
Srakk.. Brugh..
Seekor serigala putih terpelanting jauh tepat didepan dimana Azzlea juga Qarira tengah berjalan. Keduanya sontak saja terkejut dengan adanya serigala putih yang datang secara tiba-tiba itu terpelanting tepat didepan mereka.
Azzlea membelalakan matanya. Azzlea masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, terlebih lagi Azzlea begitu mengenal sosok serigala yang ada didepannya. Mata Azzlea menangkap sosok serigala putih yang berdiri tak jauh dari mereka juga tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan Hah?" teriak Azzela murka. Matanya yang awalnya sendu kini berubah menyala menatap tajam kearah serigala putih tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kau gila hah. Mengapa kau menyakitinya?" teriak Azzlea sekali lagi. Teriakan Azzlea seolah menjadi peringatan bagi siapapun yang mendengarnya, bahkan Qarirapun sama sekali belum pernah mendengar Azzlea maupun Quinza marah dengan suasana yang sangat mengerikan.
Azzlea berjalan menuju serigala tak berdaya itu. Azzlea berusaha membantu serigala putih bersih yang tak berdaya itu bangkit dan berdiri disampingnya. "Mengapa kalian bertengkar seperti ini, katakan padaku?" tanya Azzlea tegas.
Azzlea menatap tajam kearah serigala putih itu secara bergantian. Kedua serigala itu nampak diam membisu tak berani menjawab pertanyaan yang diberikan kepada mereka berdua. Azzlea begitu geram karena keduanya bahkan tak menjawab pertanyaannya dan mengindahkannya. Azzlea mengembuskan nafasnya dengan kasar sedangkan Qarira pun sama diamnya dengan kedua serigala didekatnya. Bibir Qarira seolah terkunci dan tak mampu mengeluarkan satu patah katapun dari bibirnya.
"JAWAB?!" gertak Azzlea penuh kekesalan.
Kedua serigala itu sontak menundukkan kepalanya tak berani menatap Azzlea yang tengah diselimuti kemarahan. "Apa yang kalian lakukan disini? Kalian ingin saling membunuh satu sama lain, begitu?"
"Dan kau Queen. Aku jauh-jauh datang kemari hanya ingin menemuimu, aku ingin melihatmu karena aku rindu padamu."
"Mengapa aku justru menyaksikan pemandangan yang sangat ku benci." ujar Azzlea.
"Apakah kalian berusaha membunuh satu sama lain dengan bertarung seperti ini?" sambung Azzlea.
Wolf Queene diam membisu tanpa mengeluarkan satu patah katapun dari bibirnya. Azzlea berganti menatap pada serigala yang ada didekatnya serta memberikan tatapan yang sama tajamnya seperti semula tak berubah sedikitpun.
"Dan Kau Milly. Bukankah aku memintamu untuk kembali ketempatmu bukan? Mengapa kau justru berada ditempat yang tak seharusnya kau pijaki." ucap Azzlea masih diselimuti kemarahan.
__ADS_1
"Aku... Aku hanya ingin mengunjungi Queene sebentar saja. Setelah itu pergi dari sini."
"Aku... Hanya penasaran bagaimana rupa Wolf milik Alpha sehingga Alpha bersikeras untuk mengunjunginya." sanggah Milly.
"Lalu. Kalian bertengkar dan berusaha saling membunuh?" selidik Azzlea.
"Tidak. Sebenarnya aku datang kemari dengan baik-baik, namun Queen justru menyerangku dengan tiba-tiba."
"Pembohong." teriak Queen menyanggah apa yang diucapkan oleh Milly.
"Serigala itu mengatakan bahwa setelah kau keluar dari tempat ini kau akan membawanya bersamamu dan meninggalkan ku ditempat ini. Dia juga mengatakan bahwa hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa hidup kembali menjadi Azzlea." ujar Queene.
"Aku begitu marah karena ucapannya seolah mengejekku bahwa aku akan kau tinggalkan begitu saja tanpa ucapan apapun."
Azzlea mengembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya tertutup menenangkan fikiran juga emosinya yang memuncak beberapa saat yang lalu. Azzlea yang awalnya memiliki sorot mata yang tajam kini berubah sendu seperti sedia kala.
"Kalian berdua tinggalkan kami berdua disini. Dan Kau Qarira, tolong antarkan Milly ketempat dimana dia ditempatkan. Serta obati lukanya jika dibutuhkan" titah Azzlea.
