
Lolongan serigala semakin terdengar sangat jelas bersahut-sahutan. Malam semakin gelap tak ada sinar yang menyinari. Tubuh Fredrico semakin melemah, terlebih dirinya tepat berada disinar bulan. Pancaran gerhana bulan membuatnya semakin kesakitan.
"Mana Fredrico yang sombong ha?"
"Tunjukkan kekuatanmu. Kita bisa bertarung sampai mati" ejek Victor. Victor menendang tubuh lemah Fredrico. Sama sekali tak ada respon pembalasan dari Fredrico. Victor mulai berdecih tak suka.
"Bagaimana kalau aku bersenang-senang dengan istri dan anakmu. Ku rasa akan sangat menyenangkan"
"Dari pada aku harus memusnahkan seluruh Rakyat Vredo, kurasa aku lebih senang kalau aku bersenang-senang lebih dulu dengan istri cantikmu itu" ujar Victor mencengkeram kuat rahang Fredrico.
"Jangan sakiti mereka. Atau kau akan mati ditanganku tanpa pengampunan" marah Fredrico disisa kekuatan yang dimilikinya.
Victor tertawa sinis, dan kembali memberikan pukulan ditubuh Fredrico dengan ganasnya.
"Fikirkan dulu bagaimana nasibmu agar tetap hidup. Baru setelah itu kau bisa membunuhku, BRENGSEK" marah Victor.
"Dendam mu hanya kepadaku. Mengapa kau juga melibatkan Azzlea dalam masalah ini" melas Fredrico.
__ADS_1
"Masalahku dengan gadis itu, hanya sebagian kecil dendam ku padamu" smirik Victor tersenyum sinis.
"Kurasa akan sangat impas jika aku juga menggunakan gadis lemah seperti dia"
"********?! Akan kupastikan kau mati ditanganku. uhukk" marah Fredrico. Tubuhnya memang lemah tak berdaya, tapi jika Victor mengucapkan nama Azzlea darahnya benar-benar mendidih. Andaikan dia memiliki kekuatan untuk menyelamatkan Azzlea dari tempat terkutuk ini.
"Kau yang lebih dulu mati ditangan ku Brengsek. Berapa tahun aku harus menunggu momen ini. Dan ketika momen ini tiba, aku tak akan segan sama sekali"
"Dendam ku. Sakit hati ku. Dan sekarang kau bersenang-senang dengan wanita itu HA.?! Hahahaha" Victor tertawa hingga mengeluarkan air matanya. Entah air mata kemarahan ataukah kebahagiaan.
"Tapi dia bukan matemu! Apa secepat itu kau melupakan dia ha?" kini Victor benar-benar semakin marah kepada Fredrico, pria lemah didepannya.
"Dia mateku. Aku tak akan melupakan wajah cantiknya. tapi saat ini gadis itu adalah mateku" jelas Fredrico dengan nada yang benar-benar lemah menahan sakit. Sakit karena pukulan bertubi-tubi yang diberikan Victro juga sakit karena pengaruh gerhana bulan yang kini mulai terjadi.
"BOHONG" bentak Victor.
"Jangan membohongiku dengan omong kosongmu ini. Aku bukan pria bodoh yang dengan mudahnya kau bodohi"
__ADS_1
Fredrico menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku tidak membohongimu. Dia mate ku. Bunuh aku jika itu membuatmu lega. Tapi jangan sampai setelah ini dendam dihatimu terus menerus menghantui hati dan fikiranmu" Fredrico memilih pasrah. Bukankah sedari tadi dia sudah benar-benar pasrah dengan hidup dan matinya.
"Jangan libatkan gadis itu. Ada anakku didalamnya aku mohon" pinta Fredrico dengan berlinang air mata. Victor tersenyum keji sekaligus jijik melihat Fredrico.
"Sekarang kau menangis? hanya demi gadis lemah sepertinya?"
"Mengapa air matamu baru kau tumpahkan sekarang. Mana air mata mu kala itu saat dia sekarat HA" kini berganti Victor yang beruarai air mata namun sesegera mungkin dihapusnya.
"Kau salah paham tentang kami" ujar Fredrico.
Lagi-lagi Victor tertawa dengan kencangnya, bahkan siapapun yang mendengarnya akan tahu tawa itu merupakan tawa yang penuh kekecewaan.
"Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Kalau kau memang benar-benar ingin membunuhku, kau berhak untuk membunuhku. Tapi satu permintaanku, pulangkan Azzlea kekeluarganya" pinta Fredrico memelas. Victor benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Dalam sekali lompatan Victor telah mengubah dirinya menjadi serigala berbulu putih nan gagah berani.
"Dengan senang hati aku akan melakukannya, Grrrrr" Victor menggertakkan giginya.
__ADS_1