
Setelah selesai bersiap fredrico berjalan masuk kedalam kamarnya dimana Azzlea berada. Fredrico masuk dan mendudukkan tubuhnya disofa kamar tersebut sembari menunggu Azzlea yang tengah berias.
Dipandangnya Azzlea melalui cermin didepannya, Azzlea sendiri masih memejamkan matanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh perias diwajahnya.
Entah berapa lama Fredrico menunggu Azzlea, mulai dari berias hingga mengenakan gaunnya yang panjang dibantu oleh para perias. Selesai dengan tugasnya, para pelayanpun pamit keluar meninggalkan keduanya.
Glekk
Fredrico dengan susah payah menelan ludahnya. Kini Azzlea sudah berada tepat didepannya, dirinya pun sudah selesai dirias. Kicauan burung seolah terdengar sangat jelas dikamar yang luas tersebut.
Tatapannya mengunci pandangan Azzlea, tanpa berkedip namun tak mengeluarkan suara sepatah katapun. Azzlea memandang Fredrico dengan kesempurnaan yang dimilikinya, wajah tampannya seolah semakin tampan hari ini. Keduanya seolah larut dalam fikiran mereka masing-masing, saling memandang satu sama lain.
Ya... Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, baru kali inilah keduanya saling bertatap sedekat ini. Sebelumnya keduanya akan saling diam dan acuh tak acuh.
Dipandangnya wajah cantik wanita didepannya, balutan gaun putih menjuntai kebawah serta polesan make up diwajahnya yang membuatnya semakin cantik. Dipanjangnya seluruh wajah wanita itu perlahan, hingga pandangan matanya terkunci pada bibir merah merona yang menggiurkan yang melambai-lambai untuk segera dilahapnya.
"Apa aku terlihat aneh hari ini?" akhirnya Azzlea membuka suaranya.
Fredrico tercekat kaget, mengalihkan pandangannya dari bibir manis itu ke manik mata hitam milik Azzlea yang kemudian kepalanya menggeleng pelan.
"Kalau aku boleh memuji, kau cukup cantik hari ini" ujar fredrico, Azzlea tersenyum. Baru kali ini Fredrico mengatakan kalau dirinya cantik.
"Kalau aku juga boleh memuji, kamu pun cukup tampan hari ini" ucap Azzlea membalas pernyataan Fredrico.
"Kalau boleh aku memberitahumu aku memang tampan sejak aku dilahirkan. Bahkan banyak wanita cantik diluar sana tergila gila padaku. Dan bukankah itu cukup meyakinkan kalau aku sangat tampan!" ujar Fredrico dengan percaya dirinya.
"Cih... Percaya diri sekali... Ya.. Ya.. Ya... Tapi bukankah aku lebih cantik dari pada mereka, larena pada akhirnya akulah yang menikah denganmu"
"Entah itu sebuah keberuntungan atau bencana aku tak tahu"
"Wow.. Cara bicaramu seolah kau tak suka menjadi istriku" sindir Fredrico.
__ADS_1
"Yap.. Memang seperti itulah faktanya" ketus Azzlea.
Fredrico tak mampu lagi menjawab ucapan Azzlea yang ketus padanya
"Oke hentikan ini semua, sepertinya kau sangat rindu untuk bertengkar denganku setelah sekian lama. Hentikan sekarang juga kita keluar dari kamar ini karena acara akan segera dimulai" ucap Fredrico mengalah.
Entah dari mana sifat Fredrico kali ini datang. Mengalah! bukanlah satu dari sifat yang dia punya, namun hari ini Fredrico memilih mengalah berdebat dengan Azzlea.
Fredrico berjalan semakin mendekati Azzlea, kemudian membalikkan badannya agar sejajar dengan Azzlea, serta menyerahkan lengannya agar Azzlea menggandeng tangannya.
Saat Fredrico menyentuh pegangan pintu Azzlea menghentikan langkahnya, Fredrico pula ikut menghentikan tangannya yang akan membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Fredrico.
"Aku takut"
"Apa yang kamu takutkan?"
"Tak perlu khawatir, setelah semuanya selesai kau akan bebas dari ini semua. Bertahanlah sebentar saja" jawab Fredrico.
"Tapi..." Cup Fredrico mengecup singkat bibir Azzlea, dirinya tak tahan lagi ingin memakan bibir manis itu dan sekarang dia justru tanpa sadar mengecupnya.