Azzlea menyentuh perlahan pundak Qarira sembari tersenyum lembut. "Aku tidak akan meninggalkan mu ataupun kalian semua tanpa pemberitahuan sebelumnya. Aku hanya ingin berbicara dengan Queen sebentar saja."
"Tapi.." Qarira berusaha menolak permintaan Azzlea.
"Percaya padaku, setelah urusanku dengan Queen aku akan segera menemui mu. Aku berjanji." Azzlea mengacungkan jari kelingkingnya kearah Qarira.
"Apa ini?" tanya Qarira tak paham.
"Ini adalah simbol perjanjian diantara kita. Dan artinya dengan simbol ini aku tidak akan mengingkari janjiku padamu." ujar Azzlea meyakinkan.
__ADS_1
"Benarkah begitu?" Qarira masih belum mepercayai sepenuhnya ucapan dari Azzlea, namun Azzlea tetap meyakinkan pada Qarira bahwa dirinya tak akan berbohong padanya dan pada akhirnya Qarira menyetujui permintaan Azzlea dengan senang hati.
Tak berselang lama Qarira juga Milly melasat jauh pergi dari hadapan Azzlea. Tinggalah kini Azzlea juga Queene didalam tempat itu. Azzlea terduduk diam dibangku yang tak jauh darinya. "Mengapa kau melakukan hal itu padanya Queen?" tanya Azzlea pada akhirnya.
"Sungguh aku tak melakukan apa yang kau fikirkan Azzle. Aku bahkan tak berusaha untuk membunuhnya." elak Queen kepada Azzlea.
"Lalu apakah yang ku lihat beberapa saat yang lalu bukanlah suatu kebetulan, begitu maksud dari ucapanmu."
"Sungguh Azzle, aku sama sekali tak melakukan apapun padanya. Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri." elak Queene sekali lagi.
"Ya.. Aku tahu awalnya adalah salahku karena menyerangnya terlebih dahulu karena aku marah dengan apa yang diucapkannya. Dia benar-benar mengatakan bahwa kau akan membawanya bersamamu saat.."
"Benar." Azzlea memotong ucapan Queene. "Apa yang dikatakan olehnya adalah benar adanya Queen. Itulah yang kutahu sejak aku menginjakkan kakiku disini."
"Ap... Apa? Apa yang kau katakan ini Azzle. Kau benar-benar berusaha untuk meninggalkanku ditempat yang sangat asing bagi kita berdua ini begitu maksudmu?" ucap Queene tak percaya.
Azzlea menganggukkan kepalanya pelan. "Hanya ada dua pilihan, Kau atau keluargaku."
"Jika aku menginginkanmu, berarti aku harus meninggalkan Fredrico bersama dengan buah hati kami disana dan tetap bersamamu disini dan mungkin aku akan kembali menjadi Quinza Alpha yang telah diceritakan seribu tahun yang lalu."
"Dan apabila aku memilih untuk kembali bersama dengan Fredrico dan menjalani hidupku seperti sedia kala, itu artinya aku harus membawa serta Milly bersamaku agar aku bisa kembali kesana, dan kabar buruknya aku akan meninggalkanmu disini sendiri."
"Maafkan aku Queen, aku benar-benar tak tahu apa yang harus ku lakukan." sesal Azzlea.
"Lalu bagaimana dengan ku Azzle. Aku ... Aku benar-benar tak ingin berpisah dengan mu. Aku ingin ikut bersamamu hingga kau menjemput ajalmu dikemudia hari." jujur Queene.
"Apa yang harus kulakukan Queen? Aku tak bisa berpisah dengan Fredrico juga buah hati kami. Tapi aku juga tak ingin meninggalkan mu disini sendiri hiks." Azzlea mulia terisak, dadanya begitu sesak dengan apa yang kemungkinan terjadi padanya.
__ADS_1
Azzlea mulai terisak dalam kesedihannya, sungguh dadanya begitu terasa sesak. Azzlea memukuli dadanya yang semakin lama semakin terasa sesak dirasakannya, air mata mulai meluncur deras membanjiri kedua pipinya dan semakin terisak. Pilihan yang sama sekali tak bisa dipilihnya, Azzlea benar-benar meninginkan keduanya bersama dengan dirinya, namun mengapa takdir justru mengatakan hal lain dengan memilih salah satu diantara mereka.
*Kira-kira Azzlea akan memilih siapa ya diantara keduanya Hmm*