
Azzlea membelalakkan matanya, setelah dia menghidupkan lampu yang gelap gulita kini nampak sosok pria yang tengah meringkuk didekat ranjang dengan kepala menunduk.
"Fred" ucap Azzlea setengah berlari menghampiri Fredrico.
"Fred, ada apa? Mengapa kamu bisa ada disini?" tanya Azzlea lagi.
Fredrico menengadahkan kepalanya menatap Azzlea. Matanya sembab seperti habis menangis bekas air matanya pun masih membekas dipipinya. Azzlea mengusap lembut bekas air mata dipipi Azzlea.
"Ada apa Fred?" tanya Azzlea khawatir.
Azzlea segera merengkuh Fredrico kedalam pelukannya, Fredrico sendiri menerimanya dan menenggelamkan wajahnya didada Azzlea. Fredrico sama sekali tak mau menjawab pertanyaan dari Azzlea dan tetap diam membisu tanpa membuka suara. Azzlea hanya bisa menunggu Fredrico sampai dia benar-benar mau bicara padanya.
Entah sudah berapa lama Fredrico berada diposisi itu hingga akhirnya Fredrico melepaskan rengkuhannya.
"Ada apa?" tanya Azzlea dengan lembut.
"Maafkan aku Azzlea, maafkan aku" ucap Fredrico menundukkan kepalanya.
"Tentang apa. Hei ada apa denganmu?" tanya Azzlea lagi penuh kekhawatiran.
"Kau bukan mate ku Azzlea, bukan. Aku sudah tak lagi mempunyai mate" lirihnya lagi.
"Aku tahu. Kau juga bukan mateku bukan" ucap Azzlea.
"Cantik sekali" gumam Azzlea yang masih bisa didengar oleh Fredrico.
Fredrico tengah menggenggam sebuah bingkai berisi foto gadis cantik yang Azzlea perkirakan umurnya jauh dibawahnya.
"Dia.. Mate ku yang sebenarnya" begitu ucap Fredrico lirih yang masih didengar jelas oleh Azzlea.
Azzlea mencoba agar tak menangis didepan Fredrico. Azzlea benar-benar tak menyangka kalau menghilangnya Fredrico hanya karena gadis cantik difoto itu. Azzlea benar-benar yakin bahwa cinta Fredrico hanya untuk gadis itu. Fredrico bahkan meringkuk menangis mendekap foto gadis itu. Tak ada lagi tempat untuknya dihati Fredrico, begitu fikir Azzlea.
__ADS_1
"Dia adalah mateku sejak aku berumur tujuh belas tahun" jujur Fredrico.
"Cantik sekali dia.. Cocok sekali denganmu Fred, sangat serasi" ujar Azzlea..
"Ya.. Dia memang gadis yang cantik" ujar Fredrico sendu.
"Fred" panggil Azzlea. Fredrico menoleh menatap Azzlea yang sama sendunya.
"Kalau kamu ingin kembali kepada wanita ini,,, Bisakah kamu menunggu sampai anak ini lahir didunia ini terlebih dahulu" pinta Azzlea menundukkan kepalanya. Fredrico justru menggelengkan kepalanya.
"Andaikan saja aku bisa"
"Mengapa tidak. Hei.. Apa yang tidak bisa kamu lakukan didunia ini"
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Azzlea ragu.
Fredrico ragu menganggukkan kepalanya, tapi pada akhirnya dia mengangguk yang kemydian menunduk.
"Aku memang mencintainya, tapi moon goddes lebih menyayanginya" ujar Fredrico seraya menitikkan air matanya.
"Jadi ini alasan kamu berkata padaku kalau kamu sudah tak lagi memiliki Mate dan berpura-pura seolah menjadikanku Mate?" tanya Azzlea. Lagi-lagi Fredrico mengangguk.
"Bagaimana dengamu?" tanya Fredrico yang kini penasaran.
"Sedari awal aku tak ditakdirkan memiliki mate mungkin. Siapa yang mau bersama dengan gadis yang tak bisa merubah dirinya menjadi werewolf" jawab Azzlea.
"Mungkin kamu, itupun karena kita sama-sama membutuhkan dan menguntungkan"
"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu" sesal Fredrico.
"Sudahlah, tak perlu meminta maaf. Kalau aku boleh tahu mengapa kamu bersembunyi disini?" tanya Azzlea penasaran. Fredrico menggelengkan kepalanya dan belum siap untuk bercerita pada Azzlea.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang kita keluar dari ruangan ini, aku yakin kamu belum makan sama sekali sejak kemarin bukan?" tanya Azzlea khawatir. Fredrico hanya menganggukkan kepalanya.
"Akan kupinta pelayan untuk membawakan makanan untukmu kemari" ujar Azzlea bangun dari duduknya.
Auch.. Azzlea nampak mengaduh karena bayi dalam kandungannya menendang perutnya dengan sangat keras. Fredrico menjadi khawatir saat melihat Azzlea kesakitan sembari memegangi perut buncitnya.
"Ada apa?" tanya Fredrico khawatir.
"Tidak apa-apa. Dia hanya menendangku dengan sangat keras. Aku hanya terkejut saja" ujar Azzlea.
Fredrico seketika mengangkat tubuh Azzlea yang makin berisi keluar dari tempat persembunyiannya dan menurunkan Azzlea perlahan diranjang king size miliknya. Dengan lembut Fredrico mengusap perut buncit Azzlea serta sesekali mengecupnya dengan lembut.
"Hei jagoan! Bagaimana kabarmu didalam sana. Apa kau merepotkan bunda mu hm" ucap Fredrico pada bayi dalam kandungan Azzlea.
"Dia sangat merindukanmu Fred" lirih Azzlea seraya membelai rambut Fredrico yang lembut.
"Oh ya.. Dia membalas sapaanku" ucap Fredrico dengan tatapan hangatnya.
"Aku sangat bersyukur karena akhirnya dia menendangku dengan aktif seperti ini"
"Apa dia tidak menendangmu seaktif ini tadi?" Azzlea menggelengkan kepalanya dan mulai berkaca-kaca.
"Dia bahkan hanya sesekali menendang perutku. Aku yakin dia marah karena sedari kemarin kau sama sekali tak menyapanya"
"Apa kau begitu merindukanku hm. Maafkan ayah karena tak menyapamu beberapa hari ini" sesal Fredrico didepan perut Azzlea. Seolah menjawab bayi dalam kandungan Azzlea menendang kuat perut Azzlea seperti bentuk protes pada sang ayah karena tak menyapanya selama beberapa hari.
Azzlea sengaja membiarkan Fredrico melepas rindunya dengan bayi yang masih berada didalam kandungannya, meskipun terkadang bayinya menendang hingga membuat perutnya kesakitan.
"Sudah Fred. Aku kesakitan" ujar Azzlea yang memang benar-benar kesakitan.
"Bagian mana yang sakit" mendengar kata kesakitan sontak membuat Fredrico panik dan khawatir.
__ADS_1
"Dia menendangku dengan sangat kuat, perutku terasa sakit" jujur Azzlea. Fredrico nampak mengembuskan nafasnya pelan dan kembali berbicara pada bayinya agar tak membuat bundanya kesakitan. Azzlea benar-benar tak habis fikir, sihir apa yang digunakan oleh Fredrico hingga bayi yang masih berada didalam kandungannya pun menuruti apa yang diminta oleh Fredrico.