"Apa kamu masih merasa cemas" tanya Fredrico, Azzlea mengangguk pelan dan cup,. Sekali lagi Fredrico mengecup bibir Azzlea, kali ini sedikit lebih lama.
Azzlea membelalakkan matanya melihat Fredrico mengecup bibirnya lagi.
"Sekarang bagaimana, aku akan dengan senang hati memakan bibirmu sampai rasa gugup dan khawatirmu hilang"
"Cih.. Apa bibirku bisa kau jadikan makanan ha" kesal Azzlea, fredrico sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi Azzlea.
"Kau... Sedang tidak ingin memakan tubuhku kan?" tanya Azzlea was was, pasalnya disini hanya mereka berdua.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya dengan senang hati kalau kau mau"
"Tentu saja tidak akan pernah lagi. Tubuhku terasa sakit diseluruh tubuh setelah itu.. Dan anggap saja itu hanya sebuah kecelakaan"
"Wah.. Sebegitu bencinya kamu padaku ya.. Padahal kalau gadis lain dia akan meminta pertanggung jawaban dariku dan ingin segera aku nikahi. Ingat aku sudah menandaimu, sebelum aku melepaskanmu kau tak akan pernah bisa lari dariku" sinis Fredrico.
"Sialnya aku sudah menikah denganmu. Arggh... Sial sekali nasib ku... Sudah ayo keluar, kau begitu menjengkelkan" kesal Azzlea menarik lengan Fredrico dengan kasar.
****
Fredrico dan Azzlea berjalan menuju singgasananya, rakyat yang awalnya ramai seketika diam seribu bahasa melihat kedatangan calon pemimpin mereka. Sebagian memandang kagum, sebagian memandang takut, sebagian lagi memandang dengan penuh harapan.
Rakyatpun dibuat kagum dengan pahatan indah dari kedua calon pemimpinnya. Fredrico yang dibalut dengan setelan tuxedo berwarna hitam serta jubah yang melambangkan kerajaan Vredo. Sedangkan Azzlea semakin cantik dengan balutan gaun putihnya serta rambut yang digerai dengan sedikit sentuhan. Menampilkan sedikit bahunya membuat kulit putih milik Azzlea terlihat sangat jelas.
Mulailah dengan upacara pengangkatan Fredrico menjadi Alpha baru. Alpha Parvis sendiri yang memimpin jalannya ucapacara hingga selesai. Tak hanya fredrico, Azzlea yang senantiasa istri fredrico ikut menjalani upacara yang dilakukan oleh fredrico.
Kini sampailah Alpha Parvis memberikan kekuasaannya penuh pada Fredrico. Alpha Parvis memberikan mahkota yang bersimbol Kerajaan Vredo. Sedangkan Bunda Zenia memberikan mahkota simbol Luna kepada Azzlea. Dan kini secara otomatis Fredrico dan juga Azzlea resmi menjadi Alpha dan Luna kerajaan Vredo.
"Aku berjanji akan senantiasa selalu melindungi serta memberi keamanan untuk seluruh rakyat Vredo" janji Fredrico didepan seluruh rakyatnya.
Rakyat Vredo dengan suka cita menerima janji yang telah diucapkan oleh Fredrico, Alpha baru mereka. Kini, baik Fredrico maupun Azzlea telah resmi menjadi Alpha dan Luna bagi seluruh rakyat Vredo.
"Selamat Bunda ucapkan padamu, Bunda serahkan kekuasaan Luna sepenuhnya padamu" ucap Bunda Zenia pada Azzlea yang kemudian memeluk Azzlea dengan erat. Azzlea membalas pelukan dari sang Bunda.
"Terimakasih bunda, tolong bimbing Azzlea kedepannya" pinta Azzlea sungguh-sungguh.
Bunda Zinovia menghampiri Azzlea, air matanya tak terbendung lagi melihat putrinya kini telah menjadi seorang Luna. Werewolf yang akan dihormati oleh seluruh rakyat Vredo. Setidaknya sekarang Bunda Ziovia merasa lega karena anaknya tak akan lagi diolok karena tak memiliki kekuatan.
"Kamu sangat cantik sayang" ucap bunda.
"Bunda juga sangat cantik" sanjung Azzlea. Sebenarnya dia tahu apa yang difikirkan oleh sang bunda tentang dirinya. Tapi Azzlea sama sekali tak mempedulikan itu, setidaknya sekarang memang tak ada yang menggunjingnya lagi karena dirinya tak memiliki kekuatan seperti werewolf pada umumnya.
__ADS_1