
"Auch" Fredrico mengaduh seraya memegangi kakinya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Azzlea panik.
"Kakiku... Sepertinya terkilir saat jatuh tadi auch" rancau Fredrico kesakitan. Azzlea panik dibuatnya, dia tak menyangka kalau permintaan konyolnya membuat Fredrico terluka seperti ini.
"Hiks.. Hiks" Azzlea kembali menangis sesegukan.
"Kenapa menangis lagi?" tanya Fredrico bingung. Azzlea bangkit dari duduknya keluar dari kamar, namun tak berapa lama Azzlea kembali masuk dengan mebawa seorang pria berhoodie abu-abu.
Pria itu membawa peralatan kesehatan ditangannya dan mendekati Fredrico.
"Punggung tangannya terluka juga lengannya, kakinya juga terkilir, obati dia" ucap Azzlea dengan air mata yang terus mengalir.
"Hei kak, mengapa menangis? apa kau merasa kasihan melihat suamimu yang terluka?" tanya Axelle penasaran, pasalnya Azzlea keluar kamar dan menghampirinya dengan sesegukan yang kemudian menyeretnya masuk kedalam kamar mereka.
Azzlea menggelengkan kepalanya
"Aku tidak tahu, tapi air mataku selalu keluar saat melihat luka itu hiks" ujar Azzlea lagi.
Axelle mengembuskan nafasnya kasar.
"Kakak keluarlah sebentar, aku ingin mengobati suamimu, kalau kakak menangis aku tak bisa konsentrasi" ucap Axelle kemudian.
"Tapi.. Hiks"
"Percaya padaku kak" Axelle meyakinkan.
Azzlea akhirnya kekuar dari kamar meninggalkan kedua pria itu didalam kamar.
"Mengapa anda tidak mengobati luka anda dengan kekuatan anda Alpha. Saya yakin luka ini tak seberapa dibandingkan luka saat bertarung bukan?" tanya Axelle seraya mengobati luka ditangan Fredrico.
"Obati saja lukaku, jangan banyak bicara maupun banyak bertanya" ucap Fredrico.
"Dan mengenai kaki anda! Saya rasa semuanya baik-baik saja" ucap Axelle lagi.
"Memang, jangan beritahu Azzlea mengenai hal ini" ucap Fredrico memperingati.
"Wanita hamil memiliki hormon yang berbeda dengan biasanya. Bahkan wanita hamil memiliki perubahan emosi yang berubah-ubah setiap saat tergantung mood dan kondisi yang dialaminya"
"Lalu?"
"Saya hanya ingin memberitahu Alpha untuk banyak bersabar menghadapi Luna yang tengah hamil. Seperti hari ini contohnya, Luna yang secara tiba-tiba menginginkan mangga yang dipetik langsung oleh Alpha, padahal bisa saja kita memetiknya tanpa harus bersusah payah, dan lagi mengidam seperti ini hanya biasa dirasakan oleh manusia biasa bukan kita para werewolf"
__ADS_1
"Atau yang tiba-tiba menangis tanpa sebab saat melihat tangan anda terluka dan mengeluarkan darah. Ikuti saja apa yang diinginkan oleh Luna, dan jangan membuat Luna menjadi stres atau kelelahan karena itu akan berdampak pada kandungan Luna sendiri" Axelle memberi nasehat panjang lebar pada Fredrico.
"Kau pria kecil banyak sekali bicaramu, apa kau sudah bosan hidup" gertak Fredrico.
"Tentu saja tidak Alpha, saya hanya memberi saran sebagai seorang dokter" ucap Axelle memberi tahu.
"Dilihat dari perawakanmu, sepertinya kau masih sangat muda, apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Fredrico ragu.
"Jangan salah Alpha. Meskipun wajah saya masih muda dan umur saya masih dua puluh tahun tapi saya sudah mendapatkan lisensi kedokteran" ucap Axelle bangga.
Tak sabar karena harus menunggu diluar akhirnya Azzlea memutuskan untuk segera masuk kedalam kamar menemui kedua pria didalamnya. Axelle sedikit terkejut namun sedetik kemudian dia menetralkan ekspresi yang dimilikinya.
"Bagaimana?" tanya Azzlea.
"Sudah ku obati, mungkin dalam beberapa hari luka dipunggung juga dilengannya segera kering"
"Lalu kakinya?"
"Ah.. Itu.." Axelle menatap Fredrico, sedangkan Fredrico sendiri siap memerankan perannya sendiri dengan berpura-pura mengaduh memegangi kakinya.
