
Tak berapa lama kemudian Milly menghentikan laju kecepatannya. Benar apa yang diucapkan oleh Milly, tempat yang didatanginya begitu sangat indah.
"Inikah yang dinamakan syurga dunia." ujar Azzlea dengan berdecak kagum.
"Ya.. Tempat ini memiliki keindahan yang luar biasa bukan?"
"Aku sering mengunjunginya saat aku merasa bosan. Dan tempat inilah yang menjadi tempat favorit ku selama ini."
"Bagus sekali bisa mengunjungi tempat ini setiap hari Milly. Ini sangat luar biasa." girang Azzlea.
Milly justru menggelengkan kepalanya, Azzlea mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Milly.
"Tidak ada yang menyenangkan dengan kehidupanmu yang begitu panjang Quin."
"Seharusnya kau merasa beruntung karena kau tak hidup selama yang ku jalani." sambungnya.
"Berkali-kali aku mencoba untuk mengakhiri hidupku sendiri di tempat ini. Namun ternyata semuanya sia-sia."
"Aku selalu mengingat janji yang telah kau ucapkan padaku dengan kau akan menjemputku bersama dengan mu."
__ADS_1
Azzlea menghela nafasnya dengan panjang, "Kau benar Milly. Untuk apa hidup selama itu"
"Benar, aku harus hidup dalam ketidak pastian. Setiap saat aku selalu menunggu kapan dirimu akan datang kembali, kapan dirimu akan menemui ku disini."
"Sudahlah Milly. Atas nama Quinza aku sangat menyesal karena membuatmu menunggu terlalu lama. Andai saja Moon goddes memberiku kehidupan yang lebih cepat mungkin kau tak perlu menunggu ku terlalu lama." sesal Azzlea dengan tulus.
"Sudahlah, jangan bersedih hati. Aku datang kemari untuk bersenang-senang ditempat ini. Kapan lagi aku bisa melihat pemandangan yang indah seperti ini."
"Jangan membuat suasana hati menjadi murung karena cerita menyedihkan yang kau miliki em." goda Azzlea.
"Benar, aku merusak suasana bahagia kita berdua." Milly menanggapi dengan godaan pula.
"Kemarilah Milly, disini sangat menyejukkan kau tahu." ujar Azzlea seraya mencipratkan air ke tubuh Milly yang enggan masuk kedalam air.
"Cepat kemarilah, apa kau sangat takut padaair hm?!" ejek Azzlea.
"Kau serigala jelek Milly, atau jangan-jangan selama kau hidup selama seribu tahun lamanya kau belum pernah mandi hm?" goda Azzlea seraya memicingkan matanya penuh selidik.
"Jangan menggodaku Quinza, aku adalah serigala paling bersih yang pernah ada. Bahkan aku adalah serigala yang sangat bersih dari pada serigala bermata sialan itu." ujar Milly mengelak tuduhan dari Azzlea.
__ADS_1
"Serigala bermata sialan? Siapa dia?" tanya Azzlea penasaran.
"Tentu saja Queene. Aku sangat kesal melihat matanya saat kami pertama kali bertemu dengannya." kesal Milly.
Azzlea menatap kedua manik Milly seolah mengatakan menepa dirinya sangat membenci Queen padahal mereka baru saja bertemu.
Milly mengembuskan nafasnya dengan kasar serta memutar bola matanya.
"Matanya begitu sangat indah bahkan saat aku pertama kali melihatnya. Bola matanya yang berwarna biru muda sama dengan bola mata milikmu bahkan lebih indah saat aku melihatnya lebih dekat lagi."
"Dan satu hal lagi, aku sangat membenci mata itu saat dia dalam keadaan yang sangat marah." Milly menghentikan ucapannya. Sedangkan Azzlea mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Milly.
"Rona matanya masih saja sangat indah dipandang meskipun dia dalam keadaan marah. Aku sangat kesal dengan serigala itu." ujar Milly. Azzlea yang mendengarnya sontak tertawa dengan terbahak-bahak, tak menyangka mereka sesama serigala memiliki rasa iri satu sama lain.
"Kau cemburu padanya?" ujar Azzlea.
Milly justru mengelak tuduhan yang dituduhkan Azzlea padanya. "Aku tidak cemburu, aku hanya sangat kesal padanya mengapa dia bisa memiliki mata yang sangat indah seperti itu." sekali lagi Milly mengelak.
"Baiklah kalau begitu Nona Pencemburu." goda Azzlea lagi. Hal itu sntak saja membuat Milly begitu kesal dibuatnya.
__ADS_1