
"Ci...." azzlea kembali memanggil kepala pelayannya.
Kepala pelayan berlari kecil kearah azzlea.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya kepala pelayan sambil menundukkan kepalanya.
"Mengapa makananku masih utuh? kalian tidak menyukai masakanku?" tanya azzlea menundukkan kepalanya sedih.
Tentu saja. Masakan yang dimasaknya pagi tadi nyatanya masih utuh tak tersentuh. Membuat azzlea sedih dibuatnya.
Kepala pelayan menundukkan kepalanya lebih dalam pada azzlea.
"Atau jangan-jangan kalian belum makan?" selidik azzlea. Kepala pelayan tetap diam.
"Makanlah sekarang. Dan mulai sekarang saat kami makan kalian juga harus makan. Dan ini aku sengaja memasak untuk kalian. Aku tak yakin dengan rasanya cobalah" titah azzlea keluar dari dapur.
Azzlea berjalan keluar menuju taman. Bunga-bunga ditaman mulai bermekaran tapi tak begitu banyak. Mungkin karrna fredrico adalah pria dia tak begitu menyukai bunga fikir azzlea.
Azzlea melihat sebuah bangku panjang berukuran putih yang sudah terkelupas. Azzlea mendudukkan tubuhnya disana. Memandang kearah depan menikmati hembusan angin yang menyejukkan.
Hari ini adalah hari ke 3 dia menjadi istri seorang fredrico. Dan satu bulan lagi dia maupun fredrico akan berubah status. Bukan ini yang azzlea mau. Azzlea pun tak dapat menolak karena ini takdir dari moon godess untuknya.
"Kakak ipar?" ucap suara dibelakang azzlea.
Azzlea yang kaget langsung membalikkan badannya menatap pria dibelakangnya.
Pria itu terkejut saat melihat wanita yang beberapa saat yang lalu dipanggilnya dengan sebutan kakak ipar.
"Mengapa kakak berada disini?" tanpa sadar ucap pria itu.
"Harusnya aku yang bertanya mengapa kamu berada disini?"
"Tunggu.! Jangan bilang kalau kakak istri fredrico?"
Azzlea mengangguk.
"Dan kamu siapa? Mengapa bisa berada disini?" tanya azzlea lagi.
"Wahhh... Mengapa kakak mau jadi istri fredrico, serigala dingin itu. Apa tak ada yang lain selain dia kak" ucap pria itu sinis.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku"
"Apa kamu melupakanku kak! Aku nelson. Adik serigala dingin fredrico. Tapi jangan samakan aku dengannya karena sifat kita berbeda"
Azzlea terkekeh.
"Ku rasa bukan aku saja yang mengatakan kalau dia serigala dingin. Bahkan adik kandungnya sendiri berkata demikian"
"Wahh.. Bahkan istrinya pun menyadarinya." Nelson berkata dengan penuh heran.
"Lalu mengapa kakak mau menjadi istrinya?"
"Ya.. Tak ada pilihan lain. Dia yang sudah ditakdirkan oleh moon godness padaku. Apa aku bisa menolaknya" ucap azzlea.
Mengenai moon godness Nelson tak dapat membantah itu semua. Karena pasti sudah di takdirkan sendiri.
Nelson ikut mendudukkan tubuhnya disamping azzlea.
"Aku belum mendapatkan maaf darimu kak" ucap nelson memandang kearah azzlea.
__ADS_1
"Maaf untuk apa? Apa kau pernah berbuat salah sebelumnya?"
Nelson menganggukkan kepalanya.
"Bukankah aku pernah bersikap tak layak dengan orang yang lebih tua dariku. Dan aku belum mendapatkan maaf dari kakak tentang perlakuanku masa itu" ucap Nelson.
"Kurasa kau memang jauh berbeda dengan fredrico. Kau berkepribadian baik juga. Aku memaafkanmu"
Tanpa sadar nelson menggenggam tangan azzlea karena kegirangan mendapatkan maaf darinya.
"Beberapa kali aku ketaman bahkan keperpustakaan kota. Berharap agar aku bisa bertemu dengan mu, dan mendapat maaf dari mu kak"
"Lalu..."
"Entahlah. Tapi aku beruntung karena hari ini aku bertemu dengan kakak"
"Tidakkah kakak ingin ke perpustakaan lagi. Kurasa dikastil ini tidak ada buku sama sekali"
"Fredrico tidak menyukai buku. Dia lebih baik bertarung melawan musuh dari pada harus berimajinasi seperti kita"
Azzlea terkekeh melihat pria didepannya ini. Azzlea mengusap kasar rambut nelson dengan gemas.
"Tentu saja aku ingin. Tapi sekarang tak ada lagi yang mengantarkanku seperti dulu"
"Pria yang akan membunuhku waktu itu?"
Azzlea mengangguk.
