasa lemah dan tak bertenaga.
Qarira berlari kearah Quincy yang terbaring ditanah tanpa pergerakan sama sekali. Qarira menjadi cemas karenanya, Qarira memanggil nama Qarira berkali-kali serta menggoyangkan tubuh Qarira namun tak ada jawaban sama sekali. Quincy diam tanpa jawaban.
Perlahan Quincy membuka matanya. Tak ada yang terjadi padanya, bahkan dirinya sekarang masih hidup. Azzlea tak membunuhnya, Azzlea hanya berusaha menggertaknya. Sedetik kemudian Quincy tertawa dengan kerasnya, bukan karena mengejek Azzlea yang nyatanya tak sanggup membunuhnya namun karena rencananya justru lebih dulu ditebak oleh Azzlea dengan sempurna.
"Bodoh. Kau membuat waktuku habis dengan percuma tanpa tahu apapun." ujar Azzlea.
Quincy masih saja tertawa dan terduduk ditempat yang masih sama. Quincy menyeka air matanya yang tanpa sengaja keluar dari sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
"Apa kau menjadi gila setelah kau tidak berhasil terbunuh Kak?" tanya Qarira yang heran dengan sikap Quincy.
Azzlea mendekat kearah Quincy dan berjongkok sejajar dengan Quincy yang masih duduk ditempatnya. "Kau sangat cantik jika tertawa atau tersenyum seperti itu." ujar Azzlea lirih sembari melontarkan senyum padanya.
"Tapi bukan berarti kau harus tertawa jahat seperti ini." sambung Azzlea. Kedua manik biru laut itu bertemu saling mengunci satu sama lain, Quincy menatap dengan sangat intens kedua manik mata Azzlea.
"Hiks." Quincy justru menangis sesaat setelah mendengar pujian yang diucapkan oleh Azzlea.
"Apa kau belum pernah mendapatkan pujian dari orang lain hingga membuatmu menangis seperti ini em?" tanya Azzlea yang kemudian menyeka air mata yang terus menetes diwajah cantiknya.
"Hiks.. Aku salah, Quinza memilihmu dengan sangat baik. Jauh dari apa yang kubayangkan sebelumnya." isak Quincy.
__ADS_1
"Apa maksudmu. Berhentilah menangis, sudah dua orang yang menangis didepan ku sejak aku kemari." ucap Azzlea tetap membujuk Quincy agar diam dan tak menangis lagi.