"Kakinya cidera cukup parah. Kalau saja bukan Alpha mungkin bisa saja kakinya langsung patah karena jatuh dari pohon setinggi itu" ucap Axelle menggebu-gebu. Sedangkan Fredrico menatap tajam kearah Axelle yang acuh seakan tak merasa bersalah sekali mengatakan hal itu pada Azzela.
"Jangan menangis, menangis tidak akan membuat suamimu baik-baik saja" tepis Axelle yang melihat Azzlea akan menangis lagi.
"Dia Axelle, adik bungsuku. Aku yakin kamu baru melihatnya" ucap Azzlea. Fredrico menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja kalian terlihat tak asing" gumam Fredrico lirih.
"Dia.. Mengobatimu dengan baik kan? Apa ada yang sakit?" tanya Azzlea.
"Sudahlah aku tidak apa-apa" ucap Fredrico merasa baik-baik saja. Yang kemudian bangkit dari ranjang namun..
Auch.. Fredrico lagi-lagi mengaduh memegangi kakinya.
"Berperanlah dengan baik. Kakak Ipar" bisik Axelle ditelinga Fredrico yang kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
"Axelle, kenapa kau keluar, obati dulu dia hei" teriak Azzlea dengan keras.
Fredrico menarik tangan Azzlea agar duduk disebelahnya, Azzlea menuruti.
"Dia sudah mengobatiku tadi, mungkin saat ini efeknya masih ada, tapi aku yakin dalam beberapa hari aku akan segera sembuh" ucap Fredrico tersenyum jail.
"Benarkah?" tanya Azzlea tak percaya.
__ADS_1
"Mana mangga yang kupetik tadi" tanya Fredrico yang teringat mangga yang baru dipetiknya tadi.
"Pelayan sudah membawanya kedapur"
"Kau tidak memakannya?" Azzlea menganggukkan kepalanya dan keluar kamar meninggalkan Fredrico, namun tak berapa lama Azzlea masuk lagi kedalam membuat kening Fredrico semakin berkerut.
"Tidak jadi makan mangganya?" tanya Fredrico sedikit kesal.
"Jadi.. Aku minta pelayan agar membawakannya kemari" jawab Azzlea.
Euhm. Fredrico melenguh.
Fredrico yang tadinya menyenderkan badannya diranjang berganti tidur dipangkuan Azzlea, Azzlea sendiri terkejut saat Fredrico tiba-tiba tidur dipangkuannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Azzlea.
Cup.
Fredrico mengecupi perut Azzlea membuat Azzlea kegelian karena ulah Fredrico.
"Hei jagoan... Sedang apa disini, apa kamu lapar?" tanya Fredrico pada anaknya yang masih didalam perut Azzlea.
"Hei jagoan... Apa gigimu sudah tumbuh. Mengapa meminta mangga muda yang masam dan masih keras, apa gigimu sanggup mengunyahnya hm"
"Tentu saja belum Fred, aku yang memakannya dia hanya mengambil nutrisinya. Apa kamu kira aku memakan mangga itu langsung kutelan begitu saja kemudian dia yang mengunyahnya?" ujar Azzlea menggelengkan kepalanya.
Fredrico menengadah menatap wajah Azzlea dari bawah.
"Ah.. Ku kira dia akan mengunyahnya sendiri. Tadinya aku sedikit khawatir tentang giginya, apa dia sanggup memakannya" jawab Fredrico.
"Kau benar-benar aneh Fred. Apa yang kau pelajari selama kau hidup dua puluh lima tahun?" tanya Azzlea tak habis fikir.
"Apa lagi. Bertarung, bertarung dan bertarung, memakai taring, cakar dan semua kekuatan mu"
"Bagaimana dengan wanita?" tanya Azzlea penasaran.
"Banyak yang menginginkanku kau tahu" ucap Fredrico percaya diri.
"Kalau yang kau inginkan?" tanya Azzlea lagi. Fredrico diam seribu bahasa dan menenggelamkan wajahnya diperut Azzlea. Nyaman sekali, hatinya begitu menghangat saat tahu kalau Azzlea tengah mengandung anaknya.
Suara ketukan membuat Azzlea menoleh dan ingin beranjak, namun dicegah oleh Fredrico, Fredrico justru memeluk pinggang Azzlea kuat-kuat dan semakin menenggelamkan wajahnya diperut Azzlea.
"Masuklah" perintah Azzlea mengalah.
__ADS_1
Leyna masuk kedalam kamar dan mendapati bahwa tuannya tengah bermesraan diatas ranjang. Dia bahkan melihat Fredrico memeluk erat pinggang Azzlea dengan erat. Leyna tersenyum karena melihat sifat yang belum pernah dia lihat sebelumnya.