"Sekarang aku bukan lagi tanggung jawabnya, akupun bosan karena tak ada kegiatan disini"
"Mengapa kakak tidak ke perpustakaan kota saja?"
"Bagaimana bisa?! aku bahkan kemari hanya perlu 2 jam perjalanan" nelson menunjukkan dua jarinya.
"Aku berbeda dengan kalian" azzlea lagi-lagi mengacak ramput nelson.
"Mengapa begitu?" nelson sama sekali tak paham.
"Aku berbeda dari kalian. Aku bahkan tak bisa merubah wujudku menjadi serigala. Bukankah aku wolf yang malang" azzlea menundukkan kepalanya.
"Mengapa berfikir seperti itu. Bukankah kakak tak lama lagi akan diangkat menjadi luna?! Apa yang kakak khawatirkan sekarang" nelson memberi semangat.
"Terimakasih" azzlea tersenyum.
Tanpa keduanya tahu. Fredrico mengamati kedekatan azzlea juga nelson dari kamarnya. Fredrico yang awalnya terlihat acuh lama kelamaan menjadi panas melihat kedekatan keduanya. Terlebih melihat azzlea tersenyum lepas seperti itu.
"Tidakkah kamu ingin bertemu dengan kakak mu?"
Nelson menggeleng.
"Aku kemari sengaja ingin berkenalan dengan kakak. Bukan bertemu dengan Fredrico. Kami tak sedekat itu kak"
Nelson melangkahkan kakinya meninggalkan azzlea. Azzlea masuk kedalam kastil dan naik kekamarnya.
"Mengapa serigala kecil itu kemari" tanya fredrico yang tengah duduk di sofa kamar.
"Apa? Apa bertemu dengan kakak iparnya hal yang salah" azzlea menjawab dengan ketus.
"Sepertinya kalian dekat sebelumnya?"
__ADS_1
"Tidak juga. Kami hanya pernah bertemu sekali"
"Ah.. Apa kastil sebesar ini benar-benar tak ada buku untuk kubaca?"
"Untuk apa. Hanya membuang waktu berimajinasi"
"Memang benar ucap nelson. Kau benar-benar tak menyukai buku"
"Dan kalian memang tak sedekat itu sebagai saudara, ck ck" azzlea mencebik.
Fredrico pura-pura tak mendengar celaan dari azzlea.
"Apa kau benar-benar tak ingin membuat satu perpustakaan dikastil sebesar ini?"
"..."
"Aku berbicara padamu fredrico" azzlea duduk tak jauh dari fredrico.
"Wah.. Kurasa sekarang bukan hanya serigala es. Kau pun serigala tuli" ejek azzlea.
"Apa sebaiknya aku meminta faustin untuk ikut berjaga disini. Kalau aku ingin pergi aku bisa meminta..." Fredrico menutup mulut azzlea dengan bibirnya.
Tubuhnya terasa panas saat azzlea mengucap nama faustin. Dan bahkan sekarang tanpa sadar fredrico mencium bibir azzlea.
Azzlea membulatkan matanya saat bibir hangat dan lembut fredrico menempel di bibirnya.
"Apa yang kau lakukan" teriak azzlea mendorong tubuh fredrico.
"Mencium bibirmu" fredrico menjawab denga tenang.
"Kau..."
"Lihatlah. Pipimu sekarang semerah tomat"
"Mengapa kau mengambil ciuman pertamaku"
"Ini hanya untuk mate ku bukan untuk mu" azzlea msih berteriak.
"Ops. Aku hanya ingin tahu. Apa kau benar-benar tak menyukaiku atau kau menyukai faustin" smirik fredrico.
"Cih.. Siapa yang akan menyukai mu. Serigala dingin. Manusia es" azzlea keluar dari kamar dan membanting pintu.
Azzlea masuk kedalam kamar mandi tak jauh dari kamarnya dan membasuh wajahnya seraya menggosok bibirnya berkali kali.
"Berani-beraninya dia mengambil ciuman pertamaku" gerutu azzlea yang masih menggosok bibirnya.
"Apa dengan cara seperti itu bekas ciumanku akan hilang" ucap fredrico yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Apa yang kau lakukan, pergi dari sini sekarang" marah azzlea menatap fredrico dari kaca.
"Mau tahu cara paling efisien untuk menghilangkan bekas ciumanku tadi"
Azzlea menghentikan kegiatannya. Menatap fredrico penuh kecurigaan sekaligus penasaran.
"Memangnya ada?"
"Tentu saja" fredrico tersenyum dan berjalan mendekati azzlea. Meraih tengkuk belakang azzlea.
"Seperti ini"
__ADS_1
Fredrico kembali menempelkan bibir nya kebibir azzlea. Mengecup bibir atas dan bawah secara bergantian. Azzlea menolak tapi fredrico semakin mengeratkan ciumannya dibibir azzlea.